Alexandria

Alexandria
Bab. 206


__ADS_3

Sementara itu, Dealova sudah duduk manis di dalam mobil dan bibir selalu tersenyum.


“Tuan Richardo nanti antar aku makan malam ke rumah Kakak ya..” ucap Dealova dengan senyuman dan nada ramah.


“Baik Nona.” jawab Richardo yang duduk di jok di samping kemudi, dengan menganggukkan kepalanya namun pandangan mata tetap lurus ke depan. Meskipun Richardo tidak memandang wajahnya, Dealova yang duduk di jok belakang kemudi sudah teramat sangat bahagia.


Tidak lama kemudian mobil sudah memasuki guest house. Mobil pun lalu berhenti di depan kamar VIP yang sudah disediakan buat Dealova dan kedua Mama yang enggan menempati tetapi memilih tidur jadi satu dengan Alexandria.


“Nona di sini kamar Nona.” ucap Richardo sambil membuka pintu. Dealova masih terpesona dengan tempatnya.


“Bagus banget tempatnya.” ucap Dealova.


Saat Dealova membuka pintu mobil dan turun dari mobil terlihat ada tiga perempuan cantik yang berjalan menuju ke mobil yang berhenti. Ketiga perempuan itu adalah Dokter Loly, sang therapis dan Eveline. Eveline datang karena diajak oleh sang therapis.


Mereka bertiga terlihat mencari cari sosok orang tua Vadeo dan Alexandria, sebab yang di bawa Richardo hanya satu orang gadis ABG cantik. Terlebih lagi Dokter Loly, dia berjalan lebih cepat karena ingin melihat isi di dalam mobil.


“Apa mereka tiga fans Tuan Richardo, harus aku kalahkan ketiganya itu.” gumam Dealova sambil berkacak pinggang.


Richardo terlihat berjalan ke belakang mobil untuk mengambilkan koper Dealova yang masih ada di bagasi mobil.


“Mari Nona, saya antar ke kamar Nona.” ucap Richardo sambil menarik koper Dealova.


Akan tetapi sesaat kemudian...


“Tuan, tunggu....” teriak Dokter Loly saat Richardo akan berjalan menuju ke kamar VIP tempat untuk Dealova. Dealova yang juga akan melangkah menoleh ke arah Dokter Loly, sedangkan Richardo tidak menoleh hanya menghentikan langkahnya.


“Tuan, di mana orang tua Tuan Vadeo?” tanya Dokter Loly saat sudah dekat. Dealova mengeryitkan dahinya.


“Ada perlu apa dengan Mama?” tanya Dealova sambil menatap Dokter Loly.


“Oh... Eh.. Nona selamat datang..” ucap Dokter Loly sambil tersenyum menatap Dealova.


“Ehmmm hanya mau mengucapkan selamat datang.” ucap Dokter Loly selanjutnya masih dengan senyuman.


“Nona selamat datang. “ ucap Sang therapis dan Eveline secara bersamaan setelah mendekati Dealova dan mengulurkan tangannya. Dealova pun menerima dan mereka saling berjabat tangan.

__ADS_1


“Terima kasih.” ucap Dealova sambil tersenyum akan tetapi dalam hati dia berkata pasti ini dilakukan tidak semata mata, pasti ada maksud lain.


“Pasti mereka hanya ingin ketemu Tuan Richardo.” gumam Dealova dalam hati


“Rich di mana Nyonya William dan Nyonya Jonathan?” tanya Eveline dengan nada kuatir.


“Mereka tidur di rumah Tuan Vadeo.” jawab Richardo.


“Mari Nona Dealova.” ucap Richardo selanjutnya sambil menarik koper Dealova.


“Sekarang kalian kembali ke tempat kalian.” ucap Dealova dengan nada datar sambil menatap tajam ke tiga perempuan itu. Lalu dia berjalan mengikuti Richardo.


“Ha... ha... ha... Aku bisa berucap kayak Tuan William. “ gumam Dealova dalam hati sambil tertawa dan dalam hati pula.


Setelah Richardo dan Dealova berjalan menuju ke kamar VIP. Ketiga perempuan itu pun berjalan menuju ke kamar mereka. Eveline dan sang Therapis bisa memaklumi keputusan Nyonya William dan Nyonya Jonathan yang memilih tinggal bersama di rumah Vadeo. Akan tetapi Dokter Loly sangat kecewa dan tampak bersungut sungut.


“Hmmm kalau Nyonya Jonathan dan Nyonya William di rumah Tuan Vadeo tidak ada kesempatan aku untuk mendekati mereka.” gumam Dokter Loly dan terus berjalan menuju ke kamarnya.


“Nona Dealova seperti nya jutek sekali, apa bisa didekati.” gumam Dokter Loly sambil berpikir pikir dan tangannya membuka pintu kamarnya.


