
Vadeo setelah menerima baju ganti dan handuknya segera berjalan menuju ke kamar mandi di lantai bawah. Sambil mandi dia terus berpikir jawaban apa yang akan dia berikan, jika Alexandria bertanya siapa yang memanjat pohon asam.
“Semoga saja tidak bertanya siapa yang manjat pohon.” gumam Vadeo sambil membuka pintu kamar mandi setelah dia sudah selesai mandi. Tampak tubuh dan wajahnya sudah segar. Sambil berjalan keluar dia mengusap usap rambutnya dengan handuk agar rambutnya segera kering karena dia juga mencuci rambutnya.
Vadeo terus berjalan menaiki anak tangga. Dan tidak lama kemudian dia sudah berada di depan kamarnya. Vadeo membuka pelan pelan pintu kamarnya.
“Kaaaakkkkk... aku kangen banget.” teriak Alexandria lalu dia berjalan mendekati Vadeo dan dia segera memeluk tubuh Vadeo.
Vadeo pun membalas pelukan istrinya meskipun tangannya masih memegang handuk. Vadeo lalu mengecup puncak kepala Alexandria.
“Apa kamu sudah tidak merasa pusing dan mual?” tanya Vadeo selanjutnya
“Tidak Kak. Bagaimana Kak tadi tempatnya jauh ya kok sampai malam baru pulang, tadi yang manjat Kak Deo?” tanya Alexandria secara beruntun setelah melepas pelukannya
“Sebentar Sayang aku taruh handuk ini dulu di balkon.” ucap Vadeo selanjutnya dan dia berjalan menuju ke pintu di dekat kamar mandi, pintu yang menghubungkan ke balkon.
Alexandria pun juga mengikuti langkah kaki suaminya dengan bibir tersenyum karena bahagia suaminya sudah pulang dengan selamat.
“Sini Kak aku taruh handuknya.” ucap Alexandria sambil meraih handuk yang masih dipegang oleh Vadeo sementara tangan Vadeo yang satunya sedang memutar handel pintu.
Setelah pintu terbuka Alexandria langsung melangkah menuju ke balkon untuk mengangin anginkan handuk Vadeo di sebelah handuk miliknya.
“Kita makan yuk, aku lapar banget nih..” ucap Vadeo selanjutnya selain dia memang lapar dia juga ingin Alexandria lupa dengan pertanyaannya tadi.
“Ayuk Kak.” ucap Alexandria sambil tersenyum lebar dan mata yang berbinar binar.
“Kasihan suamiku sampai kelaparan.” ucap Alexandria sambil memeluk tubuh Vadeo dari samping.
__ADS_1
Mereka berdua lalu berjalan meninggalkan kamar dan melangkah menuju le lantai bawah untuk makan malam di ruang makan.
Bibir Alexandria terus melengkung membentuk suatu senyuman, dia duduk di kursi makan sambil melayani suaminya mengambilkan makan malam buat suaminya. Vadeo pun tersenyum dia senang melihat istrinya bahagia akan tetapi tetap masih deg degan jika ditanya lagi siapa yang memanjat pohon. Acara makan malam pun sudah usai.
“Tadi Kak Deo yang manjat?” tanya Alexandria sambil tangannya membereskan piring piring kotor
“Pohonnya tinggi sekali Sayang, batangnya sangat besar mungkin empat orang berpegang tangan saja tidak mencakup batang itu.” jawab Vadeo berdiplomasi. Dia tidak menjawab iya atau tidak tetapi malah menceritakan ujud pohon.
“Tadi ada ular juga, untung kami semua selamat dari ular yang besar itu.” ucap Vadeo selanjutnya bercerita tentang ular agar Alexandria perhatiannya berpindah pada cerita ular.
“Alhamdulillah selamat, di bukit lahan liar, pasti banyak hewan hewan liar.. untung tidak ada hewan liar lainnya kayak harimau.. untung Kak semua selamat.“ ucap Alexandria penuh syukur dan haru mendengar cerita suaminya.
“Apa Kak Deo...”
“Apa Sayang..” saut Vadeo sebelum Alexandria melanjutkan kalimatnya.
Saat Alexandria mau berucap muncul sosok sang pelayan di dalam ruang makan karena sudah mengira makan malam mereka berdua selesai.
“Itu buah asam nya sudah saya eksekusi, tinggal dibulat bulat saja, nunggu agak dingin adonannya.” ucap sang pelayan lagi melaporkan hasil kerjanya.
