
Vadeo pun terus berjalan menuju ke dapur. Suasana rumah sudah sepi. Suara suara serangga malam bagai simfoni alam.
Vadeo pelan pelan membuka pintu dapur, lalu dia menyalakan lampu. Saat lampu sudah menyala, Vadeo hanya berdiri mematung.
“Hmmm di mana tempat asam jawa.” gumam Vadeo selanjutnya. Lalu dia berjalan menuju ke lemari dapur. Semua pintu di buka, semua laci dia tarik.
“Di mana sih...” gumam Vadeo yang tidak melihat wujud asam jawa. Tangannya masih membuka satu persatu toples toples kotak kotak tempat segala macam bumbu dapur dan perlengkapan. Namun masih saja Vadeo tidak menemukannya.
“Oooo mungkin ditaruh di kulkas.” ucap Vadeo sambil tersenyum penuh harap akan segera mendapatkan asam jawa di dalam kulkas.
Vadeo lalu membalikkan tubuhnya dan berjalan menuju ke tempat di mana letak kulkas berdiri. Tangan kekar Vadeo pun dengan segera membuka pintu bawah kulkas yang berukuran besar itu. Mata Vadeo menyapu seluruh isi kulkas. Jika ada kotak tempat menyimpan sesuatu dia buka akan tetapi tetap saja dia tidak menemukan benda yang dia cari.
Vadeo lalu menutup lagi pintu kulkas itu.
“Apa mungkin ditaruh di frizzer..” gumam Vadeo sambil membuka pintu atas. Saat terlihat tidak mungkin ada di dalamnya. Vadeo pun menutup kembali pintu kulkas bagian atas itu.
Vadeo lalu membalikkan tubuhnya. Dia berjalan menuju ke tempat saklar lampu dan menekankan untuk mematikan lampu dapur. Vadeo berjalan keluar dari dapur dan menutup rapat pintu. Dia akan naik ke atas untuk kembali ke kamar tidur. Akan menyampaikan pada Alexandria kalau tidak ada asam jawa.
Akan tetapi saat satu kakinya sudah menaiki anak tangga. Dia membalikkan lagi tubuhnya. Lalu dia berjalan menuju ke kamar sang pelayan.
Vadeo mengetuk pintu kamar sang pelayan itu dengan pelan pelan. Dan tidak lama kemudian muncul sosok sang pelayan sudah dengan baju tidur daster batik.
“Maaf Bu mengganggu jam istirahat Anda.” ucap Vadeo dengan sangat sopan.
“Tidak apa apa Tuan Muda, ada perlu apa?” ucap sang pelayan dengan sopan pula sambil tersenyum.
“Apa di dapur ada asam jawa. Alexa menginginkan permen asam jawa dan gula putih...” ucap Vadeo selanjutnya
__ADS_1
“Haduh persediaan di sini sudah habis Tuan, baru beberapa hari lalu habisnya. Saya sudah pesan pada tukang kebun tetapi dia belum mengambilnya.” ucap Sang pelayan dengan wajah tampak menyesal karena tidak bisa memenuhi keinginan majikannya.
Namun tiba tiba sang pelayan itu tersenyum dan mata berbinar binar.
“Tuan apa Nona Alexandria sedang ngidam?” tanya sang pelayan masih dengan bibir tersenyum.
“Tidak Bu, katanya karena tadi kebanyakan makan ikan laut sekarang ingin yang asam asam, mungkin dia merasa enek atau masih merasa amis di lidah nya..” jawab Vadeo.
“Owh... ada tomat dan jeruk nipis. Mari Tuan saya buatkan minuman jeruk nipis dan manisan tomat.” ucap sang pelayan kemudian sambil melangkah keluar dari kamarnya.
“Tuan tunggu saja, boleh kembali ke atas nanti saya antar atau tunggu di bawah.” ucap sang pelayan sambil menutup pintu kamar.
“Saya tunggu di bawah saja Bu...” ucap Vadeo lalu dia berjalan menuju ke ruang tengah.
Vadeo pun duduk di sofa yang ada di ruang tengah itu sambil menyalakan televisi hanya untuk sekedar menunggu waktu. Dan beberapa menit kemudian sang pelayan sudah kembali datang dengan tangan membawa nampan berisi satu gelas minuman jeruk manis, satu mangkok manisan tomat dan satu gelas es batu.
