Dewa Yang Maha Kuasa

Dewa Yang Maha Kuasa
Bab 24


__ADS_3

Sosok itu mendarat tepat di hadapan Fai.


Sosok itu adalah Zhenite.


Kemudian dia memandang Bella. Kemudian mengalihkan pandangannya kepada Fai.


Setelah memandangi sejenak, Zhenite tidak bisa menahan emosi. Kekuatan Fai di luar dugaan lagi.


Jadi seberapa batas kekuatan Fai?


Memikirkan itu, mungkin sudah menjadi penyihir Level 10 lebih dan dia mungkin mempunyai teknik suapaya Levelnya di ketahui hanya Level 7.


"Yah seharusnya begitu." Zhenite berkata pada dirinya sendiri.


Bunyi Bip sistem kembali berdering di benaknya.


Ahirnya Fai mendapatkan bakat ketrampilan Guntur Melompat Meteor. Ini panen yang bagus sehinga Fai tersenyum lebar.


Bella melihat Fai sedang tersenyum sendiri. Memikirkan kekalahan yang tadi, dia mengepalkan tangannya diam-diam meningkatan kekuatan.


Zhenite memandangi kedua orang itu dan menghampiri berkata. "Yah! Ayo kita bergegas kembali!"


"Sikat!"


Zhenite melompat terbang dan di selimuti fukultasi Guntur.


Bella melangkah maju bergegas mendekati fai, dan menoleh berkata: "Dengan bakatmu aku mengakui kekalahan. ini kedua kalinya aku mengalami kekalahan."


"Oh siapa yang pertama?" Fai ingin tahu.


Tanpa di duga ada seseorang jenius yang berjongkok di sini. Dan itu juga yang mengalahkan Bella yang pertama.


Tiba-tiba Fai ingin tahu.


"Dia adalah Grey, Namanya Grey Rossen,"


Menurut apa yang di katakan Bella, Grey Rossen adalah Pangeran pertama. Dia adalah seseorang jenius pertama di kerajaan Rossen.


Tetapi di samping bakatnya yang jenius dia juga sangat arogan selalu memandang orang lain. Dan dia juga salah satu pengagum Bella. Sehinga Bella tidak nyaman di hatinya ingin memarahi.


"Oh ternyata dia adalah pesaingku." Fai menyringai.


"Pesaing?" Bella berpikir, tiba-tiba memikirkan sesuatu langsung teringat."


"Pesaaing Pamanmu!" Bella tersipu marah.


Fai mengangkat bahu dan berkata lagi:" Di dunia ini kekuatan lah yang berbicara, jika anda lemah akan di injak-injak. Kekuatan adalah segalanya."


"Dengan kekuatan setatus, kehormatan jabatan tingi itu akan menghampirinya. Bahkan dengan kekuatan Wanita akan terjatuh kepada pangkuanya,"


"Dan kamu.. Cepat atau lambat hehehe." Fai menyringai.


Tiba-tiba Bella merinding melihat senyuman Fai.


Bella mencoba mengalihkan topik dan berkata sambil memarahi. " Fai apakah kamu mencoba menjadi serakah? Seperti kata pepatah serakah itu tidak bisa menelan semuanya!"


"Seperti yang saya katakan, jika keserakahan mu itu membuat tak berdaya maka hanya kekuatan dan kepalan tangan yang akan berbicara." Fai memberitahu.


Setelah berbicara dia berjalan melewati Bella mengunakan Skill Guntur Melompat Meteor.


Tiba-tiba tubuh Fai di selimuti oleh fukultasi listrik.


''Mencicit"


Suara listrik itu mencicit.


''Sikat!"


Fai melompat seperti meteor dan itu ada kedipan guntur yang mengikutinya.


Bella yang melihatnya diam terpana. Dan mulutnya mebuat sebuah Huruf ''O"


Kapan dia mempelajari teknik kakek?


