
Untuk mengambarkan Elia sekarang adalah bajingan hadrcore yang ulung. Walau sekarang Elia menjadi bajingan ulung itu di sebab kan oleh dirinya sehinga Fai tidak akan membenci dan Elia sekarang wanitanya.
Fai melepaskan pelukan Elia dan berbisik. "Ayo berganti pakaian kita akan pergi dengan cepat, mungkin Ibu dan lainya sedang menungunya."
Kemudian Elia mencoba menenangkan rasa cabulnya dengan serius dia mencoba berdiri. Setelah itu Fai melihat bahwa ketika Elia berdiri dan turun langsung ke lantai untuk mengambil baju itu. Fai melihat di pahanya terdapat cairan yang lengket dan banyak dan itu berasal dari Elia sendiri.
Fai juga berdiri dan menganti baju yang baik, dengan pakaian serba panjang dia sekarang di gambar kan dengan bangsawan yang tampan.
Lalu Fai melihat bahwa Elia sedang mengenakan baju itu yang sangat indah, dan dia menoleh ke arah Fai dengan malu.
"Baju ini sangat bagus, tapi kenapa di area bagian dada begitu menjadi cangung." Kata Elia dengan nada tidak jelas karena efek lidah di tindik.
Dia malu bahwa baju yang dia kenakan bagian depan sangat terbuka sehinga gunung Elia yang besar menonjol dengan jelas seperti akan tumpah. Jika bagian depan yang menutupi gunung itu di tarik sedikit mungkin akan terlihat tonjolan pucuk gunungnya.
Jika itu adalah Elia yang dulu mungkin akan menyukainya karena Elia yang dulu masih rata dan kurus sehinga jika memakai baju model itu tidak cangung. Tapi sekarang sudah berbeda tubuh Elia yang sekarang sudah gemuk dan memiliki gunung yang agung dan ketika sekarang dia sedang mengunakan baju itu dia malu.
Baju itu memiliki model seperti gaun hanya saja di bagian area atas terbuka sehinga gunung Elia yang agung terlihat sangat menojol penuh kebangaan.
Tentunya Fai melihat itu langsung berseru dan berkata kepada Elia bahwa ini adalah yang terbaik.
"Bagus sangat bagus!" Fai memuji.
"Bagus nenekmu!" Elia malu karena ini baru pertama kalinya dia memakai pakaian yang vulgar.
"Kamu harus percaya diri, ayo kekuar kita sudah di tungu lama oleh Ibu dan lainya.
Pintu terbuka, kedua orang itu keluar dan menghampiri ke arah Nuwa dan lainya.
Begitu sudah keluar, semua terpana akan perubahan Elia.
"Wow kamu menjadi cantik, dan itu menjadi besar!"
Melty berkata dengan kagum bahwa gunung yang rata milik Elia sekarang terisi penuh.
Kemudian dia mendekati Elia dan tangan yang kecil itu, menekan gunung yang agung milik Elia karena ingin tahu.
"Ahh!" Tubuh Elia bergetar dan mengeluarkan suara centilnya, tapi dia tersadar kembali bahwa ini sedang di tempat umum sehinga wajah memerah dan malu.
"Bocah dasar kamu nakal!" Elia memarahi Melty.
Sekarang mereka kagum dengan perubahan Elia karena sekarang menjadi sosok yang panas serta memancarkan pesona dewasanya.
"Fai apakah gunung yang besar itu asli?" Nuwa berkata dengan ingin tahu, karena dia masih tidak percaya untuk membesarkan gunung dengan sangat singkat.
"Itu sangat asli coba Ibu coba tekan-tekan." Kata Fai
Alasan kenapa Fai tidak bisa mengunakan sihir untuk memperbesar gunung Elia adalah karena dia tahu bahwa Elia tidak suka kelembutan sehinga dia mempunyai teknik lain dengan prosedur lipatan bawah gunung itu di sayat dan di masukan benda yang bernama silicone.
Nuwa juga tiba-tiba meremas Gunung agung Elia sedikit dan setelah meremas dia yakin bahwa ini asli sehinga Nuwa percaya dan menganggukan kepalanya.
Nuwa tertuju pada gunung indah milik Elia tapi dia lebih tertarik dengan tulisan hitam yang menempel di bagian kiri gunung itu dia mengusap-usap dan Nuwa merasa bahwa tulisan itu sudah menyatu dengan kulit dan tidak bisa di hapus.
"Ibu itu adalah Tato." Melihat Ibu sedang tertuju kepada tulisan itu ahirnya Fai menjelaskan bahwa itu tato dan Fai menjelaskan dengan apa itu tato sehinga Nuwa mendapatkan pengetahuan baru.
"Itu cukup menarik dan itu sangat bagus ketika di tempelkan di bagian gunung sehinga memunculkan daya tarik!" Nuwa menilai.
