
Di sebuah ruangan VVIP rumah sakit ternama di kota London, nampaklah seorang pria tampan yang tengah menggenggam tangan sang pujaan hatinya yang masih terbaring lemah dengan berbagai macam alat yang membantu untuk tetap bertahan hidup.
"Sayang, tidakkah kamu merindukanku ? Tidakkah kamu lelah terus terlelap seperti ini ? Apakah mimpi mu begitu indah sehingga tak ingin lagi bangun dari tidurmu ? Bangunlah sayang, aku sangat membutuhkanmu." bisik Diego dengan suara seraknya menahan tangis
Ceklek
Diego menoleh ke arah pintu yang terbuka dan nampaklah sang mommy beserta ibu mertuanya yang masuk.
"Makanlah dulu San." Ayra menghampiri sang putra dengan membawa makanan.
"Terima kasih mom." ucap Diego sembari menerima makanan dan beranjak dari samping brankar untuk menuju ke sofa yang memang ada di ruang perawatan Alexa.
Cup
Delia mencium kening sang putri dan membelai lembut pipinya yang nampak tirus.
"Tidakkah kamu merindukan bunda hemmm ?" tanya Delia sembari mendudukkan dirinya di kursi yang tadi di duduki oleh sang menantu.
"Bangunlah nak, kami semua merindukanmu." timpal Ayra yang duduk di seberang Delia
Delia dan Ayra masing-masing menggenggam satu tangan Alexa dan mereka langsung kompak menatap ke arah wajah sang putri kala merasakan pergerakan di jemari yang berada dalam genggaman.
Delia pun sama-sama beranjak dan berdiri di kedua sisi Alexa.
Diego yang melihat ibu dan mertuanya tiba-tiba berdiri pun menghampiri brankar dan melihat ke arah sang istri yang tengah mencoba untuk membuka kelopak matanya.
Tanpa pikir panjang, Diego pun segera menekan tombol untuk memanggil dokter.
Tidak membutuhkan waktu lama, beberapa dokter masuk ke dalam ruang perawatan Alexa.
"Permisi nyonya dan tuan, biar kami periksa dulu keadaan nona muda." ucap dokter membuat Delia,Ayra dan Diego langsung menyingkir.
"Tadi Alexa menggerakkan jemarinya dok, dan kelopak matanya pun tadi bergerak-gerak seakan mau terbuka, tapi kenapa Alexa belum juga membuka matanya ?" ucap Delia kepada dokter
"Ini respon yang bagus nyonya dan tuan, teruslah untuk di ajak berkomunikasi karena pada dasarnya nona dapat mendengar suara kita." balas dokter yang di angguki oleh Delia
"Mudah-mudahan setelah ini nona akan segera sadar kembali, kalau begitu saya permisi dulu nyonya dan tuan." pamit dokter langsung bergegas keluar dari ruangan Alexa.
Sepeninggal dokter, Diego pun segera mendekat ke arah brankar dan duduk di kursi sembari tangannya menggenggam tangan sang istri.
"Bangunlah sayang, aku merindukanmu." ucap Diego pelan sambil menundukkan wajahnya tepat di tangan sang istri yang berada di genggaman tangannya.
Diego yang merasakan jemari sang istri bergerak di dalam genggamannya pun kembali mendongak menatap wajah tirus sang istri.
Diego tersenyum mendapati pergerakan sang istri yang semakin intens dengan kelopak mata yang kembali bergerak-gerak dan perlahan tapi pasti sedikit demi sedikit mata indah itu mulai terbuka secara perlahan.
__ADS_1
Di tatapanya wajah cantik sang istri yang tengah menatap sayu ke arahnya.
"Sayang." Diego membelai lembut pipi sang istri yang tengah tersenyum tipis ke arahnya.
Grep
Diego segera memeluk tubuh sang istri yang masih terbaring lemah di atas brankar.
"Terima kasih Tuhan, terima kasih." tak hentinya Diego mengucap syukur dengan terus mengecupi wajah sang istri
Delia dan Ayra pun langsung berlari ke arah brankar begitu mendengar ucapan Diego.
"Sayang." panggil Delia dan Ayra bersamaan dengan air mata yang mulai menetes di pipi keduanya.
"Bunda, Mom." balas Alexa dengan suara lemahnya
Diego pun kembali memencet tombol untuk memanggil dokter.
Dokter pun segera memeriksa keadaan Alexa dengan sangat teliti.
Nampak dokter menghela nafasnya lega setelah memeriksa keadaan Alexa.