Dalam hatinya Bella sunguh bingung, kapan dia mempelajari? Memikirkan Fai yang berteduh di kediamannya hanya beberapa mingu.

__ADS_1


Apakah dia mempelajari hanya beperapa mingu?


Apakah mempelajari semudah meminum air? Melihat Fai hanya di gambarkan sebagai Monster Humanoid.


Dan pada ahirnya Bella memikirkan apa yang tadi Fai bicarakan oleh Fai langsung tersipu marah.


"Brengsek dasar bocah nakal!"


...........


Fai ahirnya sampai di tempat pelatihan itu tadi.


Fai melihat sosok sedang berlatih pedang.


Dengan kulit pucat putih yang ramping, dan wajah yang terpahat dengan indah seperti sebuah maha karya agung dari Dewa. Dengan tangan yang sedang menari-nari dengan indah tapi mematikan.


Dengan rambut warna kuning Api sedang menari-menari dan kombinasi seriusnya, Fai hanya memujinya dengan kata sederhana.


"Mengagumkan."


"Kamu mencoba memahami Tarian Pedang Phonix, kemahiran +3."


"Kemahiran +4."


"Kemahiran +8."


Bunyi Bip Sistem berdering di benaknya.


Elia merasa ada yang sedang menatapnya secara tidak sadar menolehnya.


Saat itu..


Mata fai menatap mata Elia, Mata Elia juga melihat Fai. Kemudian mereka menganguk bersamaan.


"Apakah kamu sedang berlatih?" Fai berkata.


"Iya Tuan sekarang saya sedang berlatih ingin menjadi kuat sehinga bisa menjadi penjaga yang berguna bagi Tuan." Elia berkata dengan serius.


"Menjadi kuat juga itu penting. Tetapi jangan berfokus mengacu kepada satu poin. Alangkah baiknya di imbangi dengan sesuatu yang lain juga."


"Contohnya menjalani pertempuran yang nyata atau mencari pengalaman membunuh monster. Ketika krisis hidup dan mati begitu dekat, maka itu kekuatan yang di miliki tubuh akan muncul potensi yang tak terduga." Fai berkata seperti orang ahli.


Kemudian Fai mengambil sebuah ranting kayu dan menujuk kepada Elia sambil berkata: "Ayo bertanding, dan kamu yang membuat tembakan dulu."


"Ok Tuan berhati-hatilah saya membuat tembakan." Elia berkata secara serius.


"Sikat!"


Elia berlari bergegas menyerang Fai. Kemudian Elia mencoba menebas Fai dengan sebuah pedang dari atas.


''Dentang!"


Ketika tebasan hendak mengenai Fai, kemudian tubuh Fai menghindar kekiri. Dan tangannya yang sedang memegang sebuah ranting kayu, langsung menyodok tangan Elia sehinga pedang itu terlempar.


Elia melompat mundur dan tangan kanan itu ada sedikit rasa kesemutan.


Seseolah tidak memberikan Elia untuk bernafas lalu setelah menyerang tangan itu, mencoba menyerang lagi.


Fai berlari mendekati Elia mencoba menebas lagi. Tiba-tiba Elia pasrah dan berdiam berdiri saja.


''Gulungan!"


Fai menebas Elia tp tidak mengenainya.


Bella menjatuhkan kakinya ke tanah begitu takut hinga ingin kencing.


"Kamu kalah," Fai tersenyum sopan


Tapi tiba-tiba ketika Elia sedang menekuk kakinya di tanah dia membuat serangan.


Elia mengayunkan tanganya secara vertikan dan horisontal.


Ayunan itu tiba-tiba mengelurkan api dan Fai terbang melompat mundur menjau.


"Kamu curang!" Mulut Fai berkedut memarahi Elia.

__ADS_1


"Dalam pertempuran tidak ada kata curang," Elia dengan manis menjulurkan lidahnya.


