
Sementara Vadeo dan Alexandria sedang melakukan kegiatan enak enaknya di kamar mandi barunya. Sedangkan di tempat lain, di sebuah kamar guest house ada satu orang yang sedang kecewa.
“Kenapa Tuan Vadeo tidak ada di tempat tinggalnya, apa dia sudah pergi, kenapa Nona Alexandria tidak diajak. Kalau tidur kenapa Nona Alexandria tidak tahu kamarnya.” gumam Dokter Loly dalam hati sambil duduk di sofa yang ada di dalam kamarnya.
“Hmmm sia sia aku aku cepat cepat ke sana tadi.” gumam Dokter Loly lagi sambil jari telunjuknya mengetuk ngetuk sandaran tangan yang ada di sofa yang dia duduki.
“Aku harus cari cara agar Nona Alexandria tidak segera hamil.” ucap Dokter Loly yang kini sudah bangkit berdiri dari tempat duduknya dan berjalan mondar mandir di dalam kamar nya.
“Sang therapis itu seperti nya tidak bisa diajak kerja sama.” ucap Dokter Loly masih berjalan mondar mandir. Dokter Loly masih saja berjalan mondar mandir di dalam kamarnya karena memikirkan suatu cara agar Alexandria tidak segera hamil.
“Hmmm aku dapat ide.. “ ucapnya kemudian sambil tersenyum senang.
“Besok saat memberi obat dan vitamin buat Nona Alexandria aku kurangi saja dosisnya.” ucapnya yang kini sudah duduk kembali di sofa sambil menyandarkan punggungnya di sandaran sofa.
“Hi.. hi... atau aku ganti dengan tepung terigu isi di dalam kapsul nya.. Yang penting tidak membahayakan jadi aku tidak terjerat hukum hi... hi....” ucapnya sambil tertawa terkekeh kekeh seorang diri di dalam kamarnya.
“Tetapi cari tepung di mana ya? tidak ada warung di sini.” gumamnya yang bertanya pada diri sendiri sambil wajahnya tampak berpikir pikir.
“Ooooh aku minta di bagian dapur saja.” ucapnya selanjutnya saat sudah mendapatkan ide
“Okey begitu saja, besok aku minta tepung di bagian dapur.” gumam Dokter Loly lalu dia berjalan menuju ke kamar mandi karena hari sudah menjelang malam sebentar lagi jam makan malam akan tetapi Dokter Loly belum mandi.
Sementara itu di lain tempat Vadeo dan Alexandria sudah selesai kegiatan enak enaknya, sudah mandi sudah segar sudah terpuaskan. Dan kini saatnya perut merasa lapar.
“Mau makan di bawah apa di sini Sayang...?” tanya Vadeo sambil tersenyum menatap Alexandria yang sedang mengeringkan rambutnya di depan cermin riasnya.
“Di bawah saja Kak, kasihan Ibu pelayan kalau membawa naik.” jawab Alexandria karena dia melihat hanya satu pelayan yang sudah setengah baya di rumah ini dan tidak ada lift untuk naik turun antar lantai.
__ADS_1
“Kalau kamu mau ke sini, aku yang akan turun mengambil makan malam buat kita.” ucap Vadeo yang kini berdiri di belakang Alexandria sambil menatap wajah istrinya di pantulan kaca.
“Aku memang tidak menaruh banyak orang di sini saat kita tinggal di sini, Sayang... agar tidak mengganggu kita..” ucap Vadeo selanjutnya sambil tersenyum.
“Ayo turun saja.. biar sehat naik turun tangga he... he...” ucap Alexandria sambil bangkit berdiri dan menggandeng tangan Vadeo, Vadeo pun lalu merangkul pundak Alexandria. Mereka berdua keluar dari kamar dan turun untuk menuju ke ruang makan.
Saat turun dari tangga dan berjalan menuju ke ruang makan aroma sedap hidangan makan malam sudah tercium di hidung mereka berdua.
Saat memasuki ruang makan, Alexandria terlihat kaget sebab lampu ruang ruang makan tidak menyala terang akan tetapi hanya dengan sinar redup lampu romantis dan sinar temaram lilin lilin di meja. Dan hanya ada dua kursi di dalam ruang makan itu.
“Kak, kita dinner romantis di rumah sendiri...” suara Alexandria sambil menyandarkan tubuhnya pada pundak Vadeo.
“Iya Sayang, semoga kamu senang tinggal di sini.” ucap Vadeo sambil membelai rambut Alexandria. Vadeo benar benar ingin gadis kecilnya itu selalu bahagia hatinya.
