Alexandria

Alexandria
Bab. 189.


__ADS_3

Waktu pun terus berlalu dan siang hari waktunya makan tiba. Vadeo menyudahi pekerjaannya.


Vadeo keluar dari ruang kerja dan melangkah menuju ke kamar tidurnya. Dibuka pintu kamar itu pelan pelan. Terlihat sosok Alexandria masih terbaring di tempat tidur. Vadeo pun melangkah pelan pelan mendekati tempat tidur.


“Nyenyak sekali kamu..” gumam Vadeo dalam hati sambil mengusap lembut rambut Alexandria yang ada di dekat dahi.


Melihat sang istri tidur dengan sangat nyenyak Vadeo tidak tega untuk membangunkan lalu dia pun duduk di tempat tidur di samping Alexandria dan di mainkan rambut kepala Alexandria. Rambut yang menutupi wajahnya dia singkirkan agar wajah Alexandria tidak tertutupi oleh satu helai rambut pun.


Sambil memainkan rambut rambut Alexandria, Vadeo terus mengamati wajah cantik istrinya. Vadeo tersenyum dan sesaat kemudian...


CUP


Bibir Vadeo pun mendarat manis di bibir cantik Alexandria. Akan tetapi tiba tiba..


“Tawon.. tawon....” teriak Alexandria dan mata Alexandria pun langsung terbuka. Sementara Vadeo yang tadi menundukkan kepala karena mencium Alexandria langsung kaget dan mendongakkan kepala.


“Kak Deo....” ucap Alexandria setelah tersadar dan ada Vadeo sang suami di hadapannya.


“Apa kamu kira aku tawon? Hmmm.. mana ada tawon sebesar ini..” ucap Vadeo sambil menatap Alexandria


“Aku mimpi Kak, sedang di taman bunga tiba tiba ada yang menyengat bibirku..” ucap Alexandria sambil tersenyum lalu dia menyadarkan punggungnya di sandaran tempat tidur.


“Ha... ha... ternyata ada tawon raksasa...” ucap Vadeo sambil tertawa.


“Sengatan tawon raksasa bikin bengkak di tempat lain he... he... “ ucap Vadeo masih tertawa. Dan setelah tawa Vadeo selesai, Alexandria pun menceritakan musibah yang dialami oleh Dokter Loly. Vadeo hanya menanggapi dengan wajah datarnya.


“Kak padahal aku pernah membaca artikel tawon bisa mengenali wajah, kalau Dokter Loly ke sini lagi diserbu oleh tawon dan teman temannya gimana ya...” ucap Alexandria kemudian.


“Bukannya di tim dokter ada dua Dokter Obgyn nya.” ucap Vadeo selanjutnya, yang mendapatkan informasi sejak awal jika tim yang menangani program hamil istrinya ada dua orang Dokter dari spesialis Obgyn (Obstetri dan Ginekologi).


“Iya Kak, Dokter Loly untuk mengatasi masalah alat reproduksiku dulu setelah sudah tidak ada masalah baru ditangani oleh Dokter satu nya.” jawab Alexandria sambil menatap suaminya.


“O ya Kak, kata Dokter Loly tadi, kondisiku sudah membaik , suntik hormon sudah dikurangi juga, semoga aja bisa segera berhasil program kita.” ucap Alexandria kemudian, saat dia ingat akan keterangan dari Dokter Loly tadi pagi.

__ADS_1


“Benarkah? Aku nanti akan tanyakan pada Dokter pimpinan tim.” Ucap Vadeo dengan mata berbinar karena senang mendapat berita jika kondisi istrinya sudah semakin membaik.


“Ayo sekarang kita makan agar tubuhmu selalu sehat agar cepat ada juniorku yang tumbuh di sini.” ucap Vadeo sambil mengusap usap perut Alexandria.


Vadeo dan Alexandria pun segera turun dari tempat tidurnya dan berjalan menuju ke lantai bawah untuk segera ke ruang makan dan melaksanakan makan siangnya.


Sementara itu di guest house. Dokter Loly masih mengamati wajah nya yang bengkak sambil menotol notolkan kapas yang dia kasih madu.


“Hmmm sial benar nasibku” gumam Dokter Loly dalam hati


“Sudah tidak melihat wajah Tuan Vadeo ditambah mendapat sakit masih wajah menjadi seperti ini.” gumam Dokter Loly lagi sambil melihat wajahnya di pantulan cermin di.depan nya.


“Padahal bisa sepuluh hari efek dari sengatan tawon ini.”


