
Vadeo setelah selesai makan siang melanjutkan pekerjaannya. Sedangkan Alexandria melanjutkan membaca buku dari Ixora yang belum selesai dia baca seluruhnya.
“Hmmm mumpung aku ingat, aku coba tanya pada Dokter pimpinan tim. Dia pasti juga sudah selesai makan siang.” gumam Vadeo dalam hati yang ingin menanyakan langsung tentang perkembangan program hamil istrinya.
Vadeo mengusap usap layar hand phone nya untuk melakukan sambungan suara dengan Dokter pribadi keluarga William.
“Selamat siang Tuan Vadeo.” sapa Dokter pribadi keluarga William saat sudah menggeser tombol hijau nya.
“Selamat siang Dok. Istri saya mendapat keterangan dari Dokter Loly, kalau rahimnya sudah membaik dan suntik hormon dikurangi frekuensinya. Saya ingin meminta kepastian dari Dokter pimpinan.” ucap Vadeo
“Saya belum mendapatkan laporan dari Dokter Loly, maaf Tuan. Info dari sang therapis bahwa Dokter Loly sedang sakit nanti malam katanya mau menemui saya. Nanti akan saya tanyakan pada Dokter Loly.” ucap Dokter pribadi keluarga William.
“Jika benar kondisi Nona Alexa sudah membaik saya sangat senang. Tinggal nanti kita lihat perkembangan selanjutnya, jika Nona tidak mendapatkan haid akan segera kita periksa langsung ditangani oleh Dokter kandungan.” ucap Dokter pribadi keluarga William selanjutnya
“Jika masih mendapatkan haid, frekuensi pemberian hormon kembali seperti semula saja.” ucap Vadeo yang belum tahu jika Alexandria lebih menginginkan pengobatan alami agar hormon di dalam tubuhnya keluar secara alami.
“Iya Tuan nanti kami diskusikan dalam tim kami.” ucap Dokter pribadi keluarga William. Vadeo pun selanjutnya mengakhiri sambungan teleponnya.
Vadeo meletakkan hand phone nya di meja. Lalu dia bangkit berdiri dari kursinya dan berjalan menuju ke pintu yang ada ruang kerjanya, dia putar pelan pelan handel pintu itu dan dia tarik pelan pelan juga daun pintu itu. Vadeo melongokkan kepalanya, lalu tersenyum melihat istrinya yang duduk santai di sofa panjang sambil serius membaca buku dari Ixora.
Sesaat Alexandria menoleh ke arah Vadeo, mungkin ikatan batin yang kuat sehingga Alexandria merasa kalau sedang dilihat oleh sang suami, meskipun Vadeo sudah membuka pintu dengan pelan pelan.
“Apa Kak?” tanya Alexandria masih menoleh ke arah Vadeo
“Tidak apa apa, kangen saja he... he...” jawab Vadeo sambil tertawa kecil
“Al, siang siang gini segar mandi di sungai...” ucap Vadeo sambil tersenyum menggoda dan mengedipkan satu matanya.
“Ih... malu sama Ibu pelayan..” ucap Alexandria lalu kembali pada posisi semula membaca lagi bukunya. Vadeo pun tertawa kecil lalu menutup lagi pintu ruang kerjanya dan selanjutnya kembali bekerja.
Sementara itu, Eveline dan sang therapis berjalan sambil membawa dua kotak makan dan dua cup minuman.
Sang therapis mengetuk ngetuk pintu dan tidak lama kemudian pintu terbuka dan muncul sosok Dokter Loly dengan wajah yang masih sama.
“Kenapa kalian berdua yang mengantar makanan buat aku?” tanya Dokter Loly. Eveline dan sang therapis tidak menjawab pertanyaan Dokter Loly namun mereka berdua terus melangkah masuk ke dalam kamar Dokter Loly.
Eveline dan sang therapis melangkah menuju ke sofa dan menaruh dua kotak makan dan dua cup minum an. Satu cup berisi air mineral dan satu cup nya berisi jus buah. Dokter Loly pun lalu ikut duduk di sofa. Dia membuka satu kotak yang berisi makanan beratnya. Sedang satu kotak yang berisi makanan pencuci mulut belum dia buka. Dokter Loly pun mulai mengeksekusi makanannya. Namun mendadak terhenti. Dia memegang bibirnya .
__ADS_1
“Sakit ya bibirnya buat makan?” tanya Eveline sambil menatap Dokter Loly
“Pelan pelan Dok, tetap harus dimakan agar cepat sehat. Kalau Dokter sakit bagai mana bisa bekerja.” saut sang therapis sambil menatap Dokter Loly
“Nanti Dokter disuruh pulang sendiri, berenang pulang sampai pulau Jawa ha.. ha... ha...” ucap sang therapis sambil tertawa, Eveline pun tersenyum, sedangkan Dokter Loly melotot matanya menatap Sang therapis yang terus saja menertawakan nya.
“Coba Dokter nurut pada ucapan saya untuk segera kembali ke guest house tidak usah menunggu saya, pasti tidak akan tuh wajah jadi bengkak.” ucap sang therapis lagi masih dengan sisa tawanya.
“Kamu itu sudah aku tunggui tidak berterima kasih masih terus mengolok olok dan menertawakan aku.” ucap Dokter Loly sambil mencoba makan dengan pelan pelan.
Sementara sang therapis dan Dokter Loly berbicara, Eveline pelan pelan mengedarkan pandangan matanya di kamar Dokter Loly. Kini pandangan mata Eveline tertuju pada mini microwave di dalam microwave masih ada terigu yang berada di atas nampan.
“Apa Dokter memanaskan sesuatu?” tanya Eveline sambil tatapan matanya masih tertuju pada mini microwave.
