Alexandria

Alexandria
Bonchap 3. Ulah Baby Twins ( Anak Ajaib?)


__ADS_3

Di suatu malam hari di kamar Vadeo dan Alexandria. Vadeo tersenyum senang sebab malam yang sudah di nanti nanti tinggal menunggu hitungan menit saja. Valexa dan Deondria pun sudah diberi asi penuh oleh Alexandria.


“Meraka sudah tidur Ma.. “ ucap Vadeo sambil menggendong salah satu dari mereka dan akan membawanya ke kamar sebelah nya, kamar khusus baby twins yang tersekat dengan pintu kaca lebar.


“Pa taruh di sini saja di dalam box dia.” Ucap Alexandria yang tidak tega pisah kamar dengan anaknya.


“Aku sudah pesan ke pengasuh mereka agar menjaga baby twins saat kita bekerja malam ini.” Ucap Vadeo sambil membuka pintu kaca penyekat.


Saat pintu kaca penyekat terbuka dua orang pengasuh baby twins pun sudah siap siap akan menerima dua bayi kembar cantik yang hampir tidak pernah rewel karena sakit. Rewel nya hanya karena kemauannya harus terpenuhi.


“Pa mereka sudah nyenyak tidur, seperti nya sudah mengerti kemauan orang tua nya. Dari pada nanti kita bawa lagi ke sini, kalau mereka terbangun dan ingin kita peluk.” Ucap Alexandria yang paham akan kebiasaan baby twins jika menjelang subuh akan terbangun dan meminta dia peluk. Alexandria pun menaruh Valexa yang dia gendong ke dalam box bayi yang berada di dalam satu kamar nya.


“Apa kamu yakin mereka akan tidur sampai kita selesai?” tanya Vadeo yang masih menggendong Deondria. Vadeo pun menatap Deondria yang dia gendong memang terlihat tidur sangat pulas.


“Iya.” Jawab Alexandria sambil menyelimuti tubuh mungil Valexa.


“Sudah kalian tidur saja.” Ucap Vadeo pada dua pengasuh baby twins, lalu Vadeo menutup pintu kaca penyekat kamar dan tidak lupa menutup korden tebal nya.


Vadeo pun lalu melangkah menuju ke box bayi milik Deondria, dan dia akan menaruh Deondria di box itu.

__ADS_1


“Tidur nyenyak jangan ganggu Papa dan Mama ya..” ucap Vadeo sambil mencium kening Deondria lalu menaruh nya pada box bayi dan sama seperti yang Alexa lakukan dia pun menyelimuti tubuh mungil Deondria. Tidak lupa dia mengusap usap puncak kepala Deondria.


Vadeo lalu membalikkan tubuh nya, dia tersenyum saat melihat Alexandria sudah tiduran di tempat tidurnya. Vadeo pun dengan bibir senyum mengembang segera melangkah menuju ke tempat tidur nya.


Dan yap...


Vadeo meloncat ke atas tempat tidur dan segera memeluk tubuh istrinya, dia ciumi wajah Alexandria yang selalu dia rindu. ciuman nya pun mulai turun ke leher jenjang sang istri. Alexandria pun menciumi puncak kepala Vadeo dan kedua tangannya membelai rambut Vadeo bagian belakang yang lama turun ke leher belakang Vadeo dan punggung Vadeo. Sedang kan jari jari Vadeo sudah mulai menjelajahi bagian bagian tubuh sensitif Alexandria.


“Sayang kamu semakin sexy saja, membuatku semakin mabok kepayang.” Gumam Vadeo saat wajah sudah berada di area gunung kembar kesayangannya


Mereka berdua terus saling memberikan sentuhan dan ciuman kasih penuh cinta membara nya. Gelora asmara pun berpacu membuat mereka berdua ingin menyatu.


Dan beberapa menit kemudian.


“Sayang kamu makin legit.” Ucap Vadeo sambil tersenyum puas dan membaringkan tubuh di samping istrinya.


Akan tetapi saat Vadeo akan memeluk tubuh istrinya. Tiba tiba terdengar suara benda patah.


KRAAK..

__ADS_1


Vadeo dan Alexandria dengan segera menoleh ke arah benda patah itu. Dan betapa kagetnya Vadeo dan Alexandria


“Kak...” teriak Alexandria saat melihat jeruji box Valexa ada yang patah. Alexandria pun segera bangkit dan berlari menuju ke box Valexa yang patah. Vadeo pun juga ikuti segera bangkit dan mengikuti istrinya.


Baru saja dia sampai di box Valexa. Terdengar lagi suara benda patah.


KRAAK


Box Deondria pun juga ikut patah bersamaan dengan itu terdengar suara gelang kaki Deondria.


KRINCING


“Papa Jo kenapa membelikan box tidak kuat. Bisa jatuh kedua anakku.” Gumam Vadeo lalu segera melangkah menuju ke box Deondria.


Alexandria dan Vadeo pun mengambil anak anak nya dari box mereka. Tidak ingin ada yang patah lagi dan kedua anak anak nya terjatuh.


Valexa dan Deondria pun ditidurkan di tempat tidur orang tuanya. Kedua bibir bocah itu tampak tersenyum.


“Pa, kok bisa patah?” tanya Alexandria dengan heran.

__ADS_1


“Entahlah, kita baru dapat satu ronde.” Ucap Vadeo dengan sedih. Sedangkan Valexa dan Deondria bibirnya semakin senyum mengembang.


__ADS_2