Alexandria

Alexandria
Bab. 188.


__ADS_3

Pandangan mata Alexandria dan sang therapis tertuju pada wajah Dokter Loly yang sudah duduk di sofa di dalam ruang tamu itu. Terlihat wajah Dokter Loly yang bengkak dan memerah, terutama pada hidung dan bibirnya. Sesekali dia menutupi bagian tubuhnya itu dengan tissue.


“Dokter Loly wajah anda kenapa?” tanya sang therapis dengan nada cemas


“Dok, apa pelayan kami salah memberikan minuman?” tanya Alexandria tidak kalah cemasnya. Dia pun buru buru mendekat ke arah tiga cangkir yang berisi teh herbal itu. Alexandria mengambil salah satu cangkir teh herbal yang mengendus aroma teh herbal itu.


“Seperti nya tidak ada yang salah, aromanya enak harum segar..” gumam Alexandria lalu dia mencicipi sedikit teh herbal itu.


Sementara itu sang therapis berjalan mendekat ke Dokter Loly dan Dokter Loly masih diam saja duduk di sofa, dengan ekspresi wajah menahan sakit.


“Apa kamu bisa mengobati mukaku ini dengan terapi akupuntur mu?” bisik Dokter Loly pada sang Therapis.


“Haduh Dok, yang saya pelajari adalah akupuntur untuk program hamil bukan muka bengkak.” jawab sang therapis yang masih mengamati wajah Dokter Loly.


“Dokter kena apa?” tanya sang therapis dan Alexandria secara bersamaan


“Disengat tawon.” jawab Dokter Loly dengan nada datar.


“Huaha....ha... ha.... “ tawa sang therapis pecah saat mendengar jawaban Dokter Loly, sedang Alexandria tampak masih kuatir dengan tamunya yang mendapat musibah di dalam rumahnya. Mata Alexandria menyapu isi ruangan melihat lihat apa ada sarang tawon.


“Maaf Dok, mungkin karena rumah kami terlalu alami sehingga ada banyak tawon.” ucap Alexandria kemudian.


‘Bagaimana Dokter bisa disengat tawon?” tanya sang Therapis yang mengambil cangkir teh herbalnya lalu dia segera menyesapnya karena dia sudah merasakan haus.


Akan tetapi sebelum Dokter Loly menjawab muncul sosok sang pelayan sambil membawa botol madu dan sebungkus kapas.

__ADS_1


“Ini Dok, diolesi madu dulu...” ucap sang pelayan sambil mendekat.


“Lha Dokter itu jangan asal petik bunga dan langsung cium bunga.. sebelum Dokter mencium bunga, tawon di dalam bunga sudah mencium Dokter. He... he...” ucap sang pelayan yang sudah ditelepon oleh Pak satpam atas musibah yang dialami Dokter Loly baru saja.


“He... he... Itu Dokter mau terapi sangat lebah ya... he... he...” ucap sang therapis sambil tertawa kecil dan pandangan matanya tertuju pada Dokter Loly yang kini sudah menuangkan botol madu pada satu potong kapas. Sementara Alexandria menatap tajam pada Sang pelayan yang masih juga menertawakan Dokter Loly.


Sang pelayan yang merasa ditatap tajam oleh Alexandria lalu segera diam dari tawanya. Dan dia mohon diri untuk kembali ke dapur.


“Sudah ayo kita balik ke guest house. Nanti minta Dokter senior memberi obat anti bengkak dan sakit. Kalau Dokter Loly kan punya nya obat untuk alat reproduksi he... he...” ucap Sang therapis masih menertawakan Dokter Loly yang masih mengoles oles hidung dan bibirnya yang jontor dengan madu.


“Aku malu kembali ke guest house.” ucap Dokter Loly sambil masih terus mengoles oles wajah nya dengan madu.


“Nona Alexandria, bagaimana kalau saya menginap di sini.. Biar nanti minta tolong pelayan untuk mengambilkan barang barang saya.” pinta Dokter Loly dengan wajah memelas sambil menatap Alexandria. Dalam hati dia akan mensyukuri musibahnya disengat lebah jika akhirnya boleh menginap di rumah ini.


