
“Aku minta ijin pada Nona Alexandria kalau aku mau ikut.” jawab Sang therapis sambil tersenyum senang sebab dia jadi teringat saat jalan jalan dengan Alexandria.
“Kok kamu senyum senyum?” tanya Dokter Loly kepo
“Apa kamu senang jalan jalan karena juga ada Tuan Richardo yang tampan dan muda itu.” ucap Dokter Loly kemudian sambil menatap tajam ke wajah sang therapis
“Aku tersenyum karena aku ingat terakhir kali jalan jalan dengan Nona Alexandria di pantai dan di laut. Pantai dan laut yang indah dan lezatnya ikan bakar dan kelapa muda.” jawab sang therapis sambil menelan salivanya sendiri yang mendadak keluar ingat nikmatnya ikan bakar dan kelapa muda.
“Saat itu Nona Alexandria makan ikan bakar sangat banyak... ternyata mungkin itu karena efek ngidam.” ucap sang Therapis selanjutnya sambil tersenyum bahagia.
“Terus bagaimana kamu tahu rencana Nona Alexandria akan jalan jalan. Terus bagaimana minta ijin nya?” tanya Dokter Loly menyelidik
“Nona Eveline yang cerita ke aku, kalau dia akan bertugas mengantar Nona Alexandria, terus aku bilang ke Nona Eveline jika aku ingin ikut.” jawab sang therapis dengan jujur.
“Terus Nona Eveline menghubungi Nona Alexandria gitu? Kan Nona Alexa jarang pegang hand phone.” ucap Dokter Loly yang masih menyelidik.
“Ya menghubungi Tuan Vadeo.” jawab sang therapis singkat.
“Senang nya Nona Eveline bisa berkomunikasi langsung dengan Tuan Vadeo.” ucap Dokter Loly yang terlihat iri.
“Ha...Ha... iri ya.. tetapi salah alamat. Yang menghubungi Tuan Vadeo adalah Tuan Richardo. Nona Eveline tahu rencana Nona Alexandria juga dari Tuan Richardo.” ucap sang therapis sambil tertawa
“Sudah aku mau masuk kamar mau kerja, aku akan menyiapkan materi therapi buat ibu hamil.” ucap sang therapis selanjutnya dan tangan nya mulai memegang handel pintu karena dia akan masuk ke dalam kamarnya dan akan segera menutup pintu kamarnya.
“Sial. Kamu masih bisa mendatangi rumah Tuan Vadeo karena masih punya tugas.” umpat Dokter Loly masih menahan agar pintu tidak segera ditutup.
“Sedangkan aku sekarang bertugas melayani karyawan yang membutuhkan.” ucap Dokter Loly selanjutnya sambil melepaskan tangannya dari daun pintu kamar Eveline.
“Hmmm kalau begitu aku dekati saja Richardo pemuda tampan itu.” gumam Dokter Loly sambil tersenyum licik. Dokter Loly pun lalu berjalan meninggalkan kamar sang therapis. Dia akan mulai mendekati Richardo guna melancarkan rencana jahatnya pada Alexandria.
Sementara itu, di rumah Vadeo. Setelah kedua Dokter kembali ke guest house. Vadeo memeluk Alexandria yang masih berdiri di depan pintu. Tepatnya memeluk perut Alexandria. Rasanya dengan memeluk perut Alexandria, Vadeo bagai memeluk isteri dan anaknya.
“Ayo Sayang kita tutup pintunya.” ucap Vadeo selanjutnya.
__ADS_1
“Mereka sangat baik ya Kak.. Pak Dokter memang tipe setia, setia pada keluarga William, setia pada isteri, setia pada sahabatnya.. “ ucap Alexandria sambil menatap dua punggung orang orang paruh baya itu.
“Iya langka bisa awet persahabatan sampai umur menua apalagi beda jenis kelamin.” ucap Vadeo juga kagum dengan mereka.
“Mereka tulus dalam persahabatan tidak ada intrik intrik.” ucap Alexandria lalu menutup pintu rumahnya saat sosok kedua Dokter itu sudah masuk ke dalam mobil yang akan mengantar mereka kembali ke guest house.
“O ya Sayang.. Kedua Mama akan berkunjung ke sini.” ucap Vadeo sambil berjalan dan masih memeluk perut Alexandria yang jalan di sampingnya.
“Benarkah?” tanya Alexandria minta keyakinan. Dia menoleh ke arah Vadeo dengan tatapan mata yang berbinar binar.
“Benar Sayang. Mama minta aku jemput..” ucap Vadeo lalu dia mengajak Alexandria duduk di sofa ruang tengah.
“Kalau Kak Deo jemput aku ikut..” pinta Alexandria sambil menatap wajah Vadeo dengan ekspresi wajah memohon.
“Sayang kamu kan tidak boleh perjalanan jauh jauh. Harus batasi aktivitas, harus hati hati jangan sampai jatuh dan terpeleset.” ucap Vadeo sambil mengusap usap punggung Alexandria yang duduk di sebelahnya.
