
Waktu pun terus berlalu. Hand phone Dealova ada pesan teks masuk di aplikasi chatting nya yang mengabarkan kalau jet pribadi Vadeo sudah siap akan tinggal landas. Dealova membalas chat tersebut akan tetapi hanya centang satu.
Mereka menunggu antara perasaan cemas, gelisah namun juga bahagia. Cemas dan gelisah karena kabar tensi Alexandria yang sempat naik. Bahagia karena keluarga yang ditunggu tunggu akan datang.
Setelah satu jam lebih menanti terdengar suara bergemuruh di langit, suara pesawat yang akan turun. Pandangan mata mereka tertuju pada arah suara tersebut.
“Ma itu mereka!” teriak Dealova sambil mendongak untuk melihat jet pribadi Vadeo yang mulai menurun dari ketinggiannya.
Dan beberapa menit kemudian jet pribadi itu sudah mendarat dengan sempurna. Semua wajah tampak tersenyum lega. Pegawai lapangan golf terlihat memasang tangga di bawah pintu jet itu dan tidak lama kemudian tampak pintu jet itu terbuka.
Sesaat kemudian di depan pintu terlihat Alexandria yang berdiri dengan perut besarnya, di sampingnya berdiri Vadeo sambil merangkul pundak Alexandria. Mereka berdua wajahnya tersenyum lebar.
“Alexa..” gumam Tuan William dan Tuan Jonathan secara bersamaan sambil wajah berekspresi haru melihat Alexandria hamil dengan perut besar sebab akan memberikan cucu kembar pada mereka.
“Kak Alexa...” teriak Ixora sambil berlari dia termasuk orang yang sangat bahagia sebab buku yang dia sisipkan sangat membantu Kakaknya apalagi kini dia akan mendapatkan keponakan kembar.
Ixora terus menaiki anak tangga karena sudah tidak sabar untuk memeluk Kakaknya dan juga ingin mencium perut Kakak nya.
“Ix.. tunggu di bawah kenapa? Aku takut kalau Alexandria jatuh dari tangga!” teriak Nyonya William saat melihat Ixora memeluk Alexandria di atas tangga jet. Tetapi mereka berdua tidak menghiraukan teriakan sang Mama, mereka berpelukan melepas rindu dan berbagi kebahagiaan.
“Sudah ayo kita turun, yang lain juga ingin segera turun.” ucap Vadeo sambil merangkul pundak Alexandria. Mereka akhirnya menuruni anak tangga dan selanjutnya sesampai di bawah mereka semua saling berpelukan untuk melepas rindu.
Sementara itu Dealova pandangan matanya masih menatap ke arah pintu jet karena dia masih mencari cari sosok Richardo.
“Non..” sapa sang pelayan pada Dealova yang baru saja turun dari tangga jet.
“Eh Bu... selamat datang.” ucap Dealova dan pandangan mata kembali ke arah tangga.
“Mama Jo sudah turun, Nona Eveline juga sudah turun, Dokter sudah , ibu pelayan sudah..” gumam Dealova yang didengar oleh Ixora.
“Kamu dapat tugas ngabsen Deal?” tanya Ixora sambil memeluk pundak adiknya
__ADS_1
“Kak Richardo kok belum turun apa dia sakit ya.” gumam Dealova sambil menoleh ke arah Ixora.
“Tuh..” ucap Ixora sambil menunjuk dengan dagunya ke arah pintu jet.
Dealova pun menoleh akan tetapi tiba tiba lutut nya terasa lemas, karena terlihat Richardo berdiri di belakang sang therapis dan terlihat Richardo dengan care memegang pundak sang therapis.
“Kak apa mereka terlibat cinlok?” ucap Dealova lirih dengan nada sedih
“Bisa jadi Deal, secara mereka lama hidup bersama di sana.” ucap Ixora sambil tersenyum menatap adiknya.
“Haduh...” ucap Dealova sambil menepuk jidatnya.
“Yok, jangan sedih masih banyak coker di sana ha... ha... ha...” ucap Ixora sambil tertawa dan merangkul pundak Dealova dan diajak melangkah untuk bergabung dengan keluarga yang sudah lebih dulu berjalan menuju ke mobil.
Terlihat mereka semua melangkah menuju ke mobil. Alexandria dan Vadeo masuk ke dalam mobil yang dikemudikan oleh Tuan Jonathan, Nyonya Jonathan pun tampak duduk di samping sang suami. Dari auranya pasangan suami istri itu sudah tidak tahan untuk melepas rindu. Mobil itu pun melaju lebih dulu mendahului mobil lainnya.
