
“Tuan apa kita perlu menepi?” tanya Pak Sopir dengan nada kuatir.
“Bagaimana Dok?” tanya Vadeo sambil menoleh ke arah Ibu Dokter
“Iya coba kita menepi sebentar. “ jawab Ibu Dokter. Mobil lalu menepi dan berhenti di tempat yang aman.
“Nona, saya periksa sebentar.” ucap Ibu Dokter lalu terlihat Vadeo membuka pintu mobilnya dan dia keluar untuk memberi tempat pada Ibu Dokter. Vadeo setelah di luar terlihat berlari mengitari mobil lalu membuka pintu mobil di samping istrinya. Dia terlihat sangat kuatir dan tangannya terlihat memijit mijit kepala Alexandria. Mereka yang ada di dalam mobil pun terlihat cemas. Ibu Dokter terlihat memeriksa tensi dan detak jantung Alexandria.
Tidak lama kemudian mini bus yang berjalan di belakang mobil Vadeo juga ikut menepi dan berhenti. Pak Dokter pimpinan tim ikut turun juga Richardo dan Sang Therapis. Mereka semua cemas dan menanyakan kondisi Alexandria.
“Bagaimana Dok?” tanya Vadeo dan Nyonya Jonathan secara bersamaan, setelah Ibu Dokter selesai memeriksa Alexandria.
“Tensi naik.” jawab Ibu Dokter. Vadeo lalu terlihat mensetting tempat duduk Alexandria agar istrinya itu tubuhnya nyaman, ibu pelayan pun terlihat sibuk memberi bantal pada Alexandria.
“Apa Nona sedang memikirkan sesuatu?” tanya sang Therapis sambil menatap Alexandria dari sela sela pintu mobil.
“Biar Nona Therapis masuk ke dalam mobil saja, Ibu pelayan ikut ke mini bus saja.” saran Pak Dokter pimpinan tim.
“Nona tolong tangani Nona Alexa!” perintah Pak Dokter pimpinan tim. Terlihat sang pelayan pun turun dari mobil dan Sang Therapis berganti masuk ke dalam mobil dan duduk di samping Alexandria sementara Ibu Dokter sudah kembali duduk di jok belakang sambil membereskan alat alat medisnya. Nyonya Jonathan yang masih berada di dalam mobil terlihat sangat cemas.
“Biar Sang Therapis bekerja dulu kalau masih pusing baru diberi obat.” ucap Pak Dokter pimpinan tim.
Terlihat sang therapis memberikan pijitan pada titik titik tertentu di tubuh Alexandria. Lama kelamaan Alexandria pun terlihat lebih rileks.
“Al kamu memikirkan apa, kok mendadak pusing?” tanya Vadeo yang masih berdiri di luar mobil di samping Alexandria sambil mengusap usap kepala Alexandria dengan usapan lembutnya.
“Kak, kalau Dokter Loly mencari pengacara apa aku juga harus keluar masuk pengadilan? siapa yang dituntut? apa aku menjadi saksi?” ucap Alexandria ganti bertanya.
“Aku membayangkan saja capek Kak harus keluar masuk ikut sidang dengan perut besarku ini.” ucap Alexandria yang mendengar berita Dokter Loly mencari pengacara langsung teringat pengalaman yang capek bolak balik ke pengadilan dan kantor polisi saat kasus Justin dulu.
__ADS_1
“Sayang jangan pikirkan itu dulu. Nanti kita cari pengacara yang lebih handal.” ucap Vadeo memberi ketenangan
“Aku kasihan dengan Pak Dokter kalau dia yang dituntut oleh Dokter Loly, beliau sudah banyak membantu keluarga William.” ucap Alexandria lagi yang tidak tega membayangkan pak Dokter yang sudah setengah baya itu harus berurusan dengan hukum.
“Nona, yang mengeluarkan Dokter Loly pihak rumah sakit jadi yang bisa dituntut oleh Dokter Loly pihak rumah sakit. Nona tidak perlu kuatir. Nona juga bisa beralasan jika keberatan untuk menjadi saksi.” ucap Ibu Dokter juga turut memberi ketenangan pada Alexandria. Beliau paham emosi Alexandria sedang labil.
