
Mobil terus melaju menuju ke bukit tempat pohon asam berada. Ke dua bocah itu tampak bahagia, mulut mungilnya terus saja tersenyum bahkan kadang kadang tertawa bahagia.
Tidak lama kemudian mobil sudah sampai di tempat di mana mobil sudah tidak bisa berjalan lagi karena sudah mentok. Vadeo pun segera mematikan mesin mobilnya.
“Yun.... yun... “ ucap mereka berdua, Deondria mengulurkan kedua tangannya pada Richardo sedangkan Valexa mengulurkan kedua tangannya pada Vadeo. Mereka berdua minta digendong dan segera keluar dari mobil.
“Cam... cammm..” ucap mereka berdua sambil tersenyum dan mengangguk anggukkan kepala nya.
Vadeo dan Richardo pun terus melangkah masuk melewati jalan setapak menuju ke tempat pohon asam berada. Wajah Valexa dan Deondria tampak bahagia dan sudah tidak sabar ingin segera sampai. Kaki kaki mungil mereka terus saja bergerak gerak bagai ingin lari saja. Sedang telunjuk jari nya terus saja menunjuk ke arah pohon asam berada. Di dalam hati Vadeo dan Richardo heran kenapa dua bocah itu menunjuk ke arah yang benar di mana tempat pohon asam berada.
Beberapa menit kemudian mereka sudah sampai di tempat pohon asam itu. Tampak buah asam besar besar bergerombollan menggantung di ranting ranting pohon.
“Yun.. yun...” teriak Valexa dan Deondria sambil memelorotkan tubuhnya. Vadeo Dan Richardo pun menurunkan mereka berdua dengan hati hati.
“Cam.. Cam...” teriak mereka berdua sambil telunjuk jari nya menunjuk ke atas dan kedua bocah itu berjalan dengan cepat menuju ke pohon asam.
Tiba tiba Vadeo teringat akan ular besar yang dulu ada di bawah pohon asam itu. Dengan segera dia melangkah dan dua tangan kekar nya segera meraih dua tubuh anak nya dan digendongnya lagi.
“Cam.. cam..” teriak mereka berdua lagi.
“Iya iya biar Om Richardo yang mengambilkan.” Ucap Vadeo sambil menoleh menatap Richardo yang masih berdiri.
__ADS_1
“Kenapa tugas memanjat pohon itu masih berlanjut.” Gumam Richardo.
“Pa... Pa..” teriak mereka berdua sambil tangan mungil mereka menarik narik baju Vadeo.
“Do kamu ambilkan buah asam buat mereka, paling hanya buat mainan.” Ucap Vadeo lagi sambil menoleh ke arah Richardo. Richardo pun mulai melangkah.
“No.. No...” teriak mereka berdua sambil menggeleng gelengkan kepala.
“Pa.. Pa..” ucap mereka kemudian sambil menatap wajah Vadeo dengan memelas.
“Tuan, sepertinya Puteri puteri Tuan minta Papa nya yang mengambilkan.” Ucap Richardo sambil menoleh ke arah Vadeo.
“Ya. Ya..” ucap mereka sambil mengangguk anggukkan kepala nya. Richardo pun tampak tersenyum lega sebab kali ini dia bebas tugas untuk memanjat pohon yang tinggi dan besar itu. Lebih baik bertugas menggendong baby twins dari pada memanjat pohon asam itu, begitu gumam Richardo dalam hati.
“Iya iya Papa ambilkan. Tapi kalian diam jangan menangis keras keras nanti ada binatang buas datang.” Ucap Vadeo yang tiba tiba takut jika ada binatang buas datang akibat suara tangis kedua anaknya yang sangat keras itu.
Richardo pun dengan segera mengambil alih baby twins untuk menggendong dan menjaganya. Sedangkan Vadeo dengan langkah gontai berjalan menuju ke pohon asam itu.
Vadeo menggulung lengan baju nya dia pun lalu melepas sepatu dan kaos kaki nya. Valexa dan Deondria tampak tersenyum dan minta turun dari gendongan Richardo.
Dengan pelan pelan Vadeo menaiki batang pohon asam yang sangat besar itu. Sementara Valexa dan Deondria tampak bertepuk tangan sambil meloncat loncat riang gembira. Melihat kedua anaknya sangat bahagia Vadeo pun bersemangat untuk memanjat semakin tinggi. Beberapa saat kemudian Vadeo pun sudah berada di atas cabang yang bisa menarik ranting yang ada buah asam nya. Kedua anak nya tampak semakin riang gembira dan berteriak teriak.
__ADS_1
“Cam... Cam... Pa... Pa...” teriak mereka berdua sambil meloncat loncat. Vadeo pun segera memetik dan menjatuhkan ke bawah. Kedua anak nya tampak berlari untuk memunguti buah asam yang sudah di jatuhkan oleh Vadeo.
Akan tetapi saat Vadeo akan menjatuhkan buah asam ke bawah, mata nya melihat ular besar itu bergerak menuju ke arah dua anak nya yang sedang memunguti buah asam bersama Richardo. Keringat dingin Vadeo pun mulai menjalar ke seluruh tubuh nya.
“Do awas ada ular besar di dekat kalian.” Teriak Vadeo dan berusaha untuk turun dan akan mengajak kedua anaknya untuk segera meninggalkan tempat ini.
Richardo pun dengan sigap segera meraih tubuh mungil Valexa dan Deondria, akan tetapi mereka berdua yang masih asyik memunguti buah asam tampak kaget dan menangis. Sang ular pun tampak kaget dan mendesis desis...
“Cam... Cam... “ teriak Valexa dan Deondria sambil meronta ronta minta turun sambil menangis dengan keras. Vadeo yang panik pun segera turun dengan cepat. Dan tiba tiba...
BRRUKK...
Tubuh Vadeo terjatuh di tanah. Richardo menoleh melihat tubuh Vadeo yang jatuh di atas tanah, dia tampak bingung, sambil masih menggendong Valexa dan Deondria yang masih menangis meronta ronta, Richardo ber jalan dengan pelan pelan mendekati Vadeo.
Saat Richardo akan menolong Vadeo dua bocah itu sudah lepas dan kembali berlari menuju ke buah asam yang didekati oleh ular.
Vadeo yang melihat anak anak nya berlari menuju ke arah luar pun spontan bangkit dari terjatuh nya. Richardo yang kaget dan bingung pun menoleh ke arah Valexa dan Deondria.
Saat Vadeo dan Richardo akan melangkah menuju ke tempat dua bocah itu, betapa kaget nya Vadeo dan Ricahardo karena dia bocah itu malah mengelus elus tubuh ular itu. Vadeo rasanya tubuh nya lemas tak berdaya.
“Tuan tenang saja agar ular itu tidak kaget.” Ucap Richardo yang sebenar nya dia pun juga sangat khawatir.
__ADS_1
Akan tetapi ular itu tampak tenang saat dielus elus oleh jari jari mungil Valexa dan Deondria, Dan dua bocah itu pun kini malah tertawa tawa.
“Pa pa.. cini... cini ... man... man... “ ucap mereka berdua masih mengelus elus ular itu, dan ular itu juga masih tampak tenang dan senang dielus elus oleh dua bocah itu.