Alexandria

Alexandria
Bab. 151. Cemas


__ADS_3

Mereka semua kemudian berjalan menuju ke ruang tunggu VIP. Dealova tangan kanannya digandeng oleh Nyonya Jonathan, dan Amara menggandeng tangan kiri Dealova.


“Deal kita sampai jam berapa di sini?” bisik Amara bertanya pada Dealova.


“Mana aku tahu, petugas maskapai saja belum tahu kapan pesawat datang.” jawab Dealova sambil terus berjalan mensejajarkan langkah nya dengan langkah Nyonya Jonathan.


“Nanti kalau Mamaku mencari aku gimana kalau jam pulang sekolah aku belum pulang.” ucap Amara selanjutnya sambil terus menggandeng tangan Dealova. Sedangkan Dealova tampak berpikir pikir, dia tadi memang yang mengajak Amara untuk izin pada ibu guru, Dealova izin pada Ibu Guru dengan alasan menjemput Mama dan kaum kerabat di bandara yang membutuhkan bantuan tenaganya bahkan tenaga Amara juga untuk membawakan barang barang.


“Deal gimana?” tanya Amara lagi. Dan Dealova masih diam saja. Dan tidak lama kemudian mereka semua sudah masuk ke dalam ruang tunggu VIP. Terlihat Nyonya Jonathan memesan minuman dan snack buat mereka. Dan selanjutnya mereka semua mendudukkan pantatnya. Terlihat ekspresi wajah mereka tampak gelisah dan cemas semua.


“Deal...” ucap Amara lagi sambil menatap wajah Dealova. Tampak Dealova masih berpikir pikir lagi. Lalu dia mendekatkan wajahnya pada telinga Amara.


“Kamu bilang Mamamu saja, kalau malam ini tidur di mensionku. Masalah nya belum pasti pesawat datang jam berapa. Aku tidak tega menyuruh kamu pulang naik taxi sendiri.” suara lirih Dealova di telinga Amara.


“Alasan apa coba aku tidur di mension mu.” gumam Amara.


“Dalam rangka menyambut Mama dan Kak Alexa.” ucap Dealova sambil tersenyum. Dan Amara pun akhirnya menurut pada Dealova selanjutnya dia terlihat mengusap usap layar hand phone nya untuk menghubungi Mamanya.


Sementara itu Tuan William terlihat tidak tenang di tempat duduknya. Dia lalu bangkit berdiri dan keluar dari ruang tunggu itu. Tuan William lalu berjalan menuju ke kantor perwakilan maskapai yang ada di dalam bandara itu.


“Sampai di mana pesawat ini?” tanya Tuan William sambil menunjukkan nomor penerbangan yang ada di layar hand phone nya. Saat beliau sudah berada di depan petugas. Dan petugas itu lalu terlihat menatap layar lap topnya.


“Masih di bandara Bangkok untuk transit Tuan. Penumpang sudah di dalam pesawat tetapi belum take of masih menunggu cuaca membaik. Saat sudah jelas pesawat take of kami akan segera mengumumkan.” jawab petugas maskapai itu.

__ADS_1


Tuan William setelah mendengar jawaban dari petugas tampak melihat waktu yang berada jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya.


“Bisa jadi empat jam lagi.” gumam Tuan William. Dan beliau masih terus berdiri di depan petugas.


Sedangkan di tempat lain di bandara Bangkok cuaca memang sangat buruk, hujan badai dan awan yang sangat tebal begitu menyulitkan bagi pilot untuk melaksanakan tugasnya.


Penumpang sudah berada di dalam pesawat tetapi belum ada informasi dari petugas maskapai kapan akan terbang.


“Kita harusnya sudah akan sampai di Indonesia, sekarang malah terpuruk di dalam pesawat.” ucap Nyonya William dengan ekspresi wajah cemas dan tidak sabar menjadi satu.


