
Bab 150 Kamu Tidak Perlu Berterima Kasih
Dalam benak Zesshi, dia juga bingung tentang tubuhnya, walau dia sudah berumur 300 tahun, dia masih mempunyai gunung seperti layaknya umur 10 tahun dan itu sungguh sangat rata.
Apa lagi, ketika dia melihat gunung milik Alisha yang sekarang tambah tegak ini, membuat semakin cemburu.
Dia teringat bahwa Fai juga mempunyai teknik pijat gunung. Namun, apakah anda begitu terus terang untuk secara dermawan meminta dia untuk memperbesar gunung?
Tentu saja, ini sangat malu!
"Hmmp, tenang saja, mungkin Fai belum memoles kamu menjadi kecantikan atas." Kata Nuwa, dia berkata kepada Zesshi.
Dia, berkata seperti itu, karena dia yakin bahwa dulu, wanita Fai sebelum bersentuhan dengan anaknya, hanyalah kecantikan rata-rata. Namun setelah menjalin hubungan dengan Fai, secara ajaib taraf kecantikan bertambah.
Dirinya tidak tahu bakat apa yang di gunakan anaknya!
Kemudian dia mencoba mengecek panel atribut Zesshi.
[Nama : Zesshi Zetsumei]
[Ras : Perpaduan Elf dan Manusia]
[Umur : 300 Tahun]
[Bakat : Kematian Instan] >Salin Bakat<
[Dunia Pedang Lv29] >Salin Bakat<
[Pengendali Tanah Lv35] >Salin Bakat<
[Bakat tumbuhanLv26]
[Pengantar : Dia adalah wanita tua yang hidup 300 tahun dengan kepribadian keras kepala, setidanya anda membawa golok jika berdebat denganya]
"Hmmm lebih kuat dari seluruh wanita Fai." Diam-diam dia mengangguk. Dan Nuwa saat ini tertarik dengan bakat kematian instan dengan itu dia melihat titik energi yang masih seratus, langsung mencoba menyalin bakat kematian instan itu.
[Apakah anda ingin menyalin bakat Kematian Instan?]
[Ya]
[Tidak]
Kemudian Nuwa mengeklik tanda [Ya], setelah itu ada sederek tulisan depan matanya.
[Selamat anda mendapatkan bakat Kematian Instan, dan menghabiskan 100 titik energi]
"Ini sangat mahal!" Kata Nuwa dalam batin, umumnya untuk menyalin bakat tingkat tinggi, setidaknya hanya menggunakan titik energi 50. Namun ini menghabiskan semua.
__ADS_1
Menghilang rasa frutasi, Nuwa mempersilahkan untu Zesshi duduk.
Pada saat itu, retakan ruang terbukak.
"Aku kembali...!" Fai tiba-tiba muncul di udara tipis, kemudian dia melihat ibunya dan mengangguk hormat.
"Oh ibu.. kamu sudah datang!" Kata Fai dia tidak mengira bahwa Nuwa akan berkunjung dengan sangat segera, setelah di kasih kabar.
"Betul nak.. aku tidak sabar ingin melihat cucu.. Oh iya tadi Alisha sangat ketakutan hahah!" Nuwa menceritakan kepada Fai ketika dia baru datang ke rumah ini.
"Hahaha iblis kecil, apakah kamu takut hingga ingin kencing!" Fai berkata dengan bercanda.
"Apakah kamu tahu.. aku sangat panik, jika ada sesuatu terhadap aku." Kata Alsiha dengan cemberut, karena malu. Bahkan sekali lagi, dia memikirkan bakat menakutkan Nuwa dia ingin kencing lagi karena takut.
Dia tidak mengira bahwa Nuwa juga memiliki bakat yang menakutkan, namun dia tahu bahwa bakat itu dia di peroleh dari Fai.
Semuanya dari Fai!
Apakah suami ini adalah suami yang maha kuasa? Dia bisa melakukan dengan mudah bahakan mematahkan kenalaran dunia ini.
"Fai apakah kamu sebenarnya dewa?" Alisha berkata dengan menatap ke arah Fai seperti luar biasa.
"Kamu bisa memangil aku dewa sinobi hokage nomer lima hehehe!" Fai bercanda dengan menyringai. Mengatakan dunia naruto, apakah di sini ada putra takdir dengan sistem naruto?
Entah Fai belum mengetahui!
Karena di bumi, dia ingin sekali mempunyai mata sharingan, atau mata samsara.
"Dewa konoha? Aku yakin kamu hanya omong kosong!" Kata Alisha dia curiga kepada Fai. Dia tahu bahwa Fai tidak akan pernah di ungkapkan.
Namun, tiba-tiba Fai berkata seperti ini. :"Aku mempunyai bakat yang sangat jenius yaitu bisa mentransfer bakat sendiri ke orang lain, tanpa bakat itu hilang dari tubuhku."
"Dan satu lagi, entah beberapa lusin kali, mesti aku akan membangkitkan bakat baru setiap harinya heheheh, bagai mana bukankah hebat." Fai tersenyum memandang Alisha dengan penuh kemenangan.
"Jika apa yang di katakan kamu benar maka, kamu lebih jenius dari pada Arthur." Tiba-tiba Zesshi di sebelahnya berkata kepada Fai.
