
“Dokter Loly.” ucap Dokter pribadi keluarga William mengagetkan Dokter Loly yang sedang melihat Vadeo dan Alexandria sejak tadi. Dia duduk di deretan belakang Vadeo dan Alexandria dengan posisi diagonal jadi bisa melihat Vadeo dan Alexandria.
“E.. Iya Dok ada apa?” ucap Dokter Loly ganti bertanya sambil menoleh ke arah Dokter pribadi keluarga William yang duduk tepat di belakangnya.
“Nanti setelah mendarat tolong kirimkan data terakhir Nona Alexandria ya.” ucap Pak Dokter selanjutnya.
“Baik Dok.” jawab Dokter Loly.
“Apa ada lagi yang Dokter inginkan?” tanya Dokter Loly lagi.
“Sementara itu dulu.” ucap Dokter pribadi keluarga William itu selanjutnya. Dan Dokter Loly pun pandangan matanya kembali melihat ke arah kursi Vadeo dan Alexandria.
Vadeo masih saja satu tangannya memeluk pundak Alexandria, dia pun duduk dengan posisi miring menghadap ke arah Alexandria tangan satunya sesekali mengusap usap tangan Alexandria. Mereka berdua berbincang bincang ringan. Alexandria banyak bertanya tentang tempat yang akan didatanginya yang belum dia ketahui itu.
Dan setelah satu jam lebih beberapa menit perjalanan mereka pun sudah mendekati lokasi yang akan mereka tuju. Cuaca yang cerah mendukung perjalanan mereka menjadi lancar.
Mata Alexandria terus tertuju ke pemandangan luar kaca jendela jet nya. Dengan tatapan ke bawah untuk melihat pulaunya.
“Kak, bagus sekali tampak hijau banyak pohon pohon dan seperti nya ada danau juga... Kak Deo kok tahu tempat ini?” tanya Alexandria dengan mata berbinar binar dengan tatapan terus pada pulau cantik nya.
“Aku dapat informasi dari Vincent.” jawab Vadeo yang memang dia mendapatkan informasi ada pulau indah saat Vincent sedang bertugas. Kemudian Vadeo dan Vincent mencari informasi tentang pulau itu lebih lanjut dan akhirnya bisa dibeli oleh Vadeo secara legal.
Dan tidak lama kemudian jet itu sudah mendarat di lapangan yang memang sudah dibangun khusus untuk mendarat dan mengudaranya jet pribadi Vadeo.
Mereka semua keluar dan turun dari jet. Semua yang belum pernah datang ke pulau itu tampak kagum dengan indahnya pulau itu. Lapangan untuk mendarat jet itu dibangun di tepi pantai yang terlihat masih asri tidak ada sampah an organik sedikit pun. Dari kejauhan tampak pohon pohon nyiur melambai lambai.. dan hamparan pasir putih di sekitarnya.
Dan tidak lama kemudian ada satu mini bus dan satu mobil yang mendekat ke arah mereka.
“Kak, sudah ada yang menjemput..” ucap Alexandria yang masih menikmati hembusan udara pantai yang segar.
“Iya Sayang mereka sudah lebih dulu datang dengan kapal yang disewa.” jawab Vadeo sambil tangannya merapikan anak anak rambut kepala Alexandria yang dimainkan oleh angin laut.
“Ayo kita istirahat ke rumah kita, maaf aku belum bisa membuatkan mension.” ucap Vadeo sambil memeluk Alexandria dari samping.
“Terima kasih Kak.. yang penting aman buat berteduh dan berlindung..” ucap Alexandria sambil memeluk pinggang suaminya.
__ADS_1
Mereka berdua pun akhirnya memasuki mobil dan yang lainnya masuk ke dalam mini bus.
Mobil terus berjalan meninggalkan lapangan jet. Sementara itu Pak pilot dan crew nya beristirahat di villa kecil yang sudah dibangun tidak jauh dari lapangan jet itu. Dan tentu saja sudah dilengkapi dengan logistik dan keperluan hidupnya.
