
Waktu terus berlalu. Pertanyaan pertanyaan sudah isi belum terus saja tertuju pada diri Alexandria . Dan hingga sudah hampir satu tahun pernikahan mereka. Alexandria masih juga belum hamil. Hal itu tentu saja membuat kuatir dan gelisah kedua keluarga.
“Kak, Mama Jo dan Mama William menyuruh kita periksa.” ucap Alexandria saat berada di atas tempat tidur di dalam kamar Vadeo.
“Tidak usah Sayang mungkin memang belum rejeki.” jawab Vadeo yang juga terbaring di samping Alexandria. Vadeo sebenarnya takut jika dirinya yang tidak bisa memberikan anak karena orang tuanya hanya memiliki satu anak sedang kan Alexandria dari keluarga yang produktif.
“Tapi Mama selalu saja menyuruh dan memarahi aku Kak..” ucap Alexandria sambil memiringkan tubuhnya
“Kata Mama kalau ada yang eror biar cepat bisa diperbaiki.” ucap Alexandria lagi.
“Al.. andai ada salah satu dari kita ada yang tidak bisa kasih keturunan bagaimana?” tanya Vadeo sambil membelai lembut rambut kepala Alexandria.
“Kak, kenapa Kak Deo bertanya seperti itu. Aku mencintai Kak Deo apa pun yang terjadi aku akan menjadi istri Kak Deo.” ucap Alexandria sambil memeluk tubuh Vadeo.
“Sama Al, aku juga sangat mencintai kamu, aku tidak ingin kita berpisah.” ucap Vadeo lalu mengecup lembut puncak kepala Alexandria dan memeluk erat tubuh istrinya itu.
“Yang penting kita rajin berdoa dan rajin buat nanti pasti kita akan mendapatkan anak..” ucap Vadeo lalu memeluk tubuh Alexandria dan seterusnya mereka berdua pun melakukan proses pembuatan anak.
Meskipun sudah hampir satu tahun sudah menikah dan belum ada tanda tanda kehamilan pada diri Alexandria tetapi mereka berdua tidak begitu memikirkannya. Bagi mereka berdua bisa hidup bersama dengan orang yang dicintai, mereka sudah sangat bahagia. Akan tetapi berbeda dengan orang tua mereka.
Keesokan paginya. Vadeo dan Alexandria sudah berpakaian rapi dan siap akan ke tempat mereka bekerja.
“Kak, aku mau ngantor ke William Group. “ ucap Alexandria sambil mengambil tasnya dan berjalan mendekati suaminya.
“Baiklah, aku antar kamu ke William Group.” ucap Vadeo sambil menatap Alexandria
“Terima kasih ya, tadi malam kamu sangat hebat makin lama kamu sangat jago bercinta.” ucap Vadeo selanjutnya sambil mencium lembut kening Alexandria.
“Ihhh.. bikin malu saja.” ucap Alexandria sambil mencubit pinggang Vadeo.
Mereka berdua lalu keluar dari kamar dan segera menuruni tangga untuk menuju ke ruang makan. Tampak Tuan dan Nyonya Jonathan sudah duduk di kursi dan mereka berdua pun juga sudah berpakaian rapi.
__ADS_1
“Mama dan Papa mau pergi ke mana? Mau bulan madu lagi pergi ke villa?” tanya Vadeo secara beruntun pada Sang Mama dan Papa, lalu dia mencium pipi Mama dan Papa nya kemudian dia duduk di kursi. Alexandria pun melakukan hal yang sama dia mencium pipi Nyonya dan Tuan Jonathan lalu dia duduk di samping suaminya.
“Mau mengantar kalian berdua pergi ke rumah sakit.” ucap Tuan Jonathan
“Mama William sudah mendaftarkan kalian berdua.” saut Nyonya Jonathan
“Sudah saat nya kalian berdua harus periksakan alat alat reproduksi kalian.” ucap Nyonya Jonathan selanjutnya sambil menatap Vadeo dan Alexandria.
“Tapi Pa, ada kerjaan di kantor.” ucap Vadeo berdalih
“Sudah aku hubungi Rio semua meeting ditunda.” ucap Tuan Jonathan sambil memotong bistik daging dan kentang rebus di piringnya.
Vadeo akhirnya hanya diam saja, dia menjadi tidak berselera untuk makan. Dan akhirnya Alexandria yang dengan sabar menyuapi Vadeo. Tuan dan Nyonya Jonathan terharu melihat rasa cinta yang ada pada anak dan menantunya itu.
“Kami hanya ingin hal yang terbaik buat kalian.” ucap Tuan Jonathan, dia pun sesungguhnya juga sama seperti Vadeo yang kuatir dengan hasil periksa ke dokter. Kuatir jika Vadeo yang bermasalah dengan organ reproduksi. Dunia baginya akan menjadi gelap jika hal itu terjadi sebab Vadeo adalah anak satu satunya.
“Jangan kalian kuatir, kita sebagai manusia harus berusaha dan memohon pada Sang Pencipta.” ucap Nyonya Jonathan sebab beliau tahu akan kegelisahan anak dan suaminya.
