Alexandria

Alexandria
Bab. 175. Pulau Alexandria


__ADS_3

“Ayo Deal..” ajak Ixora lagi sambil menarik tangan Dealova.


“Aku kan ingin dengar pembicaraan enam mata, Kak..” bisik Dealova yang didengar oleh Tuan William dan seketika Tuan William menatap tajam ke arah Dealova.


“Kalian lihat Kakakmu sana!” perintah Tuan William pada Ixora dan Dealova setelah beliau menyesap teh dari cangkirnya.


“Deo, kita tunggu Alexandria dulu, nanti kalian makan malam di sini kalau perlu tidur di sini.” ucap Tuan William selanjutnya sambil menatap Vadeo. Vadeo menjawab dengan menganggukkan kepala dengan sopan.


“Kakak Ipar pertama diminum dulu teh nya, maaf ya aku tinggal sebentar.” ucap Dealova dengan senyum dan suara cemprengnya. Vadeo pun menjawab dengan mengangkat ibu jarinya. Dealova dan Ixora lalu tersenyum dan melangkah meninggalkan ruang keluarga, mereka berdua tahu jika Vadeo pun ingin menyusul ke kamar Alexandria akan tetapi sungkan karena ada Sang Papa.


Sementara itu, Alexandria yang berada di dalam kamar nya, dia sedang berdiri di depan lemari bukunya dia mencari cari buku yang berisi tentang teknologi yang minim radiasi. Sudah ada beberapa buku tebal tebal dia ambil dari tempatnya.


“Kak... “ suara kedua adiknya sambil membuka pintu kamar Alexandria yang tidak dikunci.


“Kak Alexa mencari buku apa?” tanya Ixora yang penasaran dengan Kakaknya yang tampak serius mencari buku buku.


“Teknologi meminimalisir radiasi yang berbahaya.” jawab Alexandria sambil mata dan tangannya masih mencari cari lagi buku yang dia kehendaki.


“Kenapa otakku berbeda dengan Kak Alexa ya, aku kalau membaca buku yang berhubungan dengan teknologi, fisika dan teman temannya langsung pusing dan mengantuk mataku...” gumam Dealova sambil duduk di kursi di dekat Alexandria masih sibuk mencari buku buku yang diperlukan.


“Jangankan membaca, mendengar orang menyebut kata teknologi saja otakku langsung beku.” ucap Dealova lagi


“Otakmu langsung encer dan mata berbinar kalau dengar dan lihat cowok ganteng dan keren he.. he... “ ucap Ixora sambil duduk di tepi tempat tidur Alexandria yang senantiasa bersih dan rapi meskipun tidak ditempati oleh Alexandria dan Vadeo setiap hari.


“Heleh sama..” ucap Dealova sambil mencibir ke arah Ixora.


“Setiap orang memiliki pasion, kemampuan dan kecerdasan yang berbeda beda.” ucap Alexandria sambil memegang sebuah buku tebal dan menatap Dealova


“Mungkin kamu cerdas di bidang seni Deal. “ ucap Alexandria selanjutnya sambil tersenyum menatap Dealova.


“Benar Kak, aku cerdas jika membedakan hal hal yang secara visual keren atau tidak ha... ha... “ ucap Dealova sambil tertawa.


Sedangkan Ixora menatap Sang Kakak dengan ekspresi wajah antara kagum dan haru jadi satu. Ixora paham jika Sang Kakak sedang berjuang dengan masalahnya akan tetapi tidak memperlihatkan kesedihan di depan adik adiknya.

__ADS_1


“Bukunya mau dibawa Kakak ya?” tanya Ixora kemudian.


“Iya Sayang, karena aku sudah dibatasi memakai alat alat elektronik jadi dech harus bawa barang barang ini. Dan semoga bisa membuat alat yang minim radiasi.” jawab Alexandria sambil menatap Ixora. Ixora lalu berjalan mendekat dan membantu Alexandria, Dealova pun juga membantu menyiapkan buku buku yang akan dibawa oleh Alexandria.


“Yuk, turun pasti sudah ditunggu Papa.” ajak Alexandria selanjutnya, lalu mereka bertiga keluar dari kamar dan berjalan menuruni anak tangga untuk menuju ke ruang keluarga.


Saat mereka bertiga sudah di dalam ruang keluarga tampak Tuan dan Nyonya William berbicara serius pada Vadeo yang tampaknya mereka berdua banyak memberi nasehat pada Vadeo agar sabar dan setia pada Alexandria.


“Al, kalau kamu sudah selesai, ayo kita ke ruang kerjaku.” ajak Tuan William sambil menatap Alexandria


“Biarkan Alexandria duduk dan minum teh nya dulu Pa.” ucap Nyonya William sambil menatap wajah Alexandria, dan Tuan William pun mengangguk setuju.


Setelah Alexandria selesai minum teh dan memakan kudapan, dia mengajak Papa nya untuk memulai pembicaraan yang akan disampaikannya.


“Ayo Pa, aku ikut ya..” ucap Nyonya William langsung bangkit berdiri malah beliau yang lebih dulu bangkit dan berjalan menuju ke ruang kerja Tuan William dibanding Tuan William juga Alexandria dan Vadeo. Alexandria dan Vadeo pun segera menyusul Nyonya William.