Elia sedang di puji menjadi bahagia dia berpikir dalam hati bahwa dia sudah mempunyai gunung yang besar kenapa harus malu, ini harus di pamerkan.
__ADS_1
Setelah itu Fai melihat bahwa semua orang sudah berpakaian rapi dan bagus sehinga dia bersiap-siap untuk pergi untuk meningalkan rumah ini.
Fai melamar Bella bukan hanya tangan kososong dengan bakat pencipta dia menciptakan beberapa pedang bagus dan dia juga akan memberikan ketrampilan kepada Paman Zhenite.
Setelah itu dia sudah merasa bahwa ini sudah waktunya dia pergi maka Rumah ini hanya meningalkan Rigrit dan Jen saja untuk ke amanan.
Kemudian Fai memangil Pusy untuk membuat kendaraan dengan membuat gerbong yang rame, menarik, dan indah.
"Aku pergi." Kata Fai dia pamit kepada Jen dan Rigrit.
Mereka menganguk dan meminta untuk berhati-hati.
"Apakah kamu juga tidak ingin gunung kamu di tingkatkan?" Setelah Fai dan lainya keluar dan menaiki gerbong Jen bertkata seperti itu kepada Rigrit.
"Jangan bicara omong kosong!" Rigrit melotot dengan mengelak, tapi di dalam hatinya dia juga ingin mempunyai gunung yang indah, walau gunung miliknya sudah sedikit besar tapi dia adalah manusia dan tidak akan puas apa yang dia miliki.
Dia mungkin memutuskan bahwa ketika lamaran selesai dia mencoba untuk meminta memperbesarkan gunungnya.
Jen hanya mengangkat bahu dia tahu bahwa Rigrit omong kosong.
...
Di kamar Bella.
Bella sedang tidur dengan nyenyak, dengan bertelanjang tanpa busana dia tidur sangat bahagia tanpa beban pikiran apa pun.
Di paha yang putih dan halus ada bekas cairan putih yang sudah kering dan di lobang pantat dia masih ada bekas cairan yang belum sempat kering.
Dia tidur dengan memiring ke kiri tapi ketika dia berpindah posisi untuk terlentang dia merasakan rasa berat dan sesak sehinga dia tidak bisa mengerutkan keningnya, kemudian dia mencoba membuka matanya, tepat ketika dia membuka mata langsung terkejut karena dia melihat bahwa gunung itu menjadi besar dan menjulang tingi hinga dia tidak bisa melihat ke atas karena terhalang gunung sendiri.
Bella ahirnya beangun dari tidurnya.
Setelah bangun dan duduk dia melihat kebawah memang benar gunungnya sudah besar sehinga bibir Bella sedikit terangakat karena bahagia.
Bella sangat puas sekarang dia sudah yakin bahwa gunung miliknya adalah yang terbesar di dunia ini. Dia perlahah meningalkan kamar dan berdiri lalu berjalan dengan telanjang bulat karena dia akan mengambil helm besi perajurit yang menempel di dinding untuk dekorasi di dalam kamar.
Setelah mengambil helm perajurit, dia menempelkan helm itu ke bagian kiri gunung besar itu. Setelah menempel dia menghadap kecermin perungu lalu dia meelihat dari cermin bahwa helm perajurit itu di bandingkan gunung miliknya helm itu sangat kecil sehinga Bella senang ahirnya dia mempunyai gunung yang sangat besar.
Helm itu di letakan di meja kemudian dia berdiri menghadap cermin.
"Uhhh sangat besar!" Bella berseru bahwa gunung itu menjadi begitu besar, dia yakin bahwa ukuran ini seperti buah semangka. Karena masih belum percaya dia menekan gunung sendiri.
Tangan Bella menekan gunung yang sangat besar milik sendiri meraskan kelembutan, elastis dan kenyal.
"Ara.. Keluar!" Bella berseru lagi, dia melihat bahwa tonjolan yang berwarna merah muda di pucuk gunung yang besar itu menembakan air susu ke cermin.
Setelah itu Bella mengusap tonjolan gunung mengunakan jari sendiri tapi ketika dia mengusap, tonjolan itu masih menetes kan air susu nya sehinga dia meraih benda penjepit rambut jaman dulu, untuk menjepit tonjolan itu supaya tidak menetes lagi.
Gunung sebelah kanan sudah di jepit tonjolanya tapi yang bagian kiri tanpa sadari ikut menetes juga sehinga Bella menjepit kedua sisi.
"Gunung aku terlalu penuh dengan air susu, sehinga tumpah." Kata Bella dengan centil.
Tiba-tiba ada suara dari luar pintu.
"Knock!"
"Knock!"
__ADS_1
"Knock!"
"Ibu sudah pagi, bukankah kamu sebentar lagi akan ada proposal!" Tina berteriak di luar pintu.
