
Pesawat, jet pribadi Vadeo pun mendarat dengan sempurna di pulau Alexandria. Baby Twins tampak wajah mereka ceria mata nya berbinar binar. Kedua nya yang masih duduk di pangkuan Richardo langsung melorotkan tubuh nya dan akan berlari, hingga Richardo kaget dibuatnya.
Vadeo dan Alexandria yang berada di tempat duduk yang tidak jauh dari mereka pun terlihat kaget. Alexandria langsung melepas sabuk pengamannya dan bangkit untuk meraih tubuh mereka. Sedangkan Vadeo marah marah pada Richardo yang tidak waspada menjaga kedua anak nya.
“Yun... Yun... “ teriak Valexa dan Deondria yang maksudnya ingin turun.
“Sabar Sayang, biar pintu pesawat terbuka dulu dan ada tangga untuk turun.” Ucap Alexandria yang kini sudah memegang satu anaknya dan yang satu nya dipegang oleh Richardo.
Beberapa menit kemudian tampak sebuah mobil datang yang membawa tangga dan segera meletakkan di dekat pintu pesawat dan pintu pesawat pun segera terbuka. Crew pesawat terlihat sudah berdiri di dekat pintu keluar. Valexa dan Deondria yang berada di gendongan Alexandria dan Richardo terlihat tangan mereka berdua sudah menunjuk nunjuk ingin segera mengajak keluar dari pesawat.
Tidak lama kemudian mereka sudah turun dari pesawat. Valexa dan Deondria pun minta turun dari gendongan. Dan setelah diturunkan mereka berdua pun dengan agak sempoyongan berlarian di pantai yang digunakan untuk mendaratkan pesawat. Richardo terlihat terus mengikuti mereka berdua dan terkadang tangan kekarnya menggandeng tangan mungil keduanya. Valexa dan Deondria terlihat tertawa tawa bahagia. Bagai tahu kalau mereka berdua diproduksi di pulau itu.
Sementara itu Vadeo dan Alexandria ikut sibuk membantu karyawan yang memasukkan barang barang mereka ke dalam mobil yang akan digunakan untuk mengantar mereka menuju ke rumah.
Beberapa menit kemudian semua barang mereka sudah masuk ke dalam mobil. Tim pelayan dan tim medis sudah dibawa oleh sebuah mini bus berjalan lebih dahulu.
__ADS_1
Vadeo memeluk tubuh Alexandria dari samping sambil tersenyum menatap kedua anak nya yang berlari lari dalam pengawasan Richardo.
“Aku kangen di sungai penuh memori itu Sayang.” Bisik Vadeo sambil merapikan rambut Alexandria yang tertiup oleh angin pantai.
“Sekarang ada anak anak kita dan pasti mereka ingin Richardo tetap tinggal di rumah bersama kita.” Ucap Alexandria sambil memeluk pinggang suaminya. Vadeo pun lalu mengecup puncak kepala isterinya.
Dan sesaat kemudian tampak Valexa dan Deondria berlari menuju ke arah mereka. Vadeo dan Alexandria pun segera menangkap mereka.
“Yuk, sekarang kita ke rumah ya...” ucap Alexandria dan kedua anaknya menganggukkan kepala dengan mantap.
Mereka pun segera masuk ke dalam mobil. Mobil yang dikemudikan oleh sopir yang tinggal di pulau Alexandria itu pun segera melaju menuju ke rumah mereka. Kondisi pulau Alexandria sudah semakin baik, pertanian organik nya pun semakin berkembang karena sudah ada permintaan dari Jerman kolega kolega Vadeo.
Setelah perjalanan satu jam lebih akhirnya mobil sudah memasuki halaman rumah mereka. Taman bunga di halaman juga semakin indah. Valexa dan Deondria yang tidak tidur di sepanjang perjalanan tampak bahagia. Mereka pun segera turun dari mobil dan melangkah masuk ke dalam rumah.
Beberapa saat kemudian.
__ADS_1
“Pa, aku bantu Ibu pelayan menyiapkan makan. Ajak anak anak bermain ya..” ucap Alexandria pada Vadeo.
“Na.. Na... “ teriak Deondria sambil menunjuk nunjuk ke arah pintu seperti paham jika Alexandria menyuruh mereka bermain.
“Pa.. Na... Na...” Ajak Valexa juga sambil menarik narik tangan Vadeo.
“Kemana?” tanya Vadeo.
“Na... Na...” jawab mereka. Vadeo pun mengajak Richardo untuk menggendong salah satu dari mereka dan salah satu nya digendong oleh Vadeo.
Setelah keluar dari rumah mereka berdua mengajak masuk ke dalam mobil dan meminta mobil dijalankan. Dan setelah mobil berjalan pun jari telunjuk mereka menunjuk ke arah yang dia mau, jika tidak dituruti mereka menangis dengan keras.
“Do kok ini jalan ke bukit tempat pohon asam itu.” Gumam Vadeo sambil terus mengemudikan mobil nya. Valexa dan Deondria yang duduk di pangkuan Richardo yang duduk di samping Vadeo pun mengangguk anggukkan kepala nya sambil tersenyum.
“Cam.. cam...” ucap mereka berdua.
__ADS_1
“Apa mereka ingin buah asam lagi..” gumam Richardo dan kedua anak itu tampak mengangguk senang. Sedangkan Vadeo was was dia disuruh kedua anaknya untuk memanjat pohon asam itu.