
Detik berganti detik, menit berganti menit, jam berganti jam. Tidak terasa sudah satu bulan lebih Valexa dan Deondria terlahir di dunia. Dua bayi kembar yang cantik cantik itu semakin montok tubuhnya.
Pertumbuhan kedua nya sama hingga orang akan sulit membedakan mana yang Valexa mana yang Deondria. Akan tetapi Alexandria sang Mama tetap bisa membedakan keduanya namun berbeda dengan Vadeo. Apalagi jika Alexa memakaikan baju yang sama persis pada kedua buah hatinya itu.
“Sayang aku belikan ini buat kedua puteri kita.” Ucap Vadeo pada suatu sore saat dia sudah pulang dari Jonathan Co. Sedangkan Alexandria masih mendapatkan cuti.
“Apa Pa..” ucap Alexandria sambil menoleh ke arah Vadeo setelah dia menaruh salah satu puterinya ke dalam box bayi.
“Ini nih..” ucap Vadeo sambil memberikan satu kotak perhiasan.
Alexandria lalu menerima dan membuka kotak perhiasan itu. Dilihatnya dua set perhiasan dengan inisial yang satu V dan yang satunya D. Inisial huruf huruf itu dihiasi oleh barisan batu permata yang sangat kecil kecil.
“Pasti Papa Deo biar bisa membedakan mereka dengan melihat inisial nya.” Ucap Alexandria sambil tersenyum lalu mencubit pinggang suaminya.
__ADS_1
“He he..he.. iya..” jawab Vadeo sambil tertawa kecil lalu dia mendekati kedua box bayi itu sambil menoel noel pipi anaknya.
“Tindik nya saja ya Pa yang dipakai buat harian. Aku pernah baca katanya berbahaya jika memakaikan perhiasan buat bayi.” Ucap Alexandria lalu dia mengambil tindik atau giwang kecil yang ada inisial V dan D itu.
“Iya Sayang terserah kamu yang penting aku bisa membedakan yang mana Valexa dan yang mana Deondria.” Ucap Vadeo lalu dia mengambil salah satu puterinya. Dan Alexandria pun juga mengambil yang satunya. Dia akan mengganti tindik anak anaknya dengan tindik yang baru saja dibelikan oleh Vadeo.
Mereka berdua lalu membaringkan kedua puterinya di tempat tidur yang sangat luas itu. Alexandria sibuk memasangkan tindik pada kedua puterinya secara bergantian. Sementara Vadeo mempermainkan rambut isterinya yang selalu dia rindu itu.
“Sayang senjata triple T ku sudah boleh menembak pada sasarannya belum?” tanya Vadeo masih terus saja jari jarinya mempermainkan rambut rambut Alexandria.
“Kok lama sekali ya seperti nya sudah satu bulan lebih dech.” Ucap Vadeo tidak percaya jika Alexandria masih dalam masa nifas sehingga dia belum bisa menembakkan senjata triple T nya pada sasaran nya.
“Aku sudah menghitung hari, sepertinya sudah satu bulan lebih dech.. .” Ucap Vadeo lagi.
__ADS_1
“Iya Pa, tapi belum saatnya...” ucap Alexandria sambil tersenyum.
“Nih.. Pa lihat Valexa Deondria sudah cantik cantik memakai anting baru dari Papa Deo.” Ucap Alexandria kemudian yang sudah selesai memasang tindik pada anak anaknya.
“Telimakacih papa cayang... “ ucap Alexandria menirukan suara anak anak.
“Sama sama Sayang...” ucap Vadeo lalu melihat pada anak anak nya.
Akan tetapi tiba tiba dia mengeryitkan dahinya.
“Al, kenapa kamu pasang seperti itu. Sama saja aku susah membedakan mereka.” Ucap Vadeo sambil menggaruk garuk kepalanya yang tidak gatal. Sebab Alexandria memasang tindik berinisial itu dengan mencampur kedua inisial nya. Jadi semua anaknya memakai inisial V dan D. Telinga kanan dengan inisial V dan telinga kiri dengan inisial D.
“Ha... ha... ha... “ Alexandria pun tertawa sambil memeluk suaminya yang masih terlihat bingung.
__ADS_1
Valexa dan Deondria pun ikut tertawa karena mendengar suara tawa sang Mama.
“Kalian ya ikut ikut menertawakan Papa.” Ucap Vadeo sambil menciumi wajah anak anaknya dengan gemas.