
Setelah itu, Fai berdiri dengan tenang dan ada banyak sekali tepuk tangan yang sangat meriah. Dia melambai dari kekosongan dan membuat sebuah maha karya cincin tunangan.
Cincin tunangan itu juga ada penyimpanan yang luas. Di dalam cincin itu, ada banyak sekali senjata yang luar biasa bukan hanya itu saja di dalam cincin itu ada puluhan alat viberator untuk hadiah Bella, dan lusinan slot rokok.
Fai meraih jari cantik Bella dia memegang cincin. Setelah itu, dia memasukan cincin ke jari manis Bella.
Dia sudah memasang cincin. Lalu Fai melihat Bella, Bella juga melihat Fai dan mereka berdua saling memandang dengan tulus.
Setelah itu...
Mereka para tamu bertepuk tangan dengan meriah. Mereka menilai Fai adalah lelaki terhormat dan begitu maskulin.
Fai sedang ciuman dan dadanya merasa menyentuh benda yang kenyal dan empuk, setelah berciuman dia memandang kebawah bahwa gunung Bella begitu fantastis.
Diam-diam Fai mengangkat jempol kepada Bella bahwa pijatan itu berhasil.
"Crack!"
Gelas pecah di tangan tanpa sepengetahuan para tamu, dia memandang Fai yang penuh kemesraan sehinga urat dahinya keluar karena menahan emosi.
Bella adalah wanita yang dia incar, berani sekali anda begitu lancang!
Dia sangat cemburu, sehinga ingin mencabik-cabik Fai. Apa lagi, kualifikasi apa yang dia miliki? Cuma hanya karna tampan? Dia adalah manusia rendahan dan anda adalah dunia yang berbeda.
Orang itu adalah Zaro, dia cemburu karena melihat orang yang di cintai, bermesraan kepada pemuda lain.
Dia menahan amarah sambil duduk dia memikirkan bahwa Fai harus di bersihkan dari muka bumi ini.
Karena Fai mempunyai bakat telepati dia bisa langsung membaca dan mengetahui pikiran Zaro, tapi dia merasa lucu karena Fai juga langsung mengetahui sifat paling buruk yang dia miliki Zaro.
Dia juga menungu Zaro untuk mengambil tembakan kepada dirinya dan menantikan bakat apa yang bisa di panen.
Setelah itu Fai melepaskan tangan Bella, dengan itu dia menghampiri Elia. Fai melihat Elia, Elia juga melihat Fai.
Elia sangat gugup entah kenapa ketika banyak tamu yang menonton dirinya. Dia juga sangat menantikan pengakuan Fai kepada dirinya.
Fai memandang terus ke arah Elia, setelah itu dia melihat bahwa Fai meraih tangannya. Setelah memegang tangan, Fai membawa Elia ke bagian tempat yang paling mencolok yang memungkinkan para tamu melihat dengan jelas.
Setelah itu Fai membacakan puisi lagi yang dia ingat kehidupan dulu di bumi.
''Mungkin aku bukanlah cinta yang paling sempurna
hanya sebatas hati yang ingin mencurah rasa padamu,
karena mencintaimu adalah keindahan dilangit hatimu
dan dicintaimu adalah kesempurnaan kebahagiaan hatiku."
"Aku mencintaimu, seperti bunga mencintai keharumannya seperti hujan mencintai tetasan airnya
seperti bulan mencintai langit malamnya
seperti matahari yang mencintai cahayanya."
"Jantung ini takan pernah berdetak selamanya
__ADS_1
tapi jika Tuhan mengizinkan
selama jantungku berdetak
ijinkan mencintaimu dalam ketulusan."
"Aku mencintaimu
bukan karena aku ingin memiliki apa yang ada didirimu
hanya ingin melihatmu tersenyum
melukis rasa bahagia disetiap titian hidupmu."
