
Vadeo pun mau tak mau masuk ke dalam mobil. Alexandria terlihat senang saat sang suami sudah ikut masuk ke dalam mobil. Alexandria dan sang pelayan masih berdiri di samping mobil. Dan saat pak sopir sudah mulai menyalakan mesin mobil.
TUK... TUK.. TUK....
Jari jari Alexandria mengetuk ngetuk kaca jendela mobil di samping Vadeo. Vadeo pun dengan segera menurunkan kaca jendela yang diketuk ketuk oleh Alexandria, dia berharap Alexandria berubah pikiran lagi dan menyuruhnya untuk turun menemani tidur.
“Apa Sayang apa kamu minta ditemani bobok siang...” ucap Vadeo sambil menatap Sang istri penuh harap.
“Kak Deo nanti yang panjat pohon ya.. “ pesan Alexandria sambil menatap tajam ke arah Vadeo
“Pilih buah yang masak ya... yang besar besar.” pesan Alexandria lagi.. Vadeo hanya menganggukkan kepalanya dengan pelan.
“Tuan jangan lupa berdoa dulu ya.... mohon pada Sang Kuasa.” sang pelayan mengingatkan lagi pesannya pada Vadeo.
“Iya Bu, doakan kami juga... Sayang kamu doakan suamimu ini ya....” ucap Vadeo sambil menatap Sang pelayan lalu pada istrinya.. mereka berdua menganggukkan kepalanya sambil tersenyum. Vadeo lalu menutup jendela kaca mobilnya. Dan setelahnya mobil pun berjalan meninggalkan halaman untuk menuju ke bukit tempat ada pohon asam yang ada buah masaknya.
“Semoga dapat buahnya dan mereka semua selamat.” gumam sang pelayan dalam hati sambil pandangan matanya tertuju pada mobil yang terus berjalan meninggalkan rumah Vadeo.
“Jauh ya Bu letak bukit itu?” tanya Alexandria yang juga matanya masih menatap mobil yang berjalan menjauh namun masih terlihat.
“Saya sebenarnya ingin ikut tapi kok mata saya mengantuk mungkin efek dari obat tadi.” ucap Alexandria selanjutnya
“Kata pak tukang kebun jauh Non.” Jawab sang pelayan
“Ayo Non kita masuk mobil sudah tidak terlihat. Non Alexa tidur saja biar cepat sehat lagi... Nanti kalau mereka sudah pulang saya akan cepat cepat buatkan permen buat Non Alexa. Kalau mau gulanya dibuat karamel dulu baru dikasih daging buah asam yang matang. Pasti enak Non..” ucap sang pelayan sambil membalikkan badannya
“Iya Bu, tapi dikasih taburan gula putih ya...” ucap Alexandria juga membalikkan tubuhnya dan mereka berdua pun melangkah untuk masuk ke dalam rumah
Sementara itu di lain tempat, mobil terus berjalan semakin menjauh dari pemukiman ( rumah Vadeo, guest house dan mes pelayan / pegawai Vadeo ). Mobil berjalan mengikuti arahan pak tukang kebun.
__ADS_1
“Pak kok sampeyan tahu kalau bukit itu ada pohon buah asam?” tanya Pak Sopir sambil terus fokus pada kemudi mobilnya yang jalan semakin menanjak.
“Dulu sama tukang tukang bangunan kan pergi ke sana untuk mencari kayu bahan rumah, saya juga mencari bibit bibit tanaman.” jawab Pak tukang kebun.
“Ooo dulu pakai mobil truk ya...” ucap Pak Sopir yang langsung paham kenapa dia belum tahu tempat bukit itu karena dia belum pernah ke sana. Dan sopir juga mobil truknya sudah kembali ke jawa dengan kapal sewa. Pak tukang kebun hanya mengangguk.
Mobil terus berjalan hingga perjalanan lebih dari satu jam belum juga sampai pada bukit yang akan dituju. Vadeo pun sudah mulai gelisah karena mobil sudah memasuki jalanan tidak beraspal. Richardo yang duduk di samping Vadeo hanya melirik melihat kegelisahan Vadeo.
“Apa masih jauh?” suara Richardo akhirnya memecah keheningan di dalam mobil itu.
