Alexandria

Alexandria
Bab. 174. Anti Radiasi


__ADS_3

“Hmmm aku harus membawa buku buku itu aku akan berusaha untuk membuat alat alat yang minim radiasi.” gumam Alexandria lalu dicatatnya buku buku yang harus dia bawa agar tidak lupa.


Sedangkan Vadeo masih berdiri di samping mobilnya dia masih berbicara serius dengan Vincent.


“Deo, kamu harus pilih salah satu dari mereka jangan dua duanya. Aku nanti akan kesulitan jika tidak ada keduanya di sini. Aku pun juga harus sering keluar karena kontrak kerja yang sudah aku tanda tangani.” ucap Vincent yang keberatan jika Vadeo memilih dua orang kepercayaannya itu.


“Terserah kamu, pokoknya aku ambil keduanya. Kamu bisa pikirkan urusan mu, bukannya kamu punya banyak anak buah, aku ambil dua saja kamu ribut.” ucap Vadeo dengan nada serius


“Kalau kamu tidak memperbolehkan, aku dan Alexa tidak akan membantu misimu dalam mendapatkan Ixora. Kamu tahu kan Nyonya William belum merestui kamu, kalau aku dan Alexa juga tidak merestui akan semakin susah kamu untuk mendapatkan Ixora.” ucap Vadeo selanjutnya lalu dia segera memutus sambungan teleponnya dan juga segera menon aktifkan hand phone nya.


Setelah memasukkan hand phone ke daam saku bajunya, Vadeo pun segera membuka pintu mobilnya dan dia segera masuk.


“Sedang buat apa Sayang... “ ucap Vadeo sambil tersenyum menatap Alexandria yang sedang sibuk mencatat catat pada note kertas


“Ngelist apa yang harus dibawa.” jawab Alexandria sambil tersenyum menatap Sang Suami. Vadeo pun mengangkat ibu jari tangannya sambil tersenyum lalu dia mulai menyalakan mesin mobilnya dan selanjutnya menjalankan mobilnya keluar dari rumah sakit untuk menuju ke mension William.


Di sepanjang perjalanan mereka berdua membicarakan apa apa yang harus dipersiapkan mana yang sudah mana yang belum. Mana yang harus dikirim lebih dulu, mana yang harus dibawa bersamaan dengan mereka.


“Kak, apa pulaunya jauh sekali tempat nya , kita naik apa ke sana?” tanya Alexandria selanjutnya sambil menoleh ke arah sang suami dengan ekspresi wajah ingin tahu.


“Surprise... Sayang... kalau aku ucap kan sekarang tidak ada surprise nya buat kamu nanti.” jawab Vadeo sambil tersenyum dan sekilas menoleh ke arah Alexandria.


“Bikin penasaran saja, tapi pasti nanti Papa William akan bertanya secara detail.” ucap Alexandria sambil menatap suaminya. Dan Vadeo hanya tertawa kecil.


Tidak berapa lama kemudian mobil sudah sampai di kawasan Mension William, pintu gerbang secara otomatis terbuka. Vadeo pun melajukan mobilnya dengan kecepatan pelan menuju ke depan pintu utama mension.


Setelah mobil sudah berhenti mereka berdua segera turun dari mobil dan berjalan menuju ke pintu utama. Saat mereka baru menaiki anak tangga, pintu utama mension terbuka lebar dan muncul sosok Ixora dan Dealova yang langsung berlari keluar lalu menuruni anak tangga.

__ADS_1


“Kakak... “ teriak mereka berdua dan dengan segera kedua gadis belia itu memeluk tubuh Alexa sambil terisak menangis.


“Kalian kanapa?” tanya Alexa sambil memeluk kedua adiknya.


“Kak...” ucap mereka akan tetapi tidak berlanjut, kalimat seterusnya tidak bisa keluar dari mulut mereka berdua. Alexa berusaha untuk tidak ikut menangis padahal dia tahu kedua adiknya menangis pasti karena sudah mendengar masalah yang sedang dia hadapi. Alexa ingin kuat dan kedua adiknya juga melihat kalau dirinya kuat dalam menghadapi masalah. Vadeo yang melihat hal itu lalu memeluk pundak Alexandria.


“Ayo masuk, Papa pasti sudah menunggu aku dan Kak Deo.” ucap Alexandria kemudian sambil mengurai pelukan dari kedua adiknya.