Sementara itu Dealova setelah membuka pintu kamar, tidak lupa mengucapkan terima kasih kepada Richardo. Dan selanjutnya dia dengan mengucapkan kalimat yang tertata rapi dan manis untuk meminta nomor hand phone Richardo.


Dealova pun mengiyakan lalu dia menutup pintu kamarnya. Dealova langsung menarik kopernya untuk dibawa ke kamar tidurnya.


“Mama kenapa malah memilih tidur bertiga dengan Kak Alexa di dalam satu kamar tidur dan pada satu tempat tidur pula. Padahal di sini kamar bagus dan luas. Macam kamar hotel presidential suite, macam kamar apartemen.” gumam Dealova saat sudah memasuki kamar tidurnya.


Saat Dealova sedang membuka kopernya tiba tiba, terdengar suara dering dari hand phone yang berada di dalam tas kecil yang masih terselempang talinya di pundaknya.


“Apa Richardo ya yang telepon.” gumam Dealova dalam hati sambil tersenyum. Dia lalu membuka tas tangannya dan segera mengambil hand phone yang masih berdering.


“Heleh Kak Ixora..” ucap Dealova lalu menggeser tombol hijau, ternyata Ixora yang melakukan panggilan video.


Di layar hand phone Dealova tampak wajah Ixora dengan layar belakang dinding kamarnya.


“Wow keren kamarmu Deal...” teriak Ixora karena Dealova memang mengarahkan kamera untuk memperlihatkan kamarnya.

__ADS_1


“Deal catatan jangan lupa ya..” suara Ixora selanjutnya


“Iya, Sudah aku bawa Kak.” ucap Dealova


“Bentar aku tunjuk in catatannya, aku tadi cuma lihat sebentar tapi kayaknya rapi banget catatannya. Gila Kakak pertama ku itu bisa rajin seperti itu, pengen aku jadikan dia sebagai sekretaris ku. Jadi aku tidak usah mencatat saat di kelas biar sekretaris yang catat..” ucap Dealova sambil terus membuka kopernya.


“Cepet Deal, cerewet amat kamu.” suara Ixora yang sudah tidak sabar.


“Iya.. iya.. tadi aku masukkan di kantong koper.” ucap Dealova sambil memasukkan tangannya pada kantong koper dan selanjutnya dia menarik buku catatan Alexandria.


“Nih.. “ ucap Dealova sambil mengarahkan kamera pada buku catatan Alexandria


“Deal coba dibuka!” perintah Ixora dan Dealova lalu membuka sampul buku itu.


“Deal foto in ya..” pinta Ixora antara kepo dan excited jadi satu.


“Nanti saja, aku mau janjian sama Richardo.” ucap Dealova


“Sombong banget kamu, satu halaman saja. Sudah aku putus nih.. kirim foto catatan Kak Alexa ya. “ ucap Ixora lalu sambungan terputus.


Dealova pun lalu memotret catatan Alexandria halaman pertama dan selanjutnya dia kirim foto itu pada nomor hand phone Ixora. Setelah terkirim dan dibuka oleh Ixora, Ixora meminta lagi halaman kedua dan begitu seterusnya hingga halaman ke lima.


Dan setelah halaman ke lima, Dealova menaruh hand di tempat tidurnya lalu dia melangkah menuju ke kamar mandinya.


“Bisa bisa sampai tengah malam aku tidak mandi kalau nuruti Kak Ixora.” gumam Dealova lalu dia segera menutup pintu kamar mandi.


Beberapa menit kemudian Dealova sudah keluar dari kamar mandi dengan tubuh yang sudah segar. Tubuhnya terbalut oleh bath robe warna soft pink yang sudah tersedia di dalam kamar mandi. Saat dia akan mengambil baju ganti. Terdengar suara dering lagi di hand phone nya.


“Kalau sekarang pasti Tuan Richardo yang sudah siap menunggu.” gumam Dealova sambil tersenyum. Lalu dia berjalan untuk meraih hand phone nya.


“Heleh Kak Ixora lagi..” teriak Dealova yang heran Kakaknya menelpon lagi.


“Apa lagi?” tanya Dealova saat sudah menggeser tombol hijau.


“Deal, aku baca catatan Kak Ixora yang halaman empat kok dia mulai tidak mengkonsumsi obat dan vitamin dari dokter. Nanti tanyakan ya.. bener tidak atau dia salah tulis.” suara Ixora di balik hand phone Dealova.

__ADS_1


“Kalau benar tanyakan alasannya ya..” ucap Ixora lagi.


“Iya iya, sudah ya keburu telat aku.” ucap Dealova lalu dia segera memutus sambungan telepon dari Ixora.


__ADS_2