Alexandria

Alexandria
Bab. 217.


__ADS_3

Sementara itu mobil yang akan mengantar Nyonya Nyonya dan Dealova sudah menunggu di persimpangan jalan. Mobil menunggu truk lewat dan akan mengikuti truk dari belakang dan tentu saja dangan mengambil jarak aman.


“Kok belum lewat lewat ya... “ ucap Dealova yang duduk di jok belakang dengan tidak sabar ingin melihat sosok Dokter Loly yang menumpang truk barang.


“Iya ya Non aku sudah tidak sabar untuk melihatnya.” ucap sang pelayan yang juga duduk di jok belakang, bertiga dengan Dealova dan Eveline.


“Kalau aku sudah tidak sabar untuk melihatnya naik kapal bersama sapi sapi.” ucap Nyonya William yang duduk di jok belakang kemudi bersebelahan dengan Nyonya Jonathan.


“Emang akan naik dengan kapal sapi Ma?” tanya Dealova yang tidak tahu kalau kapal juga akan ada muatan sapi sapi.


“Iya aku dengar waktu kakak iparmu bicara dengan Alexa. Aku sih tersenyum puas, tetapi Alexa bilang katanya sebenarnya tidak tega.” ucap Nyonya William yang pandangan matanya tertuju pada arah jalan datangnya truk dari gudang logistik. Yang lain pun pandangan matanya tertuju pada arah yang sama.


“Itu itu Non sudah datang truk nya.” ucap Sang pelayan sudah melihat bagian depan truk dan berjalan ke arah depan.


“Iya ayo kita siapkan kamera kita...” teriak Dealova


“Kak Richardo yang duduk di depan kan lebih jelas jangan kelewatan untuk merekam ya... dan kirim ke nomorku.” ucap Dealova dengan renyah dan senyum mengembang di bibirnya.


Beberapa saat kemudian mobil truk sudah semakin mendekat. Mobil yang menunggu pun sudah mengambil posisi pada tempat yang aman, memberi jalan pada mobil truk tetapi masih bisa melihat Dokter Loly yang berada di dalam truk.


Sementara itu di dalam mobil truk terlihat rambut Dokter Loly sudah acak acakan karena tertiup angin akibat jendela kaca mobil yang tidak ditutup karena mobil truk tidak ada AC ne.


“Sial mereka pasti akan melihatku dan menertawakan aku.” ucap Dokter Loly saat melihat mobil yang biasanya mengantar Vadeo dan Alexandria berhenti di persimpangan pertigaan jalan.


“Nona pasti sudah membuat kesalahan, tidak mungkin Tuan Vadeo akan tega memperlakukan tamunya seperti apalagi pada seorang perempuan.“ ucap Sang sopir truk sambil terus fokus melajukan mobil truk nya.


“Para tukang saja dulu waktu pulang pakai mini bus.” ucap Pak Sopir lagi.


“Bukan urusanmu.” ucap Dokter Loly dengan ketus.

__ADS_1


“Ha... Ha... berarti sudah jelas kalau Nona sudah membuat kesalahan besar. Memang bukan urusan saya, tetapi Nona menumpang truk saya, kalau bukan urusan saya, akan saya turunkan Nona di sini dan silahkan jalan kaki menuju ke pelabuhan.” ucap Pak Sopir truk dengan tersenyum sinis.


“Kalau Nona tidak mau jalan kaki harus nurut pada Pak Sopir, harus mau menuruti segala kemauannya. Macam saya kadang harus memberi pijitan pada tubuhnya.” ucap sang kenek dengan ter senyum nyengir.


“Nona mungkin harus memberi pijitan di bagian tubuh lainnya.” ucap sang kenek sambil menatap dokter Loly sambil mengedipkan satu matanya. Dokter Loly pun menjadi merinding ketakutan membayangkan entah apa yang akan terjadi pada dirinya.


Sedangkan mobil yang berisi orang orang kepo terus mengikuti jalannya mobil truk menuju ke pantai tempat pelabuhan kapal.


“Baru melihat Dokter Loly ikut mobil truk, hatiku sudah puas. Jangan jangan aku nanti tidak tega saat melihat dia masuk ke kapal dan bergabung dengan sapi sapi.” ucap Nyonya William yang sudah melihat penampilan dokter Loly dengan rambut acak acakan.


