Alexandria

Alexandria
Bab. 196.


__ADS_3

“Ayo cepat Rich keburu sore.” ucap Vadeo sambil menatap Richardo


“Iya Tuan keburu sore.” ucap Pak tukang kebun yang takut keburu hari gelap dan semakin mengerikan.


Richardo pun mau tak mau harus melaksanakan perintah Tuan nya. Richardo lalu berjalan mendekati pohon asam yang sangat besar batangnya dan tinggi itu. Warna batang yang hitam dan kasar membuat bulu kuduknya mulai berdiri. Richardo lalu membuka sepatu dan kaos kakinya. Tangannya mulai menempel pada batang pohon yang hitam dan kasar itu. Telapak kakinya pun mulai dia pijakkan pada batang pohon itu.


Sementara itu Vadeo terus saja melantunkan doa di dalam hatinya sambil memandang tubuh Richardo yang sudah mulai memanjat pohon asam itu. Pak sopir pun terlihat berjalan mendekati pohon asam itu sambil memberi semangat pada Richardo.


Saat Richardo baru memanjat kira kira lima meter dari bawah, terlihat dia melepas salah satu tangannya mengusap usap rambutnya dengan kasar seperti ada yang mengganggu dirinya.


“Ada apa Rich?” teriak Vadeo dengan nada cemas


“Semut.” jawab Richardo lalu dia kembali melanjutkan untuk naik lebih tinggi.


Dan beberapa menit kemudian Richardo sampai pada cabang pertama terlihat dia nampak lega. Richardo beristirahat sambil melihat lihat buah mana yang bisa di ambil.


“Tuan yang sana.” teriak Pak tukang kebun sambil jarinya menunjuk pada gerombolan gerombolan buah yang besar besar dan terlihat sangat matang.


“Jauh Pak.” jawab Richardo


“Tapi itu yang bagus, matang benar.” ucap Pak tukang kebun.


“Tuan naik lagi, terus ditarik rantingnya nantikan kan bisa mendekat baru dipetik. Terus dijatuhkan saya nanti kami ambil.” ucap Pak tukang kebun lagi sambil masih mendongak kepalanya.


“Iya Rich yang sana itu, nanti isteriku protes kalau tidak yang besar dan matang.” ucap Vadeo yang sependapat dengan apa yang katakan oleh Pak tukang kebun.


“Sayang kalau kamu sudah capek capek manjat ternyata salah ambil.” ucap Vadeo lagi dengan suara keras.

__ADS_1


“Iya Tuan, sayang kita sudah capek capek ke sini kalau tidak mendapat buah yang bagus dan matang benar.” ucap Pak tukang kebun.


Richardo pun tampak berpikir pikir, benar juga jika dirinya sudah sampai di atas tidak mendapatkan buah yang bagus. Richardo pun lalu naik lagi menuju ke tempat yang ditunjuk oleh pak tukang kebun itu.


Richardo lalu berhenti pada cabang yang kuat.


“Iya Tuan benar, tarik itu rantingnya.” teriak Pak tukang kebun.


Richardo pun terlihat tangannya terulur untuk menarik ranting yang ada gerombolan gerombolan buah asam yang besar besar dan terlihat sangat matang hingga kulitnya sudah tampak ada yang pecah pecah.


“Hati hati Rich, jaga pijakan kaki mu.” teriak Vadeo memberi peringatan. Dan selanjutnya Vadeo pun melanjutkan bibirnya melantunkan doa doa agar diberi keselamatan buat mereka semua.


Richardo pun terus berusaha menarik ranting yang ada banyak buahnya itu, beberapa kali terlepas dan dia beberapa kali juga mengulangi lagi dan akhirnya dia sedikit mendekat lagi dengan merubah posisi pijakan kaki nya. Dan....


YAP


“Tarik lebih kuat Tuan agar lebih dekat.” teriak Pak tukang kebun. Richardo yang sudah kembali terkumpul tenaganya pun menarik lebih kuat ranting itu dan benar buah buah itu bisa lebih dekat pada tubuh Richardo dan kini Richardo bisa lebih mudah memetik gerombolan gerombolan buah asam itu.


Setelah bisa dipetik dia lalu menjatuhkan buah buah asam itu. Richardo pun bisa memetik banyak buah asam matang dan besar besar.


Sementara tiga laki laki yang berada di bawah pohon mengambil buah buah yang dijatuhkan oleh Richardo. Buah buah itu jatuh pada di antara rumput rumput dan sampah sampah daun yang berguguran. Mereka bertiga mengumpulkan buah buah itu menjadi satu.


“Sudah Rich kamu turun.” teriak Vadeo.


“Sudah cukup ini.” teriak Vadeo lagi.


Vadeo dan dua laki laki yang berada di bawah pohon masih mencari cari buah yang jatuh di bawah. Vadeo melihat ada buah yang jatuh agak jauh, dia pun berjalan mendekati buah itu. Akan tetapi saat tangannya akan memunguti buah itu, tiba tiba matanya melihat sesuatu. Vadeo pun mengurungkan niatnya dan berjalan mundur mendekati pak tukang kebun.

__ADS_1


“Pak, ada ular.” ucap Vadeo


“Di mana Tuan?” tanya Pak tukang kebun sambil menatap Vadeo.


“Itu.” tunjuk Vadeo, pak sopir yang mendengar langsung bangkit berdiri karena dia pun masih berjongkok memunguti buah asam.


“Tuan, mari kita pulang saja.” ajak pak tukang kebun dengan nada kuatir. Pak tukang kebun itu pun lalu melepas tshirt nya dan dia gunakan untuk tempat buah buah asam itu, sebab mereka tidak membawa kantong plastik. Ahhh keempat laki laki asal pergi saja.


“Rich cepat turun! Hati hati di bawah ada ular.” teriak Vadeo lagi.


Richardo pun terlihat turun dari pohon dengan hati hati. Tiga laki laki yang di bawah sudah berdiri sambil menatap Richardo dengan kuatir dan waspada, sesekali pandangan mata mereka tertuju ke bawah di mana tempat ular tadi berada. Ketiga laki laki itu sudah berdiri agak menjauh dari posisi pohon.


Dan ketiga laki laki itu semakin kuatir saat sang ular mulai bergerak menuju ke pohon asam itu.


“Rich awas ularnya menuju ke pohon.” teriak Vadeo lagi.


“Kamu jangan turun dulu, nanti suara loncatanmu mengagetkan dia. Tunggu dulu sebentar kita alihkan perhatiannya.” teriak Vadeo lagi, lalu dia menyuruh Pak Sopir untuk mencari kerikil dan melempar ke tempat di belakang sang ular untuk mengalihkan perhatian. Akan tetapi sudah beberapa kerikil pak sopir lempar namun ular itu tetap menuju ke batang bawah pohon.


“Coba kamu bersiul kayak suara suling siapa tahu ularnya menari.” ucap Vadeo sambil menatap ke arah Pak Sopir dan pak tukang kebun. Pak sopir dan pak tukang kebun hanya diam sambil memandang Vadeo dengan tatapan heran.


“Iya dicoba saja siapa tahu ularnya menari dan aku bisa cepat turun, tangan dan kakiku sudah terasa kesemutan.” teriak Richardo yang wajahnya sudah terlihat pucat.


“Ayo kita coba saja.” ucap Vadeo. Dan mereka pun bersiul menyerupai suara suling india.


Akan tetapi tiba tiba ular itu malah bergerak menuju ke suara siulan mereka.


...

__ADS_1


__ADS_2