“Jika Dokter Loly masih malu di dalam kamar saja dulu biar makanan diantar pelayan guest house ke dalam kamar. Dokter Loly. ” ucap Alexandria selanjutnya.


“Hmmm tetap saja tidak bisa aku tinggal di rumah ini.” gumam Dokter Loly di dalam hati. Dia benar benar sangat kecewa dan kesal. Kesal disengat lebah dan kecewa tidak bisa bertemu Vadeo dan tidak diijinkan menginap di rumah ini.


“Madu nya boleh dibawa ke guest house Dok, siapa tahu bisa mengurangi bengkak dan sakit.” ucap Alexandria yang melihat wajah kecewa Dokter Loly.


“Ayo Dok, aku sudah capek pengen istirahat. Nona Alexandria pasti juga akan beristirahat habis mendapat terapi pasti mata mengantuk.” ucap sang therapis lalu dia mohon diri pada Alexandria. Dan Dokter Loly pun mau tak mau juga ikut bangkit berdiri dan berjalan mengikuti sang therapis meninggalkan ruang tamu dan terus melangkah untuk menuju guest house. Di sepanjang perjalanan nya Dokter Loly menutupi wajahnya dengan tas hitamnya.


Sementara itu Alexandria pun bangkit berdiri lalu melangkah akan menuju ke kamar tidurnya. Alexandria memang merasakan matanya mengantuk efek dari habis mendapatkan terapi.


Alexandria terus menaiki anak tangga saat sampai di depan pintu kaca penghubung terlihat sosok Vadeo berdiri di balik pintu kaca sambil membuka kunci pintu lalu Vadeo pun membuka daun pintu kaca itu.

__ADS_1


“Mengantuk ya Sayang...” ucap Vadeo yang melihat sayu di kedua mata indah Alexandria. Vadeo pun juga sudah paham efek dari terapi sang istri akan mengantuk.


“Iya Kak.. pengen langsung tidur..” jawab Alexandria sambil masuk dan terus melangkah. Vadeo pun berjalan di samping isteri nya sambil merangkul pundak Alexandria.


Vadeo membukakan pintu kamar tidur, saat mereka sudah sampai di depan pintu kamar.


“Kamu tidur dulu nanti saat makan siang aku bangunkan.” ucap Vadeo sambil mencium puncak kepala Alexandria lalu dia menutup pintu saat Alexandria sudah membaringkan tubuhnya di tempat tidur, dia pun akan melanjutkan pekerjaannya.


Vadeo masuk kembali ke ruang kerjanya, dia tadi memang sekilas melihat kehebohan di ruang tamu lewat CCTV, akan tetapi Vadeo tidak begitu ambil peduli sebab dia lihat istrinya baik baik saja. Dan sang pelayan pun sudah memberikan pertolongan pertama.


Yang ingin Vadeo ketahui adalah perkembangan kondisi Alexandria, akan tetapi dia mau bertanya pada Alexandria tidak tega saat lihat Alexandria sangat mengantuk.


“Hmmm kalau tanya pada Dokter pimpinan tim pasti juga belum mendapatkan laporan terakhir dari anggotanya.” gumam Vadeo dalam hati, lalu dia melanjutkan kerjanya.


Sementara itu di dalam dapur. sang pelayan masih tertawa mengingat wajah Dokter Loly yang bengkak, terutama pada bagian hidung dan bibirnya yang jontor.


“Ha... ha... ha... tawon tawon.. kok pinter milih bagian yang sensitip.. “ ucap Sang pelayan yang masih tertawa sambil menyelesaikan pekerjaannya.


“Apa dikira si tawon bibir merah Dokter Loly itu bunga ha... ha.... ha...” ucap Sang pelayan masih terus saja tertawa.


"Dokter sih tidak mau tenang tenang saja duduk menunggu temannya. Malah jalan jalan lihat lihat rumah orang. Hiks karena ideku aku suruh jalan jalan ke taman bunga malah jadi disengat tawon." ucap sang pelayan lagi sambil terus melanjutkan pekerjaannya.


"Tapi aku kan sudah bertanggung jawab memberi dia madu untuk pertolongan pertama." ucap sang pelayan takut jika nanti disalahkan karena musibah yang dialami Dokter Loly.


...

__ADS_1


__ADS_2