“Mama nanti di dalam mobil saja dari pada nanti Mama menangisi nasibnya.” saut Dealova


“Ingat Ma, dia itu orang yang menghalangi Mama untuk memiliki cucu.” ucap Dealova lagi


“Iya Nyonya, dia orang jahat bisa jadi juga akan membuat Nona Alexa celaka.” ucap sang pelayan karena ingat tingkah laku Dokter Loly saat ngeyel ingin lihat lantai atas.


“Aku akan semangat untuk tega dengan segala yang akan terjadi pada Dokter itu.” ucap Nyonya William selanjutnya dan Nyonya Jonathan yang duduk di sampingnya tersenyum.


Setelah satu jam lebih perjalanan mobil truk dan mobil yang mengikuti sudah sampai di pantai tempat pelabuhan.


Pantai yang indah dengan angin yang sepoi sepoi sejuk itu terasa bagai neraka buat Dokter Loly.


“Hmmm mereka sengaja mengikuti hanya untuk menertawakan aku.” gumam Dokter Loly yang sudah turun dari truk. Dia menyisir rambutnya yang kusut dan acak acakan dengan jari jari tangannya.


“Nona kita tunggu sebentar, kapal sebentar lagi datang. Sambil menunggu Nona bisa pijitin punggung saya.” ucap Pak Sopir sambil menatap Dokter Loly.


“Kalau tidak mau, Nona saya tinggal di sini.” ucap Pak Sopir sambil tersenyum.


“Sial.” ucap Dokter Loly akan tetapi dia tidak bisa menolak permintaan pak sopir.

__ADS_1


Sedangkan semua penumpang di dalam mobil sudah turun dari mobil sambil menikmati angin sepoi sepoi pantai dan melihat Dokter Loly yang sedang memijit pak sopir truk yang tidur tengkurap beralasan tikar yang sudah diambilkan oleh sang kenek.


Beberapa menit kemudian kapal pun sudah datang merapat. Pak sopir langsung bangun dari tidur tengkurapnya, lalu berjalan naik ke truknya untuk memasukkan truk ke dalam kapal.


Sedangkan Dokter Loly berjalan dengan sang kenek masuk ke dalam kapal. Dan betapa kagetnya Dokter Loly saat masuk ke dalam kapal, karena aroma yang benar benar tidak sedap dan suara berisik dari puluhan ekor sapi itu.


“Sial benar benar sial.” umpat Dokter Loly sambil menutup hidungnya dengan telapak tangannya.


“Jangan mengumpat dan mengeluh Nona dari pada harus berenang.” ucap sang kenek.


“Berapa lama perjalanan?” tanya Dokter Loly tidak melepas telapak tangan dari hidungnya


“Tidak lama hanya satu hari satu malam.” jawab sang kenek.


“Gila selama satu hari satu malam aku berada di tempat seperti ini.” teriak Dokter Loly dengan penuh emosi. Dan kapal barang itu sudah mulai berjalan pelan pelan meninggalkan pantai pulau Alexandria membawa Dokter Loly bersama sapi sapi.


Sedangkan penumpang mobil yang tadi mengikuti masih menikmati indahnya pantai bahkan mereka akan menginap di villa yang ada di pantai.


Sementara itu di rumah Vadeo, hanya Vadeo dan Alexandria yang tinggal di rumah. Mereka berdua sudah menyetujui jika kedua Mamanya dan Dealova juga sang pelayan menginap di villa pantai. Vadeo justru merasa senang karena dia hampir satu minggu tidak bisa melakukan kegiatan enak enak di kamarnya. Bagaimana pun dia merasakan paling nyaman melakukan di atas tempat tidurnya.


“Sayang kamu sekarang istirahat di sini, aku yang akan masak untuk makan malam nanti.” ucap Vadeo sambil tersenyum senang. Saat mereka berdua sedang duduk santai di sofa ruang tengah.


“Benar Kak?” tanya Alexandria yang dia memang merasakan mengantuk karena efek dari terapi.


“Benar kamu sekarang tidur di sini, aku ke dapur. Nanti kalau sudah selesai aku banguni kamu.” ucap Vadeo sambil membaringkan tubuh Alexandria di sofa. Alexandria hanya menurut saja, Vadeo lalu mencium kening Alexandria dan selanjutnya mencium perut istrinya. Akan tetapi saat Vadeo akan melangkah pergi.


“Kak...” ucap Alexandria, Vadeo pun menatap Alexandria dia berpikir apa Alexandria menginginkan melakukan enak enak sekarang. Jika benar Vadeo pun akan dengan senang hati.


“Cium lagi dong...” ucap Alexandria dengan menirukan suara anak kecil sambil mengusap usap perutnya.

__ADS_1


__ADS_2