Alexandria

Alexandria
Bab. 201.


__ADS_3

“Itu Non Dokter sudah datang, pak satpam sudah nelpon saya.” jawab sang pelayan sambil menoleh pada Alexandria dan Vadeo, lalu dia melanjutkan langkahnya untuk membukakan pintu rumah buat sang tamu.


Mendengar jawaban dari sang pelayan, Alexandria pun segera bangkit berdiri dari tempat duduknya.


“Al, habiskan dulu makannya, nunggu juga tidak apa apa Dokternya.” ucap Vadeo saat melihat isterinya bangkit berdiri.


“Aku mau menemuinya dulu Kak..” ucap Alexandria sambil terus berjalan. Vadeo pun akhirnya juga mengikuti istrinya.


Sementara itu sang pelayan sudah membukakan pintu, terlihat mobil memasuki halaman rumah Vsdeo. Dan tidak lama kemudian mobil berhenti. Saat pintu mobil sudah terbuka tampak sosok Dokter pribadi keluarga William keluar dari mobil sambil membawa tas hitamnya juga membawa alat alat lainnya. Dan tidak lama kemudian muncul satu orang wanita paruh baya.


Sang pelayan pun datang mendekat untuk membantu membawakan alat alat kedua Dokter itu.


Tidak lama kemudian ketiganya sudah berada di depan pintu rumah Vadeo.


“Selamat pagi Dok..” sapa Vadeo dan Alexandria secara bersamaan. Sambil mempersilahkan kedua Dokter itu masuk.


“Selamat pagi..” jawab kedua Dokter itu sambil melangkah masuk ke dalam rumah.


“Selamat buat Nona dan Tuan.” ucap Dokter pribadi keluar Wiliam sambil tersenyum dan menepuk nepuk pundak Alexandria.


“Terima kasih Dok, dan saya mau bertanya apa orang hamil tidak boleh makan nanas?” ucap Alexandria sambil menatap Dokter perempuan paruh baya itu. Dia adalah dokter kandungan yang juga merupakan sahabat dokter pribadi keluarga William.


“Tidak boleh kalau banyak banyak Nona, kalau sedikit saja boleh.” jawab Dokter perempuan itu sambil tersenyum.


“Kalau banyak banyak dikawatirkan bisa menimbulkan kontraksi.” ucap Dokter perempuan itu selanjutnya sambil masih menatap wajah Alexandria.


“Sayang tidak usah saja ya...” ucap Vadeo yang kini paham jika Alexandria buru buru menemui dokter karena ingin menanyakan hal itu. Vadeo pun kuatir jika akan berbahaya buat kandungan Alexandria jika Alexandria masih mau makan buah nanas.

__ADS_1


“Boleh Kak kata Dokter, sedikit deh aku makannya satu iris kecil saja.. pengen banget Kak..” ucap Alexandria dengan wajah memelas.


“Benar boleh Dok? tanya Vadeo meminta keyakinan.


“Dok, tapi banyak yang bilang tidak boleh..” saut sang pelayan yang juga berada di ruang tamu sambil membawa alat alat milik Dokter.


“Iya, di masyarakat begitu karena demi amannya, sebab kan tidak tahu banyak sedikitnya. Dikawatirkan karena keenakan karena segar rasanya lupa ukurannya, jadi kebanyakan.” ucap Dokter dengan nada serius.


“Sayang hanya untuk obat kepingin saja ya, aku yang suapi agar kamu tidak khilaf kebanyakan.” ucap Vadeo sambil menatap istrinya, terlihat Alexandria mengangguk dan tersenyum dengan mata yang berbinar binar.


“Dok kami lanjutkan sarapan dulu ya.. Dokter kalau mau ikut juga boleh.” ucap Vadeo selanjutnya sambil menatap kedua Dokter senior itu.


Dokter itu tersenyum dan menganggukkan kepalanya mereka mempersilahkan Tuan dan Nona rumah melanjutkan sarapannya sementara mereka menunggu di ruang tamu.


Vadeo dan Alexandria pun kembali ke ruang makan. Sementara sang pelayan sudah lebih dulu menuju dapur untuk membuatkan minum buat tamu.