“Tapi aku tidak mau ditinggal sendirian di sini.” ucap Alexandria yang membayangkan sepi jika tidak ada Vadeo di rumah, hanya ada satu pelayan dan kamar pelayan di lantai bawah.
“Ya sudah nanti biar Richardo yang menjemput Mama Mama kita..” ucap Vadeo selanjutnya sambil tangannya meletakkan kepala Alexandria agar bersandar di bahunya. Dia pun tidak tega pergi jauh jauh meninggalkan Alexandria.
“Tidak boleh.” ucap Vadeo
“Resiko terpeleset tinggi.” ucap Vadeo selanjutnya yang mengingat di tepi sungai ada batu batu yang untuk pijakan kaki yang beresiko membuat kaki terpeleset.
“Kak Deo gendong lagi dong..”
“kalau namanya resiko itu bisa juga membuat kakiku terpeset, kan juga bahaya jika aku terpeleset saat menggendong kamu. Besok kalau sudah besar kandungannya kalau janin sudah kuat..”
“Tapi Kak Deo kuat ga gendong aku? Tadi kan Dokter bilang berat badanku akan tambah.”
“Kuat lah..” ucap Vadeo sambil memencet hidung mancung Alexandria.
“Yuk, aku gendong naik ke atas, aku mau ngabari Richardo agar menjemput Mama.” ucap Vadeo selanjutnya
__ADS_1
“Oya Mama tanya, kamu mau pesan apa biar dibawakan Mama.” ucap Vadeo selanjutnya yang urung menggendong istrinya, karena ingat pesan Mama mertuanya.
“Kak, terus Mama tidur di mana?” tanya Alexandria
“Kamar atas hanya dua, satu untuk ruang kerja, satu untuk kamar kita. Lantai bawah ada dua kamar, satu untuk ibu pelayan satu untuk ruang periksa.” ucap Alexandria selanjutnya
“Di guest house, memang sudah aku design begitu rumah ini hanya untuk keluarga kecil kita. Besuk ruang kerjaku di bawah. Di atas buat kamar kita dan anak anak.” jawab Vadeo sambil mengusap usap perut Alexandria
“Di guest house juga ada kamar VIP kamu tidak usah kuatir.” ucap Vadeo selanjutnya dan dia langsung bangkit berdiri dan menggendong tubuh gadis kecilnya yang kini sudah mengandung benihnya.
Vadeo merasa benar benar sangat bahagia. Dengan hati hati dia terus melangkah untuk menuju ke lantai dua. Alexandria pun juga tidak kalah bahagianya dia mengalungkan tangannya pada leher Vadeo dan sesekali mencium pipi suaminya itu. Kedua nya tampak wajahnya dengan bibir yang terus tersenyum bahagia.
Sang pelayan pun juga turut bahagia melihat Tuan dan Nonanya bahagia.
“Sayang kamu duduk sini dulu, aku hubungi Richardo dulu dan pak pilot agar menjemput Mama.” ucap Vadeo sambil pelan pelan menaruh tubuh Alexandria di atas sofa panjang yang biasa untuk duduk Alexandria di ruang baca. Vadeo pun segera melangkah menuju ke ruang kerjanya.
Sementara itu di guest house Dokter Loly sedang berjalan menuju ke kamar Richardo. Setelah dia berpikir pikir akhirnya memutuskan untuk segera menemui Richardo.
TOK TOK TOK
Suara ketukan pintu kamar Richardo dari jari jari Dokter Loly. Richardo yang ada di dalam kamar mendengar ada suara ketukan pada pintunya dia segera melangkahkan kaki nya untuk membuka pintu kamarnya. Dia mengira Eveline yang datang atau sesama tamu yang kamarnya bersebelahan.
“Dokter?” ucap Richardo sedikit kaget karena baru kali ini Dokter Loly datang ke kamarnya.
“Ada perlu apa Dok?” tanya Richardo selanjutnya.
“Hanya ingin main saja, semua sedang sibuk.” jawab Dokter Loly dengan senyuman yang dibuat semenawan mungkin.
“Apa Tuan Richardo ada waktu?” tanya Dokter Loly selanjutnya
“Kita duduk di teras ini saja, saya hanya ada waktu sebentar.” ucap Richardo lalu dia berjalan menuju ke kursi teras yang tidak jauh dari kamarnya setelah menutup pintu kamarnya. Dokter Loly pun tampak senang. Dan mereka pun duduk di kursi teras di depan kamar Richardo. Secara basa basi Dokter Loly bercerita kalau dia sangat bahagia Nona Alexa sudah mengandung dan bla... bla... bla...
Dan sesaat kemudian hand phone yang ada di saku baju Richardo berdering. Richardo segera mengambil hand phone nya dan dilihat layar hand phone nya tertera nama kontak Tuan Vadeo.
__ADS_1
“Maaf Tuan Vadeo sedang menghubungi saya.” ucap Richardo lalu bangkit berdiri.
...