
Vadeo setelah memakai G String nya dan dia yang masih mengenakan bath robe nya lalu berjalan menuju ke sofa berwarna salem yang juga dihiasi oleh bunga bunga segar di atasnya. Bunga bunga mawar berwarna salem, pink lembut dan putih mendominasi rangkaian bunga itu.
Vadeo lalu duduk di sofa itu sambil menunggu Alexandria.
Sementara itu Alexandria yang sudah selesai mandi lalu dia berjalan keluar dari kamar mandi dengan mengenakan bath robe. Dada Alexandria masih berdebar debar membayangkan tubuh atletis Vadeo dan membayangkan tidak ada baju yang sesungguhnya di dalam lemari, pasti acara menunda belah duren akan sulit terjadi.
“Kak...” ucap Alexandria lirih
“Apa Sayang... sini duduk sini, dari sini kita bisa melihat pemandangan kota di malam hari.” ucap Vadeo sambil menatap Alexandria dengan penuh kasih.
“Kak, hand phone ku dibawa Mama, tolong dong telepon ke Mama, biar koperku diantar ke kamar ini.” ucap Alexandria selanjutnya.
“Emang ada apanya dengan kopermu? Kamu perlu apa Sayang....?” tanya Vadeo pura pura tidak tahu lalu dia bangkit berdiri dan berjalan menuju ke nakas tempat di mana dua tadi menaruh hand phone sebelum pergi ke kamar mandi. Vadeo memang sejak tadi membawa hand phone dia menaruh di dalam saku baju pengantinnya.
“Ini, kamu bisa menghubungi Mama dengan hand phone ku. Mulai saat ini kamu boleh menggunakan hand phone ku Sayang... “ ucap Vadeo sambil menyerahkan hand phone nya pada Alexandria. Lalu dia memeluk tubuh Alexandria dari samping.
“Tidak ada rahasia di antara kita..” ucap Vadeo selanjutnya sambil mencium lembut puncak kepala Alexandria, Alexandria pun setuju dan dia menganggukkan kepalanya.
Sambil memeluk tubuh Alexandria, Vadeo mengajak Alexandria untuk berjalan menuju ke sofa panjang yang tadi dia duduki. Mereka berdua pun akhirnya duduk di sofa itu. Alexandria masih mengusap usap hand phone nya untuk mencari kontak nama Mamanya. Tetapi dia mencari cari belum menemukan, dia mencari cari kata kunci William tidak menemukan, mencari dengan kata kunci Mama hanya ada Mama Jo, mencari dengan kata kunci mertua juga tidak ada kontak yang muncul.
“Kak, dikasih nama apa nomor Mama?” tanya Alexandria pada Vadeo yang duduk di sampingnya sambil mengelus elus rambut kepalanya.
“Macamer.” jawab Vadeo sambil tersenyum dan masih mempermainkan rambut kepala Alexandria. Alexandria pun tersenyum lalu segera mencari kontak nama Macamer.
“Sekalian diganti namanya Al...” ucap Vadeo selanjutnya
“Diganti siapa?” tanya Alexandria
__ADS_1
“Terserah kamu.” jawab Vadeo sambil mengecup puncak kepala Alexandria. Alexandria lalu mengeditnya menjadi nama Mama William. Dia tunjukkan hasil editan itu pada suaminya dan Vadeo pun mengangguk.
Alexandria lalu segera menghubungi Mamanya, akan tetapi hand phone Mama nya sudah tidak aktif. Dia lalu mencari kontak nama Papanya, kini dia sudah menduga Papanya dikasih nama Pacamer di hand phone Vadeo dan benar. Alexandria pun segera menghubungi Papanya tetapi sama nomor juga sudah tidak aktif.
“Tidak aktif Kak.” ucap Alexandria lalu menyerahkan hand phone itu pada Vadeo.
“Mungkin mereka sudah tidur karena capek Sayang...” ucap Vadeo sambil menerima hand phone nya lalu dia taruh di meja kecil di samping sofa itu. Padahal Tuan dan Nyonya William tidak tidur tetapi mereka memang sengaja mematikan hand phone nya sebab mereka berdua sedang mengulang masa malam pertama.
“Ya sudah, kita tidur yuk..” ajak Vadeo
“Kak tidak ada baju yang bener di dalam lemari.” ucap Alexandria
“Ya sudah pakai seadanya dulu, tidak pakai baju juga tidak apa apa hanya ada aku di sini.” ucap Vadeo sambil tersenyum simpul
“Meskipun kita bisa melihat pemandangan kota dari kaca jendela itu, tetapi tidak ada yang bisa melihat kita.” ucap Vadeo lagi.
