Alexandria

Alexandria
Bab. 185.


__ADS_3

Detik berganti detik, menit berganti menit, jam berganti jam. Setelah makan pagi Vadeo mulai sibuk dengan pekerjaannya. Alexandria dibantu oleh sang pelayan mengatur buku buku nya di lemari buku di ruangan di lantai atas depan ruang kerja Vadeo.


Saat Alexandria masih menata buku buku tiba tiba dia melihat satu buah buku yang lain dari pada lainnya.


“Buku siapa ini, apa buku Kak Deo..” gumam Alexandria sambil meraih satu buku itu. Buku dengan sampul foto aneka buah dan sayuran segar aneka warna.


“Suplemen, vitamin dan mineral alami.” gumam Alexandria sambil melihat sampul buku itu. Alexandria lalu membuka sampul buku itu. Bibir Alexandria tersenyum sebab ada tulisan tangan Ixora.


^^^.....Buat Kak Alexa, Kak... aku bawakan buku ini buat Kakak, siapa tahu bermanfaat buat mengisi waktu Kakak di pulau Alexandria dan isinya bermanfaat buat kesehatan Kakak... Dan... jika aku belum datang ke pulau Alexandria, setidaknya buku ku yang sudah ke sana.... okey selamat membaca.......^^^


^^^Ixora


^^^


^^^


^^^


Alexandria tersenyum, dia sangat tertarik dengan isi buku itu. Alexandria lalu berjalan menuju ke sofa panjang dan menaruh pantatnya di sofa itu. Alexandria pun mulai duduk membaca buku itu lembar demi lembar. Dan sang pelayan pun sudah pergi meninggalkannya karena harus melaksanakan pekerjaan lainnya.


Alexandria terus membaca halaman demi halaman buku itu dan dia mencatat di note kertasnya beberapa hal penting baginya.


Vadeo yang berkerja di ruang kerjanya sesekali melihat Alexandria dari rekaman CCTV. Dan waktu terus berlalu jam makan siang pun tiba. Vadeo bangkit dari tempat duduknya lalu dia berjalan keluar dari ruang kerjanya. Vadeo melangkah menuju ke tempat istrinya.


“Sayang kamu asyik sekali membaca sejak tadi.” ucap Vadeo sambil terus melangkah mendekati sofa yang diduduki oleh Alexandria. Mendengar suara sang suami Alexandria mendongakkan kepalanya dan tersenyum menatap Vadeo.


“Ini buku dari Ixora, bagus sepertinya isinya cocok buat aku.” jawab Alexandria sambil menunjukkan sampul buku yang dibacanya pada suaminya.


“Hmmm bagus.. di sini bahan bahan itu sudah tersedia Sayang.. “ ucap Vadeo sambil duduk di samping istrinya sambil turut membaca sekilas

__ADS_1


“Ixora kok bisa mendapatkan buku seperti ini.” gumam Vadeo


“Iya Ixora ingin menjadi dokter tetapi dengan pengobatan alami. Mungkin dia sudah mengkoleksi buku buku yang berkaitan dengan itu.. Dan mengerti masalah kita dan aku bawa buku buku kemarin terus dia selipkan buku ini.” jawab Alexandria sambil menatap suaminya. Vadeo terlihat mengangguk angguk paham sebab memang Ixora kini sudah menjadi mahasiswi kedokteran tetapi masih di semester awal.


“Ya sudah sekarang kita makan dulu. Besok kamu bisa minta pelayan untuk membuatkan makanan dan minuman yang kamu butuhkan.” ucap Vadeo lalu menutup buku yang masih dipegang oleh Alexandria dan menaruhnya di atas meja di depan nya.


“Kak, kalau sayuran dan buah kita panen terus kalau habis kita harus mendatangkan dari luar pulau?” tanya Alexandria sambil bangkit berdiri sebab suaminya pun sudah bangkit berdiri.


“Tidak akan habis Sayang, pegawai kebun akan datang mereka menanam seminggu sekali dan panen seminggu sekali.. setiap minggu ada yang ditanam dan dipanen tidak akan habis.. Rencana aku juga akan memperluas lahan sayur dan buah organik di lokasi lain.. nanti aku eksport ke Jerman.” jawab Vadeo sambil menggandeng tangan istrinya untuk menuruni anak tangga menuju ke meja makan.


