Alexandria

Alexandria
Bab. 176. Tiga Perempuan


__ADS_3

Sementara itu di balik pintu ada Dealova dan Ixora yang penasaran dengan apa yang dibicarakan di dalam ruang kerja Papanya. Kedua gadis belia itu kini bersandar tak berdaya di daun pintu sambil memegang dadanya karena jantungnya berdetak akibat kaget.


“Kamu itu kenapa bikin kaget saja.” ucap Dealova sambil menegakkan tubuhnya berdiri dengan sempurna di atas telapak kakinya tidak lagi bersandar pada daun pintu. Sedangkan Ixora masih bersandar di daun pintu sambil menata nafasnya, karena selain dia kaget juga ditimpa oleh tubuh Dealova.


“Maaf Nona kalau saya sudah membikin Nona kaget. Saya hanya ingin menyampaikan kalau makan malam sudah siap.” ucap seorang pelayan wanita yang tadi memanggil dan menyentuh pelan pundak Dealova.


“Padahal saya sudah bersuara sangat pelan, juga menyentuh pundak Nona dengan sangat pelan.” ucap pelayan itu lagi dengan ekspresi wajah sangat menyesal karena kedua Nona cantik itu terkaget hingga jatuh bersandar di daun pintu.


“Ya sudah sana kamu ketuk pintu itu.” ucap Dealova lalu beranjak pergi, Ixora yang sudah berdiri normal pun juga segera pergi meninggalkan tempat itu. Dan kini tinggal seorang pelayan perempuan itu yang berdiri di depan pintu.


“Alasan apa kalau Tuan William nanti bertanya suara benda jatuh di daun pintu tadi.” gumam sang pelayan saat tangannya akan mengetuk daun pintu.


Dan saat sang pelayan sudah akan mengetuk pintu, daun pintu itu sudah terbuka lebar dan berdiri sosok Tuan William sambil tangannya masih memegang handel pintu. Di belakang nya ada Nyonya William, Vadeo dan Alexandria.


“Aku kira dua anak itu yang bikin ulah, ternyata kamu.” suara Tuan William saat melihat yang ada di depan pintu adalah salah satu pelayannya.


“Ada apa?” tanya Tuan William kemudian


“Maaf Tuan, makan malam sudah siap.” jawab sang pelayan dengan sangat sopan.


“Apa kamu tadi nguping?” tanya Tuan William menyelidik.


“Tidak Tuan saya tidak nguping..” jawab sang pelayan dengan takut takut.


“Suara apa tadi yang sepertinya ada benda jatuh ke daun pintu kalau bukan tubuhmu, karena tidak ada siapa pun di sini selain kamu.” ucap Tuan William sambil menatap tajam ke wajah sang pelayan itu. Terlihat sang pelayan tampak bingung mau bilang kalau tadi Nona Dealova dan Nona Ixora yang terjatuh pasti Tuan William akan murah entah marah pada dirinya atau pada kedua Nona tadi. Jika Tuan William marah pada kedua Nona tadi pasti dia pun terkena imbasnya.

__ADS_1


“Ayo Pa, cepat ke ruang makan aku sudah lapar.” ucap Alexandria sambil menggeser tubuh Papanya agar tidak melanjutkan pertanyaannya, sebab Alexandria sudah paham pasti tadi ulah kedua adiknya.


Mereka semua akhirnya menuruni anak tangga untuk menuju ke ruang makan. Sang pelayan terlihat lega, dalam hati dia mengucapkan terima kasih pada Nona Alexandria yang sudah menyelamatkan dirinya dari pertanyaan Tuan William.


Saat sampai di ruang makan Dealova dan Ixora sudah duduk manis di tempatnya, bagai tidak ada terjadi apa apa sebelumnya.


“Kak, nanti tanya pada Kak Alexa apa Papa mendengar kita tadi jatuh di pintu.” bisik Dealova pada Ixora.


“Aku mau tanya tentang pulau Alexandria saja, aku juga mau minta Bang Bule membelikan pulau Ixora.” bisik Ixora sambil tersenyum dan tatapan mata menerawang jauh...


“Mimpi....” ucap Dealova sambil mencibir menatap Ixora yang masih melamun.


