
Dalam perjalanan pulang, Alexa terus berdiam diri sembari menatap ke luar jendela.
Diego mengulurkan sebelah tangannya dan mengusap sayang kepala sang istri sehingga Alexa menoleh ke arah sang suami.
"Diandra pasti baik-baik saja." hibur Diego yang di balas senyum tipis oleh Alexa.
"Kakak tau,Angelica adalah seorang psikopat dia bisa melakukan apa saja untuk bisa mendapatkan apa yang dia inginkan." ungkap Alexa sambil menatap lurus ke depan.
Diego pun menggenggam tangan sang istri dan di kecupnya.
Cup
"Semua akan baik-baik saja, aku janji." ucap Diego membuat Alexa langsung menatap sang suami.
"Berjanjilah kakak akan baik-baik saja apapun yang terjadi." ucap Alexa dengan pikiran yang berkecamuk.
"Aku berjanji sayang." balas Diego
Tidak membutuhkan waktu lama, mobil yang di kendarai Diego pun memasuki basemant apartemen karena memang Alexa meminta sang suami untuk kembali ke apartemen.
Alexa segera menuju ke unit nya diikuti sang suami di belakangnya.
Ceklek
Alexa langsung masuk ke dalam ruang rahasia.
Di ketikya beberapa kata di atas keyboardnya namun hasilnya nihil.
"****." umpat Alexa karena belum berhasil melacak dimana keberadaan sang sahabat.
"Ayo Alexa berpikirlah." gumamnya sembari mengetukkan jari telunjuknya di keningnya sendiri.
Kring kring kring
Alexa langsung mengambil ponselnya yang berada di tas selempangnya.
Mendapati nomor baru yang tengah menelponnya, Alexa pun tanpa pikir panjang langsung menggeser tombol hijaunya dan jangan lupakan jemarinya yang juga terus menari di atas keyboard laptop nya.
"Hallo." ucap Alexa begitu sambungan telponnya terhubung
"Apa kabar Alexandria Vernandes." balasnya
"Angelica Nugroho, rupanya kamu belum menyerah juga ya." ucap Alexa yang sengaja memancing emosi Angelica
"Kau..." ucap Angel terpotong saat Diandra berteriak di belakangnya
"Al, jangan khawatirkan aku, aku disini baik-baik saja." teriak Diandra yang langsung membuat Angelica geram dan menatap nyalang ke arahnya.
Alexa pun meremat ponselnya yang masih berada di telinga mendengar teriakkan sang sahabat.
Klik
__ADS_1
Angelica memutuskan sepihak sambungan telponnya dan segera menghampiri Diandra.
Plak
"Dasar sialan." umpat Angelica setelah menampar keras pipi Diandra yang sudah nampak mengeluarkan darah dari sudut bibirnya.
"Apa kamu sudah bosan hidup hah ?" tanya Angelica sembari mencengkeram dagu Diandra
Bukannya merasa takut, Diandra malah tersenyum sinis ke arah Angelica tanpa merasa takut sedikitpun.
"Kau pikir Alexa akan termakan jebakanmu ? Jangan mimpi Angelica Nugroho." balas Diandra penuh penekanan
Plak
Plak
Angelica kembali menampar kedua pipi Diandra dengan kerasnya.
"Kita lihat saja Diandra, aku pastikan sahabat baikmu itu pasti akan kesini untuk mengantarkan nyawanya padaku, karena aku sudah memegang kelemahannya, dan salah satu kelemahannya ada pada dirimu." ucap Angelica sembari berlalu meninggalkan ruangan itu.
Brak
Diandra berjengit kaget saat Angelica menutup pintunya dengan keras dari luar.
"Aku harus kuat, atau Alexa akan celaka." gumam Diandra sembari meringis menahan sakit di pipinya.
Sementara Alexa tengah meremat ponselnya yang baru saja di putuskan sambungan telponnya secara sepihak.
Huft
"Sayang." panggil Diego yang membuat Alexa membuka matanya dan langsung menoleh ke arah sang suami
"Ada apa ?" Diego membelai lembut pipi sang istri dan menatap dalam mata yang nampak berbeda dari biasanya.
Bukan menjawab pertanyaan sang suami, Alexa malah menghambur ke pelukan sang suami.
