Alexandria

Alexandria
Bab. 149. Cemburu


__ADS_3

Akhirnya semua acara yang mereka rencanakan selama berada di Jerman bisa terlaksana dengan baik. Cuma satu yang gagal tidak lain adalah untuk mendapatkan cangkir nenek buyut Nyonya William.


Dan kini mereka pun siap akan kembali ke Indonesia. Mereka akan melakukan penerbangan di malam hari. Dengan pertimbangan Edwind dan Gerrit akan mengantar mereka ke bandara menunggu pekerjaan mereka selesai terlebih dulu.


“Al, Mama mau telepon di group chat keluarga, pasti mereka sudah selesai makan malam.” ucap Nyonya William saat menjelang sore hari setelah selesai berkemas kemas. Alexandria yang juga sudah selesai berkemas tampak setuju dia lalu mendekat ke arah Mamanya yang sudah duduk santai di sofa di ruang tamu apartemen mereka. Oleh Vadeo apartemen itu dibeli atas nama Alexandria dan diperuntukkan jika keluarga William berkunjung ke Jerman nantinya.


Nyonya William pun mengusap usap layar hand phone nya untuk melakukan panggilan video di group chatting keluarga. Alexandria sudah siap duduk di samping sang Mama sambil memeluk pundak sang Mama.


Dan tidak lama kemudian


“Ma... jangan lupa pesanan Dealova ya....” suara cempreng Dealova langsung terdengar sebagai pembuka percakapan. Di layar hand phone Nyonya William tampak Dealova sedang duduk di kursi belajar di dalam kamarnya sedang Tuan William pun sudah mulai bergabung beliau tampak sedang duduk di kursi kerjanya di dalam ruang kerjanya di mension William. Tampak wajah lelah Tuan William menatap Nyonya William dan Alexandria.


Alexandria melambaikan tangan pada Sang Papa dia sebenarnya tidak tega melihat Papanya kerja lembur tetapi Sang Papa kerja lembur demi membunuh waktu karena rasa rindunya pada Sang istri.


“Tenang Deal sudah dalam proses pesanan kamu tetapi belum jadi, besok kalau sudah jadi dikirim.” jawab sang Mama sambil tersenyum.


“Eh di mana Ixora kok belum bergabung?” tanya Nyonya William dengan nada kuatir sambil menatap wajah Tuan William dan Dealova.


“Sedang pergi sama Bang Bule.” jawab Dealova santai akan tetapi bagai bom buat Nyonya William.


“Ha? Papa gimana sih kok dibiarkan mereka pergi berdua malam malam.” ucap Nyonya William dengan nada tinggi sambil menatap wajah Tuan William di layar hand phone nya.

__ADS_1


“Ixora ada jadwal try out dari bimbingan belajar memang jadwal mulainya jam enam sore bagaimana lagi, lebih aman diantar oleh Bule itu, dari pada sopir nanti tidak bisa menolak kalau Ixora mampir mampir dengan teman temannya entah ke mall atau ke cafe. Mungkin sekarang baru selesai.” ucap Tuan William sambil menatap istrinya dan Dealova di layar hand phone nya. Dealova yang ditatap sang Papa hanya tersenyum lebar.


“Besok Mama dan rombongan dijemput orang Vadeo apa dijemput Papa?” tanya Tuan William kemudian untuk mengalihkan pembicaraan.


“Aku mau jemput Mama dan Kak Alexa.” saut Dealova.


“Bukannya jadwal pesawat mendarat masih jam kamu sekolah Deal?” tanya Alexandria karena di jadwal perkiraan tiba di bandara soekarno hatta sekitar jam sebelas siang.


“Izin demi Mama dan Kakak tercintah..” jawab Dealova sambil nyengir dan terlihat Tuan William melotot ke arah wajah Dealova yang berada di layar hand phone nya. Dan akhirnya Tuan dan Nyonya William pun sepakat mengakhiri sambungan panggilan video di group chatting keluarga agar tidak membuat Dealova kesenangan karena ada alasan untuk tidak belajar.


Nyonya William pun akhirnya menaruh hand phone nya di meja, setelah selesai melakukan chatting secara pribadi dengan suaminya.


