
Waktu terus bergulir, hingga tidak terasa acara pernikahan Vadeo dan Alexandria pun sudah semakin mendekat. Kedua keluarga itu yaitu keluarga Jonathan dan keluarga William sudah semakin sibuk untuk menyiapkan acara pernikahan.
Vadeo dan Alexandria pun mengikuti acara pingitan. Vadeo dan Alexandria tidak boleh bertemu baik off line maupun on line. Alexandria sudah tidak diizinkan keluar dari mension dia masih bekerja namun bekerja di dalam ruang kerja Tuan William. Itu pun dijaga ketat oleh Nyonya William sebab kuatir jika Alexandria dan Vadeo melakukan komunikasi lewat on line secara diam diam. Dan selesai bekerja hand phone Alexandria disita oleh Nyonya William.
“Ma kok pakai acara pingitan segala sih di jaman modern begini.” ucap Alexandria di sela sela waktu dia bekerja
“Ini aku mau komunikasi dengan Kak Deo untuk urusan kerja bagaimana hayo?” tanya Alexandria selanjutnya sambil menatap sang Mama yang berbaring di sofa di dalam ruang kerja itu.
“Al, kamu belum tahu manfaat acara pingitan nanti akan kamu rasakan di saat hari H mu menikah apalagi di saat malam pertama nanti. Kamu dan Deo bisa menumpahkan rasa rindu kalian di malam itu... hmmm hmmm ....” jawab Nyonya William sambil senyum senyum dan mata berkedip kedip malah teringat malam pertama dulu dengan Sang Suami.
“Ma, terus ini urusan kerja bagaimana?” tanya Alexandria sambil menatap wajah Mamanya yang masih senyum senyum sendiri
“Ma....” suara Alexandria lebih keras.
“Iya iya itu gampang. Kamu tulis saja apa yang akan kamu sampaikan kepada Vadeo.” ucap Nyonya William yang masih berbaring di sofa panjang itu kini dia sambil mengusap usap hand phone nya
“Ih ... repot banget Ma, harus tulis pakai tulis tangan lagi padahal tinggal pencet saja bisa.” ucap Alexandria protes.
“Turuti kemauan Mama kamu nanti akan merasakan nikmatnya belakangan.” ucap Nyonya William sambil terus mengusap usap hand phone nya untuk mengecek segala persiapan pernikahan puterinya.
Alexandria akhirnya menuruti kemauan Sang Mama, dia menulis semua yang akan disampaikan kepada Vadeo. Dan setelah selesai menulis dia menoleh ke arah Mamanya yang masih berbaring di sofa sambil mengusap usap layar hand phone nya
“Ma, sudah aku tulis, terus bagaimana?” tanya Alexandria sambil menatap Sang Mama sementara Sang Mama tidak melihatnya karena masih fokus pada layar hand phone nya.
“Bawa sini dan juga hand phone mu.” jawab Sang Mama tetap tidak menoleh ke arah Alexandria. Alexandria pun lalu bangkit berdiri dan berjalan ke arah Sang Mama sambil membawa hand phone dan selembar kertas yang berisi tulisan apa yang akan dia sampaikan pada Vadeo.
__ADS_1
Sementara itu di Jonathan Co. Vadeo yang dilanda rindu terus saja uring uringan. Pak Rio sudah berkali kali mendapat bentakannya padahal tidak ada pekerjaan yang salah dia lakukan. Untung Pak Rio orangnya super sabar dan penuh pengertian jadi dia tidak memendam rasa sakit hati.
Tuan Jonathan pun mendapat tugas seperti Nyonya Willam untuk menjaga Vadeo agar tidak melanggar aturan acara pingitan.
“Pa...” panggil Vadeo pada Tuan Jonathan yang sedang duduk di sofa sambil menatap layar lap topnya.
“Hmmm.” jawab Tuan Jonathan
“Papa kenapa tidak menemani Mama yang sedang belanja keperluan pernikahan ?” tanya Vadeo
“Sudah ada yang mengantar dan lebih tahu apa keperluan yang harus dibeli.” jawab Tuan Jonathan santai dia sudah tahu arah pembicaraan Vadeo
“Papa tidak istirahat di mension agar besok saat acara Papa bugar.” ucap Vadeo lagi.
