
Richardo berjalan masuk ke dalam kamarnya, dia tidak ingin ada satu orang pun yang mendengar percakapannya dengan Vadeo. Richardo menutup pintu rapat rapat dan dia mencari posisi yang menjauh dari pintu dan dinding depan kamar.
Sementara itu Dokter Loly yang berada di luar kamar tersenyum senang, sambil mempertajam pendengarannya agar bisa mendengar percakapan Richardo akan tetapi hasilnya nihil. Tak ada suara Richardo yang masuk ke dalam telinganya. Malah yang di dengar suara burung burung yang ada di atas dahan pepohonan.
“Apa Tuan Richardo mendapat tugas mengantar jalan jalan Nona Alexandria lagi...” gumam Dokter Loly selanjutnya dengan bibir tersenyum.
“Hmmm aku tunggu saja di sini.” gumam Dokter Loly lagi dan masih setia duduk di kursi teras kamar Richardo.
Dii dalam kamarnya, Richardo mendapat telepon dari Vadeo akan tugasnya menjemput Nyonya William dan Nyonya Jonathan. Setelah mendapatkan telepon dari Vadeo, Richardo menghubungi Eveline menginformasikan pada Eveline kalau dirinya akan bertugas keluar pulau menjemput Nyonya William dan Nyonya Jonathan dan mengingatkan Eveline agar siaga dalam bertugas sebab hanya sendirian.
Setelah menelepon Eveline, Richardo segera menyiapkan hal hal yang diperlukan untuk melaksanakan tugasnya. Akan tetapi tiba tiba....
TOK TOK TOK....
Terdengar suara ketukan di pintu kamarnya.
“Eveline kok cepat datang ke sini.” gumam Richardo sambil melangkah menuju ke pintu kamarnya yang masih diketuk ketuk.
“Dokter?” ucap Ricardo saat membuka pintu, dia mengira Dokter Loly sudah pergi setelah dia masuk kamar tadi.
“Ada perlu apa lagi Dok, maaf saya sedang sibuk.” ucap Richardo sambil menatap tajam ke arah Dokter Loly.
“Apa Tuan mendapat tugas dari Tuan Vadeo?” tanya Dokter Loly menyelidik.
“Iya.” jawab Richardo
“Apa disuruh mengantar Nona Alexandria?” tanya Dokter Loly sambil tersenyum penuh harap
“Bukan, mau ke pulau Jawa menjemput Nyonya William dan Nyonya Jonathan.” jawab Richardo.
“Maaf Dok, saya harus menyiapkan tugas saya.” ucap Richardo selanjutnya sambil menatap wajah Dokter Loly dengan tatapan mengusir.
“Baiklah, saya permisi. Selamat bertugas.” ucap Dokter Loly lalu dia mohon diri.
“Ah aku harus berbaik baik pada Richardo. Tunggu waktu lain saja ...” gumam Dokter Loly sambil melangkah pergi.
Di sepanjang perjalanannya Dokter Loly terus berpikir pikir bagaimana agar rencananya bisa segera terlaksana.
Sementara itu di tempat lain. Di mension William. Nyonya William sudah heboh marheboh (maksudnya heboh sekali ) sejak mendapat kabar Alexandria sudah positif hamil dan dia pun akan dijemput oleh sang menantu. Para pelayan di dapur sudah disuruhnya memasak segala macam makanan kesukaan Alexandria. Belum lagi makanan makanan khas yang biasa diinginkan oleh orang hamil, ada rujak, asinan, manisan dan lain sebagainya.
__ADS_1
“Ma.. aku ikut ya..” ucap Dealova yang mendadak ikut masuk ke dalam dapur di mana Sang Mama ikut sibuk ini dan itu di dalam dapur.
“Bukannya kamu masih harus menunaikan tugas negara.” ucap Nyonya William sambil tangannya sibuk memasukkan masakan ke dalam kotak makanan.
“Sudah libur Mama... keponakanku memang sangat baik muncul di saat auntie nya sudah menunaikan tugas negara.” ucap Dealova sambil tersenyum lebar.
“Kamu ijin sama Papa dulu.” ucap Nyonya William selanjutnya.
“Sudah juga Mama... Sudah diijinkan oleh Papa, katanya lebih baik liburan ke pulau Alexandria daripada aku liburan di sini hanya main main dengan Amara di mall mall untuk memburu coker.... “ ucap Dealova sambil tersenyum lagi
“Apa itu coker?” tanya Nyonya William sambil menatap Dealova. Beberapa pelayan yang sedang sibuk pun mendadak ikut menatap Dealova.
“Iya Non apa itu coker?” tanya salah satu pelayan yang tidak jauh dari Nyonya William.
“Cowok keren he... he...” jawab Dealova sambil tertawa
“Kita yang di dapur tahunya ceker.. ceker ayam.. ha.. ha...” ucap sang pelayan yang tadi bertanya sambil tertawa.