Beberapa menit kemudian Alexandria keluar dari kamar mandi, dia sudah memakai lingerie tetapi dia tutupi dengan bath robe yang tadi dia pakai. Alexandria terus berjalan mendekati suaminya. Vadeo terus saja menatap Alexandria dengan penuh cinta dan kasih. Alexandria pun duduk lagi di samping Vadeo.
“Al... “ bisik Vadeo sambil memeluk Alexandria
“Hmmm.” gumam Alexandria dengan pandangan mata menuju ke luar melihat pemandangan kota di malam hari.
“Sudah ngantuk belum?” tanya Vadeo
“Kak Deo ngantuk?” ucap Alexandria ganti bertanya.
“Iya..” jawab Vadeo bohong, bagaimana bisa ngantuk jika di depannya ada orang yang selama ini dia dambakan. Dia menjawab iya, mungkin Alexandria akan lebih santai jika berbaring di tempat tidur atau melihat dirinya tertidur.
__ADS_1
“Ya sudah Kak Deo tidur duluan nanti aku susul.” ucap Alexandria sambil menoleh menatap Vadeo. Vadeo pun lalu mengecup puncak kepala Alexandria dan selanjutnya dia bangkit berdiri. Vadeo lalu berjalan menuju ke kamar mandi dia membuka bath robe nya dan dia taruh di tempat lemari rak di dekat kamar mandi. Vadeo lalu berjalan menuju ke tempat tidur hanya dengan mengenakan G String nya.
Alexandria yang melihat hal itu, langsung menelan saliva yang mendadak keluar dan cepat cepat dia membuang wajahnya dan menoleh ke arah jendela kamar untuk mengalihkan pandangannya juga agar wajahnya tidak terlihat oleh Vadeo. Akan tetapi Vadeo sudah melihatnya dan Vadeo pun tersenyum lalu segera membaringkan tubuhnya di tempat tidur. Dan dengan segera dia pura pura tidur.
Beberapa menit kemudian Alexandria mengira Vadeo sudah benar benar tidur. Dia pun lalu bangkit berdiri, dia tarik tirai penutup kaca jendela. Meskipun dari luar tidak ada yang bisa melihat ke dalam kamar akan tetapi dia tetapi saja tidak nyaman jika tirai jendela terbuka.
Alexandria pun melakukan hal yang sama seperti yang Vadeo lakukan. Untuk membuka bath robe nya dan menaruh di lemari rak dekat kamar mandi.
“Kak Deo kan sudah tidur tidak melihat aku dengan baju kurang bahan ini.” gumam Alexandria lalu dia berjalan menuju ke tempat tidur.
Vadeo yang merasa Alexandria sudah berada di dekat tempat tidur ingin rasanya dia membuka matanya, akan tetapi dia tahan agar Alexandria tidak lari karena melihat matanya terbuka.
Sedangkan Alexandria mencari cari kain selimut yang akan digunakan untuk menutup tubuhnya. Akan tetapi dia tidak menemukan kain selinut di tempat tidur itu.
“Kok tidak ada kain selimut sih...” gumam Alexandria lalu dia naik ke tempat tidur. Dia tutup tirai yang ada di tempat tidur itu.
“Kalau lilin lilin di dalam gelas gelas itu sudah mati, pasti Kak Deo tidak akan melihatku kalau terjaga.” gumam Alexandria sambil memandangi wajah Vadeo.
“Tapi sepeti nya itu lilin lilin bisa bertahan sampai besok pagi.” gumam Alexandria lagi sebab gelas gelas lilin lilin itu besar dan sumbunya panjang sampai besok siang pun lilin lilin itu masih bertahan.
Alexandria terus saja memandang wajah suaminya itu. Tiba tiba tangannya terulur, lalu jari jari lembutnya membelai belai wajah Vadeo dengan lembut. Dia begitu mengagumi pahatan indah karya Ilahi.
“Kak Deo maaf ya... “ ucap Alexandria lalu dia memeluk tubuh Vadeo.
Setelah beberapa saat memeluk tubuh Vadeo, jantung Alexandria kembali berdetak lebih cepat tetapi dia menikmati rasa itu. Dia semakin mempererat pelukannya pada Vadeo dan dia cium wajah Vadeo. Vadeo yang mendapatkan perlakukan itu tentu saja senang, akan tetapi dia masih menahan diri dan pura pura masih tidur dia ingin tahu perlakuan selanjutnya dari istrinya. Padahal senjata triple T nya yang dia lindungi dengan G String sudah mulai bereaksi.
....
__ADS_1