Alexandria

Alexandria
Bab. 219


__ADS_3

Nyonya Jonathan lalu segera memutus sambungan teleponnya dengan sang suami. Dengan tangan gemetar dia lalu menghubungi pelayan yang ada di dalam mension Jonathan.


“Hallo Nyonya...” ucap sang pelayan di seberang sana setelah menerima panggilan telepon dari Nyonya Jonathan


“Tolong segera kamu lihat Tuan Jonathan.” perintah Nyonya Jonathan dengan tidak sabar.


“Haduh Nyonya, Tuan Jonathan belum pulang.” ucap sang pelayan yang belum melihat sosok Tuan Jonathan masuk ke dalam Mension.


“Ada apa Nyonya?” tanya sang pelayan yang berada di mension Jonathan. Akan tetapi Nyonya Jonathan tidak menjawab pertanyaan itu, beliau segera menutup sambungan teleponnya dengan sang pelayan lalu segera mengusap usap hand phone nya untuk menghubungi sekretaris Rio.


“Pak Rio sedang di mana?” tanya Nyonya Jonathan dengan tidak sabar saat Pak Rio sudah menerima panggilan teleponnya


“Saya di ruang divisi Nyonya.” jawab Pak Rio


“Ada apa Nyonya ?” tanya Pak Rio kemudian dengan nada cemas sebab terbawa oleh nada suara Nyonya Jonathan yang cemas dan tidak sabar.


“Apa Tuan Jonathan di ruang kerja seorang diri?” ucap Nyonya Jonathan balik bertanya dengan nada suara lebih kuatir.


“Iya Nyonya, saya sekarang sedang meeting dengan staf divisi.” jawab Pak Rio


“Kamu segera ke ruangan Tuan Jonathan sekarang juga!” perintah Nyonya Jonathan


“Nyonya meskipun Tuan Jonathan sendirian di ruang kerja tetapi aman Nyonya, beliau tidak akan membawa perempuan masuk ke ruang kerjanya meskipun ditinggal Nyonya pergi berbulan bulan.” ucap Pak Rio yang mengira Nyonya Jonathan mencurigai suaminya


“Bukan masalah itu, aku habis menelepon dia tetapi ada suara benda jatuh dan setelahnya tidak ada suaranya.” teriak Nyonya Jonathan yang sudah tidak sabar dan kecemasannya sudah memuncak.


“Ooo ya... ya... Nyonya saya segera ke ruang Tuan Jonathan. “ ucap Pak Rio dan sambungan telepon pun kemudian terputus karena sudah diputus oleh Nyonya Jonathan.


Pak Rio pun segera ijin dari acara meeting nya dan segera melangkah keluar dari ruangan divisi sekretaris dan dengan langkah lebaran dia menuju ke ruang Tuan Jonathan.


Pak Rio segera menekan tombol pass word pintu sesampainya dia sudah berada di depan pintu ruang Tuan Jonathan. Setelah pintu terbuka Pak Rio segera masuk. Akan tetapi dia tidak melihat sosok Tuan Jonathan.


Pak Rio terlihat bingung, cemas dan takut.


“TUANNN.” panggil Pak Rio dengan suara keras


“Apa.” jawab Tuan Jonathan Mendengar ada suara Tuan Jonathan, pak Rio tampak lega lalu dia melangkah mendekati arah suara. Dan dilihatnya Tuan Jonathan sedang jongkok di bawah meja karena sedang memunguti berkas berkas yang berserakan karena jatuh.


“Kamu lanjutkan itu, dan urutkan seperti pada urutan semestinya. “ ucap Tuan Jonathan selanjutnya sambil bangkit berdiri.

__ADS_1


“Baik Tuan.” ucap Pak Rio sambil membungkuk untuk mengambil satu buku tebal yang juga terjatuh dari tempatnya. Pak Rio terlihat lega karena Tuan Jonathan sehat sehat saja. Pak Rio lalu menaruh buku tebal itu pada tempatkan selanjutnya dia menggantikan posisi Tuan Jonathan yang jongkok di bawah meja untuk memunguti berkas berkas.


Tuan Jonathan pun segera melangkah menuju ke sofa yang tentu saja sudah membawa hand phone nya yang tadi dia taruh di atas meja.


Tuan Jonathan mengusap usap layar hand phone nya untuk menghubungi istrinya.


“Ma... maaf tadi aku kaget hand phone sampai terjatuh, saat aku ambil hand phone malah tubuhku menyenggol buku di rak yang buku terjatuh saat aku berjalan untuk mengambil buku yang terlempar malah tubuhku menyenggol tumpukan berkas di atas meja.” ucap Tuan Jonathan saat sambu ngan suara sudah terhubung.


“Papa aku sudah cemas dan kuatir kalau Papa kenapa napa..” ucap Nyonya Jonathan yang kini sudah lega.


“Aku kaget karena berita bahagia itu Ma.” ucap Tuan Jonathan


“Tapi aku juga bingung karena harus mendesain ulang semuanya, dan harus membeli lagi perlengkapan yang sama.” ucap Tuan Jonathan selanjutnya


“Dan orang orang yang aku suruh otomatis akan tahu kalau cucu kita kembar.” ucap Tuan Jonathan lagi.


“Pa, tapi masih belum pasti, Papa siap siap nyuruh orang orang nunggu kalau sudah ada kepastian dulu.” ucap Nyonya Jonathan


“Iya iya... Ma..” ucap Tuan Jonathan dan setelahnya mereka berdua ngobrol tentang rencana acara tujuh bulanan dan curhatan Tuan Jonathan yang sudah sangat rindu dengan keluarga. Dan setelah puas mengobrol Tuan Jonathan memutus sambungan teleponnya.