“Ya sudah kamu hubungi Kakak ipar mu.” ucap Nyonya William selanjutnya sambil mengibas ibaskan telapak tangannya sebagai kode agar Dealova segera keluar dari dapur. Sebab bila lama lama di dapur Dealova tangannya pasti comot sana comot sini makanan.
Dealova pun menjauh dari Sang Mama akan tetapi dia pergi mengambil mangkok kecil dan setelahnya minta pelayan yang sedang membuat asinan untuk menaruh asinan ke dalam mangkok yang dia bawa. Nyonya William hanya bisa melotot ke arah Dealova.
Dealova pun segera berjalan keluar dari dapur menuju ke ruang makan untuk memakan asinannya. Setelah habis dia langsung naik ke lantai atas untuk menuju ke kamarnya karena hand phone nya masih berada di dalam kamarnya. Saat Dealova akan membuka pintu kamarnya, Ixora sedang membuka pintu kamar yang ada di sebelah kamar Dealova.
“Deal, kamu jadi ikut Mama?” tanya Ixora pada Dealova
“Jadi dong...” jawab Dealova sambil tersenyum lebar senyumnya semakin cantik karena bibirnya memerah bukan karena lipstik tetapi memerah karena abis kepedesan asinan yang habis tuntas dia makan.
“Ini mau ngabari Kakak ipar pertama agar aku disiapkan kamar yang indah.” ucap Dealova lagi
“Sayang, aku belum libur.” ucap Ixora dengan ekspresi wajah sedih.
“Eh Deal besok kamu mintakan catatan Kak Alexa ya..” ucap Ixora kemudian.
“Hmmm catatan apa? Tahuku catatan teman teman yang ngebon di kantin.” tanya Dealova sambil mengeryitkan dahinya.
“Kak Alexa kan mengkonsumsi resep resep yang ada di buku yang aku bawakan. Dia mencatat semua yang sudah dikonsumsinya.. “ jawab Ixora dengan nada serius.
“Apa Kak Alexa, Kak Ixora jadikan kelinci percobaan?” tanya Dealova sambil menatap tajam wajah Ixora.
__ADS_1
“Sembarangan aja kamu itu.” ucap Ixora sambil menimpuk pundak Dealova. Dan Dealova hanya tertawa sambil berjalan masuk ke dalam kamarnya.
“Deal, bawain ya.. penting itu!” teriak Ixora karena Dealova sudah menutup pintu kamarnya.
“Iya Kakakku Ixora yang cantik jelita....” teriak Dealova pula.
Dealova pun segera mengambil hand phonenya lalu menghubungi kakak iparnya. Akan tetapi berkali kali melakukan panggilan suara masih juga belum diterima oleh Vadeo.
“Ih... susah sekali dihubungi. “ gumam Dealova sambil menatap layar hand phone nya.
“Nanti saja, mungkin Kakak ipar pertama sedang sibuk.” gumam Dealova sambil menaruh hand phone nya di meja belajarnya.
Akan tetapi di saat dia akan beranjak terdengar suara dering dari hand phone nya. Saat di lihat ada nama kontak Kakek ipar pertama di layar hand phone nya. Bibir Dealova langsung merekah tersenyum dan dengan segera dua menggeser tombol hijau.
“Kakak Ipar pertama kenapa di saat aku sudah lelah engkau datang.” suara cempreng Dealova langsung menggema setelah menggeser tombol hijau.
“Jangan keras keras Deal bikin radiasi saja.” suara Vadeo sambil menjauhkan hand phone nya dari telinganya. Lalu dia mengaktifkan mode speaker.
“Ha.... ha... ha...” Dealova malah tertawa
“Excited Kak... abis aku hubungi sejak tadi tidak nyambung.” ucap Dealova kemudian
“Aku sedang omong omong dengan Istriku. Istriku yang dengar kalau hand phone di ruang kerja ku berdering.” ucap Vadeo
“Ada apa?” tanya Vadeo selanjutnya
“Kak, aku besok ikut Mama mengunjungi keponakanku. Jadi siapkan kamar buat auntie nya ini.” jawab Dealova
“Katanya kamu sedang melaksanakan tugas negara.” ucap Vadeo sambil tersenyum. Dia pun senang jika Dealova ikut datang sebab akan membuat suasana ramai dan membuat istrinya tambah bahagia.
“Libur Kak.” ucap Dealova singkat.
“Sampai kapan liburmu, kalau Mama lama di sini, kamu pulang sendiri renang ya..” ucap Vadeo selanjutnya sambil tersenyum dan memutus sambungan telponnya
“Tega benar Kakak Ipar ini.” ucap Dealova dan selanjutnya terdengar nada putus sambungan teleponnya.
“Benar benar tega dech.. langsung main putus saja.” ucap Dealova sambil menatap layar hand phone nya yang sambungan telponnya dengan Vadeo sudah terputus.
....
__ADS_1