“Ooo itu.. tepung kemarin agar kadar air hilang, kan untuk mengurangi kelembaban udara.” jawab Dokter Loly dengan ketus sebab tidak suka dengan pertanyaan Eveline.
“Ini orang seperti nya memang sudah mencurigai aku sejak kemarin.” gumam Dokter Loly dalam hati
“Aku harus hati hati dengan orang ini.” gumam Dokter Loly lagi dan tentu saja hanya di dalam hati.
Dokter Loly terus memakan makanannya, meskipun bibirnya terasa sakit buat makan, dia berusaha makan dengan cepat agar bisa untuk alasan akan segera beristirahat dan dua orang itu segera keluar dari kamarnya.
Waktu pun terus berlalu. Eveline tidak mendapatkan bukti bukti yang mengarah pada hal hal yang membahayakan Alexandria dan Vadeo di kamar Dokter Loly. Eveline juga sudah menanyakan ke bagian dapur, dan benar Dokter Loly meminta tepung.
Pemasangan CCTV di kamar kamar guest house pun belum dilaksanakan sebab tidak ada persediaan alat CCTV di pulau itu. Untuk mendatangkan harus menunggu dengan orderan barang barang lain agar efesien dalam menyewa kapal yang harus mengantar barang barang kebutuhan.
Hari pun berganti hari hingga tidak terasa sudah dua minggu sejak kasus musibah yang menimpa Dokter Loly. Dan hingga waktu dua minggu wajah Dokter Loly masih membengkak meskipun sudah banyak berkurang. Dokter Loly pun masih lebih banyak berada di dalam kamar. Mengunjungi dan memeriksa Alexandria hanya sesuai jadwal dan setelah selesai langsung pulang. Dia masih malu jika bertemu dengan orang orang.
Sementara dalam waktu dua minggu lebih, Alexandria pun sudah mulai jenuh berada di dalam rumah dengan kegiatan membaca dan bercinta. Dia pun mulai minta Eveline untuk menemani jalan jalan.
Mereka berdua diantar oleh Ricardo dan sopir jalan jalan menjelajah pulau Alexandria, kadang kadang sang therapis pun turut serta. Dokter Loly pun tambah kesal saat sang therapis pulang dari jalan jalan bercerita tentang indahnya tempat tempat yang mereka kunjungi.
Dan pada suatu malam hari di kamar Alexandria dan Vadeo.
“Kak... “
“Hmmm...”
__ADS_1
“Tadi kamu jalan jalan ke mana?” tanya Vadeo selanjutnya sambil membelai rambut kepala Alexandria.
“Ke pantai, ke laut diving... .... he... he....” jawab Alexandria sambil tertawa kecil
“Bagus Kak lautnya ikannya bagus bagus...” ucap Alexandria kemudian.
“Terus malam ini kamu capek?” tanya Vadeo sambil menatap Alexandria, Alexandria pun menganggukkan kepalanya dan tatapan matanya memberikan kode kalau malam ini libur bercinta.
“Kak.. aku kok pengen permen asam ya...” ucap Alexandria sambil menyandarkan kepalanya di bahu Vadeo, yang berbaring sambil menyandarkan punggungnya di sandaran tempat tidur.
“Permen asam apa?” tanya Vadeo yang tangannya masih membelai rambut kepala Alexandria.
“Itu buah asam jawa dikasih gula pasir.. hmmm kayaknya enak dech... “ jawab Alexandria sambil menoleh ke wajah suaminya
“Nih lihat Kak saliva ku sudah keluar membayangkan enaknya permen asam, rasa asam asam manis...” ucap Alexandria yang salivanya sudah keluar lalu dia telan.
Cleguk
“Dimana belinya permen macam itu..?” tanya Vadeo
“Besok tanya di bagian logistik di sini ada permen yang asam asam apa. Besok kalau kirim lagi barang biar dicarikan permen yang kamu mau itu.” ucap Vadeo selanjutnya.
“Kak.. buat aja sendiri, tolong ke bawah ya tanya ibu pelayan mungkin punya asam jawa, Tolong ya Kak suruh ibu pelayan buatin asam jawa terus dikasih gula putih.. dibuat bulat bulat..” ucap Alexandria sambil menatap suaminya dengan ekspresi wajah memelas.
“Sudah malam ini Sayang.. sudah jadwalnya Ibu pelayan istirahat.” ucap Vadeo sambil menatap wajah Alexandria
“Ya sudah Kak Deo yang buatin. Aku capek banget Kak, tetapi mulutku pengen permen itu..” ucap Alexandria sambil mulutnya tampak komat kamit bagai memakan sesuatu lalu menelan saliva nya lagi.
“Mungkin tadi terlalu banyak makan ikan laut jadi aku pengen yang asam asam.” ucap Alexandria lagi sambil tersenyum menatap suaminya
“Please ya Kak... “ ucap Alexandria sambil bergelayut di tubuh suaminya yang masih terbaring sambil menyandarkan punggungnya di sandaran tempat tidur.
“Kok kamu jadi kayak Dealova ..” ucap Vadeo sambil memencet hidung mancung Alexandria
“He... he... kan aku Kakaknya...” ucap Alexandria sambil tertawa kecil dan dia tampak senang sebab suaminya sudah bangkit dari tidurnya. Alexandria pun ikut bangkit lalu dengan segera memeluk tubuh suaminya yang masih duduk di tepi tempat tidur dan....
CUP
__ADS_1
Bibir Alexandria mendarat di pipi Vadeo. Vadeo pun tersenyum dan tangannya mengacak acak rambut di puncak kepala Alexandria lalu Vadeo bangkit berdiri dan melangkah meninggalkan tempat tidur untuk keluar dari kamarnya dan pergi ke dapur.
....