Alexandria

Alexandria
Bab. 144. Menyerahkan Diri?


__ADS_3

“Kak, itu mobil Richie.” bisik Alexandria di telinga kanan Vadeo agar Sang Mama tidak mendengar. Sebab Alexandria kuatir sang Mama panik jika mendengar ada mobil Richie di depan mereka. Vadeo hanya menjawab dengan anggukan kepala. Vadeo masih menyalakan mesin mobilnya akan tetapi dia belum menjalankan mobilnya.


“Deo cepat jalan... keburu siang. Aku ingin jalan jalan lihat lihat museum benda benda antik siapa tahu nemu cangkir nenek buyut. Kalau tidak bisa beli ya kita potret saja aku sudah puas setidaknya sudah ketemu cangkir nenek buyut.” ucap Nyonya William sambil mendorong pundak Vadeo.


“Bentar Ma..” ucap Vadeo tanpa memberi alasan pada calon mertua. Dia menunggu mobil Richie terparkir dan orang orangnya keluar lebih dulu. Dari pada Vadeo menjalankan mobilnya dia waspada jika tiba tiba mobil Richie kembali keluar dan mengikutinya mobilnya apalagi jika dengan acara tembak menembak lagi pasti acara jalan jalan dan nanti sore terbang ke Frankfurt akan kacau balau.


“Nunggu apa sih, nunggu mesin panas kok seperti mobil jaman dulu saja..” ucap Nyonya William dengan nada agak tinggi karena sudah tidak sabar untuk jalan jalan.


“Ya sudah Mama mau turun dulu mau ke toilet.” ucap Nyonya William yang akan membuka pintu dan akan keluar dari mobil. Tetapi Vadeo dengan cepat mengunci pusat semua pintu.


“Deo... buka pintu, kamu mau aku ngompol di sini.” ucap Nyonya William lagi dengan nada sedikit emosi. Bagaimana tidak mobil tidak segera jalan ada orang mau turun ke toilet malah pintu mobil dikunci pusat.


“Ma sudah mau jalan nanti ke toilet di sana saja kita kan juga mau wisata kuliner dari sini kita cari makanan Mama bisa ke toilet di sana. Nanti kalau di toilet di sini kalau ketemu Richie malah bahaya buat Mama.” ucap Alexandria kemudian, dia tahu maksud Vadeo mengunci pusat agar Sang Mama tidak keluar karena kuatir akan menjadi bahan sandera teman teman Richie. Terlihat Nyonya William hanya diam saja dengan bibir cemberut.


Dan tidak lama kemudian mobil Richie pun berhenti, namun di saat bersamaan beberapa personil polisi berlari dari dalam dan menuju ke mobil Richie dan bersamaan dengan itu pula pintu gerbang langsung ditutup dan ada beberapa personil menjaga di depan pintu, berjaga jaga jika mobil Richie yang dikendarai oleh teman teman Richie lari.


Nyonya William yang melihat peristiwa itu terlihat kaget dan takut secara spontan beliau memeluk Alexandria.


“Untung Mama tidak jadi turun, bisa langsung gemetaran dan terduduk di tanah tidak bisa jalan.” ucap Nyonya William dengan suara gemetar. Alexandria pun memeluk tubuh sang Mama dari samping. Sedangkan Vadeo masih menunggu pintu gerbang kembali dibuka.

__ADS_1


“Mereka itu apa mau menyerahkan diri apa memang pura pura agar dikira tidak terlibat.” gumam Vadeo sambil pandangan matanya melihat ke arah mobil Richie dari pantulan kaca spion samping.


“Mungkin memang karena belum tahu kalau polisi melakukan pengembangan kasus, kemarin kan polisi baru mencari Richie dan mereka belum ditangkap.” ucap Alexandria pandangan matanya pun tertuju pada kaca spion samping dan kepalanya di dekatkan pada kepala Vadeo.


“Menyerahkan diri tanpa mereka sadari, polisi tidak perlu repot repot.” gumam Vadeo dan Alexandria pun tersenyum.


