
“Gerrit Hansen.” jawab Edwind dengan nada serius dan pandangan mata masih fokus pada layar komputer.
“Ha...” suara Alexandria terdengar senang dan dengan bibir yang tersenyum lebar, sementara Nyonya William spontan bertepuk tangan. Vadeo dan Edwind pun serta merta menoleh ke arah mereka berdua dengan tatapan heran.
“Mama hanya kasih applaus kepada seorang pemenang.” ucap Nyonya William sambil tersenyum jenaka.
“Kamu kenapa?” tanya Vadeo sambil menatap Alexandria.
“Aku senang karena akhirnya sudah ada sekretaris terpilih.” jawab Alexandria sambil tersenyum dan mengedipkan satu matanya pada Vadeo. Tingkah Alexandria itu pun membuat Vadeo gemes lalu memeluk pundak Alexandria dari samping karena Alexandria memang duduk di samping Vadeo.
“Sudah fix ya Deo, Gerrit sekertaris nya.” ucap Edwind selanjutnya.
“Dia di kantor cabang atau di kantor pusat?” tanya Vadeo
“Di sini, di kantor pusat tetapi di gedung tiga.” jawab Edwind sambil menatap Vadeo
“Panggil sekarang kita interview dia.” perintah Vadeo selanjutnya.
“Kak, aku dan Mama jalan jalan di sekitar sini ya... Mama katanya ingin melihat lihat produk perusahaan ini kita bisa lihat di mana?” ucap Alexandria sambil menoleh Vadeo.
“Okey biar nanti diantar oleh pegawai tetapi jangan lama lama cukup satu jam saja, dan di gedung satu saja tidak usah jauh jauh.” ucap Vadeo lalu dia menyuruh Edwind untuk memanggil karyawan guna mengantar Alexandria dan Nyonya William jalan jalan di sekitar gedung perusahaan dan menyuruh untuk memanggil Gerrit untuk datang interview.
Alexandria dan Nyonya William lalu keluar dari ruangan itu setelah ada seorang karyawan yang sudah datang untuk mengantar mereka berdua jalan jalan di sekitar gedung itu. Alexandria hanya bermaksud agar Gerrit belum melihat dirinya lebih dahulu. Dan setelah beberapa saat mereka berdua jalan jalan. Alexandria menelepon pada Vadeo menanyakan apakah acara interview sudah selesai.
__ADS_1
“Belum sayang sebentar lagi.” jawab di dalam sambu ngan telepon Alexandria
“Kak, kalau sudah selesai jangan boleh pergi dulu ya sekretaris terpilihnya. Aku ingin berkenalan.” ucap Alexandria kemudian, dan Vadeo mengiyakan. Sambungan telepon pun akhirnya diputus oleh Alexandria.
Beberapa menit kemudian Alexandria dihubungi oleh Vadeo agar segera kembali ke ruangannya. Alexandria pun segera mengajak sang Mama dan karyawan yang mengantarnya untuk mengakhiri acara jalan jalannya, mereka lalu segera menuju ke lift yang akan membawa ke lantai tempat ruangan Vadeo dan Edwind.
Alexandria sudah sangat tidak sabar untuk bertemu dengan Gerrit teman lamanya saat sekolah di New York dulu.
“Ayo Ma...” ajak Alexandria saat pintu lift sudah terbuka sampai di lantai yang sudah dituju. Nyonya William pun juga hanya menurut dia juga ingin berkenalan dengan teman baik anaknya itu. Karyawan yang mengantar pun ikut berjalan cepat di belakang mereka berdua.
Saat di depan pintu ruangan itu dengan tanpa sadar Alexandria langsung menekan pass word pintu itu dan pintu pun langsung terbuka. Karyawan yang mengantar kaget karena tangan nya baru akan mengetuk pintu tetapi pintu sudah terbuka. Edwind pun terlihat kaget karena pintu sudah terbuka sebelum dia dan Vadeo membukakannya.
“Gerriiiiiiiiiiiit....” teriak Alexandria sambil berlari dan membuka kedua tangannya. Semua terlihat kaget kecuali Nyonya William. Gerrit pun tampak kaget sambil menatap Alexandria dengan penuh saksama.
“Alexandria William...” teriak Gerrit kemudian sambil bangkit berdiri lalu berjalan cepat menyambut Alexandria dan mereka berdua pun berpelukan sangat erat dan saling menciumi kedua pipi mereka.
“Alexa apa kabar kamu? Apa kamu akan bekerja di sini? Kenapa aku tidak pernah melihat data kamu di perusahaan ini?” tanya Gerrit setelah mereka sudah tidak lagi berciuman tetapi masih saling berpelukan. Sebelum Alexandria menjawab Vadeo sudah menarik dengan lembut tubuh Alexandria lalu dipeluknya. Gerrit kini yang terlihat kaget. Sementara Edwind yang tadi terkaget, kini hanya duduk sambil melihat mereka sedangkan karyawan yang mengantar Alexa dan Nyonya William jalan jalan sudah pamit keluar pada Edwind.
