Alexandria

Alexandria
Bab. 182.


__ADS_3

Alexandria pun bangkit dari tidurnya lalu dia berjalan meninggalkan tempat tidur. Alexandria berjalan menuju ke lemari.


Alexandria membuka pelan pelan pintu lemari itu. Dia lalu mencari sarung milik suami nya.


“Ditaruh di mana ya sama Ibu pelayan. Kemarin aku bawakan beberapa helai kain sarung buat Kak Deo.” ucap Alexandria sambil mata dan tangannya mencari cari kain sarung milik Vadeo. Dan tidak lama kemudian Alexandria menemukan apa yang dia cari. Dia lalu menarik satu helai kain sarung milik suaminya yang akan dia gunakan untuk besok pagi mandi di sungai. Setelah mendapatkannya Alexandria lalu kembali berjalan menuju ke tempat tidurnya lagi untuk menyusul sang suami melanjutkan masuk ke alam mimpi.


Keesokan paginya, saat hari masih gelap Alexandria sudah membukakan matanya. Dia lalu pelan bangkit dari tidurnya berusaha agar Sang suami tidak ikut terbangun.


Pelan pelan Alexandria berjalan meninggalkan tempat tidur dan segera mengambil kain sarungnya. Dia segera berjalan keluar dari kamar tidurnya. Pelan pelan dia membuka pintu kamarnya agar Vadeo tidak mendengar, dengan pelan pelan juga dia berjalan meninggalkan kamar dan segera menuju ke arah dapur.


Alexandria sudah melihat nyala lampu terang di dalam dapur dan sudah terdengar aktivitas di dalam ruang dapur itu. Alexandria membuka pintu pelan pelan.


“Non.. sudah bangun?” tanya sang pelayan sambil menoleh ke arah suara pintu terbuka dan ada sosok Alexandria yang mengenakan piyama tidur sambil membawa kain sarung.


“Ayo Bu, ke sungai mumpung masih gelap tidak terlihat orang.” ajak Alexandria yang ingin mandi ke sungai namun malu jika hari sudah terang.


“Sebentar Non, tunggu sebentar agar tidak terlalu dingin airnya. Tenang saja tidak ada yang melihat. jadwal pegawai kebun datang seminggu lagi itu pun mereka datang jam delapan pagi.” jawab sang pelayan yang masih sibuk dengan pekerjaannya. Alexandria pun akhirnya menunggu di teras belakang sambil gerak gerak senam pagi sambil menghirup udara segar pagi. Burung burung pun mulai berkicauan menyambut pagi.


“Hmmm segar sekali... Mama pasti senang sekali jika ke sini.” gumam Alexandria sambil tersenyum membayangkan Mamanya pasti heboh melihat kebun sayur yang ada di kebun belakang.


Dan beberapa menit kemudian..


“Ayo Non.. “ ajak sang pelayan sudah berada di dekat Alexandria. Mereka berdua pun lalu berjalan menuju ke sungai, di sepanjang perjalanan sang pelayan selalu bercerita tentang masa kecil Vadeo.


“Tidak nakal Non, Tuan Muda Deo meskipun dinakali oleh Tuan Muda Justin tetap mengalah tidak membalas kalau sudah kesal cuma lantas lari pergi ke kamarnya.” ucap sang pelayan mengenang masa kecil Vadeo.


“Dan saat kelas enam dia setiap hari minta saya membuat bekal kue kue. Dan Bule Vincent itu yang bilang dia yang selalu makan bekal Tuan Muda. Ealah ternyata itu maunya bekal untuk Non Alexa dan ternyata Non Alexa sudah pindah ke luar negeri, saya sangat sedih waktu diberi tahu... kalau gadis kecil yang akan diberi bekal sudah pergi jauh.” ucap sang pelayan lagi.


“Eee lha kok sekarang jadi istrinya...” ucap sang pelayan selanjutnya sambil tertawa bahagia dan menggandeng tangan Alexandria.


“He... he... he...” tawa renyah Alexandria yang bahagia mengingat besarnya cinta Vadeo pada dirinya.

__ADS_1


Dan tidak lama kemudian mereka sudah sampai di tepi sungai. Sang pelayan yang sudah pernah mandi di sungai itu dengan segera menuju ke suatu pohon yang rindang untuk memakai kain batiknya dan melepas bajunya. Kini dia sudah memakai kain yang dililitkan sebatas bahu menutupi dada dan punggungnya hingga lutut.


Alexandria pun memakai sarung suaminya lalu melepas baju piyamanya. Tubuh Alexandria pun tertutup sarung dari batas dada hingga lutut sama seperti sang pelayan.


Suara burung burung berkicauan menyambut dua orang perempuan yang akan mandi di sungai yang jernih dan segar itu.


Pelan pelan telapak kaki Alexandria melepas sandal yang dia pakai, kakinya menginjak pasir pasir dan kerikil kerikil di tepi sungai itu. Alexandria benar benar merasakan sensasi menyatu dengan alam dan dengan cepat dia melangkah dan segera menceburkan diri di sungai itu.