“Tuan apa benar cucu Tuan kembar?” tanya Pak Rio yang sudah menyelesaikan tugasnya


“Kamu nguping ya?” ucap Tuan Jonathan malah balik bertanya


“Ya sudah tetapi kamu jangan cerita pada siapa siapa dulu, sebab kepastiannya masih menunggu hasil USG.” ucap Tuan Jonathan


“Karena kamu sudah mendengar sekarang kamu keluar dan beli lagi perlengkapan bayi yang sama seperti yang dulu kamu beli.” perintah Tuan Jonathan kemudian.


Waktu pun terus berlalu dan tiba saatnya kandungan Alexandria sudah kuat untuk dilakukan USG.


Vadeo dan Nyonya Jonathan menemani Alexandria duduk di kursi ruang tamu untuk menunggu kedatangan sang dokter. Ibu pelayan pun bolak balik berjalan dari dapur menuju ke ruang tamu untuk melihat sang dokter sudah datang atau belum.


“Bu, apa Pak Satpam sudah menelpon?” tanya Nyonya Jonathan saat melihat sang pelayan masuk ke ruang tamu.


“Belum, saya kuatir pak satpam tidak menelpon saya dan Bu Dokter sudah datang. Saya kan harus membuatkan minum" jawab sang pelayan yang sebenarnya dia sudah tidak sabar untuk melihat hasil USG kandungan Alexandria.


“Kalau nanti sudah datang aku kasih tahu Bu, agar kamu tidak bolak balik ke sini.” ucap Nyonya Jonathan sambil menatap Sang pelayan. Dan saat sang pelayan akan membalikkan tubuhnya.


TOK ... TOK... TOK... TOK.

__ADS_1


Terdengar suara ketukan di pintu depan. Sang pelayan pun segera melangkah menuju ke pintu depan. Dan setelah pintu terbuka wajah sang pelayan pun tersenyum lebar sebab yang ditunggu tunggu sudah datang.


Dokter perempuan setengah baya ditemani oleh Pak Dokter pimpinan tim dan juga Richardo membawakan alat USG.


“Silahkan Dok.” ucap sang pelayan. Kedua Dokter itu pun segera melangkah masuk. Vadeo dan Nyonya Jonathan terlihat bangkit berdiri untuk menyambut kedatangan Dokter yang sudah dinanti nanti.


Semua orang berdebar debar untuk mengetahui hasil USG kandungan Alexandria.


Terlihat Richardo berjalan menuju ke kamar periksa untuk menaruh alat medis itu. Dan setelah Richardo keluar, kedua Dokter itu yang gantian masuk untuk mempersiapkan alat alat agar bisa beroperasi dengan baik.


Dan beberapa saat kemudian,


“Silahkan masuk Nona.” ucap Dokter perempuan setengah baya, dan pak Dokter pimpinan tim pun sudah keluar dari kamar periksa.


“Dok saya boleh masuk kan?” tanya Vadeo sambil membantu Alexandria berdiri, selain perut yang sudah besar karena jantung Alexandria berdebar debar menjadi sangat susah untuk berdiri.


“Boleh Tuan bahkan harus agar Tuan bisa melihat langsung.” jawab Ibu Dokter


“Dok, saya juga masuk ya, saya pengen lihat cucu cucu saya.” pinta Nyonya Jonathan sambil tersenyum


“Silahkan Nyonya.” ucap Dokter perempuan setengah baya juga tersenyum. Dokter itu lalu masuk ke dalam dan duduk di kursi di dekat tempat tidur. Peralatan medis berada di atas meja yang tidak jauh dari dirinya.


Alexandria, Vadeo dan Nyonya Jonathan pun sudah masuk ke dalam kamar.


“Silahkan Nona Alexa berbaring.” ucap Dokter perempuan setengah baya itu. Alexandria pun lalu berbaring dan dibantu oleh sang suami. Dan setelahnya Vadeo duduk di tepi tempat tidur itu. Sementara Nyonya Jonathan menarik satu kursi yang ada di kamar itu dan duduk di kursi itu mengambil posisi agar bisa melihat layar monitor agar nanti bisa melihat cucunya.


Ibu Dokter mulai memeriksa tekanan darah dan detak jantung Alexandria.


“Santai saja ya Non kita berdoa, berusaha dan berserah pada Nya..” ucap Ibu Dokter saat melihat tekanan darah Alexandria agak naik, mungkin sedang nervous akan hasil USG.


Ibu Dokter itu lalu mengoles oleskan jel pada perut Alexandria dan selanjutnya menggeser geserkan alatnya.


“Semoga sehat dan normal.” ucap Alexandria sambil memejamkan matanya. Sebab ada sebersit kekuatiran di hati Alexandria jika anaknya kembar siam.


“Aaaaminnnn.” ucap yang lainnya yang berada di dalam kamar periksa itu sambil pandangan mata tertuju pada layar monitor.


Sementara itu, di luar kamar periksa. Dokter pimpinan tim dan Richardo duduk di kursi tamu, dan tidak lama kemudian sang pelayan datang dengan membawa minuman dan makanan kecil.


Setelah selesai menaruh cangkir cangkir minuman dan kotak makanan, sang pelayan tidak kembali ke dapur tetapi masih berdiri di situ.

__ADS_1


“Pak Dokter, bagaimana kandungan Nona Alexa?” tanya sang pelayan yang juga turut ingin tahu kondisi janin di dalam kandungan Alexandria.


“Saya juga belum tahu, masih diperiksa di dalam oleh Ibu Dokter.” jawab Pak Dokter pimpinan tim. Dan sang pelayan terlihat masih berdiri sambil membawa nampan.


__ADS_2