
Apa yang sudah di pikirkan dan di rencanakan oleh Bella sudah di baca oleh Fai. Memkirkan ini Fai ingin menangis tapi tidak ada air mata bahwa sekarang Bella begitu menjadi sangat galak.
Karena hari semakin malam banyak tamu yang sudah meningalkan di tempat perjamuan Zhenite. Dan ada banyak juga para tamu yang meminta maaf terhadap Fai, karena jika tidak ada menantu Fai mungkin para tamu sudah berubah menjadi sekawan mayat hidup.
Fai juga melihat Nyonya Ney menatap mengarah dirinya dengan bermusuhan, dia juga tau dengan bakat telepatinya bahwa dia akan membalas dendam kepada dirinya.
Fai tidak takut malahan dia tidak peduli, jika anda membuat pembalas dendam, maka hati Fai penuh lapang dada yang luas, Fai akan menungu.
Apa lagi jika menargetkan kepada keluaraga sendiri, itu hanya masalah sepele karena Fai sudah membekali teknik dan bakat yang menantang kepada keluarga terdekat.
Untuk saat ini Fai sedang memutuskan untuk pergi ke luar kerajaan ini supaya tidak menjadi katak di dalam sumur, dia ingin berpetualang untuk menjadi pemulung bakat dan di simpan di koleksi buku kekosongan.
Setelah itu, Fai menyerahkan sebuah cincin penyimpanan berupa isi peralatan cangih dan teknik-teknik yang mungkin Zhenite suka.
Melihat bahwa tangan Fai menyerahkan cincin kepada dirinya, Zehnite menerima dengan gembira. Tapi begitu dia memeriksa apa yang isi di dalam dia terkejut setengah mati, sehinga Zhenite tidak bisa memarahi mulutnya bahwa harta ini sunguh gemuk dan berharga.
"Nak senjata ini, teknik ini sunguh luar biasa! Kapan kamu mempunyai ladang yang sangat besar, Ini.. hanyalah surga!" Zhenite berseru dengan kagum dengan isi dari cincin ini, baginya Fai adalah menantu serba guna yang sangat gemuk dan penuh minyak.
"Yakinlah Ayah mertua ini adalah barang pilihan aku dan tidak mencuri!" Kata Fai dengan lembut, ngomong-ngomong dari mana asal teknik yang jahat ini adalah dia mendapatkan dari memulung di arena petarung di waktu itu, walau dia memulung hanya mendapat teknik dan bakat yang hambar, selama di sintetis oleh sistem maka, teknik dan bakat itu menjadi gurih, rasanya menjadi nikmat dan menjadi bakat yang kuat.
Sekarang para tamu sudah habis meningalkan perjamuan dan sekarang Zhenite gemuk karena banyak menerima berupa hadiah dari bangsawah tertentu.
"Yah kalo mengangu, karena hari sudah gelap kami akan kembali ke tempat singah masing-masing." Tiba-tiba, Nuwa meminta Ijin kepada Zhenite untuk pergi karena hari sudah gelap dia memutuskan kembali kerumah.
Awalnya Zhenite membujuk untuk tingal di sini hanya satu hari saja. Tapi, dia melihat bahwa Nuwa begitu bersikeras untuk pergi dengan tanpa daya dia menyerah dan tidak menghalangi.
"Kamu jangan pulang dulu!" Tiba-tiba Bella meminta Fai untuk tidak pergi dulu, dia memandang Fai dengan senyum lembut. Tapi, senyum lembut itu adalah palsu karena Fai mengetahui dari pada orang lain.
__ADS_1
Dia mememandang kepada Fai penuh hewan buas dan tidak tahan untuk menerkam dan mencabik-cabik bajunya hinga menelanjangi.
"Yah!" Fai menganguk dengan cepat dan merasa merinding.
Setelah itu Fai memandang Elia dan berkata. :"Kamu apakah pulang atau tidak!"
"Tidak aku pergi saja!" Elia langsung menolak dia masih malu kepada Bella akan penyimpangn orentasinya. Jika Bella melihat benda itu yang masih tertancap di ke dua lobang miliknya apakah dia memandang dirinya dengan aneh? Oleh karena itu dia tidak segan-segan untuk menolak.
