Alexandria

Alexandria
Bab. 170. Hadiah


__ADS_3

“Hallo.” ucap Tuan William setelah menggeser tombol hijau, beliau lalu terlihat serius mendengarkan lawan bicara nya yang sedang berbicara di dalam hand phone itu. Ketiga perempuan yang juga duduk di sofa di ruang keluarga itu tidak ada yang berani berucap sepatah kata pun juga. Mereka ingin mendengarkan apa yang sedang Tuan William bicarakan yang terlihat serius itu akan tetapi mereka tidak bisa men dengarkan sebab Tuan William tidak mengaktifkan menu speaker di hand phone nya. Dan Tuan William pun belum berbicara masih mendengarkan dan masih dengan ekspresi serius dan lama lama wajahnya pun terlihat kaku bagai menahan suatu emosi.


“Aku sudah mencarikan tempat yang bagus tetapi masih kamu tolak. Tempat macam apa yang akan kamu gunakan untuk terapi Alexandria istrimu. Itu sudah tempat yang terbagus terbaik.” ucap Tuan William dengan nada tinggi. Kini ketiga perempuan itu sudah bisa mengira kalau Tuan William sedang bicara dengan Vadeo.


“Besok kamu dan Alexandria ke sini, bicara enam mata denganku.” ucap Tuan William lalu memutus sambungan teleponnya. Tuan William lalu menaruh lagi hand phone nya di saku bajunya.


“Pa, kenapa tidak delapan mata, aku juga ingin ikut bicara, aku yang mengandung Alexa Pa, aku harus ikut berbicara dalam membahas masalah penting untuk anakku.” ucap Nyonya William sambil menatap suaminya.


“Pa, digenapi sepuluh mata Pa, aku mau ikut juga, aku mau menawarkan rahim Kak Ixora siapa tahu rahim Mama sudah keriput tidak bagus untuk tempat keponakanku.” ucap Dealova yang seketika mendapat timpukan dari Ixora yang duduk tidak jauh dari dirinya dan seketika juga Nyonya William langsung mengambil tisu yang ada di atas meja dan dibuat bola bola dan segera dilempar ke arah Dealova. Dealova yang mendapat lemparan bola bola tisu hanya terkekeh.


“Sembarangan aja, masih kencang ya Pa..” ucap Nyonya William kemudian sambil menepuk pelan paha suaminya. Tuan William tidak menghiraukan ucapan istri dan kedua anaknya. Pikirannya masih pada Vadeo yang menolak tempat yang sudah dia booking kan.


“Vadeo menolak tempat terapi yang sudah aku booking, katanya kurang menjaga privasinya.” ucap Tuan William dengan nada serius.


“Hmmm mungkin memantuku sepaham dengan aku Pa, butuh... suatu tempat yang sunyi sepi dan terisolasi dari dunia modern. Tempat yang Papa tawarkan itu berarti kalau sudah di booking mending buat kita saja Pa.. “ ucap Nyonya William namun dia belum selesai berbicara Tuan William sudah bangkit berdiri dan berjalan meninggalkan mereka mereka para perempuan.


Sementara itu Vadeo setelah menelepon Tuan William langsung berjalan menuju ke kamarnya. Saat membuka kamar terlihat Mamanya dan Alexandria masih berbincang bincang, akan tetapi lebih banyak Nyonya Jonathan yang berbicara dan Alexandria lebih banyak mendengarnya.


“Kak..” sapa Alexandria saat Vadeo berjalan masuk dan mendekat ke arah sofa. Alexandria benar benar penasaran dan kuatir dengan dipanggilnya Vadeo oleh Papa mertuanya.

__ADS_1


“Deo, sudah selesai Papamu berbicara pada kamu? Kalau sudah aku mau turun.” ucap Nyonya Jonathan lalu dia bangkit berdiri. Vadeo hanya menganggukkan kepala lalu mengucapkan terima kasih pada sang Mama demikian juga Alexandria pun mengucapkan terima kasih pada Sang Mama yang sudah sangat memperhatikan dan mendukung dirinya.


“Kalian berdua harus cukup istirahat ya.. jangan memikirkan masalah yang berat berat.” ucap Nyonya Jonathan saat sudah berada di pintu sambil menoleh menatap Vadeo dan Alexandria. Lagi beliau keluar dan menutup pintu rapat rapat.


