Alexandria

Alexandria
Bab. 154.


__ADS_3

Malam harinya di mension Jonathan Co. Tepatnya di kamar mewah Vadeo, tampak laki laki muda yang tampan dan super keren itu, tersenyum senyum melihat tampikan dirinya di depan cermin.


“Rasanya tidak sabar menunggu esok hari untuk bertemu Alexa.” gumam Vadeo dalam hati sambil terus saja tersenyum senyum di depan cermin. Dia mengusap ngucap dagu dan rahangnya yang sudah dicukur super rapi. Lalu mengusap usap juga rambutnya yang juga sudah rapi dan keren.


“Mama benar benar baik sekali, mengajakku ke klinik perawatan membuat tubuh dan wajahku bener benar tambah cerah, harum dan segar... jadi besok saat bertemu Alexa pasti dia akan semakin cinta.” gumam Vadeo lagi yang bangga melihat tampilan dirinya yang tampak semakin segar.


“Apa Alexa juga melakukan hal yang sama. Alexa bangun tidur belum mandi saja sudah cantik, kalau terlalu cantik malah mengawatirkan diriku.” gumam Vadeo lagi sambil terus saja melihat tampilan dirinya di cermin sambil senyum senyum. Setelah puas lalu dia berjalan beberapa langkah sambil menatap foto Alexandria di pigura yang tertempel di dinding kamarnya dengan ukuran yang sangat lebar.


“Al, aku sudah tidak sabar bersama denganmu di dalam kamar tidak hanya di dalam kamar dengan foto mu seperti sekarang ini, tetapi sungguh sungguh dengan dirimu.” ucap Vadeo sambil mengusap usap kaca pigura tepat di bagian wajah foto Alexandria itu.


Saat Vadeo masih mengusap usap kaca pigura itu. Pintu kamar nya terdengar suara ketukan. Buru buru Vadeo mengakhiri kegiatan usap mengusap kaca pigura lalu dia membalikkan tubuhnya dan melangkah menuju ke arah pintu. Vadeo lalu memutar handel pintu dan pelan pelan membuka daun pintu.


“Deo kamu besok tidak usah ke kantor pagi. Biar Papa yang berangkat pagi. Besok pagi kita fitting baju. Setelah setelah fitting baru kita ke kantor.” ucap Nyonya Jonathan sambil terus berjalan nyelonong masuk ke dalam kamar Vadeo lalu dia duduk di sofa yang ada di dalam kamar itu.


“Bukannya jadwal fitting sore hari sepulang kerja Ma.” ucap Vadeo sambil berjalan mengikuti sang Mama dan duduk du samping sang Mama.


“Sore pulang kerja kita cepat cepat ke mension , jasa design interior akan datang. Mereka akan melihat kamarmu yang akan mereka design. Kamu bisa kasih masukan kepada mereka.” ucap Nyonya Jonathan sambil mengulurkan booklet berisi foto foto kamar pengantin.


“Mama ingin kamar kamu ini menjadi kamar yang romantis dan Alexandria bisa cepat hamil. Mension ini menjadi hidup oleh suara tangis bayi.” ucap Nyonya Jonathan sambil menatap Vadeo yang duduk di sampingnya.


“Pokoknya setelah nikah kamu dan Alexandria harus tinggal di sini.” ucap Nyonya Jonathan lagi


“Kamu cari cari model design interior kamar pengantin yang romantis ya.” Ucap Nyonya Jonathan selanjutnya


“Bukannya kamar pengantin sudah di pikirkan oleh wedding organizer Ma. Kita semua kan nginap di hotel setelah resepsi selesai. Aku dan Alexandria kan malam pertama di kamar pengantin di hotel itu.” ucap Vadeo sambil membuka buka booklet itu.


“Setelah pulang dari Hotel suasana kamar pengantin harus masih ada di kamarmu ini. Sampai aku mendapatkan cucu.” ucap Nyonya Jonathan selanjutnya lalu dia bangkit berdiri dan keluar dari kamar Vadeo.

__ADS_1


Sedangkan Vadeo pun segera melaksanakan apa yang sudah ditugaskan oleh Sang Mama pada dirinya. Untuk menjadikan kamarnya menjadi kamar yang romantis agar bisa menjadi tempat yang nyaman untuk memberikan cucu buat orang tua nya.


Keesokan paginya, Vadeo bangun dengan semangat yang membara dia sudah tidak sabar untuk pergi ke tempat designer baju pengantinnya. Tujuan utama dia bukan untuk fitting baju tetapi untuk bertemu dengan sang kekasih hati.


Setelah mandi dan bersiap diri, Vadeo yang sudah tampil keren, segar dan wangi langsung keluar dari kamarnya dan menuruni anak tangga untuk menuju ke ruang makan. Saat sampai di ruang makan belum ada sosok kedua orang tuanya. Para pelayan yang sedang menyiapkan sarapan tampak terpesona melihat Vadeo yang tampil lebih keren dari hari hari biasanya.


“Tuan muda akan pergi kemana kok sudah rapi?” tanya salah seorang pelayan sambil memberikan satu cangkir kopi pada Vadeo.


“Pergi sama Mama.” jawab Vadeo sambil menggeser cangkir kopi di atas meja. Pelayan pun tidak lagi berani bertanya.


Tidak lama kemudian Nyonya dan Tuan Jonathan masuk ke dalam ruang makan.


“Ma, calon pengantin sudah tidak sabar untuk memakai baju pengantin.” ucap Tuan Jonathan sambil tersenyum menatap anak laki laki satu satunya. Tuan Jonathan pun sebenarnya juga sudah tidak sabar menunggu hari H pernikahan putera nya itu. Apalagi kalau mengingat akan hadirnya cucu, rasanya dia ingin mempercepat laju rotasi bumi dan laju revolusi bumi agar waktu segera tiba.


