Alexandria

Alexandria
Bab. 169. Penolakan Vadeo


__ADS_3

Vadeo terus melangkah menuruni anak tangga dia berjalan menuju kamar orang tuanya. Tidak lupa saat melihat seorang pelayan dia segera menyuruh pelayan itu untuk mengambil meja dorong di depan pintu kamarnya.


Saat sudah sampai di depan pintu kamar orang tuanya, Vadeo mengetuk ngetuk pintu kamar itu dengan pelan pelan.


“Masuk.” suara bariton Tuan Jonathan dari dalam kamar. Vadeo lalu memutar handel pintu itu dengan pelan pelan dan mendorong daun pintu dengan pelan pelan juga. Vadeo dadanya berdebar debar kuatir jika apa yang ditakutkan oleh Alexandria terjadi malam ini.


Saat Vadeo melangkah masuk terlihat Tuan Jonathan sedang duduk di sofa sambil sibuk dengan hand phone nya. Dan sesaat mata Vadeo melotot karena melihat ada box bayi warna pink berada di sudut kamar. Sebuah box bayi yang sangat cantik. Dia tampak mengingat ingat kapan terakhir kali masuk kamar orang tua ini.


“Sepertinya tidak pernah ada barang itu. Apa Mama seperti Mama William yang sudah membeli box bayi. Apa mereka sudah buat kesepakatan kalau bayi perempuan di taruh di mension Jonathan dan jika bayi laki laki di taruh di mension William. “ gumam Vadeo sambil berjalan mendekati Papanya. Vadeo lalu duduk di sofa yang tidak jauh dari Papanya.


“Apa kamu baik baik saja?” tanya Tuan Jonathan tanpa mengalihkan pandangan matanya dari layar hand phone nya.


“Tidak Pa.” jawab Vadeo dengan jujur, sebab bagaimana pun hasil laboratorium tadi membebani pikiran dia dan Alexandria.


“Sama seperti aku dan Mamamu. Kamu lihat box bayi itu, kami sudah sangat berharap setelah satu tahun kalian menikah sudah ada bayi manis tidur di dalam box cantik itu. Tetapi kami harus menerima kenyataan jika itu belum waktunya.” ucap Tuan Jonathan sambil memandang box berwarna pink cantik yang berada di sudut kamar.


“Dan belum waktunya juga aku dan William pensiun. Maka mulai besok aku akan ke kantor lagi, demikian juga dengan William.” ucap Tuan Jonathan selanjutnya sambil menatap Vadeo.


“Kamu dan Alexandria pergi ke tempat ini untuk melakukan terapi dan pengobatan.” ucap Tuan Jonathan lagi sambil menunjukkan alamat tempat yang ada di layar hand phone nya.


“Papa dapat dari mana alamat itu?” tanya Vadeo sambil mengamati apa yang ada di layar hand phone Papanya.


“Papa mertuamu.” jawab Tuan Jonathan singkat.

__ADS_1


“Aku tidak setuju ke tempat itu.” ucap Vadeo lalu memberikan hand phone Papanya .


“Deo sudah ada rencana sendiri untuk tempat terapi dan pengobatan Alexandria, Pa.” ucap Vadeo selanjutnya sambil menatap wajah Papanya.


“Kalau kamu tidak setuju dengan tempat yang diberikan oleh mertuamu itu kamu hubungi dia sendiri.” ucap Tuan Jonathan sambil menatap tajam ke arah Vadeo


“Pa, Deo minta waktu satu minggu lagi, untuk masa transisi menyerahkan pekerjaan pada Papa, Alexandria pasti juga butuh waktu.” ucap Vadeo selanjutnya dan dia terlihat berpikir keras.


“Baiklah, kamu katakan baik baik dengan Alexa. Kami akan melakukan apa saja demi cucu yang sudah kami rindukan.” ucap Tuan Jonathan sambil pandangan matanya menatap pada box bayi berwarna pink cantik itu. Istrinya yang sejak dulu menginginkan anak perempuan sudah begitu tidak sabar dan mengharapkan hadirkan seorang cucu perempuan.