Benar, Vadeo yang menyuapi Alexandria dan hanya memberikan satu iris potongan nanas ukuran dadu pada mulut Alexandria dan setelahnya tidak memberikan lagi. Sang pelayan setelah memberikan minum buat tamu pun ikut berdiri di ruang makan sambil memantau Vadeo dan Alexandria. Dia sangat kuatir jika Alexandria makan buah nanas.


Setelah selesai sarapan mereka berdua bangkit berdiri dan berjalan ke ruang tamu untuk menemui kedua Dokter yang sudah menunggu.


“Tuan, Nona karena Nona Alexandria ada riwayat terkena radiasi gelombang elektromagnetik. Maka kami tidak akan melakukan USG hingga janin benar benar kuat.” ucap Pak Dokter pribadi keluarga William sambil menatap wajah Alexandria dan Vadeo.


“Kami akan melihat perkembangan janin tanpa memakai alat itu. Dokter kandungan kami sudah berpengalaman melihat perkembangan janin tanpa alat itu.” ucap Pak Dokter selanjutnya.


“Kami tidak bisa melihat anak kami laki atau perempuan saat di dalam kandungan ya Dok?” tanya Vadeo sambil menatap kedua Dokter itu.


“Tidak apa Kak, malah surprise.. laki dan perempuan disyukuri.” ucap Alexandria sambil menatap suaminya.

__ADS_1


“Nanti saat janin sudah kuat bisa kita lakukan USG.” ucap Dokter kandungan.


“Kalau masih awal awal kehamilan juga belum terlihat Tuan..” ucap Dokter kandungan itu kemudian sambil tersenyum menatap Vadeo.


“Kami menurut pada Dokter saja, yang penting istri saya dan anak dalam kandungan sehat dan selamat sampai lahir.” ucap Vadeo sambil memeluk pundak Alexandria dari samping.


“Baiklah, kami akan periksa Nona Alexandria. Berat badan Nona Alexa akan selalu kami cek setiap kami datang.” ucap Dokter perempuan paruh baya itu sambil matanya menatap alat timbang badan yang tadi dibawa.


“Silahkan Dok.” ucap Vadeo sambil menatap Dokter perempuan paruh baya itu.


“Kamar itu bisa digunakan untuk ruang periksa Alexandria, silahkan alat alat Dokter ditaruh saja ke kamar itu. Jadi Dokter tidak perlu bolak balik membawa alat alat itu.” ucap Vadeo selanjutnya sambil pandangan matanya tertuju pada kamar di dekat ruang tamu itu.


“Terima kasih Tuan, saya sangat setuju. Jadi tidak usah diantar mobil kalau saya mau cek kandungan Nona Alexandria, saya bisa jalan kaki sambil olah raga.” ucap Dokter kandungan sambil tersenyum menatap Vadeo dan Alexandria.


Dan akhirnya Alexandria pun diperiksa di kamar dekat ruang tamu. Dari hasil pemeriksaan Alexandria positif hamil dan kondisi Alexandria sangat baik dan sehat.


Sementara itu di guest house. Dokter Loly setelah makan pagi dia mendatangi sang therapis.


“Dok, ada perlu apa?” tanya sang therapis saat Dokter Loly mendatangi kamarnya.


“Dokter kan tugasnya sudah selesai, saya pun juga sudah ringan hanya untuk menjaga psikologis Nona Alexandria dan terapi buat ibu hamil.” ucap sang therapis selanjutnya sebab tadi saat ruang makan tim mereka pun sibuk membicarakan keberhasilan program hamil Alexandria.


“Iya tugas aku sekarang hanya membantu tim jika dibutuhkan.” ucap Dokter Loly dengan ekspresi wajah datar.


“Kamu kalau bisa ikut jalan jalan dengan Nona Alexandria itu gimana caranya? Ditawari atau kamu yang minta ikut?” tanya Dokter Loly selanjutnya sambil menatap wajah sang therapis dengan sangat penasaran. Dokter Loly ingin ikut jalan jalan dan akan melancarkan rencananya untuk membuat celaka Alexandria.


“Aku kok tidak ditawari.” ucap Dokter Loly lagi.

__ADS_1


“Aku kan juga ingin refresing tugasku sudah selesai dan mukaku sudah normal.” ucapnya kemudian sambil tersenyum dan masih menunggu jawaban dari sang therapis.


...


__ADS_2