Terlihat personil itu menyuruh pintu mobil Richie segera dibuka. Dan tidak lama kemudian mobil sudah dibuka. Dan tampak teman teman Richie bicara dengan lantang mengatakan tidak tahu masalah Richie dan mereka mengatakan hanya tahu informasi dari media sosial kalau Richie terkena tembakan dan dibawa ke kantor polisi dan sebagai teman mereka akan menjenguk.


Para personil kepolisian terlihat memberi hormat dan meminta mereka semua masuk ke dalam kantor untuk memberi keterangan. Mau tak mau mereka semua menurut. Dan pintu gerbang pun mulai dibuka kembali. Mobil Vadeo pun pelan pelan mulai berjalan meninggalkan lokasi kantor kepolisian, setelah masuk ke jalan raya Vadeo menambah laju kecepatan mobilnya dan terus melaju untuk mengabulkan keinginan calon mertua jalan jalan yang sebenarnya.


Mereka jalan jalan hingga menjelang sore hari melewati waktu yang dijadwalkan oleh Vadeo dan Alexandria, karena sang Mama terus mencari museum yang memiliki koleksi cangkir cangkir jaman dahulu kala, beliau terus saja ingin mencari cangkir nenek buyut yang hilang satu.


“Sudah sayang kita tidak jadi berangkat sore tetapi ganti pesawat yang berangkat malam ini.” jawab Vadeo sambil terus melajukan mobilnya.


“Apa Mama tinggal di sini sama pengawal.” tawar Alexandria sambil menoleh menatap sang Mama yang belum puas karena belum mendapatkan cangkir nenek buyut.


“Aku besok kan harus ikut menyeleksi calon sekretaris.” jawab Sang Mama sambil tersenyum.


“Bisa dimarah oleh Papa, jika aku tinggal di Warsawa dan membiarkan Alexandria dan Vadeo berdua kembali ke Frankfurt.” gumam Nyonya William dalam hati, bukannya dia diizinkan oleh Tuan William mengantar Alexandria karena untuk menjaga dua anak manusia yang sedang dilanda asmara itu.

__ADS_1


Beberapa menit kemudian mobil sudah memasuki lokasi hotel berbintang tempat mereka menginap. Mereka segera turun dari mobil. Seperti biasanya Sang pengawal berjalan paling belakang dengan paper bag belanjaan Nyonya William di kedua tangannya.


Saat mereka sampai di lobby hotel ada dua orang yang sangat mereka kenal sudah duduk menunggu di kursi yang ada di lobby tersebut.


“Kalian sudah pulang dari rumah sakit, apa sudah diizinkan oleh dokter?” tanya Vadeo sambil menatap Pak Sopir dan pengawalnya yang tertembak.


“Sudah Tuan, apa kamu juga harus cek out malam ini dan kembali ke Frankfurt?” tanya Pak Sopir pada Vadeo. Sementara itu Alexandria dan Nyonya William sudah akan beranjak menuju ke lift karena ingin segera berkemas dan bersiap siap.


“Tidak harus malam ini, kalian berdua istirahat saja dulu di sini sampai tenaga kalian pulih lagi baru kalian kembali ke Frankfurt dengan membawa mobil ini.” ucap Vadeo sambil menyerahkan kunci mobil kepada Pak Sopir. Nyonya William yang masih berjalan mendengar itu dan segera menoleh, ingin rasanya dia masih ikut tertinggal untuk mencari lagi cangkir nenek buyut.


“Ayo Ma..” ajak Alexandria sambil menarik tangan sang Mama agar cepat berjalan menuju ke lift.


“Al, mereka kan masih tinggal di sini, bisa diminta tolong untuk mencari cangkir itu.” bisik Sang Mama saat mereka sudah berdiri di depan pintu lift


“Kasihan mereka Ma, besok kita jalan jalan ke museum di Jerman. Atau nanti kalau sudah ke Indonesia kita jalan jalan di pasar klithikan.” ucap Alexandria sambil tersenyum.


“Semua pasar klitikan sudah Mama datangi Sayang...” ucap Sang Mama sambil mencubit pinggang Alexandria. Saat kedua perempuan itu tertawa kecil Vadeo dan pengawal sudah berdiri di belakang mereka di depan pintu lift.


....

__ADS_1


__ADS_2