"Aku mencintaimu
bukan karena aku kagum pada dirimu
hanya ingin membuatmu sempurna
meski aku tak bernah bisa sempurna."
"Aku mencintaimu
bukan kemarin atau saat ini
tapi percayalah,
kemarin, kini dan nanti
Setelah itu Fai memandang dengan sangat serius. Dan berkata. :"Elia aku sangat mencintaimu, hatiku separuh di hatimu. Elia jadilah istri ku! Dan hidup tua bersama ku!"
"Whooooo!"
Sekali lagi para tamu bertepuk tangan dan mengacungkan jempol ke arah Fai. "Nak! Kamu adalah panutan aku!"
"Brengsek! Sunguh kata-Kata yang indah!" Tamu lainnya juga ada yang emosi.
"Suami lihat dia begitu keren, kenapa kamu dulu sangat hambar!" Wanita tua itu ada yang memarahi kepada para lelaki, dan para lekaki hanya cangung dan malu.
Para tamu sekarang semuanya begitu hidup dan antusias.
Calon menantu Fai tidak menyangka bahwa dia memiliki kata-kata yang sangat ajaib dan ketika wanita yang mendengarkan ini akan luntur hatinya.
"Fai aku mau menjadi istri mu dan hidup tua bersamamu!" Mata Elia buram menahan nangis bahagia.
"Baiklah!" Setelah itu Fai menyerahkan cincin kualitas yang sangat bagus dan memakaikan ke jari manis Elia.
"Selamat Tuan Fai, kamu sunguh luar biasa!" Semua para tamu menyanjung kepada Fai. Tapi dia mengaguk tersenyum kepada tamu-tamu.
"Nak kamu sangat luar biasa, bahwa kamu memancig batu, tapi yang di dapat adalah emas!" Cadee menghampiri Fai sambil menepuk-nepuk bahunya.
"Oh hahaha ini adalah takdir yang dewa berikan kepada aku." Fai tertawa sambil mengaruk kepalanya.
Di ruangan itu semua orang sangat hidup ada yang tertawa mabuk dan saling bercanda. Fai juga melihat ketika dirinya sedang bercanda dengan para tetua bangsawan dia melihat Nori, ibunya sedang memakan hidangan yang sangat lezat bersama Bella dan Elia.
__ADS_1
Fai melihat mereka sedang tertawa sangat senang akan hal ini tapi dia sedikit mengerucutkan mulutnya dengan licik. Karena dia mengetahui bangsawan yang bernama Zaro sedang mendekati dirinya.
Apa yang dia mau? Apayang ingin dia lakukan, intinya Fai tidak peduli sama sekali.
"Tuan Zhenite mohon luangkan waktu mu!" Zaro berkata dengan rendah hati. Tapi dia sedikit meningikan suaranya agar para hadirin mendengar.
"Oh apa ada yang sesuatu yang kamu lakukan?" Zhenite juga membalas bahwa dia menyetujui untuk Zaro berkata.
"Perkenalkan nama saya Zaro Zlatan anak dari Agust Zlatan. Saya ingin berkata sesuatu kepada kamu!" Kata Zaro dengan tatapan licik.
"Apa yang kamu bicarakan?" Zhenite berkata tidak sabar. Dia tidak ingin repot-repot berbicara dengan anak yang licik ini.
"Maaf kalo menggangu waktu luang kamu." Zaro meminta maaf dengan tenang tanpa rasa takut. Setelah itu, dia melanjutkan lagi dengan berkata. :"Tuan seperti yang di ketahui di dunia ini, bahwa jika orang di lahirkan tanpa memiliki jejak kekuatan sebagai perajurit atau penyihir maka sudah di pastikan orang itu akan menjadi manusia biasa dan rentan akan bahaya."
"Apa!" Zhenite melambaikan tangannya, bahwa dia menyuruh Zaro untuk melanjutkan perkataannya.