“Sudahlah kamu tidak perlu mengusir aku besok kalau kamu sudah nikah aku dan Mamamu akan bulan madu.” ucap Tuan Jonathan kemudian.
“Kenapa aku yang nikah malah Papa yang akan bulan madu?” tanya Vadeo sambil mengeryitkan dahinya dan Tuan Jonathan hanya tersenyum simpul.
Akan tetapi tiba tiba Vadeo terkaget saat hand phone yang ada di atas meja nya berdering dan ada nama kontak gadis kecilku tertera di layarnya. Dengan terburu buru tangan dia mengambil hand phone itu karena rindunya sama sang kekasih hati sampai tangannya gemetar waktu memegang hand phone itu. Dengan gemetar juga dia menggeser tombol hijau.
“Hallo Sayang apa kabar?” tanya Vadeo dengan suara lirih saat sudah menggeser tombol hijau agar Papa nya tidak mendengar suaranya. Akan tetapi Tuan Jonathan yang terus memasang telinga tetap saja mendengar.
“Deo aktifkan speaker nya.” perintah Tuan Jonathan sambil bangkit berdiri lalu berjalan menuju ke meja Vadeo. Dan Vadeo pun dengan malas mengaktifkan speaker nya.
“Hallo Sayangnya Mama....” suara Nyonya William terdengar nyaring. Tuan Jonathan pun tampak tersenyum dengan kak Vadeo terlihat menggaruk garuk kepala belakangnya.
__ADS_1
“Ada apa Ma?” tanya Vadeo selanjutnya.
“Dengar baik baik , sekarang siapkan kertas dan pena.” perintah Nyonya William dengan suara keras dan tegas. Vadeo pun segera menuruti perintah sang calon mertua.
Di lain tempat Alexandria yang sudah kembali duduk di kursi kerjanya tersenyum mendengar suara sang Mama namun sambil memijit mijit pelipisnya.
“Sudah belum?” suara Nyonya William lagi
“Sudah Ma.” jawab Vadeo. Dan Nyonya William pun selanjutnya membacakan apa yang sudah ditulis oleh Alexandria dan menyuruh Vadeo menulisnya.
“Kalau sudah cepat kerjakan. Kalau ada yang tidak jelas jangan ucapkan sekarang aku ogah menulis. Kamu ketik saja di hand phone dan kirim ke alamat email Papa William.” ucap Nyonya William sambil tersenyum lalu menutup sambungan telponnya dan menaruh hand phone Alexandria di atas meja.
Sementara itu Vadeo pun langsung menaruh hand phone nya di meja kerjanya. Dan dia segera melakukan apa yang sudah dipesankan oleh Alexandria. Dan tiba tiba bibir Vadeo tersenyum.
“Hmmm bukannya besok jadwal fitting baju pengantin. Pasti besok aku bisa bertemu Alexa.” gumam Vadeo dalam hati sambil menatap foto Alexandria yang berada di atas mejanya. Dia memang memasang foto Alexandria pada sebuah pigura cantik dan dia taruh di atas meja kerjanya agar dia bisa melihatnya setiap saat tanpa harus memegang hand phone.
Sesaat kemudian Vadeo yang sedang menatap foto Alexandria sambil membayangkan pertemuannya dengan Alexandria besok mendadak terkaget karena suara dering dari hand phone nya saat dilihat ternyata sang Mama yang sedang melakukan panggilan suara. Vadeo langsung meraih hand phone itu dan segera menggeser tombol hijau, Vadeo memperkirakan Mamanya akan mengingatkan jadwal fitting baju besok.
“Hallo Ma..”
“Deo kamu sekarang langsung menyusul Mama di tempat perawatan langganan Mama ya... Kamu sudah Mama daftarkan satu jam lagi antrianmu.” ucap Nyonya Jonathan lalu langsung memutus sambungan teleponnya.
“Hmmm okey lah Ma biar besok saat aku ketemu Alexandria tampak bersinar sinar.” gumam Vadeo dalam hati lalu dia segera menutup layar lap topnya dan memberesi mejanya. Lalu dia bangkit berdiri dan berjalan meninggalkan ruang kerjanya sampai lupa tidak pamit pada Sang Papa. Apalagi pada Pak Rio. Untung kedua orang itu sangat memahami perasaan calon pengantin yang sedang dalam masa pingitan.
.....
__ADS_1