“Bu, tolong matikan televisi nya ya...” ucap Vadeo sambil berjalan membawa nampan dan meninggalkan ruang tengah itu. Sang pelayan pun segera mematikan televisi dan kembali berjalan menuju ke kamarnya.
Sementara itu, Vadeo berjalan pelan pelan saat menaiki anak tangga. Sesampai di depan pintu kaca penghubung dengan hati hati dia membuka pintu kaca itu. Dan dia sukses membuka pintu dan isi di atas nampan aman tidak ada yang tumpah.
Vadeo terus berjalan menuju ke kamarnya. Dan saat di depan pintu, Vadeo pun membuka pintu kamar itu dengan hati hati pula. Vadeo lalu melangkah masuk dan menutup pintu dengan hati hati menggunakan badannya.
Mendengar suara pintu terbuka dan tertutup. Alexandria langsung bangkit dari tempat tidurnya, dia duduk dan menoleh ke arah suami nya. Spontan Alexandria mengeryitkan dahinya melihat Vadeo yang membawa nampan berisi gelas dan mangkok berisi manisan tomat. Karena mangkok kaca transparan Alexandria bisa melihat isinya dari tempat dia duduk.
“Kak, mana permen asam nya?” tanya Alexandria dengan wajah kuatir dan kecewa jika tidak didapat apa yang dia inginkan.
“Habis Sayang.. belum dikirim tukang kebunnya. Makan dan minum ini saja.. sama sama asam dan menghilangkan enek dan aroma amis.” ucap Vadeo sambil mendekat ke arah istrinya .
__ADS_1
Namun tiba tiba ada genangan air di kedua mata indah Alexandria. Dan sekali kedip sudah meleleh air mata itu dan mengalir di pipi mulus Alexandria
“Al... ada apa Sayang...?” tanya Vadeo lalu menaruh nampan itu di atas nakas.
Vadeo lalu menghapus air mata Alexandria dan dia duduk di tepi tempat tidur di samping istrinya. Alexandria hanya dia saja dan air mata masih mengalir meskipun tidak deras.
“Ga tahu Kak, rasanya pengen nangis.., kecewa banget sudah berharap bisa menikmati permen asam tahu tahu ga ada.. hiks... hiks....” ucap Alexandria lalu menyandarkan kepalanya di dada bidang suaminya.
“Sayang itu dulu ya.. diminum dan dimakan. Besok biar ibu pelayan menyuruh tukang kebun segera datang mengantar buah asam jawa itu..” ucap Vadeo sambil membelai rambut kepala Alexandria.
“Kamu tadi makan ikan laut apa dan dimasak apa? Sampai seperti ini..” tanya Vadeo dengan nada cemas.
“Ga tahu tadi dibakar sama pak sopir, Richard, Eveline ..” jawab Alexandria.
“Ya sudah dimakan dulu ya manisan tomat nya, aku suapi. Nanti aku hubungi mereka apa juga merasakan hal yang sama seperti kamu.” ucap Vadeo sambil memegang kedua bahu Alexandria agar duduk tegak.
Alexandria pun mengikuti kata sang suami, Vadeo pun menyuapi manisan tomat ke dalam mulut Alexandria.
Beberapa menit kemudian
“Sudah Kak, Kak Deo yang habiskan sisanya..” ucap Alexandria saat sudah menghabiskan separo isi di dalam mangkok itu.
“Habiskan semua Sayang.” ucap Vadeo yang tidak begitu suka dengan buah tomat.
“Sudah kenyang aku. Kak Deo aja yang habiskan. Aku sudah nurut Kak Deo, kan aku enggak ingin manisan tomat aku ingin permen asam. Sekarang Kak Deo harus gantian nurut aku, habiskan manisan tomat ini. Nih aku suapin..” ucap Alexandria sambil merebut mangkok yang dipegang oleh Vadeo, lalu dia memaksa Vadeo untuk menghabiskan isi di dalam mangkok itu.
“Ha... ha....ha...” Alexandria tertawa senang saat melihat ekspresi wajah Vadeo saat mengunyah manisan tomat.
__ADS_1
....