Fai paham dan tidak melanjutkan perkataan lagi. Setelah itu dia melambaikan tanganya dan tiba-tiba retakan ruang muncul.
Nuwa terpana dia langsung ingat dan berkata kepada Fai. "Nak kenapa kamu ketika berangakat tidak mengunakan yang peraktis ini!"
"Aku ingin melihat pemandangan!" Fai mengaruk hidungnya dia juga bertanya kepada diri sendiri. Kenapa dia tidak merobek ruang, jika anda merobek ruang lebih praktis dan dengan singkat anda akan sampai tujuan dengan beberapa nafas saja.
Setelah itu, mereka memasuki ke celah ruang, setelah masuk dia sudah di dalam rumah sendiri.
Tapi Fai yang mempunyai bakat telepati langsung terbaca oleh pikiranya, Fai mengelengakn kepalanya selama itu keluarga sendiri Fai akan bermurah hati dan tidak pelit.
Ini juga kebaikan masing-masing untung berlindung.
"Adik, Ibu!" Setelah berbicara kedua tangan Fai mengetuk dahi Nuwa dan Adik. Seketika itu cahaya muncul dan sekali lagi otak mereka berdua di isi sejumpalah informasi dari bakat merobek ruang.
Nuwa terpana, ketika anda ingin tidur, dengan senang hati ada orang yang berbelas kasih untung memberikan bantal. Ini sama seperti sekarang, dia hanya ingin mempunyai bakat merobek ruang sehinga peraktis untuk bepergian, tapi dia tiadak menyangka bahwa Fai akan memberikan secara suka rela.
"Kamu!" Nuwa tidak bisa berbuat apa-apa baginya dia anaknya terlalu Naif, dia bisa memberikan bakat secara suka rela, jika itu orang jahat maka bahaya.
Fai tersenyum bahwa Nuwa banyak berpikir kemudian dia berkata dengan meyakinkan. "Percayalah aku tidak apa yang ibu pikirkan."
__ADS_1
Nuwa rilek dan lega setelah itu dia tidak berkata lagi. Tapi, Fai berkata lagi. :"Sekarang kamu adalah resemi menjadi tunangan aku, mulai sekarang kamar ini kamu pakai."
Melihat itu, Elia malu sekaligus bahagia. Jika seperti ini dia akan melakukan adegan ranjang tanpa halangan apa pun.
Ini sunguh kebahagian sendiri!
"Yah! Kalau begitu aku pergi dulu." Fai berkata bahwa dia akan ke rumah Bella lagi karena ada sesuatu yang harus di tangani. Nuwa dan Nori setuju. Tapi, Elia paham kenapa dia pergi, karena Fai dan Bella ada sesuatu tipu muslihat.
Fai memasuki ruang kosong!
Setelah memasuki ruang kosong, Fai melihat Bella yang sedang duduk di atas tempat tidur, sedang memandang ke arah dirinya dengan penuh gairah.
Karena mereka tidak tahan ahirnya melakukan musim semi dengan bergairah, bahkan setelah sesi itu berahir, Bella meminta untuk memperbesar gunung.
Memikirkan ini kepala Fai pusing, menurut dirinya, ini sudah besar. Namun, Bella meminta yang lebih besar. Tanpa berdaya ahirnya Fai melakukan teknik pembesaran gunung dengan gunung Bella dia tambahkan silicone.
...
Sementara itu, di kamar yang Zaro tingali dia setelah sadar langung membuka matanya. Dengan dada yang penuh perban dan kepala yang bengkak seperti babi, akibat kena tendangan oleh Fai.
Ketika dia tersadar dia sudah ada di dalam kamar. Dia juga mengetahui dari Ibunya yang bernana Ney bahwa ayahnya telah meningal di tangan Fai, sehinga dia marah penuh kebencian sampai meneteskan air matanya.
Walau dia berselingkuh kepada Ibunya tapi ayah tetap ayah, dan itu tak tergantikan.
Mengingat apa yang Fai lakukan dia memerah matanya karena marah.
"Bajingan Fai tungu saja! Kamu akan aku habisi dan mati di tangan aku!"
__ADS_1