Mobil terus berjalan dengan kecepatan sedang, kini jalan sedikit nanjak tidak lagi datar seperti saat saat tadi di sekitar lokasi lapangan jet.
Pandangan mata Alexandria terus saja ke luar jendela, dilihatnya kini banyak pohon pohon di sepanjang perjalanan. Pohon pohon khas daerah tropis, ada yang sedang berbunga dengan bunga berwarna kuning dan ada juga yang sedang berbunga dengan warna ungu. Suara kicauan burung pun terdengar di telinga mereka. Sebab Vadeo membuka jendela kaca mobilnya meskipun tidak dibuka penuh. AC mobil pun dimatikan oleh Pak Sopir. Udara segar memasuki mobil mereka.
“Masih jauh Kak rumahnya dari lapangan tadi?” tanya Alexandria saat mobil sudah berjalan beberapa menit.
“Tidak Sayang satu jam perjalanan dari lapangan tadi. Aku pilih tempat itu untuk rumah karena aku rasa sangat cocok. Sumber air untuk kebutuhan hidup yang bagus di tempat itu dan tidak terlalu jauh dari lapangan jet.” jawab Vadeo sambil menatap Alexandria. Alexandria pun menatap kagum pada suaminya. Dia merasa sangat bersyukur sekali mendapatkan suami yang sangat mencintai dan perhatian pada dirinya. Alexandria pun menyandarkan kepalanya di bahu Vadeo. Vadeo tersenyum lalu mengecup puncak kepala Alexandria.
Dan setelah perjalanan satu jam lebih beberapa menit mobil memasuki pintu gerbang yang sudah dibukakan oleh penjaga keamanan. Mata Alexandria pun terbelalak kagum dengan pemandangan di depan matanya.
“Kak... ini benar benar bagus...” ucap Alexandria kemudian saat melihat di depannya ada taman bunga yang sangat indah.
“Nanti kamu lihat di belakang rumah Sayang..” ucap Vadeo kemudian sambil tersenyum
“Apa ada kolam renang..” gumam Alexandria.
Saat mereka berdua turun dari mobil sudah ada seorang pelayan yang ke luar dari pintu depan untuk menyambut mereka. Alexandria sudah sangat mengenal pelayan itu, sebab dia adalah pelayan keluarga Jonathan yang bertugas membuatkan menu makanan dietnya.
“Kak, kalau mini bus tadi berhenti di mana?” tanya Alexandria
“Ooo mereka tinggal di guest house tidak jauh dari sini.” jawab Vadeo sambil menggandeng tangan Alexandria untuk masuk ke dalam rumah barunya.
“Ayo Sayang aku tunjukkan sesuatu.. “ ucap Vadeo sambil terus melangkah menggandeng tangan istrinya. Mereka berdua berjalan melewati ruang ruang tamu, ruang tengah , ruang makan lalu berbelok menuju ke suatu tempat yang dibatasi oleh taman in door. Pelayan tadi sudah lebih dahulu berjalan mendahului mereka.
“Kak bagus tempatnya asri itu dapur ya..” ucap Alexandria saat melihat ada pelayan tadi yang berdiri di ruangan itu.
“Iya Sayang.. “ jawab Vadeo namun dia terus melangkah tidak menuju ke dapur akan tetapi dia membuka pintu yang berbatasan antara taman in door dan ruang dapur itu. Saat pintu di buka mata Alexandria terbelalak saat melihat di situ ada satu kebun sayur sayuran.
“Mau duduk di teras belakang apa mau ke kebun sayur?” tanya Vadeo sambil tersenyum menatap Alexandria yang matanya tampak berbinar binar
“Ini sayuran organik sangat bagus buat kamu. Di sana juga ada kolam ikan.” ucap Vadeo sambil telunjuk jarinya menunjuk ke suatu tempat.