Zaro kemudian tersenyum dan berkata lagi. "Seperti yang aku jelaskan tadi, jika tidak memiliki kekuatan anda akan rentan nyawanya."
"Dan saya melihat bahwa menantu kamu hanyalah manusia biasa yang hanya mahir dalam kata-kata walau menantu kamu tampan tapi, jika tidak memiliki kekuatan untuk berjaga, arti tampan tidak ada gunanya."
Suara Zaro begitu mengelegar dan keras. Dia sengaja menaikan suaranya supaya para tamu mendengarkan apa yang Zaro utarakan.
"Iya memang betul jika dia tampan, tapi tidak ada kekuatan itu tidak berguna!"
Para tamu ahirnya ada yang terhasut.
"Bangsawan Zhenite mending batalkan orang yang bernama Fai ini! Dia hanyalan manusia biasa! Apakah kamu tidak malu!" Para tamu lainya juga ada yang ikut berteriak.
"Tuan kamu adalah bangsawan! Jangan menikah dengan manusia rendahan akan di taruh mana muka kamu!" Para tamu lainya juga ikut mendukung.
"Ini...!" Zhenite bingung tidak ada yang tahu selain dirinya. Omong kosong apa, bahwa Fai lemah? Mengatakan bahwa Fai lemah itu hanya pura-pura di paksa dan anda cukup bodoh dan di tipu.
Zaro bahagia ketika dia memanen ikan banyak. Dia sudah menduga bahwa perkataannya akan memicu api yang berkobar. Dia sangat senang sekali bahwa metodenya berhasil. Tapi ketika dia sedang tersenyum bahagia tiba-tiba senyum itu mengeras secara tiba-tiba ketika dia mendengar Zhenite berkata seperti ini. :"Tampan atau tidaknya itu adalah yang terpenting Bella bahagia. Selama anak aku bahgia itu tidak masalah."
Perkataan Zhenite cukup jelas bagi Zaro bahwa semua kebahagian Bella tidak ada urusan dengan kamu! Zaro cukup marah dia merasa terhina ini adalah pertamanya untuk memetik wanita mengalami kesulitan. Jika dulu, dia memetik dan memanen lusinan wanita sangat mudah seperti bernafas dan meminum.
Tapi sekarang dia merasa kesulitan, dan secara tidak sadar dia menghadap Fai dengan ganas. Baginya Fai adalah duri dalam daging Zaro harus secepatnya menghilangkan duri yang membandel ini hinga merasa lega.
Zaro menengok Fai dan berteriak dengan menahan marah. "Nama kamu Fai yah, Menjauh lah dari Bella ini kamu tidak pantas.
"Kamu..kamu jangan berbicara omong kosong!" Bella juga tidak senang terhadap Zaro ini, dia marah sehinga gunung yang agung itu bergetar.
Zaro tiba-tiba tertawa lembut kerena Bella yang berbicara.
"Bella kamu adalah bangsawan tidak pantas untuk membuat proposal tunangan dengan bocah dengan dia, Menjauhlah masih banyak orang yang pantas dari pada dia." Zaro berkata dengan menyringai.
"Cukup dan tidak perlu." Bella meraih tangan Fai kemudian berkata lagi. "Karena aku mencintai dari hati tidak ada persyaratan sedikit pun."
Melihat bahwa Bella memasang wajah memerah ketika mengandeng tangan Fai dia marah dan berteriak. "Bajingan lepaskan tangan kotor mu itu!"
Dia berteriak tapi dia merasa bahwa Fai mengejek diri sendiri sehinga tidak senang. Siapa Zaro? Dia adalah bangsawan dan siapa Fai?
Tapi walau dia bangsawan dia seperti badut yang berteriak-teriak, bukan hanya itu saja Fai yang pada dasarnya adalah manusia biasa, dia melihat di sisi kiri dan kanan merangkul wanita cantik dan panas sehinga dia tidak terima.
"Fai apakah kamu mau bertarung denganku!"
__ADS_1