Alexandria

Alexandria
Bab. 212


__ADS_3

Sementara itu di dalam kamar, Nyonya William dan Nyonya Jonathan berdiri di depan pintu sambil terus berusaha membuka pintu kamar itu. Mereka berdua bergantian memutar muter handel pintu sambil menarik dan mendorong daun pintu akan tetapi tetap saja pintu masih tertutup dengan kokoh.


“Apa pakai remot pintu ini.” ucap Nyonya William yang belum menyerah.


“Manual kok, Alexandria dan Vadeo kemarin membuka dan menutup pakai kunci.” ucap Nyonya Jonathan


“Apa mereka jalan jalan dan mengunci pintu agar kita tidak pergi karena mereka takut kita tersesat.” gumam Nyonya William masih memutar muter handel pintu.


“Itu anak kunci masih menempel di dalam.” ucap Nyonya Jonathan sambil membungkuk untuk mengintip suasana di luar.


“Coba kita telpon ibu pelayan agar membukakan pintu buat kita.” ucap Nyonya William yang mulai lelah dan putus asa.


“Aku sudah ingin jalan jalan menikmati suasana pagi yang segar sebelum matahari bersinar. Mau ke kebun sayur mau ke sungai mau ke taman bunga. Malah pintu dikunci.” ucap Nyonya William lalu berjalan menuju ke sofa da duduk di sana.


“Betul, aku telpon ibu pelayan.” ucap Nyonya Jonathan dengan mata berbinar.


“Kalau tidak ya kita teriak teriak saja, agar ibu pelayan naik ke atas.” gumam Nyonya William


Terlihat Nyonya Jonathan berjalan menuju ke tempat tasnya berada untuk mengambil hand phone nya. Setelahnya dia mengaktifkan hand phone nya dan mengusap usap layar hand phone nya untuk menghubungi kontak nomor ibu pelayan. Akan tetapi tidak ada nada terhubung.


‘Hmmm masih off.” ucap Nyonya Jonathan lalu dia menaruh lagi hand phone nya ke dalam tasnya tidak lupa menon aktifkan lebih dulu.


Nyonya Jonathan lalu melangkah menuju ke letak pesawat telepon rumah yang tertempel di dinding kamar. Pesawat telpon itu hanya bisa digunakan untuk wilayah di pulau Alexandria saja.


Nyonya Jonathan lalu menekan tombol yang tertuju pada nomor telepon di dapur. Sesaat kemudian sudah terhubung pada ibu pelayan di dapur.


“Sepertinya belum ada yang turun dari lantai atas Nyonya. Tapi baiklah saya naik ke atas.” ucap sang pelayan dan Nyonya Jonathan pun tampak lega lalu dia menutup sambungan telponnya.


“Bagaimana?” tanya Nyonya William sambil menatap besannya.


“Beres Ibu pelayan akan naik dan membukakan pintu buat kita.” jawab Nyonya Jonathan lalu dia pun melangkah mendekati pintu. Nyonya William pun bangkit berdiri dan berjalan mendekati pintu.

__ADS_1


Mereka berdua sudah menunggu beberapa menit akan tetapi pintu juga belum terbuka.


“Kok lama.” gumam Nyonya William


“Mungkin ada yang tanggung kerjaan di dapur dia menyelesaikan lebih dulu. “ ucap Nyonya Jonathan


Akan tetapi tiba tiba terdengar suara dering du pesawat telepon yang menempel di dinding. Nyonya Jonathan pun segera berjalan ke tempat pesawat telepon dan segera mengangkat ganggang telepon.


“Nyonya, maaf saya tidak bisa masuk, pintu kaca penghubung terkunci dari dalam.” ucap Sang pelayan dengan nafas yang terdengar karena habis naik turun tangga dengan langkah kaki cepat.


“Hmmmmm.” gumam Nyonya Jonathan lalu menutup ganggang telepon.


Sementara itu di sofa ruang baca..


“Kak sudah..” ucap Alexandria dan tidak lama kemudian Vadeo membaringkan tubuhnya di samping Alexandria sambil memeluk dan menciumi wajah Alexandria. Tidak lupa tangannya mengusap usap perut datar Alexandria.


Vadeo lalu bangkit dan duduk, dia ambil boxer yang terletak di sofa dan segera memakainya, sementara Alexandria memasang kanching baju tidurnya di bagian depan. Vadeo lalu mengambilkan celana dhalem Alexandria dan memakaikannya. Kemudian dia mencium perut Alexandria dan merapikan baju tidur Alexandria yang bermodel daster itu.