“Mungkin Ma, secara kan Bang Vincent sudah menyelamatkan Ixora.” jawab Alexandria


“Mama kok suka dengan Edwind ya pekerjaannya jelas juga rapi orangnya, kalau Bule apa dia pekerjaannya? ngurusi penjahat ih... bikin was was saja.” gumam Nyonya William.


“Ixora kan masih sekolah Ma, masih lama biar nanti berjalannya waktu Ixora sendiri yang memilih siapa yang akan menjadi pendampingnya. Jodoh itu misteri Ma. Kayak aku dan Deo benar benar tidak menyangka, niatku tulus mengasih bekal ternyata menjadikan kami berjodoh he... he...” ucap Alexandria sambil tertawa kecil mengingat masa lalunya.


“Ya sudah Mama mau berbaring sebentar.” ucap Nyonya William lalu bangkit berdiri dan berjalan menuju ke kamarnya untuk berbaring baring agar nanti segar selama dalam perjalanan.


Detik berganti detik, menit berganti menit, jam berganti jam. Dan waktu mereka harus berangkat ke bandara pun tiba.

__ADS_1


Mereka berlima sudah siap menunggu jemputan dari Edwind dan Gerrit. Akhirnya pengawal Vadeo pun harus ikut pulang ke Indonesia, operasi pita suara lain waktu saja. Karena perintah dari Nyonya William sebab koper milik sang pengawal bisa dititipi barang barang miliknya.


Tidak lama kemudian Edwind dan Gerrit memberi kabar kalau mobil mereka berdua sudah siap mengantar ke bandara. Mereka pun segera menuju ke lift yang akan membawa mereka menuju lantai dasar.


Saat mereka sudah sampai di lantai dasar dan keluar dari pintu lift. Tampak Edwind dan Gerrit keluar dari mobil mereka masing masing lalu berjalan menuju ke arah Vadeo dan rombongan. Mereka berdua pun turut membawakan koper koper. Koper Nyonya William sudah beranak pinak dan membelah diri menjadi banyak.


Alexandria dan Nyonya William pun memilih masuk ke dalam mobil Gerrit, saat Vadeo turut akan masuk ke dalam mobil Gerrit langsung tangannya ditarik oleh Edwind.


“Aku itu mau mengantar kamu, kalau kamu juga masuk ke dalam Gerrit mending tadi aku suruh sopir yang datang ke sini.” ucap Edwind sambil berjalan menggandeng tangan Vadeo menuju ke arah mobilnya.


“Mereka pasti akan bercerita tentang teman laki laki Alexa waktu di New York dulu. “ gumam Vadeo sambil membuka pintu mobilnya.


“Kamu cemburu?” tanya Edwind saat sudah masuk ke dalam mobil nya pengawal Vadeo pun sudah duduk manis di belakang Vadeo. Sedangkan Pengawal Nyonya William duduk di samping Nyonya William di dalam mobil Gerrit.


“Alexa bilang hanya sahabat tetapi tetap saja aku cemburu.” jawab Vadeo sambil melihat mobil Gerrit dari kaca spion sebab mobil Gerrit berada di belakang mobil Edwind. Edwind hanya diam lalu dia menyalakan mesin mobilnya namun menunggu mobil Gerrit berjalan lebih dahulu.


Setelah mobil Gerrit berjalan melewati mobilnya baru Edwind menjalankan mobilnya mengikuti mobil Gerrit. Pandangan mata Vadeo terus tertuju pada kaca belakang mobil Gerrit dan samar samar bisa melihat kepala Alexandria yang selalu tampak menoleh ke arah Gerrit dan tampak bagai sedang bercerita yang terkadang menoleh ke belakang ke arah tempat duduk sang Mama.


“Setiap orang punya masa lalu Deo jangan cemburu buta kamu nanti malah nabrak nabrak.” ucap Edwind sambil tersenyum tanpa menoleh ke arah Vadeo dia hanya melirik sekilas dan terlihat Vadeo terus fokus melihat kaca belakang mobil Gerrit.


....

__ADS_1


__ADS_2