Diego mengusap sayang punggung sang istri untuk menyalurkan ketenangan.
Ceklek
Alexa dan Diego langsung menoleh ke arah pintu begitu mendengar suara pintu terbuka.
Nampak Delia dan Daniel tengah berdiri di ambang pintu membuat Alexa langsung melepaskan pelukan sang suami dan beranjak menghampiri sang bunda.
Grep
Alexa langsung memeluk erat sang bunda.
"Salsa bun." lirih Alexa dalam pelukan sang bunda
"Kita akan sama-sama menjemputnya." ucap Delia sembari mengusap sayang punggung sang putri.
__ADS_1
"Tapi Lexa belum mengetahui keberadaannya bunda." Alexa mendongak menatap sang bunda yang tengah tersenyum.
"Ayo." Delia menggandeng tangan sang putri menuju ke deretan komputer yang berada di ruangan itu diikuti Daniel.
Delia langsung duduk di kursi yang tadi di duduki oleh sang putri dan segera menggerakkan jemarinya di atas keyboard.
"Kita harus tetap tenang dalam keadaan apapun, atau kita tidak akan menemukan apa-apa." ucap Delia tanpa menghentikan jemarinya di atas keyboard.
Alexa terus menatap tanpa berkedip ke arah jemari sang bunda yang dengan lincahnya menari di atas keyboard dengan mimik muka yang sangat tenang.
Tidak membutuhkan waktu lama, nampak sebuah gudang kecil yang di yakini oleh Delia bahwa tempat itu adalah tempat yang di gunakan untuk menyekap Diandra.
"Bunda yakin Angelica menyandera Diandra di gudang ini." ucap Delia sambil menunjuk layar komputernya.
Alexa,Diego dan Daniel pun menatap layar komputer di depannya.
"Apa di gudang itu tidak ada cctv bunda ?" tanya Alexa kepada sang bunda yang di jawab gelengan kepala oleh Delia.
"Tidak ada, kita harus tau dulu ada berapa orang yang menjaga tempat itu baru kita bisa bertindak." jawab Delia
Daniel yang tanggap pun langsung menghubungi Jordy untuk segera menyelidiki tempat yang di maksud sang putri.
"Kita tunggu kabar dari Jordy." ucap Daniel sembari mengusap puncak kepala sang cucu.
Alexa pun langsung masuk ke dalam pelukan sang Opa.
"Lexa takut Opa." lirih Alexa yang membuat Daniel mengeratkan pelukannya
"Jangan tunjukkan kelemahanmu kepada lawan nak, bersikaplah biasa dan tetap tenang atau mereka akan mudah menjatuhkan kita." ucap Daniel yang di angguki oleh Alexa.
"Iya Opa." jawab Alexa
Di kediaman Alexander nampak Abimanyu yang terus terdiam dengan pandangan kosongnya.
"Sayang." Lintang merangkul pundak sang putra yang nampak murung itu.
"Diandra mom, Abi tidak ingin dia kenapa-kenapa." lirih Abimanyu sembari meringsek masuk ke dalam pelukan sang ibu.
"Mommy tau nak, berdoalah semoga semua baik-baik saja." ucap Lintang sambil menahan air matanya.
Aldiansyah menghela nafasnya pelan melihat 2 kesayangannya tengah bersedih.
Di usapnya kepala sang putra yang masih berada di dalam pelukan sang istri, sehingga membuat Abimanyu sontak mendongak dan menatap sang daddy sambil meneteskan air matanya.
"Laki-laki tidak boleh menangis, apapun yang terjadi kita harus kuat." ucap Aldiansyah sembari menghapus air mata di pipi sang putra meski tak di pungkiri dia pun ikut terpukul melihat sang putra terpuruk.
Amel yang melihat sang sahabat tengah terpuruk pun tidak dapat menahan air matanya.
Cepat-cepat Amel menghapus air matanya karena tidak ingin Abimanyu melihatnya dan akan menambah kesedihannya.
Amel menoleh begitu mendapati sebuah tangan yang melingkar di bahunya.
__ADS_1
"Semua pasti baik-baik saja." ucap Alvaro yang membuat Amel langsung masuk ke dalam pelukannya dan terisak disana.
Alvaro pun menuntun sang kekasih untuk pergi ke tempat lain.