“Ya Pa.” jawab Vadeo


“Ya sudah sana kamu pergi.” ucap Tuan Jonathan sambil mengibas ngibaskan tangannya menyuruh Vadeo segera meninggalkan kamarnya.


“Ma, apa benar rahim Kak Alexa terkena radiasi dan sulit hamil?” tanya Ixora yang duduk di samping Sang Mama sambil mengintip Sang Mama yang sedang membaca artikel tentang seorang Nenek yang dititipi janin cucunya di rahimnya. Nyonya William hanya menganggukkan kepalanya.


“Eh Kakak bilang apa rahim Kak Alexa sakit, tidak bisa hamil terus harus sewa rahim gitu?” tanya Dealova yang sering ngintip novel yang dibaca oleh Mamanya. Ixora hanya mengangkat kedua bahunya dengan ekspresi wajah sedih.


“Kasihan Kak Alexa, kalau aku sudah dewasa aku mau meminjamkan rahimku agar tidak ada perempuan lain di dalam keluarga Kak Alexa.” gumam Dealova lirih dengan ekspresi wajah sedih sambil mengelus ngelus perutnya yang kempes, entahlah meskipun dia terkadang banyak makan tetapi perutnya tetap saja kempes kadang hal itu membuat iri teman temannya yang memiliki bobot berlebih.


“Ya kamu itu perempuan lainnya.” saut Ixora yang mendengar gumaman Dealova.


“Maksudnya kan aku masih adiknya, jika ada ikatan emosional dengan anaknya kan masih keponakan sendiri. Tapi seperti nya rahim Kak Ixora dech yang sudah siap. Kak Ixora kan juga sudah lulus SMA sudah kuliah jadi tidak apa apa kalau hamil.” ucap Dealova dengan nada serius

__ADS_1


“Bukan kamu dan bukan kamu.” ucap Nyonya William sambil menatap Ixora dan Dealova secara bergantian.


“Terus siapa Ma?” tanya Ixora dan Dealova secara bersamaan.


“Aku tidak rela jika ada perempuan lain di dalam rumah tangga Kak Alexa dan Kak Deo. Hiks... Hiks... kasihan Kak Alexa... “ ucap Dealova yang sudah mulai mengucek ucek matanya karena air matanya sudah mulai keluar.


“Mama yang akan meminjamkan rahim Mama.” saut Nyonya William


“Memang bisa Ma?” tanya Ixora dan Dealova secara bersamaan dengan ekspresi kaget pula pada wajah kedua gadis itu.


“Bisa, nih lihat.” jawab Nyonya William sambil menunjukkan layar hand phone nya yang masih menampilkan artikel yang tadi dia baca.


“Mama Jo sudah bilang ke Mama, kalau dia mau meminjamkan rahimnya. Tapi aku rasa aku sebagai Mamanya Alexandria yang lebih berkewajiban membantu Alexa. Apalagi jika janin yang ada di rahimku nanti bayi laki laki. Pasti Papa akan senang.” ucap Nyonya William sambil selanjutnya sambil mengusap usap perutnya.


“Tapi itu kan tetap anak Kak Deo dan Kak Alexa.” saut Dealova.


Saat mereka bertiga masih ribut dan heboh membahas rahim, tiba tiba Tuan William berjalan di ruang keluarga itu dengan wajah serius sebab dia habis dari ruang kerja, menyiapkan karena dia mulai aktif lagi di perusahan demi kesembuhan Alexandria.


Di saat itu pula, hand phone yang ada di saku bajunya berdering. Para perempuan itu pun langsung terdiam dan semua pandangan matanya tertuju pada sosok Tuan William.


Tuan William tampak berhenti dan segera mengambil hand phone dari saku bajunya. Dia melihat layar hand phone untuk melihat siapa yang melakukan panggilan suara. Dan setelahnya dia segera menggeser tombol hijau lalu dia pun ikut duduk di sofa di dekat istrinya. Nyonya William pun menggeser tempat yang diduduki oleh Ixora agar Papanya bisa duduk lebih nyaman.


....

__ADS_1


__ADS_2