Setelah mendengar, Bella kaget langsung tersadar dengan itu dia memukul kepala sendiri.
"Sial aku lupa!" Bella mengaruk kepalanya bahwa dia sangat bodoh. Setelah itu dia dengan cepat menarik handuk di samping.
Tapi ketika dia sudah memegang handuk, dan mencoba memakai handuk itu dengan melingakarkan ke semua tubuh, tiba-tiba handuk itu menjadi tidak muat.
"Ini..!" Bella bingung.
Dengan tubuh Bella yang ramping dan berisi dan tidak kurus seharusnya handuk itu akan muat jika di lingkarkan di tubuhnya. Tapi karena gunung itu menjadi begitu sangat besar seperti semangka, handuk itu menjadi sesak dan tak muat.
Bella tidak menyadari itu!
Setelah lama, Bella ahirnya menyadari dia melihat dan menunuduk ke bawah bahwa gunung milik sendiri itu sangat besar seperti semangka, bahkan mungkin sedikit lebih besar dari semangaka itu.
Sehinga dia tertawa kepada diri sendiri, karena merasa lucu.
"Fai terimakasih! Aku sangat menyukai gunung yang sekarang, ini sangat besar aku sangat puas!" Bella berkata kepada diri sendiri dengan menawan.
Karena handuk itu tidak muat, dia memutuakan untuk tidak membersih kan tubuhnya. Dan dia hanya mengelap-elap semua tubuh dan di sela-sela lobang pantat itu yang masih ada cairan lengket milik Fai , dia hanya memberihkan saja.
Setelah merasa bahwa tubuhnya bersih, dia memakai gaun yang di berikan Fai ketika di waktu lalu.
Gaun itu bagus denga warna putih sedikit abu-abu cerah, dan ada hiasan bunga-bunga yang di gambar di gaun itu dan di pingang itu ada tali untuk mengikat supaya gaun itu tidak terlalu besar sehinga ketika gaun di area pingang di ikat itu membuat area pingang menjadi sedikit enak di pandang.
Tapi ketika Bella yang memakai gaun itu, di bagian dada begitu sesak dan gunung yang besar begitu menonjol. Walau gaun itu di bagian dada tidak mempunyai gaya bentuk "U" Atau "V", Tapi ketika Bella yang memakai, dengan gunung yang masih tersembunyi, karena gunung itu sepeerti semangka, maka masih terlihat menojol dan sangat kontras.
Gunung itu tersembunyi di gaun, tapi di area bawah leher Bella masih terlihat garis pemisah antara gunung kiri dan yang kanan.
...
Di gerobak yang Fai tempati.
Sudah 1 jam berlalu dan ini akan sampai di tempat Bella tingal sehinga di dalam gerobak itu Fai dan lainya masih menungu dengan sabar.
Gerobak itu cukup panjang dan di bagi menjadi dua ruangan ruangan satu kusus untuk Fai dan Elia.
Jalan itu berlika-liku dan memasuki hutan hanya sebentar. Setelah itu akan memasuki gang-gang rumah. Karena jalan tidak mulus dan bergelombang, maka gerobak itu mengalami getaran yang sedikit keras.
Dan ketika itulah di saat pantat Elia yang sedang duduk di dalam gerobak, ketika ada getaran maka dia akan merasa nikmat karena benda vibertor yang menancap di lobang pantat ikut bergetar karena ada guncangan gerobak.
Jika di dalam gerobak itu hanya berdua Fai dan Elia, mungkin wajah Elia menjadi cabul dan mengeluarkan suara centil.
"Uhh!" Elia menghembuskan nafas yang keruh, posisi dia sedang menahan hasarat untuk mengeluarkan suara yang khas centil dan mesum. Tapi karena takut dan malu jika orang lain mendengarkan dia menahannya.
Wajah Elia merah seperti apel matang dan kepalanya menunduk ke bawah sambil mata terpejam dengan jari tangan yang mengegam erat kedua paha, Fai yang melhatnya tentu merasa sangat lucu.
Kemudian Fai menepuk bahu Elia, setelah itu Elia yang sedang terpejam terkejut dan tersadar setelah di tepuk bahunya.
"Apa!" Kata Elia dengan suara ambigu seperti perpaduan centil dan serius.
"Kamu bajingan mesum, dasar jal*ng!" Kata Fai sambil tersenyum.
"Apa!" Elia tidak percaya ketika Fai mengucapkan perkataan yang vulgar itu. Tapi Elia merasakan perasaan aneh, jika itu orang lain bahkan jika adik sendri yang mengatakan itu dia akan marah dan menamparnya.
__ADS_1
Tapi ketika Fai yang berbicara dia merasakan kesenangan batin yang memuaskan.
"Iya memang benar aku adalah bajinngan dan jala*g itulah namaku, ahhh sangat menyenangkan aku di pangil pelac*r oleh Fai!" Elia berkata dalam hati.