Ixora dan Dealova masuk ke dalam mobil yang dikemudikan oleh Tuan William, Nyonya William pun duduk di samping sang suami. Sementara yang lain masuk ke mobil mobil yang sudah disiapkan oleh sekretaris Rio. Mobil mobil itu semua juga akan menuju ke mension Jonathan, karena akan diadakan jamuan sebagai ucapan terima kasih atas kerja samanya dalam keberhasilan program hamil Alexandria.
Setelah acara jamuan selesai mereka semua mohon diri, tidak lupa mereka mendapatkan bingkisan dan transferan bonus atas keberhasilan kerja mereka.
Kecuali keluarga William mereka masih duduk di ruang tengah sambil ngobrol ngobrol santai.
“Ayo Pa kita pulang, pasti ada yang sudah tidak tahan untuk goyang goyang.” ucap Nyonya William sambil melirik ke arah sang besan.
“Siapa yang mau goyang goyang Ma?” tanya Dealova
“Mau goyang dang dut apa goyang apa Ma? Mau karaoke an?” tanya Dealova yang tidak tahu apa yang dimaksud oleh sang Mama dikira mau goyang dengan musik beneran. Nyonya William dan Nyonya Jonathan hanya tertawa
“Kita ikut aja.” ucap Dealova lagi
“Tidak boleh, ayo pulang.” ucap Nyonya William lalu bangkit berdiri, Tuan William pun juga terlihat mulai bangkit berdiri.
__ADS_1
“Mama William juga mau goyang di mension William, Deal..” ucap Nyonya Jonathan sambil tersenyum.
“Ayo Ix, Kakakmu juga mau goyang agar besok lahirannya lancar.” ucap Nyonya William lagi dengan suara lebih keras sebab terlihat Ixora masih asyik berbincang bincang dengan Alexa.
“Memang Kak Alexa mau olah raga malam?” tanya Dealova yang sudah bangkit berdiri. Semua yang ada di ruang keluarga itu mengiyakan sambil tertawa, dan Dealova pun semakin bingung.
Akhirnya keluarga William pun beranjak untuk pulang karena memberikan waktu dan tempat untuk Nyonya dan Tuan Jonathan yang sudah berbulan bulan berpuasa demi menjaga cucunya yang masih ada di dalam kandungan Alexandria . Setelah keluarga William pulang, Tuan dan Nyonya Jonathan pun segera masuk ke dalam kamarnya.
Sementara itu Vadeo dan Alexandria masih duduk di sofa di ruang keluarga.
“Sayang kalau kamu capek naik ke lantai atas kita tidur di kamar tamu saja.” ucap Vadeo sambil menatap isterinya.
“Tapi aku ingin melihat kamar kita Kak.” ucap Alexandria yang penasaran melihat kamar yang sudah disiapkan papa mertuanya untuk mereka dan kedua anaknya.
Mereka berdua pun lalu bangkit berdiri. Vadeo benar benar tidak tega melihat istrinya yang kesulitan berdiri karena perut besarnya, apalagi harus naik tangga ke lantai atas.
“Sayang aku gendong kamu saja.” ucap Vadeo lalu menggendong tubuh Alexandria.
“Besok kita pasang lift.” gumam Vadeo.
“Kak, hati hati ya.. sudah tambah berat.” ucap Alexandria sambil mengeratkan tangannya yang mengalung di leher suaminya.
“Pasti Sayang.” ucap Vadeo dengan suara berat, sebab mengumpulkan segenap tenaga untuk menggendong istri dan kedua anaknya yang masih di dalam kandungan.
Akhirnya mereka selamat sampai di depan pintu kamar. Vadeo lalu menurunkan tubuh istrinya sebab mereka berdua kesulitan membuka pintu jika tidak menurunkan tubuh Alexandria.
Dengan pelan pelan Alexandria membuka pintu kamar. Dan saat pintu sudah terbuka ...
“Kak, bagus dan cantik sekali kamarnya..” ucap Alexandria terus melangkah masuk ke dalam kamar sambil memegang perutnya sebab dia merasakan kedua anaknya bergerak gerak. Vadeo pun ikut melangkah di samping istrinya sambil turut memeluk perut Alexandria.
“Al ayo kita bergoyang agar kelahiran anak anak kita nanti lancar..” bisik Vadeo di telinga Alexandria.
__ADS_1