Beberapa saat kemudian Alexandria sudah lebih dulu memasuki ruang makan, dia langsung menatap ke dua adiknya yang sudah duduk manis. Saat Dealova dan Ixora akan bertanya sesuatu pada Alexandria, Tuan William sudah menyusul masuk ke dalam ruang makan bersama Vadeo dan Nyonya William. Dealova dan Ixora tidak jadi berucap apa apa.


“Kalian dari mana tadi?” tanya Tuan William sambil duduk di kursi nya.


“Dari pintu Pa.” jawab Dealova sambil tersenyum lebar.


“Kamarku kan ada pintunya, aku keluar kamar lewat pintu Pa, jadi aku dari pintu he... he...” tambah Dealova sambil tertawa kecil. Tuan William hanya diam saja sambil membuka piring yang tadi menelungkup di atas meja di depannya. Sedangkan yang lain tersenyum sambil menatap Dealova. Selanjutnya mereka semua memulai makan malamnya tidak lagi membahas suara di daun pintu.


Waktu terus berlalu, dan hari H yang ditentukan untuk pergi ke pulau Alexandria pun tiba.


Beberapa barang berat dan logistik sudah lebih dulu dikirim lewat kapal yang disewa. Pelayan, petugas keamanan dan orang orang kepercayaan Vadeo pun sudah lebih dulu berangkat dengan kapal tersebut akan tetapi masih ada beberapa pelayan yang akan berangkat bersamaan waktunya dengan Vadeo dan Alexandria naik jet pribadi.


Kini Alexandria dan Vadeo diantar oleh mertua, orang tua dan kedua adiknya. Dua mobil beriringan berangkat menuju ke lapangan golf milik Tuan Jonathan yang dipakai untuk tempat jet pribadi Vadeo mendarat.

__ADS_1


Beberapa menit kemudian dua mobil itu sudah memasuki lokasi lapangan golf itu. Tampak ada beberapa mobil sudah terparkir di situ.


“Mereka sudah datang semua.” ucap Vadeo sambil membuka pintu mobilnya. Kini mobil itu dikendalikan oleh sopir nya Tuan Jonathan.


Terlihat tim dokter dan pengawal Alexandria sudah siap berdiri di dekat mobil mereka. Dan saat melihat rombongan Vadeo sudah tiba mereka semua berjalan mendekat dan menyambut datangnya dua keluarga itu.


Vadeo segera turun dari mobil, kemudian Alexandria dan Nyonya Jonathan, terlihat Nyonya Jonathan selalu menggandeng tangan Alexandria, rasanya beliau tidak rela berpisah dengan menantu tercinta. Tuan Jonathan pun juga segera turun dari mobil. Tim dokter dan pengawal Alexandria segera menyambut kedatangan mereka, mereka berjabat tangan dan saling sapa. Pak Sopir terlihat mengambil koper koper dari bagasi dibantu oleh pelayan yang akan ikut ke pulau.


Sesaat kemudian mobil keluarga William pun berhenti tidak jauh dari mereka. Tatapan mata Nyonya William langsung tertuju pada tiga perempuan cantik yang belum dia kenal.


“Pa, siapa mereka bertiga itu? perempuan perempuan itu apa mereka akan ikut Alexa dan Vadeo?” tanya Nyonya William dengan tatapan mata tertuju pada perempuan perempuan cantik yang belum dia kenal.


“Mereka kan dokter Loly, Eveline dan teraphis yang menangani Alexa.” jawab Tuan William sambil mematikan mesin mobilnya.


“Papa sudah kenal pada mereka?” tanya Nyonya William yang kini menoleh pada wajah suaminya.


“Iya, kemarin saat kita semua briefing di mension Jonathan. ” ucap Tuan William sambil membuka sabuk pengamannya.


“Papa kok tidak mengajak aku.” ucap Nyonya William lagi.


“Kemarin langsung dari William Group aku ke sana.” ucap Tuan William


“Pa, bagaimana kalau mereka ada yang menggoda Vadeo, aku kok kuatir.” ucap Nyonya William yang juga membuka sabuk pengamannya. Tuan William tidak menjawab pertanyaan istrinya, dia lalu membuka pintu mobilnya dan keluar dari mobilnya. Nyonya William pun juga segera membuka pintu mobil dan turun dari mobil dengan cepat juga berjalan menyusul suaminya.


....

__ADS_1


__ADS_2