"Puji Tuhan ini adalah sebuah mukjizat, keadaan nona sudah stabil hanya tinggal masa pemulihan saja." ucap dokter sambil tersenyum
Delia dan Ayra bergantian memeluk sang putri.
Ceklek
Semua orang langsung mengalihkan pandangannya ke arah pintu begitu mendengar suara pintu terbuka.
Brak
Diandra menjatuhkan kantong plastiknya begitu melihat ke arah brankar dan nampak Alexa tengah tersenyum manis ke arahnya, begitu juga sahabat yang lain mereka terdiam di ambang pintu seolah tidak percaya dengan apa yang di lihatnya.
"Kalian tidak merindukanku ?" lirih Alexa sembari menampilkan senyum manisnya di wajah pucatnya
Diandra yang sudah tersadar dari keterkejutannya pun segera berlari menuju ke brankar diikuti yang lain.
"Al." Diandra langsung memeluk erat sang sahabat "Aku sungguh sangat merindukanmu Al." lanjut Diandra di sela pelukannya
"Aku pun." jawab singkat Alexa sembari melepaskan pelukannya
"Maafkan aku Al." Diandra menunduk sambil meneteskan air matanya menyesal.
"Tidak ada yang perlu di maafkan." balas Alexa sembari meraih dagu sang sahabat agar menghadapnya dan di hapusnya air mata yang mengalir di pipi mulus sang sahabat. "Jangan lagi ada air mata." ucap Alexa sembari tersenyum yang di angguki oleh Diandra.
__ADS_1
"Dek." lirih Abimanyu yang membuat Alexa langsung mendongak menatap sang kakak yang tengah menatapnya dengan sayu dan nampak penyesalan di sana.
"Kemari." Alexa merentangkan kedua tangannya menyambut pelukan sang kakak
"Maafkan abang, seandainya abang tidak mengacaukan rencanamu pasti semua ini tidak akan terjadi." ucap Abimanyu sembari memeluk erat sang adik
"Tidak apa." balas Alexa sembari mengusap sayang punggung sang kakak.
Abimanyu pun melepaskan pelukannya terhadap sang adik dan memberi kesempatan untuk yang lain karena mereka juga sangat merindukan sosok Alexandria Vernandes sang adik kesayangannya.
Satu persatu sahabat Alexa memberikan pelukan kepada Alexa, menyalurkan segala perasaan rindu selama 1 bulan lamanya sejak Alexa si nyatakan koma.
"Apa kami terlambat ?" tanya Daniel dan yang lainnya
"Opa." ucap Alexa sembari tersenyum ke arah sang Opa dan yang lainnya yang baru datang. ( yang di maksud yang lain disini adalah Banyu, Aditya ,Aldiansyah dan Devano ).
"Cucu Opa sudah nampak sehat ya." ucap Daniel begitu sampai di samping brankar sang cucu
"Tidakkah Opa merindukkan Lexa ?" tanya Alexa sembari cemberut ke arah sang Opa membuat semuanya yang ada di ruangan itu langsung menggelengkan kepalanya.
"Sangat." jawab Daniel langsung membawa sang cucu ke dalam pelukannya.
"Sayang." Aditya langsung memeluk sang putri begitu sang mertua melepaskan pelukannya terhadap Alexa.
"Ayah merindukanmu nak." ucap Aditya sembari menciumi puncak kepala sang putri
"Lexa juga merindukan ayah." balas Alexa sembari mengeratkan pelukannya terhadap sang ayah dan menenggelamkan kepalanya di dada bidang sang ayah yang masih kokoh.
"Putri ayah yang terbaik." bisik Aditya sebelum melepaskan pelukannya terhadap sang putri.
Alexa pun beralih merentangkan tangannya ke arah Aldiansyah yang langsung di sambut hangat oleh ayah dari Abimanyu itu.
"Daddy merindukanmu sayang." ucap Aldi di sela pelukannya yang di balas anggukan kepala oleh Alexa
"Lexa juga rindu daddy." balas Alexa sambil tersenyum
"Opa harap ini terakhir kalinya kamu terluka nak." ucap Banyu sembari memeluk sang cucu
"Doakan Lexa Opa." balas Alex sembari memeluk sang Opa
"Dad berharap tidak akan ada lagi kejadian seperti ini, dan kedepannya Dad hanya ingin melihatmu bahagia." ucap Devano sembari memeluk sang menantu
"Pasti Dad." jawab Alexa sambil tersenyum
Setelah semuanya melepas rindu dengan Alexa, mereka pun saling mengobrol satu sama lain, ruang yang biasa sepi kini ramai dengan tawa bahagia dari seluruh anggota keluarga.
__ADS_1