__ADS_1
“Kak apa di sana itu ada air terjun?” tanya Alexandria yang kini tatapan matanya jauh ke depan saat melihat dari jauh tampak ada air terjun.
“Iya Sayang, itu dekat di mata tetapi jauh di kaki. Dan air terjun itu aku gunakan untuk sumber tenaga listrik. Listrik di sini sistem mikro hidro.” jawab Vadeo yang tatapan matanya juga tertuju pada air terjun yang ada di bukit.
“Keren keren... suamiku memang keren...” ucap Alexandria sambil memeluk tubuh Vadeo, Vadeo pun membalas pelukan istrinya sambil mencium lembut puncak kepalanya.
“Kak, itu juga ada tanaman padi?” tanya Alexandria saat melihat ada tanaman yang daunnya panjang panjang tetapi tumbuh tidak di tanah yang becek.
“Iya Sayang itu padi ladang, tetapi belum panen he... he...” jawab Vadeo lalu dia mengajak Alexandria menuruni anak tangga untuk berjalan menuju ke kebun organiknya.
“Hmmm maka Kak Deo, menolak tempat yang Papa pesan, ternyata di sini sudah lengkap. Semua sehat dan alami...” gumam Alexandria sambil tersenyum dan terus berjalan di samping Vadeo.
“By the way kok Vadeo bisa design ini semua?” tanya Alexandria sambil menoleh
“Ada sarjana pertanian organik yang membantu Setelah kebun sayur organik ada kebun buah, dan ada juga kebun kopi. Jauh jauh hari sebelum ada masalah pada diri kita Sayang. Aku memang ingin membuat pulau ini suatu tempat yang green, sustainable..” ucap Vadeo dengan nada serius
“Dan entahlah aku pikir pikir itu bagai rencana Allah yang sudah menyiapkan solusi pada masalah yang kita hadapi saat ini.” ucap Vadeo lagi
“Semoga kita segera mendapatkan anak yang kita rindukan.” ucap Vadeo sambil menggenggam erat tangan Alexandria lalu dicium dengan mesra ujung jari Alexandria.
Mereka berdua terus berjalan di kebun sayur organik itu. Tangan Alexandria pun tidak tahan untuk memetik beberapa sayuran yang siap dipanen.
Sementara itu di lain tempat, di guest house tempat tim dokter dan lainnya tinggal. Mereka semua juga terlihat senang dan bahagia dengan tempat tugas baru mereka.
Tampak ketiga perempuan cantik itu duduk di kursi teras sambil menikmati pemandangan yang indah, view dari tempat tinggal mereka.
“Nona Alexandria sangat beruntung memiliki suami yang sangat tampan, gagah dan sangat kaya.” ucap Dokter Loly sambil tersenyum mungkin membayangkan sosok Vadeo.
“Iya dan terlebih dari itu Tuan Vadeo sangat sayang dan cinta pada Nona Alexandria, kata Bang Bule sejak sekolah dasar Tuan Vadeo sudah menyukai Nona Alexandria dan akhirnya mereka bisa bersatu.” ucap Eveline sambil menatap Dokter Loly dan sang teraphis.
“Semoga di tempat ini Nona Alexandria segera hamil jadi lengkap kebahagiaan mereka. Tempat ini sangat sehat jika Nona secara psikologis selalu stabil saya yakin keinginan mereka memiliki anak akan segera terwujud. Kalau di pulau Jawa masih ada keluarga besar yang selalu menanyakan apa sudah hamil itu justru memberi tekanan mental pada Nona Alexandria. Di sini dia bisa benar benar rileks...” ucap sang teraphis menambahkan.
Akan tetapi tiba tiba Dokter Loly bangkit berdiri.
“Maaf saya ijin masuk ke kamar lebih dulu, mau istirahat sebentar tadi malam piket jaga.” ucap Dokter Loly pamit pada Eveline dan sang therapis. Dua perempuan cantik itu mempersilahkan Dokter Loly dan mereka berdua melanjutkan bincang bincangnya.
__ADS_1
...