
“Semua orang pergi bersama, tidak peduli seberapa kuat latihannya, pasti ada batasnya!” Teriak pria salah satu geng.
Meskipun kelompok geng yang lain di halaman agak marah, tapi ketika dia melihat cara pembunuhan Fai, ahirnya ragu-ragu.
Karena dia para angota melihat rekan-rekannya terbunuh, sehinga mereka bulu kuduk merinding.
Fai mengambil tiga langkah dalam sekejap, telah mendatangi orang itu, tanpa sepatah kata apa pun Fai langsung meninju.
Melihat bahwa rekan satunya lagi di bunuh oleh Fai dengan cara yang menakutkan tiba-tiba dia panik dan berteriak.
"Pergi melarikan diri! Dia monster..!"
Pada saat ini Fai ahirnya mengejar mereka.
Ketika orang itu melarikan diri, tiba-tiba dia mendengar sesuatu dari belakangnya. Tanpa sadar dia menoleh kebelakang.
"Bang!"
Pada saat itu orang yang menoleh terpental dan menabrak dinding ketika dia hendak melarikan diri tiba-tiba cakar Fai menusuk dada orang itu dan meremasnya.
Orang itu terpana dan meningal.
Para angota lainnya masih berteriak-teriak di halaman bascame nya, pada saat ini semua angota geng pada gemetar ketakutan. Karena setelah membunuh rekan lainya, takut paada ahirnya dia yang selanjutnya.
Tiba-tiba Fai menghampiri salah satu dengan mencibir.
"Kamu.. kamu .. apa yang kamu lakukan!" Angota itu ketakutan hinga lutut lemas dan ingin kencing.
"Dimana pemimpin kamu! Dan di mana kamu menyembunyikan adik aku..!" Fai bertanya dengan menyipit.
"Adik?" Setelah memikirkan sesuatu tiba-tiba dia teringat dan berkata lagi dengan sedikit terkejut. :"Apakah kamu Fai!"
"Yah aku Fai." Fai berkata dengan lugas.
Karena setelah penyelidikan angota Resimen Serigala Angin, bahwa dia hanyalah keluarga kecil di pingiran kota, dia yang tadinya takut menjadi galak lagi dan berkata meneriaki.
"Fai lepaskan aku..! Dan berlututlah sekarang masalah kamu dan aku selesai jika tidak? Keluarga kamu hancur!"
"Hah?"
Mata Fai menyipit berbicara lagi. "Apakah kamu mengancamku?"
Kekutan Fai yang tadinya di tekan sekarang bergejolak lagi.
Dan pada saat ini tiba-tiba ada suara yang memarahi.
"Siapa yang berani sekali, mebuat onar di halaman ini!"
Setelah suara itu bergema, kemudian sosok itu jatuh bergegas ke Fai.
Fai melihat dari dekat. Pria ini adalah pria paruh baya dengan pipi tipis dan tatapan seperti elang.
Tangan pria itu yang tadinya ber sembunyi tiba-tiba keluar dengan membawa pedang.
Pedang itu bersinar tajam dan mengeluarkan suara berdering.
Pedang itu di arah kan ke pipi sebelah kanan Fai, tetapi karena bakat mata supernya, pergerakan pedang itu menjadi lambat.
"Mundur!"
Setelah menghindari serangan pedang Fai mundur beberapa langkah.
"Hah!"
Melihat Fai mundur pria itu mencibir dan menyerang lagi tanpa istirahat dia bergegas menyerang lagi.
Pedang itu menembak ke wajah Fai terus menerus. Tetapi dengan mudah Fai menghindari ke kiri dan kanan.
__ADS_1
Fai mencoba melompat menyamping. Dan meraih pedang yang tergeletak, setelah mengambil Fai membuat tebasan horizontal.
Dan tiba-tiba ada api terbang mengarah pria itu.
Pria itu juga sedikit terkejut dan melompat mundur menghindari tembakan api.
Setelah menghindar, pria itu membuat tembakan pedang dengan menebas horizontal ke arah Fai.
Tebasan itu mengeluarkan bilah hijau langsung bergegas mengarah ke Fai.
Fai mundur menghindar dengan melompat menyamping ke atas.
Setelah menghindar, Fai bergegas berlari menghampiri pria itu. Setelah jarak sudah dekat Fai membuat tembakan.
"Dentang!"
Suara dentangan pedang dan pedang.
Fai sudah membuat rencana ketika pedang itu di tahan, tiba-tiba tangan kiri Fai berubah menjadi sebuah kepalan besi raksaksa.
"Pukul!"
Pria itu setelah terkena pukul terlempar dan berguling-guling.
Pria itu batuk darah.
"Silkat!"
Tiba-tiba Fai sudah dekat di depanya, kaki Fai menendang kepala pria itu sampai meledak.
Setelah membunuh, Fai bergegas ke halaman yang lebih besar.
"Bang!" Fai menembak pintu itu hinga pecah.
Ketika Fai memasuki melihat beberapa kelompok lagi yang sedang mencoba mengepung Fai.
Ketika mereka melihat Fai datang, mata orang-orang ini bersinar karena terkejut, dan kemudian mereka menunjukkan sarkasme dan menggelengkan kepala dan mencibir.