"Ok sangat bagus, dalam pertempuran tidak ada kata curang untuk meraih kemenangan,"


"Sikat!"


Tiba tiba Fai menghilang dan sosoknya muncul di belakang pungung Elia.


Fai menepuk pungung Elia dengan ranting kayu itu mencoba membuat serangan menyelinap. Elia yang tidak siap tiba-tiba leher belakangnya terkena pukulan hinga pingsan.


"Kamu kalah," Fai menyeringai.


"Wow tuan kamu curang! Kamu membuat tembakam menyelinap." Melty berkata cemberut.


"Dalam pertempuran tidak ada kata curang," Fai mencoba membenarkan.


Dan pada saat itu..


Tiba-tiba ada dua sosok menghampirinya.


Kedua sosok itu adalah Ibu dan anak yang tidak lain adalah Bella dan Tina.


Tina yang memandang Fai terengah-engah dia teringat sebelum tak sadarkan diri tiba-tiba Fai menyentuh dada yang sedikit berkembang.


Memikirkan hal ini ingin sekali rasanya Tina mencabik-cabik Fai.


Kepalnya Fai muncul tanda tanya, dia selalu bertanya-tanya kenapa setiap bertemu dengannya dia selalu marah besar?


Pada saat itu dia teringat adegan cakar iblis Fai menyentuh Gunung lembut Tina, sekali lagi Fai menyeringai kepada Tina dan berkata. "Aku mempunyai sebuah teknik memperbasar Itu, apakah kamu mau mencobanya,"


"Puf!" Tina marah hinga paru parunya ingin meledak.


"Batuk!"


Tiba tiba Bella membuat sebuah Batukan dan berkata.


"Fai sudah jangan mengolok oloki terus, dan aku kesini untuk memberitahu sebuah berita kepadamu."


"Oh, berita apa yang kamu mau sampaikan kepadaku," Fai menatap Bella.


"Dengan bakatmu yang pastinya kamu jenius di antara jenius. Apakah kamu tidak berfikir untuk memasuki tes kualifikasi kota Aksu jika kamu penilaian mendapat skor tingi, kamu akan di masukan ke Akademi Dupa Merah."


"Tidak tertarik!" Fai berbicara langsung.


"Kamu!" Bella tidak menyangka bahwa langsung menolak.


Anda tahu tes kualifikasi banyak penduduk yang ingin mendaftar di akademi Dupa Merah. Karena bergabung ke Akademilah anda mendapatkan sumber daya pelatihan.


Semakin tingi bakat anda, semakin tingi juga manfaat sumber daya yang di berikan oleh pihak Akademi.


Tetapi Fai dengan kekuatan yang menabjukan menolaknya.


Dan itu menolak tanpa berpikir.


Sehinga Bella terheran.


Seolah melihat keraguan Bella, Fai menjelaskan.


"Saya berpikir jika memasuki ke Akademi akan membatasiku, karna alasan itulah aku ingin bebas menelusuri benua ini."


"Hummp!"


Tina merasa tidak senang akan perkataan Fai. Tapi dia tidak mengatakan apa apa dan pergi meningalkan Fai.


"Yah! Aku tidak bisa memutuskan dan memaksamu untung bergabung, karena itu keputusan kamu."


Lalu Bella berjalan pergi meningalkan Fai.


Tapi setelah melewati Fai Bella berkata lagi dengan senyum tipis.


"Oh iya ada satu hal lagi yang saya ingin katakan kepada kamu, bahwa Pangeran Grey Rossen adalah siswi Jenius pertama di akademi Dupa Merah itu."


Setelah itu Bella berjalan cepat meningalkan Fai dengan malu.


"Apa magsudmu?" Fai tidak mengerti.

__ADS_1


"Tungu? Dia memberitaukan kepadaku, apa mungkin ini tanda-tanda persetujuan Bella kepada aku untung mengejar?"


Memikirkan hal ini tiba-tiba Fai menyringai.


__ADS_2