“Sudah buka pintunya Kak.” ucap Alexandria sambil menatap Vadeo, tatapan Alexandria masih terlihat sayu.


“Hmmm kalau tidak ada Mama dan kandunganmu sudah kuat aku mau lagi Al...” ucap Vadeo sambil mengacak acak puncak kepala Alexandria dengan penuh sayang. Vadeo pun segera berjalan menuju ke pintu dan membuka kunci pintu lalu mendorong daun pintu itu. Akan tetapi kamar tampak sepi tidak ada sosok kedua Mamanya.


Vadeo pun berjalan menuju ke kamar mandi, terlihat pintu balkon terbuka dan terdengar suara kedua Mamanya sedang berbincang bincang di balkon. Kedua Mama tadi akhirnya menikmati udara segar pagi di balkon.


Waktu pun terus berlalu, hingga acara makan pagi pun tiba. Dealova pun sudah datang ke rumah Vadeo seorang diri.


“Selamat pagi Non...” sapa sang pelayan saat sudah membukakan pintu buat Dealova


“Selamat pagi Bu...” ucap Dealova dengan senyum lebar dan cerianya.. Mereka berdua pun segera menuju ke belakang.


Dealova menuju ke teras belakang, terlihat semua sudah berada di teras belakang. Terlihat sarapan pagi lebih rileks dibanding makan malam tadi. Kedua Mama terlihat duduk di kursi teras sambil minum kopi dan ada sand wish di atas meja yang ada di antara mereka berdua.

__ADS_1


Sedangkan Alexandria dan Vadeo duduk di karpet dan mereka sarapan dengan menu sehatnya. Dealova pun segera duduk di karpet dan dia pun mengambil sarapannya.


Beberapa waktu kemudian.


“Aku naik duluan ya, mau cek email email masuk.” ucap Vadeo sambil menatap Alexandria. Alexandria menganggukan kepalanya. Vadeo pun lalu bangkit berdiri selanjutnya mohon diri pada kedua Mamanya dan Dealova, lalu segera masuk ke dalam untuk naik ke lantai atas.


“Hmmm sudah tidak ada Kak Deo, aku mau mewawancarai Kak Alexa.” gumam Dealova dalam hati lalu dia segera menegak habis susu di dalam gelasnya.


“Kak Alexa sudah minum vitamin dan obat alami nya?” tanya Dealova


“Sudah Deal, kan dibuat jus dan sayur jadi langsung masuk perut sekalian makan.” jawab Alexandria sambil tersenyum


“Kak Alexa kenapa tidak minum obat dan vitamin dari Dokter? Bukannya kalau minum keduanya lebih baik?” tanya Dealova lagi kini dia menanyakan pesan dari Ixora.


“Mungkin pemikiran Kak Deo seperti itu.” ucap Dealova selanjutnya


“Awalnya sih begitu Deal, tapi saat aku baca baca ada berita campuran bahan berbahaya pada obat yang sedang viral itu, aku jadi hati hati..” ucap Alexandria dengan nada serius.


“Terus kepikiran juga, kalau yang alami dibuat ekstrak kering lalu dimasukkan ke dalam kapsul praktis juga.” ucap Alexandria lagi.


“Nahh aku kepo isi di dalam kapsul itu seperti apa sih, seberapa banyak sih yang bisa dimasukkan ke dalam kapsul maka aku buka. Lha kok isinya macam tepung biasa aja, aroma juga macam tepung gosong he... he...” ucap Alexandria sambil tertawa kecil


“Aku mau bilang tim Dokter takut mereka tersinggung macam aku tidak percaya pada mereka saja. Bukannya kita tahu Pak Dokter selalu memberi pada kita obat yang terbaik.” ucap Alexandria sambil menatap Dealova


“Iya ya Kak...” gumam Dealova


“Nah aku terus konsultasi ke sang therapis itu, dia okey kalau aku hanya memakai obat dan vitamin alami. Dan obat dan vitamin dari Dokter Loly aku simpan saja, rencana sih mau aku tunjuk in ke Ixora kalau aku sudah balik besok.” ucap Alexandria selanjutnya


“Coba Kak, aku kok pengen lihat, aku ambil dech kalau di lantai atas, agar Kak Alexa tidak capek turun naik.” ucap Dealova kepo.


“Iya Deal ambil sana, kasih tahu Al dimana kamu simpan.” ucap Nyonya William yang sejak tadi ikut nguping pembicaraan kedua anaknya.

__ADS_1


__ADS_2