"Kamu jangan membandingkan aku dengan Arthur, di bandingkan aku dengan dia, dia adalah kentut. Bahkan aku juga mempunyai tubuh abadi sehingga tidak mempan terhadap skill kamu."
"Ngomong-ngomong, aku juga mempunyai bakat kematian instan heheh bahkan bakat aku bisa mematikan selusin orang." Fai berkata kepada Zesshi dengan sombong.
"Kamu juga mempunyai skill kematian instan!" Kata Zesshi dia berseru. Dia sebenarnya terkejut bukan bakat itu, melainkan bakat tubuh abadinya, jika dia sudah mempunyai tubuh abadi bukankah dia seperti dewa sudah tidak bisa mati?
"Seperti yang aku bilang bahwa aku adalah pria yang cocok dengan kamu, heheh!" Fai bercanda kepada Zesshi, bahkan semuanya terkejut apa yang di katakan oleh Fai.
Namun Nuwa mengecek atribut Fai hanyalah kosong, sehingga dia mungkin tidak bisa mengintip sedikit sama sekali, atau ini hanyalah pengaturan Fai sendiri.
"Hmmmm baiklah aku akan pergi ke belakang, aku berniat untuk menanam sebagian pekarangan di belakang rumah." Meningalkan Mereka bertiga, Fai pergi untuk menanam sayuran.
__ADS_1
Kemudian Fai, memuncukan cangkul dari udara tipis, kebetulan di belakang pekarangan ada sebuah sungai sehingga Pemandangan ini sungguh cocok.
Bahkan ini mempermudahkan jika Alisha untuk menyiram tanaman ini.
Fai mencakul setidaknya setengah hektar dia menaburkan beberapa jenis sayuran dengan teknik bakat tumbuhan, dia bisa mempercepat laju pertumbuhan biji ini, di tingkat pekerjambahan.
Fai kemudian mebuat lubang irigasi kecil, supaya air sungai itu, sedikit pergi ke lahan sendiri.
Namun ketika dia sudah sampai di pinggiran sungai dia memergoki beberapa kelompok dengan baju hitam sedang menyandra seseorang wanita cantik.
Fai tenang dan kemudian berkata. "Aku tidak tahu apa-apa, aku hanya lewat untuk mengambil air. Kamu bisa melanjutkan menyandra wanita itu, karena aku tidak ada masalah dengan kamu."
Begitu Wanita mendengarkan, dia putus asa, dia mengira bahwa akan ada penolong, namun ternyata pemuda tampan itu, hanyalah seseorang pengecut.
"Untuk membiaran melepaskan kamu itu tidak mungkin, karena kamu sudah melihatnya maka terpaksa kamu harus mati." Tiba-tiba salah satu kelompok itu, berkata dengan sedikit mengancam.
"Hei bukankah aku sudah mengatakan, apa yang kamu lakukan, itu bukan urusan aku, aku hanya orang lewat!" Kata Fai dia cemberut.
"Aku tidak peduli karena kamu sudah melihat maka, aku harus menghilangkan bukti." Setelah itu dia berkata kepada kelompok lainya. "Hei cepat bunuh bocah tampan ini."
"Siap!!" Para kelompok langsung menyerang Fai, namun ketika tangan kelompok itu hendak menyerang, tiba-tiba, tangan itu meledak seperi kabut darah.
"Tidak tangan aku...ahhgrrt!" Para kelompok yang tangnya meledak langsung di cekik satu persatu hingga meledak lehernya.
Sekarang hanya menyisahkan satu kelompok yang sedang menyandra wanita itu. Dan orang itu menatap ke arah Fai dengan ngeri.
"Kamu jangan mendekat...jika tiadak maka wanita ini akan mati..!" Orang itu sungguh ketakutan.
Namun Fai berkata. "Aku juga sama seperti kamu, jika membunuh tidak ada bukti." Setelah berkata, Fai menatap ke arah orang yang sedang menyandra.
Hanya tatapan Fai, orang itu langsung terjatuh sampai mati.
Kemudian wanita itu bodoh, dia mengira bahwa Pemuda hanyalah pemuda tampan yang pengecut, namun dia salah pemuda ini sebenarnya adalah pemuda yang menakutkan.
Kemudian wanita itu, hendak berkata dengan terimakasih. Namun tiba-tiba di potong oleh Fai.
"Oh iya kamu tidak perlu berterimakasih kepada aku, dan setelah aku menolong kamu, aku mohon kamu tidak perlu mencari siapa identitas sebenarnya aku, bahkan untuk mencari nama aku, karena aku tidak ada hubunganya dengan kamu. Aku hanyalah orang lewat! Oh iya satu lagi aku sudah mempunyai 5 istri jadi jangan berharap kamu menjadi istri aku." Kata-kata Fai sangat vulgar, dan terus terang.
Setelah itu dia pergi dari sungai ini, karena terlalu malas melihat wajah wanita itu.
Tapi, tiba-tiba dari atas ada sosok pemuda tampan langsung menghampiri, wanita itu.
Pemuda itu berkata. "Elena, apakah kamu terluka? Maaf aku terlambat."
"Arthur, aku tidak apa-apa, kamu tidak perlu meinta maaf." Elena menatap kepergian Fai dengan sengit.
Namun seketika Fai berhenti dan menoleh ke arah pemuda itu, dengan jejak kedinginan, dalam hati, Fai berkata. "Apakah dia Arthur?"
__ADS_1