“Kak, Papa bicara apa?” tanya Alexandria saat Nyonya Jonathan sudah keluar dari kamar dan sudah menutup pintu kamarnya.


“Apa Papa minta...” ucap Alexandria selanjutnya namun tidak berlanjut sebab jari telunjuk Vadeo sudah menempel di bibirnya.


“Sttttttttt...” desis suara Vadeo agar Alexandria tidak melanjutkan kalimatnya dan tidak hanya berhenti di situ Vadeo yang sudah duduk di samping Alexandria itu pun mengecup lembut bibir Alexandria setelah dia menarik telunjuk jarinya yang tadi menempel di bibir cantik Alexandria.


“Manis.” ucap Vadeo selanjutnya setelah mengecup bibir Alexandria sambil tersenyum dan memeluk tubuh Alexandria dari samping disandarkan tubuh Alexandria di dada bidangnya.


“Al, Papa Jo dan Papa William akan kembali mengurusi perusahaan sementara kita melakukan terapi dan pengobatan.” ucap Vadeo selanjutnya


“Tidak apa apa, mereka juga belum pantas pensiun he... he... he...” ucap Vadeo sambil tertawa kecil.


“Aku minta waktu satu minggu untuk masa transisi. Terus kita akan pergi ke suatu tempat.” ucap Vadeo selanjutnya


“Kemana Kak?” tanya Alexandria sambil menatap Vadeo

__ADS_1


“Papa William menawarkan suatu tempat tapi aku tidak setuju, privasi kita kurang terjaga, meskipun Papa sudah pilihkan yang VIP tetapi aku punya tempat yang lebih cocok buat kita.” jawab Vadeo tangannya masih memeluk Alexandria dan jari jarinya mengusap usap pundak Alexandria.


“Dimana?” tanya Alexandria dengan ekspresi wajah penasaran sambil masih menatap wajah suaminya.


“Al... Aku sebenarnya ingin memberikan suatu kejutan buat kamu.. Aku membeli satu buah pulau yang cantik sebagai hadiah buat kamu. Selama ini aku sedang menyiapkan infrastruktur nya. Aku ingin mengajak mu ke sana saat semua sudah selesai.” ucap Vadeo dengan hati hati.


“Tapi karena masalah yang sedang kita hadapi sekarang ini, jadi menuntut kita lebih awal untuk datang ke pulau itu. Maaf jika nanti sampai di sana belum sempurna. Aku harap kamu mau kita melakukan terapi di sana.” lanjut Vadeo lagi


“Kak Deo, di mana pun aku mau asal dengan Kak Deo.” ucap Alexandria sambil menatap wajah Vadeo.


“Terima kasih buat hadiahnya. Maaf aku belum bisa memberi hadiah buat Kak Deo.” ucap Alexandria selanjutnya sambil memeluk tubuh Vadeo.


“Al, kamu adalah hadiah terindah buatku.” ucap Vadeo sambil mengecup puncak kepala Alexandria. Dan jari jari tangannya mulai menyibak rambut panjang yang menutupi leher belakang Alexandria, dengan lembut dijadikan satu dan dipindah ke salah satu sisi pundak Alexandria bagian depan, ciuman Vadeo pun mulai turun ke tengkuk mulus Alexandria


“Aku ingin membuka hadiahku ....” bisik Vadeo di telinga Alexandria dan jari jarinya sudah mulai berada di kancing baju Alexandria.


“Kak...” ucap Alexandria yang tangannya memeluk tubuh Vadeo dan kepalanya terkulai pasrah pada tubuh Vadeo.


“Hmmmmm.. saran dari Dokter kita harus menambah frekuensi dan durasinya.” bisik Vadeo yang tangannya sudah mulai beraksi membuka kancing baju Alexandria.

__ADS_1


“Kak, aku belet pipis..” ucap Alexandria selanjutnya sambil mendongakkan kepalanya dan siap siap akan ke kamar mandi. Vadeo tidak kehabisan akal dia pun langsung bangkit berdiri dan menggendong tubuh istrinya dengan segera untuk dibawa menuju ke kamar mandi.


.....


__ADS_2