Alexandria

Alexandria
Bab. 163.


__ADS_3

Alexandria lalu mengurai pelukannya, jari jari tangannya kembali membelai belai wajah Vadeo lalu menurun pada dada bidang Vadeo. Vadeo masih diam saja padahal dia sebenar nya sudah sangat ingin memeluk tubuh Alexandria dan segera ******* apa yang ada.


Sementara Alexandria masih terus mengusap usap dada bidang Vadeo dan sekarang tangannya semakin turun. Layaknya Alexandria mempelajari dan mengenali tubuh orang yang sekarang menjadi suaminya itu.


Dan saat tangan Alexandria semakin menurun senjata triple T milik Vadeo sudah menegang sempurna. Dan tidak sengaja tersentuh oleh Alexandria.


“Ha?” suara Alexandria kaget dan spontan mengangkat kepalanya untuk melihat sesuatu yang sudah menegang itu.


Vadeo yang sudah tidak tahan lalu memeluk tubuh Alexandria dan menciumi pundak Alexandria.


“Sekarang kamu harus bertanggung jawab itu senjataku sudah siap mencari sasaran tembaknya.” ucap Vadeo dengan suara parau


“Aku kira Kak Deo sudah tidur..” ucap Alexandria pelan karena antara malu dan takut.


“Tadi sudah tidur terus jadi bangun..” bisik Vadeo di telinga Alexandria dan membuat Alexandria meremang.


“Maaf Kak..” ucap Alexandria


“Aku maafkan tetapi peluk aku lagi..” ucap Vadeo sambil mempererat pelukannya pada Alexandria. Alexandria yang merasa nyaman berada di dalam pelukan Vadeo pun lalu memeluk tubuh kekar Vadeo. Tidak mau berhenti hanya dalam saling peluk. Vadeo mulai menciumi wajah Alexandria, tangannya pun mulai mengusap usap dan membelai tubuh Alexandria bagian belakang.


“Kak....” suara lirih Alexandria yang sudah mulai beraksi karena aksi dari tangan dan bibir Vadeo.


“Hmmm..” gumam Vadeo sambil terus menciumi Alexadria, ciumannya pun semakin turun, Vadeo sudah mulai menciumi leher jenjang Alexandria. Alexandria pun mulai mengikuti permainan Vadeo jari jari mulusnya pun mulai mengusap usap tubuh Vadeo. Vadeo semakin bersemangat dan semakin menurun sasaran yang dia cium. Suara leguhan dari mulut Alexandria membuat Vadeo semakin memberi kenikmatan lebih buat istrinya itu. Lingerie yang membalut tubuh Alexandria pun sudah tidak pada posisinya. Dan agar tidak mengganggu, tangan Vadeo pun dengan cepat melepas lingerie itu. Alexandria hanya memejamkan matanya sambil merasakan nikmatnya perlakuan dari suami yang dicintainya itu.


“Gerrit bohong katanya sakit.” gumam Alexandria dalam hati sambil merem melek. Sedangkan Vadeo samakin memberi kenikmatan buat istrinya itu. Saat dia sudah merasakan onderdil istrinya sudah siap dan senjata triple T miliknya pun sudah tidak bisa ditahan lagi ingin segera mencari sasarannya .


“Sayang kita lakukan sekarang ya..” ucap Vadeo sambil mengakhiri kegiatnya lalu dia melepas G String nya. Alexandria hanya pasrah dan penasaran dengan apa lagi yang akan terjadi. Vadeo menciumi lagi wajah istrinya itu Alexandria pun juga membalas ciuman dari suaminya.

__ADS_1


Dan.. senjata triple T milik Vadeo pun mengarah pada sasarannya. Alexandria tampak sedikit meringis kesakitan.


“Bener kata Gerrit.” gumam Alexandria


“Sabar Sayang... dikit sakitnya..” ucap Vadeo sambil terus melancarkan serangannya. Kali ini Vadeo sudah tidak bisa lagi untuk menunda.


“Kak... sakit..” teriak Alexandria. Vadeo tangannya mengusap usap pipi Alexandria agar mengurangi rasa sakit nya.


“Sabar Sayang..” ucap Vadeo dan waktu terus berlalu, selanjutnya tidak ada lagi teriakan dari Alexandria, yang ada hanya leguhan dan erangan suara kenikmatan dari sepasang suami istri itu.


Vadeo yang sudah selesai memuntahkan peluru dari senjata triple T nya itu lalu terbaring di samping Alexandria sambil memeluk tubuh Alexandria dengan penuh cinta.