“Apa kalian sudah saling kenal?” tanya Vadeo sambil menatap wajah Alexandria dan seterusnya menatap Gerrit.
“Iya Kak, teman sekolah. Tapi aku lakukan seleksi kemarin sungguh sungguh murni karena jejak digital Gerrit bagus Kak, aku tidak meloloskan karena dia teman baikku.” jawab Alexandria sambil menatap Vadeo yang masih memeluk pundaknya dari samping.
“Maaf Tuan saya pun tidak tahu kalau Alexandria ....” ucap Gerrit tidak berlanjut.
__ADS_1
“Alexandria calon istriku.” saut Vadeo selanjutnya.
“Al... selamat ya...” ucap Gerrit kemudian dengan senyuman di wajahnya. Alexandria pun tersenyum sambil memegang tangan Gerrit karena dia masih sangat rindu. Vadeo pun lalu melepas pelukan nya pada Alexandria dan mempersilahkan Alexandria dan Gerrit untuk berbincang bincang melepas rindu. Sementara dia dan Edwind kembali sibuk bekerja.
Alexandria pun memperkenalkan Gerrit pada Sang Mama. Ketiga perempuan itu pun akhirnya terlihat pembicaraan yang seru di sofa di dalam ruang kerja Edwind dan Vadeo yang luas itu. Ruangan kerja Edwind dan Vadeo sudah ada sekat dinding kaca yang tebal tetapi keseruan pembicaraan mereka tetap terdengar di telinga Vadeo dan Edwind. Edwind pun menoleh ke arah Vadeo. Dan Vadeo hanya mengangkat kedua bahunya.
Ketiga perempuan itu masih terus asyik berbicara setelah tadi Alexandria dan Gerrit bercerita nostalgia lucu lucu mereka saat remaja, kemudian dilanjut dengan promosi Nyonya William akan masakan Indonesia pada Gerrit. Dan kini pembicara pada rencana pernikahan Alexandria.
“Gerrit kamu harus datang di acara pernikahan Alexandria dan Vadeo nanti..” ucap Nyonya William sambil menatap Gerrit.
“Iya Mami, Gerrit akan datang, Gerrit akan ikut makan yang enak enak masakan Indonesia dan banyak cowok coklat dan kopi di sana ha... ha....ha...” ucap Gerrit sambil tertawa karena tadi juga sempat menyinggung cowok idaman Gerrit dan Nyonya William bilang di Indonesia banyak laki laki berkulit coklat gelap, berkulit kopi gosong pun juga banyak.
“Al, aku ada ide bagaimana kalau souvenir pernikahan kamu miniatur mobil produksi perusahaan Tuan Vadeo. Ini sangat spesial. Aku akan bantu proyek ini.” ucap Gerrit kemudian dengan nada serius sambil menatap Alexandria dan Nyonya William, sebab tadi Nyonya William mengatakan harus segera pulang ke Indonesia untuk mempersiapkan acara pernikahan Alexandria yang belum dia lakukan sedikit pun.
“Aku setuju itu, ide yang sangat keren. Semua dibuat dari sini saja, biar pakai uang Vadeo...” ucap Nyonya William dengan nada serius, dan yang kalimat terakhir terdengar lirih sambil melirik ke arah Vadeo yang sedang sibuk bekerja.
“Dan pesen satu warna pink polkadot hitam buat Dealova ha... ha... ha...” ucap Nyonya William kemudian sambil tertawa dan kini suara tawanya didengar oleh Vadeo dan Edwind.
“Al, gimana? itu ide bagus dan menghemat pikiran dan tugas Mama, juga menghemat biaya he... he...” bisik Nyonya William pada Alexandria.
“Alexa setuju Ma, nanti masalah biaya nanti Alexa diskusikan dengan Kak Deo. “ ucap Alexandria sambil tersenyum. Alexandria sangat setuju dengan ide Gerrit tetapi untuk biaya dia tidak begitu setuju jika harus dibebankan pada Vadeo meskipun uang Vadeo banyak tetapi Alexa tidak enak hati, jika dia yang harus keluar biaya untuk souvenir itu pun Alexa tidak apa apa, uang Alexandria pun juga banyak selain dia mendapat penghasilan dari kedua perusahaan dia pun juga mendapatkan pemasukan dari hak intelektual dari alat alat dan aplikasi yang sudah dia hasilkan selama ini.
“Okey sudah fix ya souvenir nya itu. Kamu tinggal bilang ke Vadeo, jadi tugas Mama sudah berkurang satu..” ucap Nyonya William sambil tersenyum lega ..
__ADS_1
.....