Alexandria

Alexandria
Bonchap. 8. Ke Sungai


__ADS_3

Mereka lalu melangkah meninggalkan bukit tempat pohon asam itu berada. Vadeo berjalan sambil menggendong ke dua anak nya. Sebab Richardo masih gemetaran lutut nya. Bahkan Richardo masih memegang lengan Vadeo saat berjalan.


“Do kamu itu kenapa masih gemetaran?” tanya Vadeo yang merasakan tangan dingin Richardo yang menempel pada lengan nya.


“Kamu itu menambah berat langkah ku saja.” Gumam Vadeo sambil terus berjalan. Sementara Valexa dan Deondria tampak tersenyum bahagia sambil berceloteh riang tangan mungilnya masing masing membawa satu buah asam.


“Ni.. gi ya Pa...” celoteh mereka berdua


“Man... Man.. Man Pa.. Man Pa...” celoteh mereka berdua dan berulang ulang.


“Iya.” Jawab Vadeo sebab jari jari mungil anak anak nya terus saja menoel noel pipi nya sambil terus berceloteh yang seperti nya maksud mereka minta kembali lagi datang di lain waktu.


Beberapa menit kemudian mereka sudah sampai di dekat mobil yang terparkir.


“Kamu pangku Aca dan Aya. Aku yang bawa mobil.” Ucap Vadeo sambil membuka pintu mobil. Richardo pun segera membuka pintu mobil dan segera masuk ke dalam mobil. Sebab Vadeo sudah masuk ke dalam mobil bersama dengan Valexa dan Deondria.


Setelah Richardo duduk dia segera menerima Valexa dan Deondria lalu memangku kedua bocah itu, Richardo pun dengan segera mengambil botol air mineral nya dan menegakkan hingga tuntas.


Vadeo menoleh ke arah Richardo dan selanjutnya dia menyalakan mesin mobil nya dan berjalan menuju ke rumah nya.


“Papa sudah lapar nich..” ucap Vadeo sambil terus melajukan mobil nya. Sesekali dia menoleh ke arah samping untuk melihat kedua anak nya. Tampak kedua anak nya masih ceria bahagia dan tidak rewel sekejap pun.


Vadeo terus menambah laju kecepatan mobil nya agar segera sampai di rumah nya. Dia berpikir kalau diri nya saja merasa lapar pasti kedua anak nya yang masih batita itu semakin merasa lapar perutnya.


Setelah perjalanan satu jam lebih mereka sudah memasuki pintu pagar rumah nya. Vadeo terus melajukan mobil mendekati pintu rumah nya. Kebun bunga di halaman semakin indah karena semakin banyak jenis bunga nya yang sedang bermekaran.


Alexandria yang sudah menunggu sejak tadi dengan gelisah, saat mendengar suara mobil segera melangkah menuju ke pintu depan dan membuka daun pintu itu.


Saat mobil sudah berhenti, Vadeo dan Richardo lalu membuka pintu mobil, akan tetapi kedua nya sudah tidak lagi kuat menggendong Valexa dan Deondria. Richardo menuntun pelan pelan agar anak anak itu turun dari mobil. Kedua anak itu pun langsung lari menuju ke arah sang Mama yang berjalan menuju ke mobil.

__ADS_1


“Ma.. Ma... cam..” teriak mereka berdua sambil tangan mungil nya terulur ke depan, masing masing menunjukkan satu buah asam yang besar dan panjang ke pada sang Mama.


“Ooo kalian tadi ke sana maka lama sekali.” Ucap Alexandria sambil menangkap kedua anak nya dan lalu digendongnya.


Sesaat Alexandria tampak kaget saat melihat suami nya dan Richardo.


“Pa, kenapa baju kotor sekali?” tanya Alexandria tampak kaget melihat pakaian suami nya sangat kotor.


“Dan kenapa kalian pucat sekali?” tanya Alexandria sambil menatap wajah Vadeo dan Richardo secara bergantian.