“Terima kasih gadis kecilku...” ucap Vadeo sambil menciumi puncak kepala Alexandria. Alexandria pun memeluk tubuh Vadeo dia merasa sangat bahagia karena tidak mengecewakan suaminya.


“Kak kita mandi sekarang?” tanya Alexandria dengan polosnya Sebab diberi tahu oleh Sang Mama setelah melakukan hubungan suami istri harus mandi keramas.


Akhirnya mereka berdua pun mengulangi lagi kegiatan enak enaknya. Dan selanjutnya mereka berdua terlelap di saat waktu hampir pagi.


Waktu terus berlalu Vadeo dan Alexandria masih tertidur pulas kedua insan manusia itu tidur dengan saling berpelukan entah karena memang begitu besarnya rasa cinta pada diri mereka pada pasangannya atau karena suhu ac yang dingin mengenai tubuh mereka yang tanpa sehelai benang pun.


Tiba tiba terdengar suara dering dari pesawat telepon hotel yang berada di nakas dekat tempat tidur mereka berdua. Bunyi dering telepon itu bersuara berkali kali.


Vadeo dan Alexandria lalu membukakan matanya. Mereka pun melepas pelukannya.


“Sudah siang Kak.” ucap Alexandria yang akan bangkit dari tidurnya, akan tetapi saat melihat tubuhnya polos, dia menjadi malu dan menutup dengan bantal bantal yang ada.


“Kenapa malu, hanya ada aku di sini.” ucap Vadeo lalu mengecup kening Alexandria, lalu dia bangkit dari tidurnya dan mengangkat ganggang telepon itu.

__ADS_1


“Tidak usah diganti bunga bunganya masih bagus, nanti saja kalau perlu diganti aku hubungi. Yang penting kasih kami makan dan minum.” suara Vadeo setelah mendengar jika pihak hotel akan mengganti bunga dan lain lainnya.


Vadeo lalu menaruh lagi ganggang telepon itu. Kemudian dia berjalan untuk mengambil bath robe buat dia dan Alexandria, dia tidak tega melihat Alexandria malu bertutup bantal bantal dan tidak berani bergerak.


“Sayang, pakai ini dulu nanti biar kopermu dibawa ke sini.” ucap Vadeo sambil memberikan bath robe pada Alexandria.


“Aku mau buka pintu kamar, makan pagi sudah ada di depan pintu.” ucap Vadeo lalu dia berjalan menuju ke arah pintu untuk mengambil sarapan yang sudah tersedia sejak tadi. Setelah membuka pintu kamar Vadeo menarik meja beroda yang berisi menu makan pagi buat pengantin baru.


Alexandria yang sudah memakai bath robe terlihat akan berjalan, namun tiba tiba dia membatalkan sebab ada yang terasa sakit di bagian tubuhnya.


“Sayang apa masih sakit?” tanya Vadeo yang melihat Alexandria tidak jadi berjalan dan kembali duduk di tepi tempat tidur.. Alexandria terlihat menganggukkan kepalanya.


Vadeo lalu berjalan mendekati Alexandria, Vadeo tersenyum saat melihat ada bercak darah di sprai putih yang lainnya sangat lembut itu.


“Sayang .. maafkan aku ya.. karena senjataku kamu jadi berdarah.. Tapi enak kan.” ucap Vadeo sambil mengacak acak puncak kepala Alexandria.


“Ada kekerasan.” ucap Alexandria sambil mencubit pinggang Vadeo.


“Huaha.... ha.... ha... Kalau tidak keras tidak enak Sayang...” ucap Vadeo lalu dia menggendong tubuh Alexandria dibawa ke kamar mandi.


“Berendam di air hangat, Mam Jo sudah menyelipkan salep kemarin di saku baju pengantin ku.” ucap Vadeo sambil terus menggendong tubuh Alexandria dan dibawa ke kamar mandi.


Setelah berendam air hangat, mereka berdua tidak segera keluar dari kamar mandi, tetapi melanjutkan sesi kegiatan enak enaknya di sana. Setelah perut mereka berdua merasa lapar baru mereka menyudahi dan keluar dari kamar mandi sudah kondisi bersih. Vadeo menggendong lagi tubuh Alexandria dan dibaringkan di sofa, lalu dia mengambil salep dan mengoleskan pada bagian tubuh Alexandria yang sakit.


“Sudah sekarang kamu duduk di sini, aku ambil meja dorongnya itu.” ucap Vadeo lalu dia berjalan untuk mengambil meja dorong yang berisi makanan dan minuman.


Akan tetapi saat Vadeo akan mendorong meja itu ke arah sofa. Terdengar suara ketukan pintu kamar.

__ADS_1


....


__ADS_2