“Tawon sialan.” umpat Dokter Loly


“Nanti malam saja aku ke tempat Dokter Senior, aku minta obat dan lotion. Kalau sekarang pasti banyak orang lihat wajahku dan menertawakan nasibku.” ucap Dokter Loly.


Dokter Loly lalu berjalan mengambil hand phone nya untuk menghubungi sang therapis agar makanan untuk dirinya diantar ke dalam kamarnya.


TOK... TOK... TOK... TOK...


Suara ketukan di pintu kamar Dokter Loly.


“Hmmm sudah di chat suruh makanan ku diantar ke kamar ku, tidak dibalas malah datang ke sini.. pasti ingin menertawakan aku lagi.” ucap Dokter Loly sambil menoleh ke arah pintu kamar.


“Apa pelayan mengantar makanan ku.” gumam Dokter Loly lagi. Lalu Dokter Loly berjakan mendekati pintu.


“Taruh saja di depan pintu. Nanti aku ambil.” teriak Dokter Loly dengan keras agar orang dibalik pintu mendengar.


Namun masih saja pintu kamar Dokter Loly masih diketuk ketuk dan suaranya justru semakin keras.


TOKK... TOKKK.... TOOOOKKKKK... TOOOOOKKKKK....

__ADS_1


“Hah sudah disuruh taruh saja di depan pintu masih saja....” suara Dokter Loly dengan nada kesal sambil membuka daun pintu akan tetapi saat pintu sudah dibuka Dokter Loly terlihat kaget


“Dok...” suara Eveline pun dengan ekspresi wajah yang tidak kalah kaget dengan Dokter Loly.


Eveline memang berniat untuk melihat kamar Dokter Loly setelah mendapat kabar dari Bang Bule kalau kamar kamar di guest house belum ada CCTV. Dan saat melihat sang therapis berjalan sendiri menuju ke ruang makan, kesempatan buat Eveline untuk menghampiri Dokter Loly sekaligus melihat lihat kamar Dokter Loly.


“Doktet Loly kena apa?” tanya Eveline yang kaget dengan wajah bengkak Dokter Loly dengan hidung membesar merah bagai hidung badut dan bibir yang menjontor. Setelah melihat wajah Dokter Loly pandangan Eveline pun tertuju pada rak sepatu di dekat pintu. Terlihat memang di dalam sepatu Dokter Loly yang tidak terpakai ada bungkusan tisue.


“Hmmm disengat tawon.” jawab Dokter Loly


“Nona Eveline ada perlu apa?” tanya Dokter Loly


“Mau mengajak Dokter Loly ke ruang makan saya lihat Therapis sudah berjalan lebih dulu.” jawab Eveline.


“Dokter di sangat lebah di mana?” tanya Eveline yang memang benar benar belum tahu dan belum tersiar berita tentang Dokter Loly yang disengat lebah.


“Tadi pagi waktu mengantar obat dan vitamin Nona Alexandria.” jawab Dokter Loly sambil menutup hidung dan bibirnya dengan telapak tangannya.


“Sudah jangan banyak tanya, aku mau istirahat. Kalau di ruang makan tolong katakan pada pelayan suruh mengantar makanan ku ke sini.” ucap Dokter Loly selanjutnya.


Eveline pun mohon diri..


“Hmmm kesempatan buat aku, nanti aku saja yang mengantar makanan Dokter Loly dan aku berusaha agar bisa masuk ke dalam kamarnya.. “ gumam Eveline dalam hati sambil terus berjalan menuju ke ruang makan.


“Kalau melihat sepatu nya sih memang seperti ada bungkusan tepung dalam tisue.” gumam Eveline lagi.


Eveline terus melangkah menuju ke ruang makan, terlihat sang therapis sudah duduk di meja makan bergabung dengan tamu yang lainnya. Eveline pun ikut bergabung di meja makan itu karena terlihat masih ada kursi yang kosong.


“Bolehkah saya bergabung di meja ini?” ucap Eveline minta ijin untuk duduk bergabung. Tampak semua yang sudah duduk mempersilahkan Eveline untuk bergabung.


“Nona, saya baru tahu kalau Dokter Loly mendapat musibah tadi pagi.” ucap Eveline sambil mengambil piring dan menoleh ke arah sang therapis. Dan seterusnya mereka yang bergabung di meja itu membahas tentang sengatan lebah.


“Nona, biar nanti saya saja yang mengantar makan siang untuk Dokter Loly, tidak usah menyuruh pelayan..” ucap Eveline selanjutnya sambil menatap Sang therapis.

__ADS_1


“Baiklah nanti kita berdua yang antar makan buat Dokter Loly..” jawab sang therapis.


....


__ADS_2