“Bu ... segar sekali... Aku besok mau datang lagi, aku mau berenang.. besok aku bawa baju renang..” teriak Alexandria. Sang pelayan yang juga sudah menceburkan diri di sungai itu pun juga terlihat ikut senang.


Sementara itu di sebuah kamar. Vadeo tangannya akan memeluk tubuh istrinya. Akan tetapi matanya langsung terbuka saat di sampingnya hanya ada guling. Vadeo matanya mencari sosok Alexandria di dalam kamarnya. Akan tetapi tidak di dapatnya. Vadeo lalu bangun dan berjalan meninggalkan tempat tidurnya. Dia berjalan menuju ke kamar mandi dibuka pintu kamar mandi akan tetapi tidak ada sosok sang isteri di dalamnya.


Vadeo lalu berjalan menuju ke pintu kamarnya dan dengan segera dia membuka pintu kamar itu.


“Al....” teriak Vadeo memanggil istrinya akan tetapi tetap sepi tidak ada jawaban.


Vadeo lalu kembali berjalan untuk mengambil hand phone nya dan segera mengaktifkannya, dia lalu membuka aplikasi yang sudah terpasang untuk melihat rekaman CCTV..


Sesampai di tepi sungai dia melihat baju Alexandria dan baju sang pelayan yang berada di bawah pohon. Vadeo pun segera melepas tshirt yang dia pakai. Dan dia taruh di dekat baju piyama Alexandria. Tangan Vadeo lalu meraih baju sang pelayan dan dia segera berjalan menuju ke tempat dua perempuan yang sedang bermain main di sungai itu.


“Bu...” teriak Vadeo


“Tuan Muda..” suara sang pelayan sambil menoleh ke arah suara yang memanggilnya.


“Kak Deo...” ucap Alexandria lalu dia membenamkan tubuhnya masuk ke dalam air hingga sebatas leher.


“Tuan Muda kenapa membawa baju saya, apa mau jadi joko tarub...” ucap sang pelayan sambil berenang mendekat ke arah Vadeo. Dia paham jika dirinya disuruh memakai baju dan Vadeo akan menceburkan diri ke sungai menyusul isterinya.


“Sarung Joko tarub yang diambil dewi nawang wulan..” ucap Vadeo sambil tersenyum melihat istrinya yang masih berendam di sungai.


“Ha... ha... ha... joko tarub jaman now kehilangan sarung.. “ ucap Sang pelayan sambil tertawa. Dia yang sudah berada di dekat Vadeo lalu menerima bajunya

__ADS_1


“Ealah jamam emansipasi, sekarang dewi nawang wulan yang mengambil baju joko tarub..” ucap Ibu pelayan lalu segera memakai bajunya dan meninggalkan lokasi sungai untuk melanjutkan kerjanya.


“Sarung Bu...” teriak Vadeo meralat ucapan sang pelayan dan selanjutnya... terdengar suara..


BYUUUUUR....


Tubuh Vadeo pun sudah tercebur di sungai dan dia segera berenang menuju ke arah istrinya yang masih berdiam di tempat hanya leher dan kepalanya yang terlihat.


“Kak Deo kenapa tahu aku di sini?” tanya Alexandria setelah Vadeo sudah berada tidak jauh darinya.


“Aku akan mengambil sarungku he... he... he...” ucap Vadeo sambil mendekat ke arah Alexandria.


“Jangan Kak...” teriak Alexandria sambil memegang sarung di dadanya.


Vadeo pun terus mendekat ke arah Alexandria, setelah berada tepat di depan Alexandria, Vadeo menatap lekat wajah Alexandria yang terlihat sangat cantik karena wajah polosnya yang tampak segar oleh air sungai dan dengan rambut yang basah membuat dada Vadeo berdugup kencang.


“Sayang kamu cantik sekali...” ucap Vadeo yang kini tangannya membelai pipi Alexandria yang benar benar membuatnya gemas karena sangat segar, jari jari Vadeo pun pelan pelan berpindah membelai bibir cantik Alexandria dan akhirnya kepala Vadeo mendekat pada wajah Alexandria dan ...


CUP


Bibir Vadeo pun mendarat manis di bibir cantik Alexandria, ciuman lembut Vadeo berikan pada bibir cantik Alexandria dan akhirnya ciumannya semakin menuntut, Alexandria yang sudah pintar bercinta pun membalas ciuman sang suami yang semakin mengganas.


Tangan Vadeo pun mulai menjalar pada tubuh Alexandria dan lama lama sarung Vadeo pun sudah mengapung ngapung di permukaan air sungai.


Sementara itu di atas ranting pohon yang di bawahnya tempat baju Vadeo dan Alexandria. Ada dua ekor burung yang sedang berkicau riang.


CUIT... CUIT.... CUWIIIIIIIT... CUUUIIIIIT....


Dan selanjutnya salah satu burung itu mematuk matuk kepala burung yang satunya.. dan sesaat kemudian paruh kedua burung itu pun saling mematuk matuk, mungkin dua burung itu baper melihat dua anak manusia yang sedang memadu cinta di dalam sungai.


....

__ADS_1


__ADS_2