Setelah acara makan pagi selesai, mereka bertiga segera bangkit berdiri dan berjalan meninggalkan ruang makan. Tuan Jonathan menuju ke mobilnya, untuk pergi ke kantor Jonathan Co. Sedangkan Vadeo dan Nyonya William menuju ke mobil Vadeo untuk pergi ke tempat designer baju pengantinnya.


Nyonya Jonathan tidak begitu memperhatikan ekspresi wajah Vadeo, karena beliau sibuk dengan layar hand phone nya untuk mengecek segala kesiapan yang dibutuhkan di acara pernikahan sang putera tunggal tercintanya yang semakin mendekat hari H nya.


Beberapa menit kemudian mobil sudah memasuki halaman rumah sang designer baju pengantinnya. Vadeo segera memarkir mobilnya. Terlihat di halaman itu ada beberapa mobil telah terparkir akan tetapi Vadeo tidak melihat mobil Alexandria atau pun mobil milik keluarga William lainnya.


“Ayo Sayang.. “ ucap Nyonya Jonathan sambil membuka pintu saat melihat Vadeo belum melepas sabuk pengamannya dan hanya menatap mobil terparkir.


“Ma, mobil Alexa kok belum datang?” tanya Vadeo saat berjalan di samping sang Mama.


“Alexa nanti sore ke sini nya.” jawab Nyonya Jonathan dengan ringan dan santai tetapi bagai bom meledak di telinga Vadeo.


Akhirnya senyuman di wajah Vadeo menghilang dan dengan langkah lesu dia berjalan di samping sang Mama.

__ADS_1


Sementara itu di mension William, seperti pagi pagi biasanya di ruang makan selalu heboh karena Dealova. Pagi ini Dealova ribut ingin perawatan tubuh dan wajah seperti halnya yang sudah dilakukan Alexandria, alasannya karena dia juga akan tampil. Dan setelah diiyani oleh Alexandria akhirnya Dealova segera meninggalkan ruang makan dengan Ixora untuk pergi ke sekolah.


“Jangan jangan nanti kalau dia ikut fitting baju, dia juga minta baju seperti punya mu Al.” ucap Nyonya William sambil menatap Alexandria mereka masih duduk di kursi. Tuan William yang me dengar hanya diam saja. Tuan William justru memikirkan bagaimana jika besok semua anak gadisnya sudah menikah dan ikut dengan suaminya. Mension yang biasanya ramai akan menjadi sepi.


Dan beberapa saat Tuan William bangkit berdiri, Beliau akan ssgera berangkat menuju ke William Group. Nyonya William pun juga ikut bangkit berdiri dan mengantar sang suami sampai di mobilnya. Sedangkan Alexandria berjalan menuju ke ruang kerja yang ada di menssion tersebut.


Alexandria pun segera duduk di kursi di depan komputer kerjanya. Hal yang dia lakukan bukan segera menyalakan komputernya, namun dia membuka hand phone nya, dia lihat foto Vadeo yang ada di hand phone nya.


“Kak Deo sedang apa ya...” gumam Alexandria dalam hati sambil terus melihat foto Vadeo yang sedang tersenyum manis pada dirinya. Alexandria meng ambil moment itu saat Vadeo sedang berada di dalam pesawat saat pulang ke Indonesia bersama dirinya kemarin itu. Selanjutnya Alexandria melihat foto Vadeo yang sedang tidur nyenyak juga saat berada di dalam pesawat. Alexandria tertawa kecil saat melihat foto itu. Sebab saat Vadeo melihat foto itu langsung dia hapus akan tetapi Alexandria bisa lagi memulihkan data itu.


“Al.....” suara Nyonya William yang sedang membuka pintu ruangan itu mengagetkan Alexandria. Alexandria lalu menaruh hand phone nya di meja kerjanya.


“Pasti kamu lihat lihat foto Vadeo. Sabar Al... sudah tidak lama lagi kamu akan selalu bersama Vadeo.” Ucap Nyonya William sambil berjalan mendekati Alexandria. Alexandria hanya menoleh sambil tersenyum.


“Eh Al, waktu sudah semakin dekat souvenir kok belum sampai sini. Sudah dikirim oleh Gerrit belum?” tanya Nyonya William dengan nada kuatir.


“Belum Ma... “ jawab Alexandria santai.


“Ha ladalah.. sudah waktu semakin dekat kok belum dikirim maksudnya gimana, Mama maunya sudah siap semua dalam minggu ini. Biar hati tenang.” ucap Nyonya William lagi.


“Undangan saja semua sudah tersebar. Konfirmasi dari para tamu undangan yang akan menginap juga sudah okey. Kok souvenir belum datang padahal dari jauh, apa tidak bikin was was Mama. Mama sudah cerita cerita kalau souvenir miniatur mobil produksi perusahan Vadeo.” ucap Nyonya William sambil bersungut sungut.


“Tunggu saja Ma..” ucap Alexandria sambil menatap Sang Mama, sebab dia pun sudah menghubungi Gerrit menanyakan perihal souvenir.


“Aku minta nomor hand phone Gerrit, atau sini aku telepon Gerrit maunya apa kok belum dikirim.” ucap Nyonya William lagi lalu mengambil hand phone Alexandria karena ingin menghubungi Gerrit.


“Aku sudah senang dengan ide souvenir nya itu. Bagi Mama hidangan dan souvenir untuk tamu itu sangat penting karena itu menghormati dan menghargai kehadirannya. Aku itu sudah percaya pada Gerrit, kalau ternyata bikin masalah gini lebih baik dulu kita pesan sendiri souvenir itu.” ucap Nyonya William lagi.

__ADS_1


....


__ADS_2