“Aku dan Alexandria sudah berusaha Ma, segala gaya sudah kami coba.” ucap Vadeo dengan nada serius. Saking nervousnya malah ucapannya menjadi sebuah canda. Tuan dan Nyonya Jonathan mengeryitkan dahinya menatap Vadeo.
Setelah selesai sarapan mereka berempat segera keluar dari ruang makan dan berjalan menuju ke pintu utama mension. Vadeo membuka pintu mension itu lalu dia mempersilahkan Mama dan Alexandria keluar dan selanjutnya Tuan Jonathan, terakhir Vadeo lalu dia menutup pintu itu. Mobil Vadeo sudah siap berada di depan Mension sebab sopir sudah mengeluarkan mobil dari garasi.
Vadeo duduk di jok kemudi, Alexandria duduk di samping nya. Sedangkan Tuan dan Nyonya Jonathan di jok belakang kemudi. Mobil berjalan pelan pelan meninggalkan halaman mension dan setelah memasuki jalan raya Vadeo menambah laju kecepatan mobilnya. Suasana hening di dalam mobil sibuk dengan pikiran dan kegelisahan hati masing masing.
Beberapa menit kemudian mobil sudah memasuki halaman rumah sakit. Vadeo segera menjalankan mobilnya menuju ke tempat parkir. Setelah mobil berhenti mereka berempat segera turun dari mobil.
“Langsung saja Deo, kata Mama William sudah ditunggu oleh Dokter.” ucap Nyonya Jonathan yang berjalan di samping Alexandria.
Mereka berempat segera berjalan menuju ke ruangan Dokter yang akan menangani masalah mereka berdua. Dokter yang sudah kenal baik pada keluarga William.
Saat sudah berada di depan ruangan itu, tampak baru beberapa orang yang duduk di kursi tunggu mungkin karena hari masih pagi. Tiba tiba seorang pegawai rumah sakit mendatangi Alexandria yang baru akan mendudukkan pantatnya di kursi tunggu.
__ADS_1
“Nona langsung masuk saja, anda di antrian pertama.” ucap pegawai rumah sakit itu.
“Saya sendiri apa dengan pasangan?” tanya Alexandria pada pegawai rumah sakit itu.
“Dengan pasangan Nona, Tuan Vadeo. “ jawab pegawai rumah sakit itu setelah membaca daftar.
Alexandria dan Vadeo pun dengan segera masuk ke dalam ruangan itu. Sedangkan Tuan dan Nyonya Jonathan duduk di.kursi tunggu, karena hanya pasien yang boleh masuk.
“Selamat pagi Nona Alexa dan Tuan Vadeo.” sapa seorang perempuan paruh baya dengan ramah. Dia adalah dokter yang akan menangani masalah Vadeo dan Alexandria. Ibu Dokter itu tidak lain adalah istri Pak Dokter pribadi keluarga William. Vadeo dan Alexandria pun membalas sapaan Dokter dengan ramah dan senyuman lalu mereka duduk di kursi di depan meja Ibu Dokter.
Tampak mereka bertiga selanjutnya berbicara dengan serius tapi santai.
“Baiklah sekarang Nona Alexandria masuk ke ruangan itu bersama saya, dan Tuan Vadeo ke ruangan satunya, tenang saja di ruangan yang akan Tuan Vadeo masuki perawat dan dokternya laki laki.” ucap Ibu Dokter itu sambil bangkit berdiri. Alexandria dan Vadeo pun menuruti ucapan Ibu Dokter, mereka bangkit berdiri dan masuk ke dalam ruangan yang berbeda.
Sementara Vadeo dan Alexandria di dalam ruang periksa. Tuan dan Nyonya Jonathan yang duduk di kursi tunggu tampak wajah kedua orang itu sangat gelisah.
“Ma, bagaimana kalau anak kita yang bermasalah?” tanya Tuan Jonathan sambil menoleh menatap istrinya.
“Kita berdoa Pa, semoga mereka berdua sehat sehat.” jawab Nyonya Jonathan berusaha menenangkan suaminya dan juga dirinya sendiri.
Waktu terus berlalu dan setelah lebih dari satu jam. Alexandria dan Vadeo keluar dari ruangan dengan ekspresi wajah keduanya datar datar saja. Tuan dan Nyonya Jonathan segera bangkit berdiri dan mendatangi mereka berdua.
“Sayang bagaimana hasilnya? Kalian berdua sehat sehat saja kan?” tanya Nyonya Jonathan sebelum Tuan Jonathan mendahului bertanya.
“Menunggu hasil laboratorium Ma.” jawab Alexandria
“Kapan hasil laboratorium jadi?” tanya Tuan Jonathan tidak sabar
“Besok pagi Pa.” jawab Alexandria lagi
“Apa tidak bisa dipercepat saja?” tanya Tuan Jonathan lagi.
__ADS_1
“Tidak bisa Pa. Ayo sekarang kita antar Alexa ke William Group. Mama dan Papa setelahnya mau ke mana.” ucap Vadeo berjalan sambil merangkul pundak Alexandria.
....