Dan setelah makan siang mereka berdua pun melanjutkan kegiatannya yang tertunda karena jam makan siang.


Waktu terus berlalu, Sementara itu sore hari di guest house Eveline yang mulai curiga pada tingkah laku Dokter Loly masih berpikir pikir mencari cara untuk menyelidiki Dokter Loly.


“Sejak tiba tiba pamit saat masih mengobrol tentang Tuan Vadeo dan Nona Alexandria aku menangkap gelagat mencurigakan.” gumam Eveline yang masih duduk di sofa di dalam kamarnya.


“Ditambah pagi pagi dia membawa tepung putih di tangannya.” gumam Eveline lagi.


“Hmmm coba aku temui Ricardo sekarang..” gumam Eveline lalu dia pun beranjak keluar dari kamarnya.


Eveline terus melangkah menuju ke kamar Ricardo. Kamar untuk tamu laki laki terletak di lokasi bangunan berlainan meskipun masih dalam satu komplek.


Saat Eveline melangkah tampak Dokter Loly pun juga sedang berjalan seorang diri.


“Hmmm dari mana lagi dia, apa ikut membantu Dokter pribadi keluarga William yang menangani pasien pegawai Tuan Vadeo.” gumam Eveline dan dia terus melangkah.


Beberapa saat kemudian mereka berpapasan.


“Aduuuh Nona Eveline ini rajin sekali jalan jalan. pagi pagi olah raga pagi.. sekarang sore hari olah raga sore he... he...he...” ucap Dokter Loly sambil menatap Eveline dengan senyuman mencibir.

__ADS_1


“Bukannya sama Dokter Loly pagi pagi juga jalan jalan sekarang juga.” ucap Eveline sambil tersenyum menatap Dokter Loly.


“Saya habis tugas membantu Dokter senior.” jawab Dokter Loly lalu pergi meninggalkan Eveline.


Eveline hanya geleng geleng kepala lalu dia melangkah melanjutkan berjalan menuju ke kamar Ricardo.


Saat sampai di dekat lokasi bangunan untuk tamu tamu laki laki, terlihat Ricardo sedang duduk di kursi teras di depan kamarnya sambil ngopi sore dengan seorang laki laki.


“Hai...” sapa Ricardo pada Eveline. Dan terlihat teman ngopi Ricardo mohon diri lalu berjalan meninggalkan Ricardo. Eveline pun duduk di kursi teras yang tadi ditempati oleh teman ngopi Richardo.


“Ada yang penting?” tanya Richardo dengan suara pelan.


“Apa aman kita bicara di sini?” tanya Eveline dengan pelan pula.


“Okey, kita duduk di taman itu.” ucap Richardo lalu bangkit berdiri, Eveline pun juga bangkit berdiri mengikuti langkah kaki Richardo yang berjalan menuju ke taman yang ada di lokasi guest house itu.


Tidak lama kemudian Richardo dan Eveline sudah duduk di kursi taman. Hanya mereka berdua yang ada di taman itu.


“Di sini aku rasa tidak ada orang yang mendengarkan pembicaraan kita. Kalau di teras aku kuatir ada tamu lain yang dengar atau ada orang yang tiba tiba lewat akan mendengar pembicaraan kita.” ucap Richardo saat sudah mendudukkan pantatnya.


“Richard apa kamu melihat ada di CCTV di kamarmu? tanya Eveline


“Kenapa aku tidak menemukannya, apa Tuan Vadeo menempatkan di tempat yang sangat tersembunyi.” ucap Eveline selanjutnya.


“Aku juga sudah memikirkan hal itu. Sama aku pun tidak menemukan CCTV itu. Aku belum menanyakan pada Tuan Vadeo ataupun pada Bang Vincent.” ucap Richardo dengan nada serius


“Kamu coba tanya pada Bang Vincent.” ucap Richardo selanjutnya sambil tersenyum menatap Eveline sebab gosip yang beredar di orang orang Bang Bule, Eveline menaruh hati pada Bang Bule.


“Hmmm percuma aku datang ke sini.” dengus kesal Eveline lalu dia bangkit berdiri meninggalkan Richardo.

__ADS_1


....


__ADS_2