“Lapar Ma..” ucap Vadeo dengan pelan.


“Mandi dulu baru makan, tidak baik makan dalam keadaan kotor begitu.” Ucap Alexandria sambil menatap baju suami nya yang kotor.


“Aca, Aya juga mandi dulu ya...” ucap Alexandria sambil membalikkan tubuh nya dan menciumi wajah anak anak nya. Lalu melangkah masuk ke dalam rumah.


“Aku sebenarnya ingin mandi di sungai.. tapi sudah tidak berdaya..” gumam Vadeo sambil terus melangkah mengikuti langkah sang isteri.


“Ma yuk ke sungai..” ajak Vadeo sambil menatap wajah Alexandria.


“Anak anak diajak?” tanya Alexandria sambil menatap sang suami.


“Kalau mereka ikut kita tidak bisa melakukan nya.” Jawab Vadeo sambil nyengir.


“Biar mereka bermain main dengan Richardo.” Jawab Vadeo sambil tersenyum menatap anak anak nya dan isterinya.


“Do...” teriak Vadeo memanggil Richardo yang sedang berada di ruang tamu main game dengan hand phone nya.


Sesaat kemudian...

__ADS_1


“Kamu temani Aca dan Aya bermain main. Aku dan Alexa mau ke sungai sebentar.” Ucap Vadeo selanjutnya.


Richardo pun lalu mendekati Aca dan Aya yang duduk di karpet di antara mainan mereka. Tampak kedua anak itu asyik dengan mainan nya dan dengan senang hati saat Richardo menemani mereka.


Vadeo tampak tersenyum senang.


“Ayo Sayang, ambil kain pantai kamu dan segala perlengkapan, kita tidak mungkin lagi bisa sebebas dulu.” Ucap Vadeo sambil menarik tangan isterinya.


Alexandria pun bangkit berdiri sambil menoleh ke arah Valexa dan Deondria. Tampak kedua anak itu masih sibuk bermain dan berceloteh mengajak bicara pada Richardo.


Vadeo dan Alexandria pun segera melangkah meninggalkan ruang keluarga, mereka berdua yang sudah sangat rindu untuk menikmati moment berenang berdua dan bercinta di dalam air sungai yang jernih, sudah tidak sabar ingin segera menceburkan diri ke sungai.


“Ayo Sayang , aku gendong ya biar cepat sampai.” Ucap Vadeo sambil menggandeng tangan Alexandria menyusuri jalan di kebun sayur. Alexandria yang diam tidak menjawab akhirnya digendong oleh Vadeo.


Beberapa menit mereka berdua sudah sampai di tepi sungai. Vadeo lalu menurunkan tubuh Alexandria. Saat Vadeo akan melepas tshirt nya. Mereka berdua mendadak tampak kaget. Sebab banyak ikan ikan berenang berenang di dekat permukaan sungai. Sangat banyak beraneka warna sangat indah.


“Pa kok banyak sekali ikannya bagus bagus.” Ucap Alexandria antara kaget dan kagum.


“Mungkin mereka menyambut kita.” Ucap Vadeo yang belum jadi melepas tshirt nya, karena dia pun juga kagum melihat ikan ikan di sungai.


Belum juga selesai kaget melihat ikan ikan yang tiba tiba tampak banyak. Kini di atas juga banyak burung burung datang dan saling berkicau bersahutan.


“Cit... Cit... Cit... cuit... cuit....”


“Fuit.... fuit.... Cit.... Cit.. cuit... cuit...”


“Pa di atas burung burung juga banyak... indah sekali.” Ucap Alexandria sambil mendongak dan tersenyum senang melihat indah dan harmoni nya alam.


Dan tiba... Tiba... Mereka berdua mendengar suara langkah kaki yang berlari mendekat.

__ADS_1


Dan selanjutnya terdengar suara yang sangat mereka kenal.


“Pa... Ma....” teriak Valexa dan Deondria yang berada di dalam gendongan Richardo.


__ADS_2