“Sebentar lagi Tuan.” jawab Pak tukang kebun.
Mobil terus melaju dan mulai memasuki jalanan yang tidak ada batu batuan apalagi aspal. Vadeo pun terlihat wajahnya semakin cemas.
“Semoga tidak turun hujan, kalau turun hujan pasti licin jalan ini.” ucap Vadeo sambil pandangan matanya tertuju pada jalanan. Yang lain pun sependapat dengan ucapan Vadeo.
“Berhenti sebelum batu besar itu.” ucap Pak tukang kebun sambil dagunya menunjuk ke arah depan. Dan sesaat kemudian mobil berhenti sebelum batu besar, dan memang juga harus berhenti karena jalan pun sudah tidak bisa dilalui oleh mobil.
“Dulu mobil truk yang mengambil kayu juga parkir nya di sini.” ucap Pak tukang kebun sambil melepas sabuk pengamannya.
“Mana pohon asam nya?” tanya Vadeo sambil pandangan matanya melihat lihat luar mobil.
“Di sana Tuan.” jawab Pak tukang kebun sambil menunjuk ke arah depan.
“Masih harus jalan kaki.” ucapnya lagi sambil membuka pintu mobil. Ketiga laki laki lainnya pun juga turut serta membuka pintu mobil dan melangkahkan kaki keluar dari mobil.
“Apa aku tunggu di sini saja ya.” gumam Vadeo dalam hati sambil wajahnya tampak berpikir pikir.
“Tetapi nanti kalau Alexandria tanya aku tidak bisa jawab, apalagi kalau dia tanya pada tiga orang itu dan mereka menjawab aku menunggu di mobil pasti Alexandria akan kecewa padaku.” gumam Vadeo dalam hati lagi. Lalu dia menutup pintu mobilnya dan berjalan mendekati ketiga laki laki lainnya yang tampak sudah mulai akan berjalan menuju ke jalan setapak.
__ADS_1
Keempat laki laki itu pun terus melangkah di jalan setapak. Pak tukang kebun berada di barisan paling depan.
“Richard!” panggil Vadeo yang berjalan di barisan paling belakang
“Ya Tuan.” jawab Richardo sambil menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah Vadeo.
“Kamu jangan cepat cepat jalannya, tunggu aku, kamu jalan di belakangku.” ucap Vadeo lalu dia menarik lengan Richardo agar berjalan di belakangnya.
“Tugas kamu itu menjaga aku bukan sebaliknya.” ucap Vadeo lagi.
“Maaf Tuan, tapi agak cepat jalannya, tukang kebun itu jalannya bagai berlari.” ucap Richardo yang kini berjalan di belakang Vadeo. Vadeo pun hanya diam saja sambil terus melangkah di jalan setapak yang mendaki sebab jika berbicara nafasnya semakin satu satu.
Vadeo terus berjalan dan dalam hati dia terus melantunkan doa agar diberi keselamatan dan tidak ada gangguan.
Beberapa menit kemudian Vadeo dan Richardo sudah mendapati Pak Tukang kebun dan Pak Sopir sudah berdiri sambil memandang pada satu pohon yang sangat tinggi berdiri dengan sangat kokoh dengan batang pohon yang sangat besar.
“Itu Tuan pohonnya.” ucap Pak tukang kebun saat Vadeo dan Richardo sudah berada di dekatnya. Vadeo dan Richardo pun memandang pohon yang ditunjuk oleh Pak tukang kebun itu.
“Memang harus dipanjat, sangat tinggi dan tidak ada buah yang jatuh.” ucap Vadeo sambil melihat pohon itu.
“Rich kamu panjat sana!” perintah Vadeo pada Richardo
“Saya Tuan?” ucap Richardo minta keyakinan dengan ekspresi wajah yang sulit diartikan. Vadeo menganggukkan kepalanya.
“Tapi bukannya Nona Alexandria minta Tuan yang memanjat.” ucap Richardo agar bebas dari tugas yang mengerikan baginya itu.
“Iya, tapi aku bayar kamu mahal mahal tidak hanya untuk makan tidur dan jalan jalan.” ucap Vadeo selanjutnya.
..
__ADS_1