
Malam harinya setelah selesai makan malam, mereka berempat berangkat menuju bandara Warsawa dengan diantar oleh mobil fasilitas dari Hotel. Meskipun pak sopir menawarkan diri dan dengan senang hati akan mengantarkan mereka, akan tetapi Vadeo tidak tega karena Pak Sopir sudah capek menunggu di rumah sakit selama ini. Vadeo menyuruh Pak Sopir dan pengawal yang tertembak untuk tetap di dalam kamar hotel beristirahat saja.
Dan kini mereka berempat sudsh sampai di lokasi bandara Warsawa. Barang yang dibawa oleh pengawal Nyonya William semakin banyak. Vadeo tadi menyarankan agar barang belanjaan ditaruh mobil saja biar dibawa oleh Pak Sopir dan pengawal yang tertembak, tetapi Nyonya William tidak mau kuatir jika Pak Sopir dan pengawal berlama lama di warsawa hingga waktunya dia pulang ke Indonesia.
“Kak, amplop dokumen tidak ketinggalan kan?” tanya Alexandria saat mereka akan masuk ke dalam ruang cek in.
“Tidak sayang..” jawab Vadeo sambil merangkul pundak Alexandria.
“Hadiah spesial ditaruh di bagasi Kak.” bisik Alexandria agar tidak ada yang mendengarkan.
“Sudah sayang hanya senjata triple T yang aku bawa ke kabin pesawat.” bisik Vadeo sangat lirih di telinga Alexandria dan Alexandria pun tampak kaget dan spontan menoleh ke arah Vadeo.
“Apa itu, jangan bikin masalah di tempat sensor nanti.” bisik Alexandria dengan mata sedikit melotot karena kaget.
“TiTiT.. dan setelah dewasa menjadi ToToT.” jawab Vadeo sambil menunduk pandangan matanya tertuju pada bagian tubuh bawahnya.
“Ih... parno...” ucap Alexandria sambil mencubit kecil pinggang Vadeo dan Vadeo pun tertawa lepas, hingga banyak orang pun memandang mereka berdua. Tatapan mata mereka tidak kesal pada mereka tetapi ikut tersenyum melihat kemesraan sepasang kekasih itu. Aura cinta tulus Vadeo dan Alexandria benar benar memancar hingga orang yang ada di dekatnya pun turut merasakan damai dan bahagia karena aura yang terpancar dari mereka.
“Kalian itu jangan bercanda saja, ayo maju tuh antrian sudah lega.” ucap Nyonya William yang berdiri di dekat mereka. Nyonya William tidak mendengar apa yang sedang mereka berdua bicarakan selain mereka bicara dengan bisik bisik, Nyonya William pun sibuk mengatur paper bag belanjaannya yang akan dibawa masuk ke dalam kabin. Padahal sudah banyak pula yang dititipkan di koper Vadeo, Pengawal ataupun koper Alexandria.
“Ma besok beli koper lagi.” ucap Alexandria dan sang Mama mengangguk sangat amat setuju.
Beberapa menit kemudian mereka sudah masuk ruang cek in. Dan setelah melewati semua prosedur yang berlaku di bandara mereka pun masuk ke dalam pesawat pada waktunya.
“Ma, Deo duduk di samping Alexa, mau bicara masalah rekruitmen sekretaris pengganti Chaterine.” ucap Vadeo saat berjalan di dalam pesawat di belakang calon mertua.
“Tidak bisa, aku duduk di samping Alexa, kamu dan pengawal di belakangku. Duduklah sesuai dengan nomor yang tertera di tiket.” ucap Nyonya William tanpa menoleh dan tanpa melihat tiketnya, beliau terus berjalan di belakang Alexandria.
__ADS_1
Alexandria pun hanya diam saja sambil bibir tersenyum dan terus melangkah menuju ke tempat kursi yang sesuai dengan nomor yang tertera di tiketnya. Setelah sampai di kursi yang sesuai dengan nomor nya Alexandria segera masuk di deretan kursi itu lalu dia duduk di kursi yang berada di samping jendela, Sang Mama pun mengikuti Alexandria dan duduk di samping Alexandria. Sedangkan Vadeo dan pengawal duduk di kursi di belakang mereka berdua.
Beberapa menit kemudian terlihat pramugari pramugari mengecek overhead bins alias kabin yang ada di atas kepala penumpang.
Saat pramugari mengecek overhead bins di atas Vadeo. Terlihat Vadeo menunjukkan tiketnya pada Sang pramugari, dia menunjukkan jika nomor di tiketnya sudah diduduki oleh Nyonya William.
Pramugari tersebut lalu meminta tiket Nyonya William dan selanjutnya mengatakan jika tempat duduk Nyonya William berada di belakang. Nyonya William pun tidak mau pindah dan mengatakan jika tadi sudah sepakat dengan Vadeo kalau bertukar tempat. Pramugari pun kembali menatap Vadeo dan mengatakan jika dia sudah sepakat dengan Nyonya William bertukar tempat.
