
Setelah selesai menuntaskan hasratnya Vadeo kembali menggendong tubuh Alexandria yang sudah bersih dan terbalut oleh bath robe. Dia baringkan di tempat tidur.
“Terima kasih ya Sayang, aku ambilkan baju dulu..” ucap Vadeo yang sudah terpuaskan, Alexandria menjawab dengan senyuman, Vadeo lalu berjalan menuju ke lemari untuk mengambilkan baju tidur buat istrinya dan dirinya sendiri.
“Dipakai dulu, tapi entah kalau nanti aku lepas lagi.” ucap Vadeo dengan bibir tersenyum sambil menyerahkan baju tidur berbahan sutra pada Alexandria. Sedang kan dirinya pun sudah memakai tshirt dan celana boxer.
“Terima kasih Kak.” ucap Alexandria yang sudah duduk sambil menerima baju dari suaminya dan segera dia pakai. Mata Alexandria tampak berkaca kaca melihat kebaikan suami nya dia berharap kebaikan suaminya akan selama selamanya. Tidak terasa air mata Alexandria mulai meleleh.
“Apa lagi Sayang, jangan menangis lagi.. Aku sedih melihat orang yang aku cintai menangis.” ucap Vadeo yang kini duduk di tepi tempat tidur dan jari jarinya menghapus air mata Alexandria. Alexandria hanya menggelengkan kepalanya.
“Kalau kamu sedih itu berpengaruh pada hasil terapi dan pengobatan. Jika hatimu sedih akan memperlama prosesnya.” ucap Vadeo sambil menatap Alexandria dan tangannya membelai rambut kepala Alexandria.
“Kak Deo benar akan sayang pada ku selamanya?” tanya Alexandria jujur dengan perasaannya.
“Percayalah pada aku.” ucap Vadeo lalu memeluk lagi tubuh Alexandria.
“Sekarang kamu istirahat besok kita harus ke perusahaan untuk membereskan pekerjaan agar memudahkan Papa saat mengambil alih pekerjaan yang selama ini kita hendel.” ucap Vadeo sambil membaringkan tubuh istrinya.
“O ya besok kita harus menemui Papa William, kita harus berbicara masalah tempat untuk terapi kita.” ucap Vadeo yang selalu menggunakan istilah kita agar Alexandria tidak merasakan dirinya yang bermasalah akan tetapi hal itu merupakan masalah mereka berdua.
Alexandria pun tampak setuju sebab dia merasa lelah, lelah karena memikirkan masalah yang baru saja didapatnya dan lelah karena kegiatannya panas yang baru saja mereka lakukan di kamar mandi. Setelah Vadeo mengecup kening Alexandria dan selanjutnya saling mengecup lembut bibir, Alexandria pun mulai memejamkan matanya. Vadeo lalu menyalakan lampu tidur dan dia pun berbaring di samping tubuh istrinya.
Vadeo memeluk tubuh Alexandria, dan beberapa menit kemudian terdengar nafas Alexandria yang sudah teratur, Alexandria pun sudah mulai tertidur.
Vadeo melepas pelukannya lalu dia bangkit berdiri dan berjalan menuju ke tempat di mana hand phone nya tadi di taruh. Vadeo mengambil hand phone nya lalu dia berjalan menuju ke sofa, dia ingin menghubungi seseorang dia agak menjauh dari tempat tidur agar suaranya tidak mengganggu istrinya. Dan melindungi istrinya dari radiasi yang terpancar.
Vadeo mengaktifkan hand phone nya lalu dia mengusap usap layar hand phone nya, lalu dia segera melakukan sambungan suara dengan seseorang.
“Kamu turunkan di lapangan golf Papa. Satu minggu lagi aku akan pakai. Jadi harus siap sebelumnya.” ucap Vadeo setelah tersambung dengan lawan bicaranya di hand phone nya. Setelah mendapat kesanggupan, Vadeo lalu memutus sambungan teleponnya.
__ADS_1
Vadeo terlihat belum beranjak dari tempat duduknya, dia mengusap usap layar hand phone nya masih mencari nama kontak seseorang yang akan dihubungi nya juga. Setelah mendapatkan kontak nama yang dikehendaki Vadeo langsung melakukan panggilan suara.
“Satu minggu lagi aku akan tinggal di situ, harus segera kamu selesaikan, dan semua pegawaimu harus segera meninggalkan pulau itu.” ucap Vadeo setelah sambungan terhubung pada kontraktor yang bertanggung jawab pada pengerjaan infra struktur di pulau itu.
Vadeo terlihat diam dan mendengarkan apa yang dibicarakan oleh lawan bicaranya di handphone nya.