“Ayo kita makan, perutku sudah sangat lapar.. karena kegiatan kita di kamar mandi tadi.” ucap Vadeo sambil tersenyum dan menuntun Alexandria menuju ke meja makan. Alexandria tampak tersipu malu diingatkan kegiatan enak enaknya tadi.
“Semua yang dimasak sudah sesuai dengan diet sehat kamu.. Aku juga ikut diet sehat itu juga lebih baik buat kita.” ucap Vadeo sambil menyuapi Alexandria.
Waktu terus berlalu dan hingga mereka pun sudah selesai makan malamnya. Alexandria pun mengajak Vadeo membereskan meja makan agar pekerjaan sang pelayan sedikit berkurang.
“Kamu memang cantik luar dalam Al, maka sejak dulu aku sudah terpesona padamu gadis kecilku...” ucap Vadeo dalam hati sambil tersenyum menatap Alexandria yang tangannya sudah mulai sibuk membereskan alat alat makan. Vadeo pun dengan senang hati turut serta membantu.
Setelah selesai membantu membereskan meja makan. Vadeo dan Alexandria keluar meninggalkan ruang makan dan segera berjalan menuju ke kamarnya, sebab sang pelayan sudah masuk dan mempersilahkan mereka berdua untuk istirahat.
Setelah sampai di dalam kamar Alexandria terlihat mencari koper yang berisi buku bukunya. Setelah dia mendapatkan lalu dia mengeluarkan buku buku itu.
“Sayang buku buku itu bisa di taruh di lemari buku yang ada di ruang depan ruang kerjaku kamu bisa baca baca di ruangan itu.”
__ADS_1
“Besok kalau kamu sudah selesai program hamilnya kamu juga bisa masuk di dalam ruang kerjaku.” ucap Vadeo selanjutnya.
“Iya Kak...” jawab Alexandria sambil masih sibuk mengeluarkan buku bukunya. Dan Vadeo pun juga turut membantu.
“Sudah.. sekarang kita istirahat kita lanjutkan besok menata buku buku itu.”
“Apa kamu mau membaca sekarang? Kamu baca saat aku bekerja saja.. sekarang kita istirahat saja...” ucap Vadeo lalu menarik tangan Alexandria agar meninggalkan buku bukunya.
“Kak, aku ingin buat alat alat yang minim radiasi agar aman buat aku dan orang orang yang aku bantu.” ucap Alexandria akan tetapi dia menurut pada Vadeo dan berjalan menuju le sofa panjang yang ada di dalam kamar itu.
“Iya sekarang kita lihat bintang bintang di langit saja...” ucap Vadeo sambil melihat langit gelap bertabur bintang di luar lewat kaca jendela yang belum ditutup tirainya.
“Kak, kalau di kota pemandangan gemerlap lampu kalau di sini gemerlap bintang bintang, sama sama gemerlap nya tetapi kenapa kalau melihat gemerlap bintang bintang hati terasa tenang dan nyaman ya Kak..” ucap Alexandria sambil menyandarkan kepalanya di pundak Vadeo dan juga menatap gemerlap bintang bintang..
“Iya Sayang mungkin karena itu ciptaan sang Maha Kuasa diciptakan dengan penuh cinta pada umat Nya...” ucap Vadeo
“Kalau lampu diciptakan oleh manusia dengan penuh cinta pada uangnya... he...he...” sambung Vadeo lagi sambil tertawa kecil.
Mereka berdua pun terus berbincang bincang tentang cinta dan kehidupan hingga akhirnya Vadeo dan Alexandria pun merasakan mengantuk. Dan selanjutnya mereka melangkah menuju ke tempat tidurnya untuk membaringkan tubuhnya.
Alexandria memeluk tubuh Vadeo sedangkan jari jari Vadeo membelai belai rambut kepala Alexandria.
“Kak Deo jangan tinggalkan aku ya...” ucap lirih Alexandria dengan mata yang semakin berat sebab selain suasana yang membikin dia mengantuk juga belaian jari jari Vadeo semakin membuat kelopak matanya semakin berat.
“Aku tidak akan meninggalkan kamu Sayang, mutiara yang sudah lama aku cari.. mana mungkin aku tinggalkan...” ucap Vadeo sambil mengecup puncak kepala Alexandria. Dan lama lama keduanya pun tertidur.
Akan tetapi tiba tiba, mata Alexandria terbuka karena dia teringat akan sesuatu.....
__ADS_1
....