“Pa jadi digenepi sepuluh mata tidak?” tanya Dealova yang duduk di samping Ixora.


“Kamu bawa ke dapur itu cangkir dan teman temannya.” perintah Tuan William pada Dealova dan beliau segera berjalan menyusul istri, anak dan menantunya. Dealova pun hanya bisa nyengir.


Tuan William lalu masuk ke dalam ruang kerjanya dan menutup pintu dengan rapat rapat tidak lupa menguncinya. Beliau lalu duduk di salah satu sofa sambil menatap tiga orang yang duduk di sofa panjang.


“Deo, langsung saja kalau kamu menolak tempat yang sudah aku pilihkan, kamu akan bawa kemana Puteriku?” tanya Tuan William sambil menatap tajam ke wajah Vadeo. Tuan William pun menyandarkan punggungnya ke sandaran sofa agar pikirannya sedikit rileks.


“Akan saya bawa ke pulau Alexandria, Pa.” jawab Vadeo sambil menatap Tuan William. Tuan William yang mendengar jawaban Vadeo langsung menegakkan punggungnya lagi, tidak jadi bersandar.


“Kamu jangan bercanda Deo, ini masalah serius buat aku.” ucap Tuan William dengan nada tinggi.


“Serius buat aku juga Pa.” saut Nyonya William


“Deo apa Alexandria akan kamu bawa lagi ke luar negeri apa akan kamu bawa ke pulau Pharos di Mesir, yang ada mercusuar Alexandria itu?” tanya Tuan William sambil menatap tajam ke wajah Vadeo.


“Deo jangan kamu bawa jauh jauh Alexa, di sini masih banyak tempat.” ucap Nyonya William sambil mempererat pelukannya untuk Alexandria.

__ADS_1


“Tidak Pa, Ma.. Kami akan di Indonesia saja.” jawab Vadeo sambil memeluk tubuh Alexandria, tangan Nyonya William yang mengganggunya pelan pelan dia singkirkan. Tetapi Nyonya William tidak rela dan semakin mempererat dan menarik tubuh Alexandria agar lebih mendekat pada dirinya.


“Kak Deo membeli pulau Pa, Ma..” ucap Alexandria membantu menambah jawaban dari Vadeo.


“Ha? Yang bener?” tanya Nyonya William yang tampak kaget.


“Iya Ma, pulau itu hadiah buat Alexandria dan saya beri nama pulau Alexandria.” jawab Vadeo sambil tersenyum menatap Alexandria penuh cinta. Manik manik mata Vadeo berkelip kelip bagai ada lampu lampunya karena pancaran cinta dari hatinya.


“Di mana itu? Apa aman buat puteriku, dengan transportasi apa menuju ke sana? Bagaimana fasilitas untuk kelayakan hidup?” tanya Tuan William secara beruntun.


“Semua sudah saya siapkan Pa. Transportasi umum tidak ada untuk menuju ke lokasi itu. Besok kami akan memakai jet pribadi.” jawab Vadeo


“Aku ikut.” saut Nyonya William.


“Ma, Alexandria sudah memiliki suami yang bertanggungjawab untuk menjaganya. Mama masih memiliki Ixora dan Dealova yang masih membutuhkan perhatian dari Mama.” ucap Tuan William sambil menatap istrinya. Dia sebenarnya juga akan berkata masih memiliki suami yang membutuhkannya, akan tetapi kalimat itu akan diucapkan nanti saja saat berdua di kamar tidurnya.


“Tapi Alexa kan sedang memiliki masalah.” ucap Nyonya William sambil menatap sendu ke arah Alexandria.


“Ma, masalah Alexandria masalah saya juga. Kami akan berusaha mengatasi bersama.” ucap Vadeo sambil memeluk Alexandria dari samping tidak lagi menghiraukan tangan Nyonya William.


“Kalau kami akan mengunjungi kalian bagaimana?” tanya Tuan William


“Makanya Papa beli jet pribadi.” Saut Nyonya William


“Papa bisa sewa jet atau kapal untuk menuju ke sana.” jawab Vadeo.


“Bagaimana kalau pilot kamu menjemputku?” tanya Nyonya William


“Baiklah nanti Mama hubungi saya Ma.” jawab Vadeo sambil tersenyum dan tampak Nyonya William sangat senang.


Selanjutnya tampak Tuan William menanyakan segala kesiapan Vadeo dan segala hal yang dibutuhkan untuk kelayakan hidup secara mendetail. Juga tentang pengobatan dan terapi untuk Alexandria. Vadeo dan Alexandria pun menjelaskan semuanya termasuk Tim dokter yang diketuai oleh dokter pribadi keluarga William. Tuan William tampak setuju dengan hal itu sebab sudah ada asisten pak dokter yang menggantikan sebagai dokter keluarga selama dokter tersebut ikut pada Alexandria dan Vadeo.


“Okeylah aku percaya pada kalian.” ucap Tuan William selanjutnya.

__ADS_1


Akan tetapi tiba tiba terdengar suara....


GOBRAK!!!!!


__ADS_2