“Bukannya tadi Mama bilang duduk sesuai nomor..” gumam Vadeo yang terdengar oleh Nyonya William dan Nyonya William pun hanya tertawa kecil.
Setelah hampir dua jam pesawat mengudara, akhir pesawat mendarat dengan sempurna di bandara frankfurt.
“Belum begitu malam Al, apa bisa kita jalan jalan dulu..” ucap Nyonya William sambil bangkit berdiri.
“Besok saja Ma, setelah urusan selesai, Alexa dan Kak Deo akan mempelajari data data calon sekretaris pengganti Chaterine.” ucap Alexandria yang juga bangkit berdiri.
Mereka pun segera berjalan keluar dari pesawat. Dan setelah melalui prosedur yang berlaku di bandara. Kini mereka sudah berada di tempat kedatangan penumpang dan siap menunggu jemputan.
“Siapa yang akan menjemput Deo, jangan ada lagi perempuan pengacau yang menjemputmu.” ucap Nyonya William yang berdiri di dekat Vadeo dan Alexandria.
“Edwind yang akan menjemput Ma.” jawab Vadeo sambil mengusap usap hand phone nya untuk menghubungi Edwind.
“Edwind masih di jalan, kita minum kopi dulu sambil menunggu Edwind datang.” ucap Vadeo selanjutnya sambil menggandeng tangan Alexandria, dan mereka pun berjalan menuju ke tempat penjual kopi yang mendunia itu.
Beberapa menit kemudian muncul sosok seorang pemuda yang berjalan menuju ke arah meja mereka.
“Hai....” ucap pemuda itu saat sudah berada di dekat meja mereka, sambil pandangan matanya menatap pada wajah Alexandria. Ekspresi wajahnya penuh kekaguman melihat kecantikan Alexandria yang dengan polesan make up natural.
__ADS_1
“Hai.. Hai.. apa! Kamu membiarkan kami begitu lama menunggu.” ucap Vadeo sambil menepuk pantai Edwind dengan sangat keras.
“Sakit Deo, aku tadi kerja lembur dan aku kan pulang dulu makan dulu dan mandi dulu, sebab aku tahu akan bertemu dengan Nona cantik.” ucap Edwind sambil mengusap usap pantatnya yang terasa panas karena tepukan telapak tangan Vadeo yang keras.
Edwind pun lalu menjabat tangan Nyonya William dan Alexandria, saat menjabat tangan Alexandria, dengan segera Vadeo menarik tangan Edwind.
“Jangan lama lama.” ucap Vadeo sambil menarik tangan Edwind dengan keras pula, Edwind meringis lagi sedangkan Alexandria hanya tersenyum dan Nyonya William hanya geleng geleng kepala.
“Wajah aslinya lebih cantik dari pada di foto fotonya, apa adiknya juga seperti dia.” bisik Edwind di telinga Vadeo. Vadeo pun tidak menjawab dan segera bangkit berdiri, yang lain pun turut berdiri dan setelahnya berjalan menuju ke mobil Edwind untuk segera menuju ke apartement.
Di sepanjang perjalanan Edwind sibuk ngobrol dengan Nyonya William, Edwind banyak bertanya tentang gadis gadis Nyonya William, sedangkan Nyonya William sibuk bertanya tentang museum yang ada di Frankfurt karena tujuannya akan mencari cangkir nenek buyut.
Beberapa menit kemudian mobil sudah sampai di apartemen Vadeo. Vadeo sudah menyuruh Edwind untuk membelikan satu kamar untuk Alexandria dan calon mertua, akan tetapi kamar yang didapat tidak bersebelahan dengan kamar Vadeo.
Vadeo lebih dulu mengantar Alexa dan Nyonya William di kamar mereka.
“Al kamarku masih satu lantai tetapi berjarak beberapa kamar dari sini. Nanti aku kirim nomor dan pass word pintunya.” ucap Vadeo saat mereka berada di depan pintu kamar apartemen barunya yang akan digunakan untuk Alexandria dan calon mertua.
“Kak, kirim data data calon sekretarisnya ya..” ucap Alexandria dan Vadeo pun mengangguk sambil membukakan pintu kamar itu.
Alexandria dan Nyonya William segera masuk ke dalam kamar apartemen tersebut. Sedangkan Vadeo dan pengawal segera berlalu untuk menuju ke kamar Vadeo.
Alexandria dan Nyonya William masuk ke dalam kamar tidur masing masing sebab di dalam apartemen tersebut ada dua kamar tidur dan kamar mandi di di dalam kamar tidur tersebut.
Setelah membersihkan diri dan berganti baju, Alexandria pun segera berkutat dengan alat alat elektronik nya untuk mengecek data data calon sekretaris pengganti Chaterine. Dan sesaat matanya menatap sederet huruf huruf yang menyebutkan suatu nama seseorang terlihat mata Alexandria sedikit melotot karena kaget dan dia kembali lagi membaca deretan huruf itu.
....
__ADS_1