“Syukurlah kalau begitu.” ucap Alexandria
“Nona sekarang kita pikirkan keselamatan buat kelahiran anak anak Nona, jangan pikirkan Dokter Loly.” ucap sang therapis
“Pikirkan lucu dan manisnya twins baby saja...” ucap sang therapis selanjutnya
“Kalau mereka perempuan pasti akan cantik cantik seperti Nona Alexa.” ucap Sang therapis sambil tersenyum
“Kalau mereka laki laki pasti tampan dan keren seperti aku he.. he...” ucap Vadeo sambil tertawa kecil lalu pelan pelan dia mencium perut isterinya. Alexandria pun ikut tertawa kecil sambil membelai rambut suaminya.
Semua ikut tertawa bahagia dan melupakan Dokter Loly, jika dia akan menuntut biar legal officer rumah sakit yang mengurusnya. Lama kelamaan rasa sakit kepala Alexandria menghilang. Dan perjalanan kembali dilanjutkan.
“Pa kok belum ada informasi pesawat take off dari sana.” ucap Nyonya William yang terlihat mulai gelisah karena harusnya sudah waktunya jet pribadi Vadeo lepas landas.
“Mungkin cuaca sedang tidak baik buat take off.” jawab Tuan William berusaha memberi ketenangan pada istrinya padahal sebenar nya dirinya sendiri juga was was, sebab dia sudah mengecek cuaca di seluruh wilayah Indonesia cerah semua.
“Ma... coba aku telepon ke Kak Richardo ya...” ucap Dealova sambil mengambil hand phone nya yang berada di tas mungilnya.
“Modus ngapain telepon Tuan Richardo kenapa tidak langsung saja pada Kak Deo.” ucap Ixora sambil melihat Dealova
“Ihhhh Kakak itu gimana sih, kan Kakak ipar pertama pasti bersebelahan dengan Kak Alexa dan pasti dia masih menjaga kesehatan Kakak Alexa agar tidak terkena radiasi.” ucap Dealova sambil tangannya sudah mengusap usap layar hand phone nya
“Kenapa tidak dengan Mama Jo?” tanya Ixora sambil masih menatap Dealova.
__ADS_1
“Ya sama juga, kan Mama Jo pasti juga mendampingi menantunya.” jawab Dealova tidak mau menyerah.
“Sudahlah, dalam hal ini aku juga cerdas.” ucap Dealova yang sudah menekan tombol simbol untuk melakukan panggilan suara pada kontak Richardo.
“Sedikit modus juga he.. he...” ucap Dealova kemudian sambil tertawa kecil.
Akan tetapi belum juga sempat mendengar suara Richardo. Dealova terlihat kaget sebab terasa ada tangan yang merebut hand phone nya.
“Papa...” teriak Dealova sebab hand phone nya sudah dipegang oleh Tuan William yang tadi mendengarkan pembicaraan Dealova dan Ixora.
“Hallo.” Suara Richardo di hand phone Dealova yang dipegang oleh Tuan William.
“Apa pesawat sudah take off?” tanya Tuan William, Richardo di seberang sana tampak kaget karena yang didengar suara bariton milik Tuan William bukan suara cempreng Dealova.
“Maaf Tuan belum ini masih dalam perjalanan menuju ke tempat jet terparkir. Tadi ada sedikit masalah.” suara Richardo di balik hand phone Dealova.
“Masalah apa?” tanya Tuan William dengan nada kuatir.
“Tadi di dalam perjalanan tensi Nona Alexa sempat naik, lalu kita istirahat dulu. Sekarang sudah membaik.” jawab Richardo
“Benar Alexa sudah membaik?” tanya Tuan William dengan nada kuatir
“Sudah Tuan.” jawab Richardo lagi.
“Baiklah kabari kami kalau sudah akan take off.” ucap Tuan William selanjutnya dan segera memutus sambungan telponnya dan memberikan hand phone itu pada pemiliknya.
“Ihhh Papa kenapa sudah diputus aku belum sempat bicara.” ucap Dealova saat menerima hand phone nya sambil melihat layar hand phone nya yang sudah tidak terhubung dengan nomor hand phone Richardo.
Mereka yang ada di lapangan golf itu menunggu dengan perasaan cemas karena kabar baru saja yang mengatakan tensi Alexandria sempat naik.
__ADS_1
“Semoga tidak batal perjalanan mereka. “ gumam Tuan William.