“Yang vital yang diutamakan lebih dulu. Maaf ini juga diluar rencana.” ucap Vadeo selanjutnya.
“Bagus, yang utama adalah keamanan masalah estetika bisa dilanjut kemudian hari.” ucap Vadeo kemudian. Dan setelah terjadi kesepakatan, Vadeo memutus sambungan teleponnya.
Vadeo masih belum juga beranjak dari tempat duduknya, dia masih sibuk dengan layar hand phone nya. Kini dia mencari nama Vincent di daftar kontak pada hand phone nya. Dan setelah di dapat dia segera melakukan panggilan suara.
“Hal Bro, butuh bantuan apa.” suara Vincent setelah dia menggeser tombol hijau.
“Vin, aku kali ini benar benar membutuhkan bantuanmu.” ucap Vadeo selanjutnya
“Ada apa Bro kok terdengar sedih nada suaramu?” tanya Vincent yang sudah begitu hafal dengan sahabatnya
“Bukannya Alexandria sudah bisa menjaga dirinya sendiri?” ucap Vincent heran dengan permintaan Vadeo
“Ini masalahnya Vin. Alexandria terkena radiasi gelombang elektromagnetik yang menyebabkan dia agak sulit hamil, kami di sana akan melakukan terapi, Alexandria harus membatasi diri dari alat alatnya itu.” ucap Vadeo kemudian.
“Ha tolong katakan lagi Deo, aku bermimpi apa ini suatu kenyataan?” teriak Vincent dengan nada kaget.
“Benar Vin, aku serius, radiasi gelombang elektromagnetik membuat Alexandria sulit hamil.” ucap Vadeo lagi. Dan Vincent pun terlihat kaget sampai hand phone nya terlempar, karena secara spontan kedua tangannya memegang burungnya yang dilindungi oleh celana boxer nya. Dia pun takut jika itu juga terjadi pada dirinya sebab dia pun sama seperti Alexandria yang banyak berkutat dengan alat alat yang memancarkan gelombang elektromagnetik.
“Vin... Vin...” suara Vadeo agak keras sebab tidak ada lagi suara Vincent di hand phone nya.
Suara Vadeo pun membuat Alexandria terbangun. Alexandria membukakan matanya dan mencari suara suaminya. Saat dilihat suaminya berada di sofa, Alexandria pun bangkit dari tidurnya lalu duduk ditempat tidur sambil memandang suaminya.
__ADS_1
“Al, kamu terbangun ini gara gara Bule itu.” ucap Vadeo lalu bangkit berdiri dan berjalan menuju ke tempat tidur dia ingin Alexandria melanjutkan lagi tidurnya agar cukup istirahat nya.
“Kak Deo sedang apa kok tidak jadi tidur?” tanya Alexandria kepo.
“Sedang menghubungi Bule agar dia ikut ke pulau untuk menjaga kita.” ucap Vadeo sambil duduk di tepi tempat tidur.
“Oooo..” gumam Alexandria dan sesaat ada suara dering di hand phone Bram yang tadi sudah terputus sambungan telponnya dengan Bang Bule. Vadeo lalu mengusap usap puncak kepala Alexandria dan dia segera bangkit berdiri untuk mengambil hand phone nya.
“Kamu kenapa kok mendadak tidak ada suaramu?” tanya Vadeo saat sudah menggeser tombol hijau untuk menerima panggilan balik dari Vincent.
“Sorry Bro, aku kaget saja.” Jawab Vincent
“Eh Bro, sorry lagi aku tidak bisa ikut kalian, aku sedang ada tugas penting sudah kontrak tidak boleh didelegasikan pada pihak lain.” ucap Vincent selanjutnya
“Kalau kalian mau biar Richard atau Eveline. Dua anak itu rekomendate, sangat loyal dan bisa diandalkan kemampuan nya. Kamu tinggal pilih salah satu dari mereka.” ucap Vincent kemudian . Vadeo tidak berucap apa apa dia masih berpikir pikir. Dia merasa tidak rela jika Richardo pemuda tampan dan masih muda itu yang akan menjadi pengawal Alexandria. Dan kalau Eveline dia kuatir jika membikin masalah seperti halnya Chaterine.
“Deo.. Deo.. Apa kamu baik baik saja..” ucap Vincent membuyarkan lamunan Vadeo.
“Apa Eveline ada bibit pelakor?” tanya Vadeo kemudian.
....
bersambung besok ya...
...♥️♥️♥️...
...Reader tersayang ...
...Selamat Tahun Baru 2023...
__ADS_1
...Semoga kita semua selalu diberi kesehatan, keselamatan, kebahagiaan, dan rejeki lancar dari Allah.....
...🙏🙏🙏...