
Nyonya William dengan segera mengusap usap layar hand phone Alexandria untuk mencari nama kontak Gerrit. Dan setelah mendapatkan nama Gerrit Hansen beliau langsung menekan gambar ganggang telepon warna hijau.
“Ma di sana masih dini hari Gerrit masih tidur.” ucap Alexandria mengingatkan sang Mama. Namun sang Mama tetap saja melakukan panggilan suara.
“Terhubung kok. Biar saja tidak tenang tidurnya seperti hatiku yang tidak tenang karena ulahnya.” ucap Nyonya William sambil terus melakukan panggilan suara pada Gerrit.
“Hallo Al...” suara Gerrit di hand phone Alexandria yang terbangun karena suara dering di hand phone nya secara terus menerus.
“Ini aku.” ucap Nyonya William dengan nada serius agak ketus sebab ada rasa kesal karena Gerrit belum mengirim souvenir pernikahan.
“Owh Mami apa kabar Mam? maaf aku kira Alexa.” ucap Gerrit dengan ramah dan sopan meskipun dengan mata terkantuk kantuk.
“Kabar tidak baik karena souvenir untuk pernikahan Alexandria belum ada di depan mataku.” saut Nyonya William ketus. Alexandria hanya menoleh sekilas ke sosok Sang Mama.
“Owh sorry Mami itu barang sudah Gerrit kirim baru saja, tunggu saja ya Mam. Nanti aku kirim ke Alexandria perjalanan jejak barangnya.” jawab Gerrit.
“Dua hari akan sampai Mam, kan belum terlambat akan lebih dulu souvenir itu sampai sebelum Gerrit sampai ke Indonesia Mam.” ucap Gerrit selanjutnya
“Bukti pengiriman tolong kirim ke Alexandria.” perintah Nyonya William
“Okey Mam, akan Gerrit kirim sekarang. Telepon Gerrit putus ya Mam.” jawab Gerrit lalu sambungan telepon terputus.
Nyonya William tidak segera menyerahkan hand phone itu kepada Alexandria. Akan tetapi beliau masih terus memegang hand phone itu dan menatap layarnya menunggu kiriman bukti pengiriman souvenir dari Gerrit.
__ADS_1
“Sudah Ma, ditunggu saja. Gerrit kan juga sibuk kerja. Sudah untung dibantu oleh dia Ma.” ucap Alexandria sambil menatap Sang Mama yang masih berdiri memegang hand phone nya. Alexandria lalu kembali sibuk pada pekerjaannya.
Beberapa menit kemudian ada suara notifikasi di hand phone Alexandria, Nyonya William buru buru melihatnya. Ternyata memang pesan dari Gerrit. Nyonya William pun langsung membukakan.
“Iya Al, sudah dikirim tadi.” ucap Nyonya William sambil tersenyum lega dan menyerahkan hand phone itu pada Alexandria. Lalu dia berjalan ke sofa untuk menunaikan tugasnya mengawasi Alexandria.
Berita rencana pernikahan Vadeo dan Alexandria pun sudah sampai di telinga Justin, dari teman mereka yang mengunjunginya ke penjara. Sedangkan Riris di penjara di tempat yang khusus tahanan wanita. Jadi Riris dan Justin tidak bisa memanfaatkan bilik asmara yang ada di rumah tahanan, karena beda lokasi. Lagian efek suntik kebiri di tubuh Justin masih bekerja untuk beberapa tahun ke depan.
“Kapan mereka akan menikah?” tanya Justin dengn suara lirih agar petugas lapas tidak mendengar.
“Beberapa hari ke depan.” jawab teman Justin dengan lirih pula.
“Buatlah sesuatu untuk mereka.” ucap Justin lirih dengan mengedipkan satu matanya sebagai kode agar temannya itu menggagalkan acara pernikahan Vadeo dan Alexandria. Tampak teman Justin itu berpikir pikir karena tidak tahu cara menggagalkan pernikahan Vadeo dan Alexandria yang sudah dengan pengamanan sangat ketat.
Namun tiba tiba petugas lapas yang menjaga mendekati mereka.
“Kalian buat apa?” hardik petugas lapas itu.
“Hanya meminta nomor hand phone Mama saya Pak.” jawab Justin bohong. Dan petugas lapas hanya diam dan percaya, sebab dalam dia bekerja tidak dilengkapi oleh alat yang untuk mendeteksi ucapan orang itu bohong atau tidak.
“Besok kalau saya akan menghubungi Mama saya, saya pinjam hand phone nya ya Pak.” ucap Justin selanjutnya sambil tersenyum. Dan petugas lapas itu hanya diam saja.
“Bapak kan juga punya seorang Ibu dan keluarga pasti bapak juga merindukan dirinya.” ucap Justin berusaha membuat petugas lapas berempati pada nya.
__ADS_1
“Kalau bapak tidak mengizinkan saya akan curhatkan ini pada petugas hak azazi manusia kalau mereka sedang berkunjung ke lapas.” ucap Justin lagi.
“Kenapa kamu tidak pinjam hand temanmu itu sekarang untuk menghubungi Mamamu.” ucap petugas lapas sambil menatap teman Justin yang masih berdiri.
“Pulsa dan kuota limit Pak.” jawab teman Justin dengan nada serius sekaligus memelas. Dan selanjutnya dia pamit pulang sebab waktu untuk menjenguk Justin pun sudah akan habis.
Justin juga langsung membalikkan tubuhnya dan kembali menuju ke tempatnya di ruang tahanan yang hanya seorang diri.
“Sialan, kenapa nasib Vadeo begitu baik. Mendapat warisan perusahaan orang tuanya, punya usaha otomotif berkembang pesat, dapat calon istri cantik, cerdas dan kaya.” gumam Justin dalam hati, wajahnya terlihat sangat tegang karena kesal dan memikirkan cara untuk menggagalkan pernikahan Vadeo dan Alexandria.
“Tidak akan dibiarkan pesta pernikahan itu berjalan lancar.” ucap Justin sambil melihat tulisan nomor hand pun yang tercatat di tangannya. Dia berusaha untuk menghafalkan nomor itu. Otaknya yang encer bukan hal sulit baginya untuk menghafal sederet angka itu.
“Hmmm kalau besok ada jadwal kegiatan bersama aku bisa mendekati tahanan lainnya yang sudah dizinkan bawa hand phone. Atau paling tidak petugas tadi pasti mau kalau aku ancam dengan aku laporkan pada aktivis ham.” gumam Justin dalam hati sambil terus berpikir pikir, cara apa agar bisa menggagalkan pernikahan Vadeo dan Alexandria
Justin terlihat berjalan mondar mandir di dalam ruangan yang sempit itu. Dia terus saja berpikir.
“Pasti pengamanan akan sangat ketat. Baik di mension atau pun di tempat resepsi.” gumam Justin dalam hati sambil masih berjalan mondar mandir.
“Ahai... aku dapat cara.” gumam Justin dalam hati sambil tersenyum licik karena sudah mendapatkan cara untuk menggagalkan acara pernikahan Vadeo dan Alexandria.
“Ha... Ha.. Ha... Ha.... yang penting gagal... gagal... “ gumam Justin lagi sambil tertawa namun tentunya hanya bisa dia lakukan di dalam hati.
....
__ADS_1