Saat mereka memasuki pintu utama mension tampak Nyonya William juga menyambut kedatangan Alexa dan Vadeo.


“Al, Deo .. duduk dulu di ruang keluarga. Minum teh dulu. Papa sedang mandi baru saja beliau tadi pulang dari William Group. “ ucap Nyonya William sambil menggandeng tangan Alexa.


“Kalian buatkan teh buat kedua Kakakmu yang baru datang.” perintah Nyonya William pada Ixora dan Dealova. Kedua gadis belia itu langsung berjalan cepat menuju ke ruang makan untuk membuat teh buat Alexandria dan Vadeo. Mereka berdua sedang dalam mode menjadi anak yang nurut tidak membantah perintah sang Mama.


“Al, Mama tadi membeli alat khusus buat kamu.” ucap Nyonya William saat mereka bertiga sudah duduk di sofa di ruang keluarga.


“Alat anti radiasi.” jawab Nyonya William sambil tersenyum


“Seperti apa itu Ma, kaca mata anti radiasi?” tanya Vadeo yang mendengar ucapan Nyonya William


“Ya bukan, mata Alexandria kan tidak bermasalah.” ucap Nyonya William sambil menatap tajam wajah Vadeo


“Yang bermasalah rahimku terus alatnya apa Ma?” ucap Alexandria yang bertanya karena penasaran dengan alat yang Mama nya beli.


“Celana dhalem anti radiasi.” jawab Nyonya William dengan nada serius.


“Anti rudal juga ha... ha... ha...” ucap Nyonya William lagi, yang selanjutnya sambil tertawa.

__ADS_1


“Mama bisa saja..” ucap Alexandria sambil menepuk paha Mamanya


“Kalau anti rudal bagaimana kami bisa memberi cucu buat Mama.” ucap Vadeo sambil menatap Nyonya William dan Alexandria


“Bercanda yang anti rudal, yang anti radiasi katanya sih bisa mengurangi Al..” ucap Nyonya William sambil tersenyum


“Pokoknya segala upaya dicoba Al.” ucap Nyonya William selanjutnya sambil menatap Alexandria. Begitulah orang tua jika anaknya terkena masalah akan mencari segala cara upaya untuk mengatasi masalah anaknya. Segala cara, saran dan nasehat akan dicari sampai dapat.


“Ooo jadi ingat aku.” ucap Alexandria lalu dia bangkit berdiri segera melangkah meninggalkan ruang keluarga.


“Al... mau ke mana ?” tanya Vadeo dan Nyonya William secara bersamaan. Alexandria menoleh sambil tersenyum dan menjawab dengan menunjukkan jarinya ke atas ke arah kamar nya dan dia pun segera menaiki anak tangga untuk menuju ke dalam kamarnya.


Vadeo pun bangkit dari tempat duduknya dia akan menyusul istrinya akan tetapi sesaat kemudian Tuan William sudah masuk ke dalam ruang keluarga itu dan diikuti oleh Ixora dan Dealova yang membawa nampan berisi cangkir teh dan kudapan.


“Mau ke mana kamu, Aku datang kok malah akan pergi.” ucap Tuan William sambil menatap Vadeo yang siap melangkah menyusul Alexandria.


Vadeo pun akhirnya mengurungkan niatnya untuk menyusul Alexandria. Vadeo kembali duduk manis di tempatnya semula.


“Di mana Kak Al?” tanya Dealova sambil menaruh toples makanan dan piring berisi kudapan.


“Ke kamar.” jawab Nyonya William sambil membantu Ixora menaruh cangkir cangkir yang berisi teh itu di atas meja.


“Ayo Deal kita ke kamar Kak Alexa.” ucap Ixora sambil menyerahkan nampan ke Mamanya. Sedangkan Dealova tidak langsung mengiyakan akan tetapi dia melihat ke arah Papanya.


“Jadi pembicaraan enam matanya di sini Pa?” tanya Dealova sambil menatap Sang Papa. Tuan William hanya diam saja malah mengambil satu cangkir teh yang buat dirinya.


Terlihat Dealova masih menatap Sang Papa, dia masih penasaran ingin ikut mendengar pembicaraan enam mata.

__ADS_1


....


__ADS_2