"Saya ingin menangkap ikan besar, tetapi saya tidak berharap untuk menangkap udang kecil. Saya tahu bahwa kita tidak harus bertarung dalam pertempuran besar seperti itu." Salah satu angota geng berkata acuh
“Di mana kamu menyembunyian adik perempuanku?” Nada bicara Fai tenang dan tidak bisa mendengar sedikit pun fluktuasi.
"Tepuk tangan!"
Tiba-tiba di belakang beberapa kelompok ada suara tepuk tangan.
Dibelakang kelompok itu, datanglah tiga orang. Dua lelaki, satu perempuan. Tepatnya perempuan itu di tawan.
Orang yang di sebelah tawanan adalah yang tak lain Dias dan Luis.
Ketika Fai melihat adegan ini, Hati Fai merasakan sakit.
Walaupun melihat Nori pertama kalinya, karena ingatan akan tubuh ini buram dan tidak mengingat hal apa pun, tapi setelah melihat di depan matanya, Fai sakit hatinya.
Fai melihat bahwa ada bekas luka di sekujur tubunya, pakaian yang compang-camping dan mata yang suyu, karena menagis.
Fai tidak bergerak.
"Ok, ok , ok."
Pada saat itu ada sosok yang sedang duduk dan menganguk. "Kamu ahirnya datang, kamu begitu banyak telah membunuh angota bawahan aku. Jadi, sebagai konpisasi serahkan teknik jurusmu, dan hidup mu!"
Orang yang berbicara adalah pemilik geng Serigala Angin yang bernama Galio Biden.
Fai memandang Galio masih dengan tenang dan berkata. "Apakah kamu pemilik Resimen Serigala Angin."
"Ada apa!" Galio menganguk.
__ADS_1
"Kalau begitu berikan hidupmu!" Fai membalas dengan geraman rendah.
Setelah mengucapkan, Fai langsung bergegas ke Galio dengan kekuatan penuh.
Semua orang yang berkumpul, mereka juga merespon dengan cepat. Kemudian orang-orang itu mengeluarkan senjata dan ada yang mengucap mantra.
Tiba-tiba ada kilatan cahaya dingin yang menyilaukan bergegas menyerang pungung Fai.
Tapi Fai menoleh dan meraih pedang itu dan merebutnya, setelah merebut Fai mengayunkan pedang ke arah orang itu.
Tiba-tiba wajah orang itu berubah dan pikiran pertamanya adalah berbalik dan melarikan.
Karena pengalaman yang bertahun-tahun dia memberitahu bahwa ketika tidak melarikan pasti kematian tidak bisa di hindarkan.
Tetapi orang itu sudah terlambat tiba-tiba pedang itu menusuk perutnya dan menyobek horizontal.
Orang itu meningal dalam keadaan ngeri.
Fai bergegas maju lagi tetapi masih ada orang yang menghalangi.
Tanpa pikir panjang Fai meraih tangan angota yang menghalangi dan meremasnya.
"Klik!"
Suara infiltrasi fraktur tulang terdengar, orang itu menjerit, lengan nya patah oleh sebuah remasan Fai.
Semua orang berubah warna!
"Brengsek! Keahlian apa yang bocah itu gunakan! Sunguh kuat." Tiba-tiba Diaz yang di samping Nori bergetar tanpa sadar mundur selangkah.
"Dentang!"
Pada saat itu semua kelompok mengarahkan pedang dan mantra menyerang Fai.
Walau di bombardir oleh serangan tubuh Fai tidak mengeluarkan darah.
Hanya saja baju itu compang camping hinga membuat cangung.
"Hah!"
Pada saat ini, suara alat tajam yang menusuk daging tiba-tiba terdengar.
Tapi setelah menikam orang itu terkejut, bahwa pisau ini tidak secara langsung menusuk Fai sampai mati, tetapi terjebak di sana, membuatnya sulit untuk maju.
Tapi dia tidak bisa memikirkan apa-apa. Pedang yang menembus menusuk ke dalam tubuh Fai. Sebaliknya, itu seperti menusuk batu yang keras, perlawanan semakin besar dan lebih besar, dan dia terjebak dalam daging pada akhirnya!
Ini adalah kengeriang dari tubuh Titanium.
Tangan Fai mengeluarkan cahaya dan melambaikan ke arah orang itu.
Seketika kepala orang itu terbang. Tetapi dalam raut wajah masih bingung dia pada ahirnya meningal dalam kebingungan.
Fai melangkah maju menghampiri Diaz dan Luis.
"Berhenti!" Diaz dan Luis berteriak bersamaan.
Diaz meraih pisau dan melintasi leher putih salju Nori.
Diaz mengancam.
"Aku biarkan pergi, makan adik kamu pergi,"
Terus Diaz berkata lagi. :"Fai jangan paksa aku, jika kamu melangkah sedikit untuk membuat tindakam maka adik kamu dalam bahaya."
Diaz terus mengancam.
Kemudian Fai berkata dengan tenang. "Jika kamu berani membunuhnya, maka bergantian aku yang membantai kamu."
__ADS_1