“Biar saya yang buat bulat bulatnya Bu, saya pinter kalau bikin bulat bulat, saya punya yang bulat bulat..” ucap Vadeo sambil bangkit berdiri dan tersenyum menatap Alexandria.
Vadeo terus melangkah menuju ke dapur dan setelah sampai di dapur dia menuju ke panci tempat adonan permen asam. Vadeo mengaduk aduk adonan yang masih panas itu. Dia akan melakukan itu sebagai gantinya karena tidak memanjat pohon seperti keinginan Alexandria, dia berharap jika Alexandria kecewa bisa terobati rasa kecewanya.
“Nanti Tuan, tunggu sampai agak dingin dulu.” ucap Sang pelayan sambil membawa piring piring kotor lalu menaruh di tempat cuci. Vadeo masih berdiri dan mengaduk aduk adonan itu.
Tidak lama kemudian Alexandria juga masuk ke dalam dapur sambil membawa tempat makanan sisa mereka berdua tadi. Setelah menaruh tempat sisa makanan itu, Alexandria pun berjalan mendekati suaminya.
__ADS_1
“Hmmm sedap... “ ucap Alexandria yang sudah berdiri di dekat suaminya sambil melihat adonan yang berwarna coklat gelap itu.
“Saliva ku sudah keluar he... he... pengen nyolek aku..” ucap Alexandria lagi sambil tertawa kecil.
“Yuk Kak kita bawa ke ruang tengah kita buat bulat bulat di sana, capek kalau berdiri di sini.” ajak Alexandria, Vadeo pun tersenyum senang sebab Alexandria sudah tidak menanyakan lagi siapa yang memanjat pohon.
“Iya Non, nanti saya siapkan tempatnya, saya juga senang kalau di ruang tengah sambil duduk empuk dan nonton televisi he.. he..” saut sang pelayan sambil tertawa kecil dan menoleh ke arah Alexandria dan Vadeo.
“Tuan dan Nona tunggu saja di ruang tengah, nanti selesai cuci cuci ini saya ke sana sambil membawa adonan yang peralatannya.” ucap sang pelayan selanjutnya.
“Ayo Kak, tunggu di sana.” ucap Alexandria sambil menggandeng lengan Vadeo, mereka berdua berjalan meninggalkan dapur dan Alexandria pun berjalan sambil menempel pada tubuh Vadeo.
Dan akhirnya mereka bertiga membuat bulat bulat permen asam di ruang tengah. Saat sudah ada bulatan yang jadi dan sudah dingin sudah ditaburi gula putih Alexandria langsung mencomot dua butir dan dia masukkan ke dalam mulut. Mata Alexandria berbinar binar saat sudah merasakan permen asam yang dia idam idamkan. Vadeo memandang wajah istrinya sambil tersenyum dan tangannya masih terus bekerja.
“Aku kok ngantuk ya...” ucap Alexandria lalu dia menuju ke wastafel dan mencuci tangannya. Dia lalu duduk lagi di sofa sambil menyandarkan tubuhnya pada tubuh suaminya yang masih asyik membuat bulat bulat permen asam.
Hingga akhirnya Alexandria tertidur bersandar di tubuh Vadeo.
“Tuan istirahat saja, biar saya lanjutkan.” ucap sang pelayan sambil menatap Vadeo dan melihat Alexandria yang sudah tertidur.
Vadeo pelan pelan merubah posisi Alexandria agar menyandar penuh pada sandaran sofa tanpa memegang dengan jari jari tangannya, sebab dia akan berdiri dan akan mencuci tangannya.
“Kak..” gumam Alexandria dengan mata terpejam saat merasa Vadeo akan pergi.
“Sebentar Sayang, aku cuci tangan dulu..” ucap Vadeo sambil menoleh ke arah Alexandria. Vadeo lalu bangkit berdiri dan terlihat Alexandria kini sudah berubah posisi kini dia sudah meringkuk di sofa dan masih tertidur.
Setelah Vadeo mencuci tangannya dengan bersih, dia lalu melangkah lagi ke sofa dan dia gendong tubuh Alexandria dengan hati hati.
__ADS_1
“Tuan hati hati ya.. kalau naik tangga.” pesan sang pelayan saat Vadeo sudah melangkah akan meninggalkan ruang keluarga. Sang pelayan tersenyum nalurinya berkata bahwa Alexandria memang benar benar hamil meskipun belum di test.
...