“Iya Ma, sabar yang penting selamat, kita tunggu cuaca membaik.” ucap Alexandria


“Berjam jam kita di bandara Bangkok tetapi tidak bisa ke mana mana.” gumam Nyonya William lagi, sebab memang sejak mendarat di bandara Bangkok sudah mulai hujan dan hujan semakin deras hingga jadwal penerbangan ditunda. Saat hujan sudah mulai reda dan penumpang masuk ke dalam pesawat akan tetapi hujan mulai deras kembali bahkan ditambah dengan badai dan petir. Alexandria lalu tampak memejamkan matanya untuk berdoa. Nyonya William pun melakukan hal yang sama. Sedangkan Vadeo sejak tadi sudah terpejam matanya akan tetapi bukan karena berdoa namun tertidur dengan pulas.


Wajah Tuan William pun sekarang sudah lagi tidak gelisah dan cemas. Dia lalu segera berjalan menuju ke ruang tunggu di mana anak dan calon besannya berada.


“Tuan, Nyonya pesawat mereka sudah take off dan sekitar tiga jam lagi baru mendarat di sini. Saya akan ke William Group dulu ada hal penting yang harus saya selesaikan.” ucap Tuan William saat sudah berada di dekat meja mereka.


“Silahkan Tuan, Saya juga akan Jonathan Co dulu.” ucap Tuan Jonathan lalu dia pun bangkit berdiri.


“Aku gimana Pa?” tanya Dealova sambil menatap wajah Papanya. Dia enggan jika harus ikut ke William Group. Dan Tuan William pun tampak berpikir pikir.


“Dea dan Amara ikut aku saja, aku mau cari hotel di dekat sini saja.” ucap Nyonya Jonathan sambil bangkit berdiri. Dealova dan Amara pun mengikuti Nyonya Jonathan.

__ADS_1


“Kita naik taxi saja biar cepat dari pada menunggu Papa ambil mobil lama.” ucap Nyonya Jonathan sambil memesan taxi bandara. Tidak lama kemudian taxi sudah siap di dekat mereka. Setelah mereka bertiga masuk ke dalam mobil taxi, mobil lalu berjalan menuju ke hotel yang tidak jauh dari bandara.


“Tahu kalau delay kita tidak usah izin ya Deal, kita ke bandara pulang sekolah.” ucap Amara


“Sudah rejeki kita Ra.” ucap Dealova singkat sok bijak. Dia pikir tidak ikut jam pelajaran adalah sebuah rejeki nomplok.


Beberapa menit kemudian mobil sudah memasuki halaman hotel. Setelah mereka bertiga turun dari mobil mereka lalu segera berjalan menuju ke resepsionis setelah mendapatkan kunci Nyonya Jonathan tidak langsung menuju ke kamar tetapi mengajak dua gadis remaja itu berjalan menuju ke toko serba ada yang berada di hotel tersebut.


“Deal kamu dan Amara pilih baju buat kalian berdua buat baju ganti.” ucap Nyonya Jonathan sambil menggandeng tangan Dealova.


“Rejeki Deal.” bisik Amora Dan spontan pantatnya ditepuk oleh tangan Dealova. Setelah selesai berbelanja mereka bertiga segera berjalan untuk menuju ke kamar guna beristirahat.


Waktu terus berlalu dan saat harus menjemput ke bandara pun tiba. Tampak Dealova dan Amara masih tertidur dengan nyenyak sejak selesai makan siang tadi. Sedangkan Nyonya Jonathan tidak bisa memejamkan matanya karena pikirannya dan hatinya masih saja gelisah dan cemas akan keselamatan pesawat yang ditumpangi oleh orang orang tersayang.


Setelah melalui drama membangunkan Dealova akhirnya mereka bertiga berangkat ke bandara memakai taxi. Sebab Tuan William dan Tuan Jonathan akan datang belakangan karena tadi menyelesaikan pekerjaannya yang nanggung.


“Sepertinya pesawat mereka sudah landing Deal.” ucap Nyonya Jonathan saat sudah berada di dalam taxi.


“Nanti disuruh menunggu Papa dulu, mereka berdua yang akan menjemput untuk pulang.” ucap Nyonya Jonathan kemudian dan mobil taxi pun sudah memasuki lokasi bandara.


Dan tiba tiba mata Dealova melihat sebuah mobil yang dia kenal juga masuk ke lokasi bandara dan menuju ke tempat parkir. Tetapi bukan mobil yang dikendarai oleh Tuan William atau pun mobil Tuan Jonathan tadi.


...

__ADS_1


__ADS_2